Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming


Kini, setelah menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan tokoh hebat, maka Zhang Fei pun tidak mau bertindak gegabah. Dia mulai mengeluarkan pula kemampuannya.


Karena hal tersebut, maka pertarungan yang berlangsung pun segera berjalan lebih sengit.


Suara keras antara beradunya tulang mulai mengiringi jalannya pertempuran. Beberapa kali kedua sosok tersebut mundur ke belakang sampai beberapa langkah.


Tapi hal itu tidak membuat mereka berhenti bertarung. Malah membuat keduanya semangat untuk melanjutkan pertarungan.


Sekarang, setelah mencapai tiga puluh jurus, Zhang Fei mulai mengeluarkan ilmu-ilmu tangan kosong yang ia miliki dari kakeknya.


Deru angin yang membawa ancaman maut mulai bisa dirasakan oleh pihak lawan. Pukulan dan hantaman telapak tangan anak muda itu bagaikan Malaikat Pencabut Nyawa.


Orang yang menjadi lawannya terdengar beberapa kali berseru tertahan. Mungkin dia tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan pendekar muda yang memiliki kemampuan tinggi.


Zhang Fei semakin gencar memberikan serangan balasan. Tangan kanannya memukul ke arah wajah. Sedangkan tangan kiri menghantam ke arah jantung.


Dua serangan dilancarkan secara serempak!


Bukan cuma itu saja, ia bahkan melepaskan pula tendangan yang tidak kalah hebatnya.


Sedangkan lawannya sendiri, sekarang dia sudah mengerti akan kehebatan anak muda itu. Karenanya dia tidak mau bertindak gegabah.


Dengan gerakan yang sederhana namun sangat cepat, orang itu akhirnya bisa menangkis semua serangan Zhang Fei.


Dess!!!


Selanjutnya adu telapak tangan langsung terjadi. Gelombang kejut menyapu ruangan itu. Barang-barang yang berserakan di atas lantai segera berterbangan ke atas.


Wushh!!!


Setelah sekian lama adu tenaga dalam, akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk mengalah. Dia melompat mundur ke belakang sejauh lima langkah.


Begitu keadaan di dalam sudah kembali normal, Zhang Fei segara menyaksikan bahwa di depannya telah berdiri seorang tua yang usianya sudah mencapai enam puluhan tahun.


Wajah orang tua itu bulat telur. Rambutnya yang sudah memutih digelung ke atas. Bola matanya yang hitam bening, dihiasi oleh dua alis tebal yang berbentuk golok.


Orang itu pun memelihara janggut. Janggutnya malah sudah hampir menyentuh dada.


Dia mengenakan pakaian kuning emas. Pakaiannya cukup longgar, tapi walaupun begitu, pakaian tersebut tidak mampu menutupi kewibawaan dari si orang tua.


Saat ini, dia sedang mengawasi Zhang Fei lekat-lekat.


"Siapa dirimu, anak muda?" tanya orang tua itu dengan suara dalam.


"Margaku Zhang, namaku Fei. Dan kalau aku boleh tahu, siapakah Tuan ini?" ia balik bertanya.


Bagaimanapun juga, dirinya harus bisa mengetahui siapa orang tua tersebut. Terlebih, dia ingin tahu apa alasan dirinya diserang secara tiba-tiba.


"Untuk apa kau datang ke Partai Gunung Pedang ini?" bukannya menjawab, si orang tua itu justru malah bertanya lebih jauh.


"Untuk mencari seseorang," jawab Zhang Fei.


"Siapa yang kau cari ini?"


"Ketua Partai Gunung Pedang,"


"Kau mempunyai persoalan dengan dirinya?"


"Tidak," katanya menggelengkan kepala. "Bagaimana mungkin aku bisa mempunyai persoalan dengan Ketua Partai Gunung Pedang? Sedangkan aku saja baru pertama kali kemari,"


"Hemm ..." orang tua tersebut mendehem. Ia mengawasi Zhang Fei mulai dari atas sampai bawah.


"Kalau tidak memiliki persoalan, lalu kenapa kau mencari orang tua itu?"


"Karena aku ingin menanyakan hal penting,"


"Maaf, aku tidak bisa memberitahu. Lebih baik, Tuan katakan saja di mana Ketua Partai Gunung Pedang berada,"


Zhang Fei bersikukuh. Dia tetap tidak mau memberitahu niat dan tujuannya datang ke tempat tersebut. Menurutnya, ini adalah masalah dirinya dengan Partai Gunung Pedang.


