Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berkumpulnya Para Pendekar


Zhang Fei kembali tersenyum. Sepasang matanya lagi-lagi melirik gadis yang tertawa itu. Entah kenapa, secara tidak sadar, ia justru menyukai ekspresi Yao Mei saat sedang tertawa.


Dia merasakan seolah-olah itu adalah hal terindah yang pernah dilihatnya. Zhang Fei juga merasa, saat memandangnya, semua beban yang ada di pundak hilang begitu saja.


Cukup lama ia memperhatikannya. Yao Mei sendiri menyadari bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang lain. Tapi entah kenapa, ia tidak mau melarangnya. Dia justru merasa nyaman saat dilihat oleh Zhang Fei.


Hingga tanpa mereka sadari, keduanya berpandangan untuk beberapa saat.


Dunia seolah-olah berhenti berputar. Waktu pun berhenti.


Seulas senyuman tiba-tiba tersungging di mulut mereka masing-masing.


"Oh, rupanya di sini sedang ada sepasang kekasih yang melepaskan rindu? Kalau begitu maafkan aku telah mengganggu. Aku terpaksa lewat ke sini karena ingin menuju ke atas gunung," sebuah suara yang sedikit dingin dan hambar tiba-tiba terdengar di telinga.


Zhang Fei dan Yao Mei yang sedang berpandangan mata, langsung tersadar seketika.


Pada saat menoleh, ternyata yang berbicara barusan itu bukan lain adalah Yin Yin. Cucu dari Ketua Partai Pengemis.


"Nona Yin, apa ... apa maksudmu? Dia ... dia bukan ..."


"Apa? Sekali lagi maaf aku telah mengganggumu," sambil bicara demikian, Yin Yin melanjutkan langkahnya kembali.


Dia tidak mau lagi menoleh ke belakang. Ia tidak sudi!


Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Nafasnya terasa sesak. Malah langkah kakinya juga berat.


'Apa ini? Apa yang telah terjadi kepada diriku?' Yin Yin bertanya-tanya dalam hatinya.


Dia tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Yang jelas, ini adalah kali pertama dia merasakan hal seperti itu.


Sementara di satu sisi lain, ketika melihat kepergian Yin Yin, sebenarnya saat itu Zhang Fei ingin mengejar. Hanya saja dia sendiri kebingungan.


Kalau mengejar Yin Yin, bagaiamana dengan Yao Mei?


Karena alasan tersebut, maka dirinya tidak melakukan apa-apa. Zhang Fei hanya mampu memandangi kepergiannya.


"Siapa dia? Apakah dia kekasihmu?" tanya Yao Mei secara tiba-tiba. Suaranya berubah menjadi dingin lagi. Malah wajahnya juga ikut berubah. Mirip seperti seorang kekasih yang sedang cemburu.


"Bukan, dia bukan kekasihku. Dia adalah cucu dari Ketua Partai Pengemis," jawab Zhang Fei berusaha menjelaskan.


"Lalu, kenapa kau terus melihat kepergiannya? Kau tidak rela dia pergi? Baiklah. Biar aku yang pergi saja,"


Yao Mei langsung membalikkan tubuh. Ia benar-benar pergi dari sana.


"Nona Yao, tunggu!"


Wushh!!!


Zhang Fei berusaha mengejar dengan ilmu meringankan tubuh. Sayangnya, dia tidak berhasil menemukan Yao Mei.


"Aih, kenapa lagi-lagi aku terlibat dalam masalah wanita," gumamnya menggerutu.


###


Malam telah larut. Kentongan pertama sudah dibunyikan di kejauhan. Suasana di sekitar wilayah Gunung Lima Jari semakin ramai.


Semakin bertambahnya waktu, maka semakin banyak pula para pendekar yang berdatangan.


Wajahnya sudah mulai memerah. Matanya sayu. Tapi ia masih ingat akan keadaan sekitar. Walaupun sudah sedikit merasa pusing, tapi Zhang Fei belum benar-benar mabuk.


Alasan kenapa dia minum sebanyak itu, bukan lain adalah karena dirinya ingin melupakan wajah Yao Mei. Terutama sekali senyumannya. Dia ingin melupakan hal itu.


Tapi mengapa ia tidak bisa? Semakin dilupakan, justru bayangan wajahnya malah semakin jelas terlihat. Ada apa ini? Benarkah Zhang Fei sudah menyukai Yao Mei?


