
Orang Tua Aneh Tionggoan berkata dengan nada sedingin es. Wajahnya juga menggambarkan kesan bahwa dia sedang meremehkan kemampuan musuhnya.
Satu tarikan nafas kemudian, Orang Tua Aneh Tionggoan melepaskan jepitan dua jarinya tersebut. Sebelum si Naga Tengah mengambil tindakan lebih jauh, dengan gerakan yang sangat cepat, Datuk Dunia Persilatan itu langsung menyentil pedang pusaka lawan.
Tringg!!! Clangg!!!
Bunyi nyaring terdengar cukup lama. Begitu bunyi tersebut berhenti, pedang milik si Naga Tengah langsung dibuat patah menjadi dua bagian.
Kutungan pedangnya jatuh di bawah kaki. Mimpi pun dia tidak pernah bahwa senjata pusaka yang ia banggakan selama ini, ternyata bisa dipatahkan dengan mudah hanya menggunakan sentilan dua jari.
Kalau tidak mengalami secara langsung, niscaya dia tidak akan percaya bahwa dirinya akan bertemu dengan tokoh angkatan tua dunia persilatan yang mampu mematahkan pedangnya.
Si Naga Tengah kemudian melompat mundur ke belakang. Ia tidak melanjutkan lagi serangannya. Sepasang mata itu memandang ke arah kutungan pedang dan Orang Tua Aneh Tionggoan secara bergantian.
Seakan-akan dirinya masih belum percaya dengan kejadian barusan.
Sementara di sisinya, Naga Kanan dan Naga Kiri juga sama terkejutnya dengan si Naga Tengah. Dua orang pendekar itu pun tidak menyangka bahwa tua bangka yang dianggap lemah, ternyata malah mempunyai kemampuan yang sulit dibayangkan.
"Mengapa kalian malah melamun saja? Ayo serang dan bunuh dia secepat mungkin!" teriak si Naga Tengah sangat kesal kepada dua saudaranya tersebut.
Naga Kanan dan Naga Kiri tersentak kaget. Seakan-akan mereka baru terbangun dari tidurnya.
"Serang!"
"Bunuh!"
Mereka berkata hampir secara bersamaan. Dua batang pedang pendek kembali datang dari dua arah berbeda. Dalam serangan tersebut, mereka juga telah mengeluarkan kembali jurus-jurusnya.
Dengan dorongan tenaga sampai ke titik maksimal, tentu saja hasil dari serangan mereka tidak perlu diragukan lagi. Tenaga yang terkandung di dalamnya benar-benar hebat.
Namun sayangnya, sekarang mereka telah bertemu dengan orang yang salah. Lawan yang mereka hadapi saat ini bukanlah tua bangka bobrok seperti yang dibayangkan!
Wutt!!! Wutt!!!
Kelebatan dua batang pedang datang secara bersamaan. Begitu hampir menyentuh tubuh, dua batang pedang tersebut segera menyerang lebih ganas lagi. Naga Kanan dan Naga Kiri tidak menarik usahanya. Dia malah mulai menggmpur Orang Tua Aneh Tionggoan dengan jurus-jurus gabungan.
Lapisan cahaya putih keperakan tampak seperti ombak yang datang bergulung-gulung. Hawa pedang menyatu dalam setiap gerakannya.
Orang Tua Aneh Tionggoan tersenyum mengejek. Walaupun serangan mereka hebat dan mampu membunuh manusia dalam waktu singkat, tetapi baginya tidak berarti apa-apa. Jurus gabungan yang luar biasa tersebut, di matanya ibarat jurus gabungan biasa saja.
Dengan mudah saja dia melepaskan diri dari kurungan dua batang pedang. Secara perlahan, ia juga mulai menangkis setiap senjata lawan menggunakan jari-jari tangannya.
Meskipun hanya jari tangan, tetapi karena jari tersebut milik Orang Tua Aneh Tionggoan, maka sudah tentu tidak boleh dipandang sebelah mata.
Suara nyaring seperti logam bertemu logam kembali terdengar. Selama beberapa jurus mereka terus berada di posisi itu. Pada saat mencapai lima jurus berikutnya, tiba-tiba Orang Tua Aneh Tionggoan membentak nyaring mengeluarkan jurusnya.
"Totokan Jari Tunggal!"
Wutt!!!
Ia melesat ke depan untuk memperpendek jaraknya. Setelah berhasil, hal pertama yang dia lakukan adalah menyentil dua batang pedang sampai patah kembali.
