Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dewa Pedang yang Sesungguhnya


Suasana di sana kembali hening. Setelah Zhang Liong tidak berbicara, Zhang Fei pun tidak berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepala serendah mungkin.


Pada saat ini, memang tidak ada suatu hal lagi yang pantas untuk dia bicarakan. Kecuali hanya diam dan mendengarkan pesan-pesan dari kakeknya tersebut.


"Dua tahun, dua tahun sudah berlalu kembali. Waktu terasa begitu cepat. Sebenarnya, aku masih ingin bersamamu. Sayang sekali, kenyataan sudah tidak mendukung lagi,"


Zhang Liong menghela nafas berat. Sebenarnya dia sendiri merasa tidak rela untuk berpisah dengan cucunya. Tapi apa daya, kenyataan telah berkata lain.


"Tapi, Kek. Aku masih bisa tinggal lebih lama di sini," kata Zhang Fei tiba-tiba menjawab.


"Dasar bodoh!" kakek tua itu tiba-tiba memaki dirinya. "Kau tahu, semakin lama dirimu tinggal di sini, maka akan semakin banyak pula nyawa manusia yang melayang,"


"Maksud, Kakek?"


"Kau tidak perlu bertanya. Sebab kau sendiri sudah mengetahui jawabannya,"


Zhang Fei kembali menutup mulut dan menundukkan kepalanya. Di hadapan kakeknya ini, ia memang tidak bisa berbuat banyak.


Jangankan untuk berbohong, bahkan berdebat dengannya saja, ia tidak mampu melakukannya.


Lagi pula, apa yang dikatakan oleh Zhang Liong barusan, ia memang sudah mengerti maksudnya.


Itu artinya, dunia persilatan sekarang sudah benar-benar gawat. Negerinya berada di ambang kehancuran. Terutama sekali dunia persilatannya.


"Anak Fei ..." setelah sekian lama membungkam mulut, akhirnya Zhang Liong bicara lagi.


"Sekarang kemampuanmu sudah lebih dari cukup. Ilmu pedang milikmu juga sudah sempurna. Semua jurus yang terdapat dalam Kitab Pedang Dewa, sudah kau kuasai dengan baik. Bahkan lebih baik daripada aku sendiri. Bekal untuk mengembara dalam dunia persilatan, semuanya sudah mumpuni,"


"Tapi kau jangan pernah tinggi hati. Apalagi sampai memandang rendah musuhmu. Kau harus ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Walaupun kau sudah hebat, pasti masih terdapat banyak lagi tokoh-tokoh yang jauh lebih hebat. Dunia ini sangat luas. Begitu juga dengan dunia persilatan,"


"Apakah kau mengerti?"


"Aku mengerti, Kek,"


"Bagus. Dan ingat, walaupun kau sudah menguasai jurus Kitab Pedang Dewa dengan sangat baik, tapi kau belum menjadi seorang Dewa Pedang,"


Zhang Liong berhenti sebentar. Meneguk araknya beberapa kali, lalu memandangi wajah cucunya.


"Kau tahu, bagaimanakah seseorang yang sudah bisa dianggap sebagai Dewa Pedang?"


"Tentunya adalah dia yang sudah mempunyai ilmu pedang tak terkalahkan," jawab Zhang Fei dengan tegas.


"Kau keliru," katanya seraya menggelengkan kepala.


"Aku keliru?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.


"Ya, kau keliru. Walaupun ucapanmu itu ada benarnya, tapi yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Seseorang yang telah menjadi Dewa Pedang, adalah dia yang telah berhasil menyatukan diri dengan pedangnya. Pedang adalah dia, dan dia adalah pedang. Kau bisa memahami pedangmu, begitu juga dengan pedangmu yang bisa memahami dirimu,"


"Lebih dari itu, seorang Dewa Pedang, tidak perlu lagi membawa pedangnya,"


"Kenapa demikian?"


"Karena pedangnya sudah menyatu bersama jiwa raganya. Pedangnya tidak lagi ada di tangan. Tapi ada di hati," ucap Zhang Liong seraya memegang dadanya, tepat dimana hatinya berada.


"Sekarang kau masih jauh untuk sampai ke titik tersebut. Tapi apabila suatu saat nanti kau mampu mencapainya, maka pada saat itu pula, kau telah berubah menjadi Dewa Pedang,"


Angin pegunungan yang dingin tiba-tiba berhembus. Bau harum bunga di taman itu, mendadak tercium.