Ia tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu-menahu soal perasaan.


Zhang Fei kemudian menoleh ke tempat sekitar. Ternyata di kedai arak itu ada cukup banyak pendekar yang juga sedang minum bersama rekan-rekannya. Sembari demikian, tidak lupa juga mereka membicarakan peristiwa yang akan terjadi di Gunung Lima Jari ini.


Setelah mendengar pembicaraan mereka beberapa saat, rupanya perebutan benda pusaka itu akan terjadi besok malam. Tepat pada saat bulan purnama.


'Pantas saja para pendekar yang hadir semakin banyak,' batinnya sambil memperhatikan keadaan di dalam kedai arak.


Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Zhang Fei bangkit berdiri. Dia berjalan menemui pemilik kedai dan segera membayar biaya minumnya.


Sekarang dirinya sudah mengetahui kapan waktu perebutan benda pusaka itu. Jadi, mau tidak mau Zhang Fei harus beristirahat total. Ia harus menyiapkan tenaganya.


Tengah malam besok adalah penentuan. Penentuan berhasil tidaknya tugas yang dia emban. Juga penentuan mati hidupnya sendiri.


Tidak lama kemudian, Zhang Fei sudah berada di tengah hutan kembali. Di sana gelap gulita. Untunglah ada sedikit pantulan sinar rembulan, sehingga dirinya masih bisa melihat keadaan di sekitar.


Anak muda itu mulai mencari tempat untuk tidur. Kebetulan tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, ia menemukan sebuah goa kecil.


Dia berjalan ke arah goa. Setelah dipastikan tidak ada penghuninya, Zhang Fei langsung membersihkan keadaan di dalam yang memang kotor.


Begitu selesai, tanpa melakukan kegiatan apapun lagi, dia lantas tidur. Tidur dengan sangat nyenyak ditemani oleh api unggun yang ia buat dari ranting kayu kering.


###


Zhang Fei terbangun saat fajar mulai muncul. Ia langsung mencari sungai untuk membersihkan diri, lalu setelahnya langsung berburu ayam hutan. Kebetulan, perutnya terasa lapar. Mungkin karena semalam tidak sempat makan.


Lewat beberapa saat kemudian, ia berhasil juga mendapatkan satu ekor ayam hutan. Walaupun ukurannya tidak terlalu besar, tapi setidaknya sudah cukup untuk mengganjal perut sendiri.


Saat hari masuk siang, pemuda itu kemudian keluar dari hutan. Dia langsung naik ke Gunung Lima Jari.


Pertama kali tiba di jalan setapak, Zhang Fei dibuat terkejut. Sebab di sana sudah ada banyak sekali orang yang berkumpul. Para warga yang berdagang semakin banyak. Suara riuh dari pembicaraan orang-orang terdengar silih berganti.


Saat tengah hari, akhirnya dia sudah berhasil tiba di atas Gunung Lima Jari.


Di sana, di sebuah halaman yang sangat luas, saat ini sudah terlihat ada puluhan orang yang sedang berkumpul. Mereka ada yang berkelompok, ada pula yang duduk seorang diri.


Tidak perlu ditanyakan lagi, semua orang itu pastilah para pendekar dunia persilatan.


Zhang Fei memandang berkeliling. Dia cukup terkejut, sebab ini adalah kali pertamanya ia berada di tengah-tengah puluhan pendekar kelas atas.


"Dengan orang sebanyak ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya pertempuran nanti," gumam Zhang Fei sambil terus memperhatikan keadaan.


Baru membayangkannya saja sudah begitu mengerikan. Lalu bagaimana jadinya apabila nanti dia benar-benar akan terlibat dalam pertempuran? Mungkin ia akan selamat?


Setelah melihat kenyataan secara langsung, jujur saja, Zhang Fei jadi tidak punya keyakinan penuh seperti semula.


Andai dia dikepung oleh puluhan pendekar kelas bawah, mungkin dirinya masih bisa lepas cukup mudah. Tapi kalau dikepung oleh para pendekar kelas atas, benarkah dia bisa melepaskan diri?


Jangankan dirinya, mungkin sekelas Datuk Dunia Persilatan sendiri, tidak akan yakin mampu keluar dari kepungan tersebut.