Tiga jurus kemudian, hasilnya langsung terlihat dengan jelas!
Naga Kanan dan Naga Kiri, tahu-tahu sudah terkapar di atas tanah dalam keadaan tubuh terlentang. Seluruh tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak lagi. Dari setiap lubang di tubuhnya, tampak mengeluarkan darah segar kehitaman.
Kedua mata mereka melotot. Seolah-olah bola matanya ingin melompat keluar.
Sungguh, kematian yang sangat tragis!
Melihat dua orang saudaranya sudah terkapar tewas secara mengenaskan, si Naga Tengah terlihat sangat tidak terima. Sambil melemparkan kutungan pedang ke arah Orang Tua Aneh Tionggoan, dia membarengi juga dengan serangan tangan kosong.
Wutt!!! Wushh!!!
Pukulan beruntun berhawa panas datang tanpa henti. Ia memukul ke setiap titik penting.
Orang Tua Aneh Tionggoan pertama-tama memiringkan tubuhnya untuk menghindari lesatan pedang tersebut. Setelah berhasil dengan usaha itu, dia langsung menyambut pukulan lawan menggunakan kedua telapak tangannya.
Karena tidak mau membuang waktu lebih lama, maka pada saat mendapatkan kesempatan, tiba-tiba dirinya mengirimkan serangan telapak tangan secara mendadak.
Bukk!!!
Si Naga Tengah terdorong bahkan sampai melayang mundur ke belakang dengan cepat. Tubuhnya bergulingan di tanah sebanyak beberapa kali.
Begitu berhenti, nyawa sudah melayang pergi. Ia ikut menyusul dua orang saudaranya yang tewas lebih dulu!
Pertarungan tersebut berjalan dengan sangat cepat. Bahkan Orang Tua Aneh Tionggoan mampu membunuh Tiga Naga Daratan Timur hanya dalam waktu dua puluh satu jurus saja!
Melihat atasannya tewas, para prajurit yang ada di sekitar sana langsung berlari secepat mungkin. Mereka ingin menyelamatkan dirinya masing-masing.
Namun naasnya, pasukan Kekaisaran Song justru sudah siap sejak tadi. Puluhan batang tombak tiba-tiba melayang secepat kilat dan langsung menembus tubuh mereka dengan mudah.
Setelah berhasil membunuh Tiga Naga Daratan Timur, Orang Tua Aneh Tionggoan juga segera pergi dari sana. Dia akan mencari tokoh-tokoh dunia persilatan lain yang ikut bertempur dalam peperangan tersebut.
Sementara itu di sebelah Utara, di sana tampak ada Dewa Arak Tanpa Bayangan yang sedang bertarung sengit melawan dua orang musuhnya.
Dua tokoh persilatan yang sedang dia hadapi saat ini mempunyai usia yang terpaut cukup jauh. Yang satu hampir sebaya dengan dirinya sendiri. Sedangkan yang satu lagi, paling-paling baru berumur empat puluh lima tahun.
Tetapi, jangan dilihat dari segi umurnya saja. Walaupun terhitung masih muda, namun kemampuannya justru sangat tinggi.
Menurut pengamatan Dewa Arak Tanpa Bayangan selama menjalani pertarungan, setidaknya orang itu sudah setara dengan pendekar pilih tanding.
Kemampuannya dalam memainkan belati kembar sungguh tidak bisa dipandang sebelah mata. Ilmu-ilmu belati miliknya sangat berbeda dengan orang lain.
Berada dalam genggaman tangannya, kedua belati tersebut justru seperti hidup. Seakan-akan memang memiliki nyawanya sendiri.
Untungnya pengalaman bertarung Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah tidak perlu diragukan lagi. Sehingga walaupun saat ini menghadapi dua orang musuh tangguh sekali pun, dia masih tetap bisa mempertahankan selembar nyawanya.
Tidak hanya itu saja, bahkan dari awal sampai sekarang, rasanya posisi Datuk Dunia Persilatan tersebut juga selalu aman. Ia tidak pernah terdesak hebat, kecuali hanya sedikit.
'Yang mengkhawatirkan di antara dua orang ini adalah tua bangka itu. Kemampuannya bahkan tidak berada jauh di bawah kemampuanku. Hemm ... kalau aku tidak salah duga, sepertinya dia pun adalah seorang Datuk Dunia Persilatan,' batinnya berkata sambil mengamati tokoh tua yang mengenakan jubah abu-abu.