Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Robekan Kain


Zhang Fei turun dari kuda yang ia tunggangi. Kuda itu kemudian diikat di sebuah pohon cukup besar yang tidak jauh dari sana.


Dia berjalan mendekat ke atas tetesan darah tadi. Zhang Fei menatap lekat-lekat, ia sedang memastikannya.


"Benar, ini adalah darah manusia. Hemm ... mengapa di sini ada banyak tetesan darah yang berserakan? Apakah di desa ini telah terjadi sesuatu?"


Zhang Fei bergumam seorang diri. Dia sangat yakin akan dugaannya tersebut.


Tapi, darah siapa? Apa pula yang telah terjadi di sana?


Ia memandang berkeliling dan mencoba untuk mencari sesuatu. Sayangnya, tidak ada sesuatu apapun yang dapat ia temukan.


Keadaan di sana tetap sepi hening. Tidak ada seorang manusia pun kecuali dirinya.


Karena kecurigaan di hatinya semakin besar, akhirnya ia memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh lagi. Zhang Fei naik kembali ke atas punggung kuda, setelah itu ia langsung memacu kudanya ke pedalaman desa.


Begitu tiba di sana, ia segera dikejutkan oleh apa yang dilihatnya pada saat itu.


Rumah-rumah warga di bagian dalam desa itu terlihat berantakan. Malah beberapa rumah ada yang rusak parah seperti telah dilanda oleh angin topan.


Zhang Fei menatap deretan rumah itu. Keadaan benar-benar sepi sunyi. Ia kembali turun dari kudanya.


Jendela di satu rumah terlihat terbuka. Daun jendela itu bergoyang perlahan dihembus oleh angin senja.


Seekor burung walet terbang melintasi atas kepalanya. Dua ekor burung itu seperti sedang saling kejar satu sama lain.


Seekor anjing warna hitam kumal tiba-tiba keluar dari sebuah gang sempit. Wajah anjing hitam itu terlihat sangat ketakutan. Seolah-olah dia telah menyaksikan sebuah peristiwa yang sangat mengerikan.


Begitu melihat ada satu sosok manusia yang sedang berdiri di sana, anjing itu segera melarikan diri entah ke mana.


Zhang Fei masih berdiri di tempatnya tadi. Semua hal itu dia saksikan dengan jelas oleh mata kepalanya sendiri.


Bagi orang lain, beberapa petunjuk kecil tersebut mungkin tidak berarti. Namun bagi dirinya, lain lagi.


Dari kejadian-kejadian barusan, dia bertambah yakin bahwa di desa itu pasti telah terjadi sesuatu.


Wushh!!!


Tiba-tiba dia melesat dengan cepat. Zhang Fei baru berhenti tepat di sebuah rumah besar dan mewah. Dari semua deretan rumah warga, rasanya rumah itulah yang paling besar.


Zhang Fei yakin, kalau bukan rumah Kepala Desa, pastilah itu rumah milik hartawan.


Ia mencoba mendekat ke sana. Beberapa kali dirinya memanggil, tapi tidak terdengar adanya jawaban. Sampai tiga kali dia melakukan hal itu, hasilnya tetap sama.


Akhirnya, Zhang Fei memaksa masuk. Ternyata pintu utama itu tidak terkunci. Begitu tangannya menyentuh daun pintu, pintu tersebut langsung terlepas dari engselnya.


Brakk!!!


Suara pintu yang ambruk terdengar keras. Zhang Fei tidak menghiraukannya, dia segera masuk lebih dalam. Alasannya adalah karena dia telah mencium bau yang sedikit busuk.


Tidak perlu ditanyakan lagi, bau busuk itu pasti berasal dari manusia yang sudah tewas sejak dua atau tiga hari yang lalu!


Ketika sudah sampai di sumber bau, ternyata benar dugaannya.


Di ruang tengah yang besar itu, tampak di sana setidaknya ada sepuluh orang mayat manusia yang bergelimpangan. Mereka yang tewas mendapati luka berbeda.


Dilihat dari pakaian, sepertinya orang-orang itu adalah satu keluarga pemilik rumah beserta para pegawainya.


