
Benturan jurus tangan kosong terjadi. Pendekar Gelandangan bergerak ke sana kemari supaya bisa terhindar dari serangan Zhang Fei.
Kedua tangan yang terlihat sudah lemah itu, tiba-tiba saja berubah menjadi dipenuhi oleh tenaga. Benturan antar tulang terus berlangsung.
Pertarungan mereka disaksikan langsung oleh banyak orang. Para anggota Organisasi Pedang Cahaya memperhatikan pertarungan Ketuanya dengan ekspresi wajah serius.
Walaupun mereka sudah tahu bahwa Zhang Fei adalah tokoh pilih tanding, tetapi rasanya baru kali ini saja mereka bisa menyaksikannya secara langsung.
"Coba tebak, kira-kira pertarungan ini akan berlangsung sampai kapan?" tanya salah seorang anggota kepada yang lainnya.
"Aku rasa, dalam waktu tiga puluh jurus lagi, pertarungan ini akan selesai," sahut Zhu Yun dengan cepat.
"Mengapa bisa begitu?" tanya anggota tadi.
"Ya, mengapa bisa berakhir secepat itu? Bukankah Pendekar Gelandangan adalah lawan yang sulit untuk dihadapi?" anggota yang lain ikut bertanya. Dia pun merasa penasaran dengan jawaban Zhu Yun.
"Hal itu terjadi karena Ketua Fei sudah mengetahui titik kelemahan lawan. Sebelumnya dia hanya bertarung dengan cuma-cuma saja. Tujuannya adalah untuk mencari kelemahan itu. Dan sekarang, aku rasa Ketua Fei sudah berhasil dalam usahanya," sebelum Zhu Yun memberikan jawaban, Tio Goan malah sudah berkata lebih dulu.
"Benarkah? Mengapa Tuan Goan mengetahui hal itu?"
"Coba kalian lihat tatapan mata Ketua Fei. Asal tahu saja, tatapan mata seperti itu menandakan bahwa seseorang sudah merasa puas karena telah berhasil mencapai tujuannya. Lagi pula, meskipun dugaan pertama salah, aku yakin dugaan yang kedua ini sangat benar,"
"Dugaan apa?"
"Sekarang, Ketua Fei sudah mengeluarkan kemampuan lebih dari setengahnya. Dengan hal itu, aku yakin tua bangka tersebut akan langsung kewalahan,"
Anggota yang bertanya langsung terdiam. Secara serempak, mereka kembali serius memperhatikan jalannya pertarungan yang masih berlangsung itu.
Saat ini, Zhang Fei masih mencecar Pendekar Gelandangan dengan jurus Telapak Dewa Maut. Kedua telapak tangannya mengincar seluruh tubuh.
Tokoh sesat itu mulai kewalahan. Meskipun dia sudah menahan dengan jurus-jurus miliknya, tapi hal itu tidak mendatangkan keuntungan yang begitu banyak.
Gerakan Zhang Fei teramat cepat. Bahkan melebihi kecepatan sebelumnya.
Dalam hati, Pendekar Gelandangan merasa heran dengan kemampuan Zhang Fei yang bisa meningkat secara tiba-tiba itu.
Padahal sebelumnya, dia sudah berpikir bahwa anak muda tersebut telah mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuannya.
Sayang sekali, ia sudah salah menduga.
Wutt!!!
Zhang Fei tiba-tiba menerjang ke depan. Kedua tangannya menyerang secara bergantian. Pendekar Gelandangan menahan luka dengan punggung tangan. Benturan antar tulang lagi-lagi terjadi.
Dalam pada itu, Pendekar Gelandangan mau tak mau terus dibuat mundur.
'Kalau seperti ini, bisa-bisa aku mati konyol,' batinnya berkata.
Berpikir sampai kesitu, tiba-tiba ia membentak nyaring. Zhang Fei sempat terdorong sejauh dua langkah. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Pendekar Gelandangan kemudian mengeluarkan lagi jurus yang lainnya.
"Jurus Menggeser Gunung!"
Wutt!!!
Gelombang angin tiba-tiba menerpa ke arah Zhang Fei. Ia melancarkan pukulan dengan kedua tangannya secara bergantian. Gerakannya tidak terlalu cepat.
Tapi tenaga yang terkandung dalam setiap pukulan itu sangatlah besar. Seolah-olah setiap pukulan mampu menggeserkan sebuah gunung sekali pun.
Blamm!!!
Zhang Fei terkena pukulan lawan cukup telak. Nafasnya terasa sesak untuk beberapa saat. Apalagi, yang terkena serangan itu adalah bagian dada.
