Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kondisi Ketua Dunia Persilatan


Waktu terus berlalu, setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, akhirnya Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan sudah berhasil tiba di tempat tujuannya.


Dari kejauhan, Gedung Ketua Dunia Persilatan masih tetap terlihat angker. Semua orang yang memandangnya pasti akan langsung bergidik ngeri.


Hal semacam itu tidak hanya berlaku bagi orang-orang awam saja. Bahkan bagi para pendekar dunia persilatan pun tidak terkecuali.


Mereka berlima terus melarikan kuda ke arah Gedung Ketua Dunia Persilatan. Di depan gerbang, terlibat ada dua orang pendekar kelas satu yang sedang berjaga-jaga.


Ketika melihat lima orang tersebut tiba, dua penjaga itu segera membungkukkan badan memberikan hormat. Mereka tentu saja mengenal dan tahu terhadap lima orang yang kini berada di depannya.


"Bolehkah kami masuk ke dalam?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan tanpa basa-basi.


"Silahkan, Tuan Kiang. Silahkan," jawab penjaga tersebut sambil memberikan isyarat.


Pintu gerbang yang tinggi kokoh langsung terbuka. Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan segera masuk ke sana. Suasana di halaman terlihat sepi sunyi. Walaupun tampak terawat dengan baik, tapi mereka tidak menemukan satu orang pun yang berkeliaran.


Ketika hampir sampai di depan pintu utama, mereka segera melompat turun dari punggung kuda. Lima orang pegawai Gedung Ketua Dunia Persilatan tiba-tiba muncul dan segera mengambil alih lima ekor kuda jempolan. Nantinya mereka akan menyimpan kuda tersebut di tempat yang sudah tersedia.


Sedangkan lima orang tokoh tersebut, mereka kemudian berjalan menghampiri dua orang penjaga pintu yang sedang berdiri tegak seperti dua batang tombak.


"Selamat pagi, Nyonya dan Tuan-tuan," kata salah satu penjaga menyapa terlebih dahulu.


"Pagi," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat. "Bolehkan kami masuk ke dalam?"


Dua orang penjaga pintu utama saling pandang satu sama lain. Mereka tidak segera menjawab karena merasa bingung.


Perlu diketahui, semenjak Ketua Dunia Persilatan Beng Liong jatuh sakit, penasihat pribadinya telah memesan kepada para penjaga untuk tidak menerima tamu. Siapa pun tamu itu, dia tetap tidak diperbolehkan masuk.


Sedangkan alasan kenapa dua penjaga gerbang tadi memperbolehkan Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan masuk, bukan lain adalah karena mereka merasa bingung untuk menolaknya.


Maka dari itulah, walaupun ragu, mereka tetap memberikannya izin.


Sekarang yang sedang berada dalam kebingungan adalah dua penjaga pintu utama.


Apa yang harus mereka katakan? Apakah menyuruh lima orang itu pergi dengan cara baik-baik? Ataukah tetap membiarkannya masuk ke dalam dan melihat keadaan Ketua Beng Liong?


"Ini ..." penjaga tersebut tampak kebingungan. Dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Kenapa kau terlihat ragu?" Dewa Arak Tanpa Bayangan menatapnya dengan tatapan dalam. Hal itu membuat si penjaga menjadi semakin tidak enak dan salah tingkah.


Pada saat keadaan di depan pintu sedikit tegang, tiba-tiba pintu utama tersebut mendadak terbuka. Disusul kemudian dengan munculnya seorang pria tua berumur delapan puluhan tahun.


Pria tua itu mengenakan pakaian serba putih. Rambut dan janggutnya yang panjang hingga menyentuh dada pun memiliki warna yang sama. Tatapan matanya jeli. Bola matanya sendiri hitam bening.


Walaupun wajahnya menenangkan, akan tetapi siapa pun bisa merasakan aura kewibawaan tidak biasa yang keluar dari tubuhnya.


"Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya. Aku akan membawa kalian menemui Ketua Beng Liong," kata pria tua itu sangat sopan.


Tanpa banyak berkata lagi, dia langsung memberikan kode kepada yang lainnya untuk masuk ke dalam.