Satu persatu dari sepuluh orang mayat itu segera dia periksa. Setelahnya dia segera mengambil kesimpulan.


"Benar dugaanku, mereka setidaknya tewas dia atau tiga hari yang lalu. Dari luka-luka yang terlihat, sepertinya orang-orang ini telah mendapat serangan dari sekelompok manusia," katanya bergumam sendiri.


Zhang Fei masih berdiri di ruangan tengah itu. Dia tidak langsung pergi. Sepasang matanya masih mencari petunjuk yang mungkin bisa ditemukan.


Untung saja, langit sedang berpihak kepadanya. Secara tidak disengaja, tiba-tiba Zhang Fei melihat ada robekan kain yang masih dipegang oleh seorang mayat wanita tua.


Ia mendekat lagi dan membawa robekan kain tersebut. Pada kain itu tertera sebuah sulaman yang berbentuk kepala iblis.


Tidak salah lagi, itu merupakan lambang dari Partai Iblis Sesat!


"Mereka lagi," gumam Zhang Fei sambil mengepalkan tangan yang memegang kain.


Kini, semuanya mulai jelas. Petunjuk telah dia dapatkan. Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari tahu, apakah di sekitar sini ada markas cabang Partai Iblis Sesat?


Wushh!!!


Zhang Fei langsung pergi dengan cepat dan kembali ke kudanya. Ia kemudian pergi dari desa bernasib malang itu dan berniat untuk mencari desa lainnya.


Kebetulan, tidak lama setelah itu, dia sudah menemukan desa lain. Desa ini seidkit lebih kecil. Hanya saja terlihat ramai. Tidak seperti sebelumnya yang sepi sunyi.


Zhang Fei menjalankan kudanya secara perlahan. Dia berhenti di depan warung arak sederhana. Keadaan di sana pada saat itu terhitung sepi pengunjung. Orang-orang lebih banyak yang datang ke rumah makan daripada ke warung arak.


Suitt!!!


Tiba-tiba Zhang Fei bersuit satu kali. Suitan itu melengking tinggi dan terdengar sangat keras sekali. Dengan dorongan tenaga dalam yang disalurkan lewat getaran suara, tentu saja bunyi yang dihasilkan bisa lebih keras dari yang seharusnya.


Setelah selesai bersuit, ia segera masuk ke dalam dan langsung memesan dua guci arak lengkap dengan santapan pelengkap.


Zhang Fei duduk di kursi paling belakang. Ia meminum arak dan menyantap hidangan itu dengan tenang dan santai. Setiap gerakannya penuh penghayatan. Seolah-olah ia tidak ingin kehilangan kenikmatannya.


Ketika baru saja menengguk arak yang ketiga kali, mendadak dari luar ada seseorang yang berjalan masuk.


Orang itu mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya juga tertutup oleh kain dengan warna sama. Di punggungnya ada sepasang pedang kembar.


Melihat sekilas saja, siapa pun akan langsung tahu bahwa orang itu merupakan pendekar dunia persilatan.


Dia berdiri sebentar di ambang pintu, sepasang matanya menatap ke seluruh ruangan. Ketika melihat sosok Zhang Fei yang sedang duduk di bagian belakang, dengan segera orang itu berjalan ke arahnya.


Ketika tiba di hadapan Ketua Dunia Persilatan, orang itu terlihat akan membungkukkan badan, dengan cepat Zhang Fei menahannya.


"Duduklah, tidak perlu repot-repot seperti itu," katanya sambil memberikan isyarat dengan tangannya.


"Baik, Ketua," orang itu menjawab penuh hormat. Dia kemudian duduk di depan Zhang Fei.


Ketua Dunia Persilatan tidak langsung mengajaknya bicara. Dia lebih dulu menyuruh orang itu untuk minum arak yang sudah dipesan tadi. Setelah beberapa saat berikutnya, barulah Zhang Fei membuka mulut.


"Apakah kau tahu mengapa aku memanggilmu?" tanyanya serius.


"Tidak, Ketua," orang tersebut menjawab sambil menggelengkan kepala.


"Hemm ... ada beberapa persoalan yang ingin aku tanyakan kepadamu,"


"Silahkan, Ketua,"