Untunglah sebelum itu Zhang Fei telah melindungi tubuhnya dengan hawa murni. Sehingga luka yang ia derita tidak terlalu parah.
"Mampus kau bocah setan!" teriak Pendekar Gelandangan sambil menerjang ke depan.
Wushh!!!
Zhang Fei tersenyum dingin. Tanpa disadari oleh pihak lawan, dia langsung mengambil tindakan cepat.
Kakinya menggeser sedikit. Kepalanya dimiringkan. Pukulan beruntun itu lewat sedikit di depannya. Angin pukulan yang dihasilkan terasa panas. Namun Zhang Fei sudah mempersiapkan diri untuk hal tersebut.
"Telapak Selaksa Budha!"
Blamm!!!
Dalam waktu yang tidak disangka-sangka, mendadak tangan kanannya melancarkan lagi serangan dengan telapak.
Pendekar Gelandangan mengeluh cukup keras. Ulu hatinya terkena serangan dengan telak. Ia terlempar empat langkah ke belakang.
"Hiatt!!!"
Blamm!!!
Pukulan terakhir sudah dilancarkan sambil melompat. Untuk yang kedua kalinya, orang tua itu kembali terlempar bahkan sampai tujuh langkah.
Kali ini, tubuhnya bahkan sampai bergulingan sejauh sepuluh langkah ke belakang. Begitu berhenti bergulingan, Pendekar Gelandangan langsung memuntahkan darah segar dengan jumlah cukup banyak.
Ia muntah beberapa kali. Wajahnya pucat pasi seperti mayat.
"Kau sudah mengalami luka dalam yang sangat parah. Aku rasa, saat ini tidak ada seorang pun yang bisa menyembuhkanmu," ucap Zhang Fei sambil berjalan mendekat ke arahnya.
Pendekar Gelandangan berusaha bangun dari posisinya. Tapi ia tidak sanggup. Orang tua itu hanya mampu berlutut sambil menatap Zhang Fei.
"Jangan bergerak," kata Ketua Dunia Persilatan dengan nada hambar.
Hoekk!!!
Tokoh sesat itu kembali muntah. Gumpalan darah kehitaman keluar. Ia merasakan sakit di bagian dadanya.
"Jurusmu itu benar-benar hebat. Aku ... aku merasa tidak kuat menahannya," ia berkata dengan susah payah.
"Asal kau tahu saja, jurus Telapak Selaksa Budha adalah salah satu jurus kelas atas di masa lalu. Dulu saja, hanya sedikit orang yang mampu menahannya,"
"Jadi ... itu adalah jurus yang sudah sangat lama menghilang?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Zhang Fei sambil menganggukkan kepala.
Pendekar Gelandangan menundukkan kepalanya. Ia tidak lagi memandang Zhang Fei. Kedua tangannya tiba-tiba terkepal. Ia menggertakkan gigi cukup keras.
"Haa!" tokoh sesat tersebut tiba-tiba berteriak dengan keras. Bersamaan dengan itu, dia pun langsung melancarkan pukulan terakhirnya.
Dengan jarak yang sangat dekat tersebut, tentu saja tidak ada waktu lagi bagi Zhang Fei untuk menghindari serangannya.
Namun siapa nyana, tepat sebelum pukulan benar-benar mengenai sasaran, tiba-tiba tangan Pendekar Gelandangan terkulai lemah.
Selanjutnya ia ambruk kembali di atas tanah dalam posisi telungkup.
"Ke-kenapa ..." ia tidak mampu menyelesaikan perkataannya karena sudah tidak mempunyai tenaga lagi.
"Sudah aku ingatkan, jangan bergerak. Tapi kau malah keras kepala. Sekarang, rasakan saja akibatnya," ujar Zhang Fei sambil tersenyum dingin.
Orang tua itu tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Dia hanya menyesali dalam hatinya. Beberapa saat kemudian, kedua matanya melotot besar. Pendekar Gelandangan sempat mengeluarkan suara keluhan yang menandakan rasa sakit sebelum ia mengejang keras beberapa kali.
"Hahh ..." Zhang Fei menghembuskan nafas panjang setelah tokoh sesat itu benar-benar tewas.
Setelah kematiannya, Ketua Dunia Persilatan segera memeriksa tubuh Pendekar Gelandangan. Ia merogoh saku bajunya. Berharap bisa menemukan suatu petunjuk.
Sayangnya, Zhang Fei tidak berhasil menemukan sesuatu apapun juga.
"Sepertinya mereka tidak bekerja sama dengan Kekaisaran lain," gumamnya.
Sesaat kemudian, Zhang Fei langsung bangkit berdiri. Dia berjalan ke arah para anggota Organisasi Pedang Cahaya yang sejak tadi memperhatikannya.