Suasana di sana kembali dicekam oleh keheningan. Zhang Liong sedang mengawasi Zhang Fei dengan seksama.


Sedangkan anak muda itu sendiri, saat ini sedang tenggelam bersama pesan-pesan yang diberikan oleh kakeknya.


Lama, lama sekali keduanya duduk dalam keadaan mulut terbungkam.


"Sekarang saatnya sudah benar-benar tiba," katanya mendadak bicara lagi. "Anak Fei, bereskan barang bawaanmu, dan pergilah dari sini sekarang juga,"


Orang tua itu bicara tanpa memalingkan wajahnya. Seolah-olah dia sengaja melakukan hal tersebut supaya cucunya tidak tahu, bahwa pada saat ini ia sedang menahan perasaan sedih.


Hampir saja air matanya jatuh membasahi pipi. Untunglah dia telah menguatkan tekad. Sehingga air mata itu tidak sampai benar-benar jatuh.


Sementara itu, Zhang Fei juga segera bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam gubuk.


Dia tidak mau membantah ucapan kakeknya. Sebab Zhang Fei cukup paham bagaimanakah sifat aslinya.


"Aku sudah selesai, Kek," ucapnya ketika ia sudah berada tepat di belakang Zhang Liong.


"Bagus. Aku ada sedikit tugas untukmu," katanya kemudian.


"Tugas apa itu?"


"Kau pergilah ke rumah Hartawan Cong Lai. Lihat bagaimana kabarnya. Aku merasa dia mempunyai urusan, apalagi orang suruhannya tidak pernah lagi datang kemari. Apabila benar dia mengalami kesusahan, bantulah dirinya. Bagaimanapun juga, dia adalah orang yang sudah membantuku selama ini,"


"Baik, Kek. Aku pasti akan melakukan tugas ini,"


"Masih ada tugas lain. Kau pergilah ke Bukit Selaksa Bunga. Di sana ada seorang pertapa tua. Beritahukan kepadanya bahwa kau adalah cucuku yang akan menjadi wakil,"


"Wakil apa, Kek?"


"Kau akan tahu sendiri nanti,"


"Baiklah. Aku pasti akan pergi ke sana,"


Zhang Fei tidak mau banyak bertanya lagi. Apabila kakeknya tidak mau menjawab, maka ia pun tidak akan pernah memaksa.


"Sekarang, pergilah," ujarnya sambil memberikan isyarat dengan tangan.


"Baik, Kek. Aku akan pergi sekarang juga,"


Dia kemudian bersujud dan menyembah tiga kali.


Ini adalah penghormatannya yang terakhir. Sebab Zhang Fei tahu, setelah ia turun gunung, dirinya tidak akan pernah lagi berjumpa dengannya. Bahkan walaupun itu hanya sesaat.


Sebab dia juga mengerti, sekarang tugas kakeknya sudah selesai.


Tidak ada lagi persoalan yang membuatnya risau. Maka dari itu, tidak bertanya pun, ia sudah paham bahwa kakeknya akan mengasingkan diri di tempat yang benar-benar tidak diketahui dan ditemukan oleh manusia lain.


Dan pada akhirnya, orang tua itu akan pergi. Pergi dan tidak mungkin kembali lagi.


Tak tahan lagi, air mata Zhang Fei tiba-tiba jatuh membasahi tanah di bawahnya. Ia sudah menahan air mata itu. Sayangnya, ia tidak bisa menahan lebih lama lagi.


Lewat beberapa saat kemudian, ia segera bangkit berdiri. Zhang Fei membalikkan badan, lalu segera melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf tinggi.


Hanya beberapa tarikan nafas saja, anak muda yang kini berusia dua puluh dua tahun itu, telah lenyap dari pandangan mata.


Begitu bayangan tubuh cucunya telah benar-benar menghilang, pada saat itulah Zhang Liong membalikkan tubuh.


Ternyata dia sudah menangis. Air mata ternyata telah meleleh keluar. Semilir angin berhembus membawa kesedihan dan kepedihan.


Bunga-bunga yang mekar mendadak berguguran. Matahari yang bersinar terik pun tiba-tiba tertutupi oleh awan kelabu.


"Selamat berjuang, cucuku. Kau pasti bisa mencapai impianmu itu," gumamnya sambil memberikan senyuman.


Senyuman yang membahagiakan, sekaligus senyuman yang membawa kesedihan.