Pria tua tadi sudah berjalan menuju ke sebuah ruangan. Dalam perjalanan tersebut dirinya tidak banyak bicara. Ia tetap diam seribu bahasa.


Beberapa saat kemudian, pria tua itu sudah berhenti tepat di sebuah ruangan yang lumayan besar.


"Mari masuk, Ketua Beng Liong ada di dalam ruangan ini," kata si pria tua sambil membuka pintu.


Enam orang itu pun segera masuk. Ruangan itu ternyata cukup mewah. Dindingnya dipenuhi dengan lukisan bernilai seni tinggi. Ada pula benda-benda antik yang dipajang di beberapa tempat. Semua perabotan yang terdapat di sana mempunyai kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.


Di tengah-tengah ruangan ada satu pembaringan. Di atas pembaringan itulah ada seseorang yang sedang terbaring lemah tanpa daya.


Baik Zhang Fei maupun Empat Datuk Dunia Persilatan, mereka berlima sama-sama terkejut setelah menyaksikan Ketua Beng Liong.


Bagaimana tidak? Ia yang dulu dikenal sebagai pria gagah dan berwajah tampan, sekarang justru malah terlihat sebaliknya.


Tubuh Ketua Beng Liong sudah kurus kering. Ketampanannya juga mulai memudar. Wajah itu tampak pucat pasi seperti mayat. Bibirnya berwarna keunguan dan setiap saat, seluruh tubuh itu tampak bergetar.


Saat mereka masuk, kebetulan Ketua Beng Liong sedang tertidur. Nafasnya tidak teratur dan setiap kali ia mengambil nafas, seolah-olah dirinya merasa sangat berat.


Sementara itu, di samping pembaringan tersebut ada dua orang pelayan wanita yang masih berusia muda. Mereka berdiri di samping kanan dan kiri dengan sikap penuh hormat.


Sepertinya dua pelayan wanita itukah yang selama ini melayani semua keperluan Ketua Dunia Persilatan.


Enam orang yang baru saja masuk masih berdiri di sana. Di antara mereka tidak ada yang berbicara karena takut mengganggu istirahatnya Ketua Beng Liong.


Setelah merasa puas, keenamnya segera keluar dari ruangan. Pria tua tadi mengajak para tamunya menuju ke ruangan lain yang biasa digunakan untuk berbincang-bincang.


Belum lama mereka tiba, seorang pelayan tiba-tiba muncul dan segera menghidangkan makanan dan beberapa guci arak. Pelayan tersebut melayani semua tamu dengan sangat baik. Setelah tugasnya selesai, ia pun segera pamit undur diri.


Sebelum berbicara serius ,pria tua itu mengajak lima orang tamunya untuk bersulang arak beberapa kali. Setelah itu barulah dia siap berbicara.


"Sebelumnya perkenalkan, namaku adalah Tian Lu, aku adalah Penasihat Pribadi Ketua Beng Liong," ucap orang tua itu memperkenalkan diri.


Lima orang tamu yang duduk di sana menganggukkan kepala. Namun mereka tidak berkata apa-apa. Orang-orang itu menunggu Tian Lu melanjutkan lagi bicaranya.


"Alasan kenapa dua penjaga tadi terlihat kebingungan, itu adalah karena semenjak Ketua Beng Liong jatuh sakit, aku telah memutuskan supaya tidak menerima tamu. Tujuanku melakukan ini adalah untuk menjaga kondisi Ketua Beng Liong," ucapnya menjelaskan secara singkat.


"Tuan Lu, jadi karena alasan itu pula keadaan di halaman tampak sepi?" tanya Zhang Fei secara tiba-tiba.


"Benar, Tuan Muda. Sebab kebanyakan para pegawai yang dulu bekerja di sini, sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. Ketua Beng Liong sedang butuh ketenangan. Jadi aku memulangkan mereka yang memang tidak benar-benar diperlukan,"


Zhang Fei mengangguk sebagai tanda mengerti. Jawaban Tian Lu terdengar sangat masuk akal.


"Kalau aku boleh tahu, sebenarnya sejak kapan Ketua Beng Liong jatuh sakit?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.