Tidak boleh ada pihak luar yang mengetahui tentang hal ini. Apalagi, menurutnya persoalan ini berhubungan dengan aib dari partai itu sendiri.


"Anak muda, sebenarnya siapa dirimu? Apakah kau berasal dari aliran putih, atau berasal dari aliran hitam?" tanya orang tua itu lebih jauh lagi.


Sepertinya dia masih penasaran dengan Zhang Fei. Ia masih bingung, sebenarnya pemuda ini berdiri di mana? Aliran hitam kah? Atau aliran putih?


"Orang tua, asal kau tahu saja," Zhang Fei segera menjawab dengan cepat. Ia bicara sambil menatap wajahnya. "Pertama, kalau aku niat buruk, sudah tentu empat orang-orangmu saat ini sudah menjadi mayat. Kedua, kalau aku berasal dari aliran hitam, seharusnya kau sudah bisa merasakan sendiri ketika tadi kita bertarung," katanya menjelaskan.


Orang tua itu menganggukkan kepala beberapa kali. Sepertinya dia mengerti tentang penjelasan Zhang Fei barusan.


Apalagi yang dikatakan oleh anak muda itu memang masuk akal. Sebagai tokoh angkatan tua dunia persilatan, tentu saja seharusnya dia sudah merasakan perbedaan ketika terjadinya benturan tadi, apabila anak muda tersebut memang berasal dari aliran hitam.


Ia termenung beberapa saat. Setalah cukup lama, tiba-tiba orang tua tersebut menghela nafas berat.


"Anak muda, sebenarnya ... orang yang kau cari itu adalah aku sendiri," ucapnya perlahan.


"Apa? Kau ..."


Zhang Fei terkejut. Dia tidak mampu melanjutkan ucapannya. Seolah-olah tenggorokannya tercekat oleh sesuatu sehingga dia tidak bisa bicara lebih jauh.


"Benar, aku adalah Ketua Partai Gunung Pedang. Namaku Gouw Ming, orang-orang persilatan menyebutku si Pedang Angin Puyuh,"


Tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan untuk meyakinkan Zhang Fei, orang tua yang mengaku bernama Gouw Ming itu segera mengeluarkan sebuah lencana.


Lencana yang membuktikan bahwa dia memang menjabat sebagai Ketua Partai Gunung Pedang.


Zhang Fei segera memandang tajam lencana tersebut. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dia pun menghela nafas.


"Ternyata kau memang benar orang yang aku cari,"


Gouw Ming bisa melihat ekspresi wajah anak muda itu dengan jelas. Tetapi ia tidak berkata apa-apa.


"Anak muda, mari ikut aku,"


Si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming segera berjalan. Empat orang tadi langsung mengikutinya. Tidak mau ketinggalan, Zhang Fei pun turut membuntuti mereka.


Keenam orang tersebut berjalan dengan langkah ringan. Gouw Ming membawa Zhang Fei ke halaman belakang. Ia terus berjalan lagi dan berhenti di sebuah kuil sederhana yang mungkin sengaja ia buat.


Mereka lalu masuk ke dalam. Ke sebuah ruangan yang biasa dipakai untuk membicarakan hal-hal penting.


Gouw Ming duduk di kursi yang tersedia, begitu juga dengan Zhang Fei dan lainnya.


"A San, ambilkan arak," katanya memberikan perintah kepada salah satu murid yang ada.


Murid bernama A San mengangguk. Ia segera mengambilkan arak yang tersedia. Begitu arak sudah di atas meja, A San langsung menuangkannya ke dalam cawan.


Mereka bersulang arak. Setalah beberapa saat kemudian, Gouw Ming kembali bicara.


"Sekarang, coba katakan apa tujuanmu datang kemari?"


"Sebenarnya, kedatanganku kemari hanya ingin bertanya tentang Pendekar Pedang Emas Gan Li," jawab Zhang Fei dengan jujur.


"Apa yang ingin kau tanyakan tegangnya?"


Nada suara orang tua itu berubah menjadi dingin.


Zhang Fei bisa merasakan adanya 'sesuatu' dalam nada ucapan barusan. Hanya saja, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan pertanyaannya.


"Apakah benar orang tua itu menjabat sebagai Wakil Ketua Partai Gunung Pedang?" tanyanya lebih jauh.