Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Yin Yin


Jalan raya di sana dipadati oleh banyak orang. Para warga sekitar, para wisatawan yang sengaja datang dari berbagai daerah, dan juga para pendekar persilatan pun terlihat hadir di jalan tersebut.


Zhang Fei melangkah dengan tenang dan santai. Seperti biasanya, dia selalu disapa oleh orang-orang yang kebetulan menyadari bahwa itu adalah dirinya.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Zhang Fei berhasil juga menemukan rumah makan yang berukuran besar.


Dari kejauhan saja, Zhang Fei sudah bisa melihat bahwa rumah makan itu telah dipenuhi oleh pelanggan setianya.


Dengan cepat ia segera berjalan menuju ke sana. Begitu tiba di depan halaman, di sana sudah ada seorang gadis cantik yang menyambut kedatangannya.


"Selamat datang, Ketua Fei. Senang sekali Anda bisa datang ke tempat kami," kata pelayan muda itu dengan ramah.


"Terimakasih, Nona," sahut Zhang Fei sambil tersenyum. "Aku ingin tanya, benarkah di sini ada Ketua Partai Pengemis?"


"Maaf, Ketua Fei, aku kurang tahu. Tapi, marilah ikuti aku lebih dulu. Biar aku tanyakan kepada majikan,"


Ketua Dunia Persilatan menganggukkan kepala. Begitu si pelayan berjalan, Zhang Fei segera mengikuti di belakangnya.


Ketika Zhang Fei tiba di dekat pintu masuk, ada cukup banyak orang yang tersenyum dan menyapa ke arahnya. Karena merasa bingung, pada akhirnya ia hanya membalas dengan senyuman dan isyarat supaya mereka segera diam.


Sementara itu, pelayan muda tadi saat ini sudah berjalan ke belakang. Dia segera memberikan laporan kepada majikannya terkait kedatangan Zhang Fei.


Tidak lama kemudian, pelayan muda itu sudah datang lagi. Di belakangnya terlibat ada seorang pria berumur lima puluhan tahun.


Pria itu mempunyai postur tubuh gemuk pendek. Kulitnya putih dan matanya sedikit sipit. Pakaian yang ia kenakan terkesan mewah.


"Selamat datang di Rumah Malam Kebahagiaan, Ketua Fei. Semoga Ketua panjang umur dan bahagia selalu," kata pria itu menyapa sambil menghormat ketika ia tiba di depan Ketua Dunia Persilatan.


"Terimakasih, Tuan. Semoga usahamu ini juga selalu ramai," jawab Zhang Fei yang sudah tahu bahwa pria itu bukan lain adalah pemilik dari rumah makan tersebut.


Mendengar ucapan Zhang Fei, pria itu segera membalas senyumannya lebih lebar lagi. Sesaat berikutnya, ia baru mengajukan pertanyaan.


"Ketua Fei, benarkah Ketua sedang mencari seseorang?"


"Benar, aku sedang mencari Ketua Partai Pengemis. Katanya dia menunggu di rumah makan ini,"


"Hemm ... rasanya aku tidak melihat ada Tuan Mu Bai di rumah makan ini. Hanya saja, belum lama ini memang ada empat orang pria dan satu orang wanita muda yang mengaku berasal dari Partai Pengemis,"


Zhang Fei mengerutkan kening. Ia sedikit heran dengan jawaban itu.


Apakah mata-mata tadi telah berbohong?


'Ah, tidak mungkin. Mana berani dia berbohong kepadaku,' batinnya menepis rasa curiga.


Ia yakin laporan yang diberikan oleh mata-mata itu sangat valid. Rasanya sangat mustahil kalau mata-mata tadi berani berlaku kurang ajar kepadanya.


"Baiklah, Tuan. Antarkan saja aku ke sana. Barangkali, mereka memang merupakan perwakilan dari Partai Pengemis," ucapnya merasa sedikit penasaran.


"Baik, Ketua,"


Pemilik Rumah Makan Kebahagiaan kemudian membawa Zhang Fei ke lantai dua. Keadaan di sana ternyata cukup sepi. Dan tepat di pojok ruangan yang dekat dengan jendela, terlihat di sana ada lima orang yang berpenampilan seperti anggota Partai Pengemis. Terutama sekali empat pria yang tadi diceritakan.


Melihat kedatangan Zhang Fei, kelima orang itu langsung bangkit berdiri dan menyambutnya secara sederhana.


"Salam hormat, Ketua Fei," kata si wanita muda mewakili.


"Terimakasih, Nona," sahutnya sambil mengangguk. "Ngomong-ngomong, siapa yang telah mengundangku datang kemari?"


"Oh, baiklah," Zhang Fei lalu menoleh ke arah di pria pendek gemuk. Ia kemudian menyuruhnya untuk segera berlalu dari sana.


Setelah kepergiannya, wanita tadi segera menyuruh Zhang Fei untuk duduk di kursi yang masih kosong. Ia lalu menuangkan secawan arak untuknya.


Zhang Fei menerima cawan arak itu. Ia langsung meminumnya sampai habis.


"Ketua Fei, apakah kau masih ingat denganku?" tanya wanita muda itu sambil tersenyum hangat kepadanya.


Ditanya demikian, Zhang Fei seketika mengangkat kepala dan menatap wajahnya lekat-lekat. Ia memperhatikan wajah gadis tersebut dengan seksama.


Wajah itu, bola mata dan alis mata itu, lesung pipi yang menawan itu ... Zhang Fei cukup terkejut. Untuk beberapa saat, dia tidak dapat bicara.


Ketua Dunia Persilatan tetap menutup mulut. Diluar dia memang tidak bicara. Tapi di dalam hatinya, saat ini ia sedang bertanya-tanya.


Siapa gadis di hadapannya itu? Mengapa begitu cantik dan menarik hati?


Rasanya, Zhang Fei seperti pernah melihat wajah dan senyuman itu. Tapi, di mana? Dan juga milik siapa?


Keadaan di meja itu tetap hening. Tidak ada seorang pun yang berani membuka mulut.


"Tunggu dulu ... bukankah kau adalah ... Nona Yin?" tanya Zhang Fei setelah cukup lama terdiam dan mengingat-ingat kembali.


"Ya, aku adalah Chen Liu Yin, yang biasa dipanggil Yin Yin. Tidak kusangka ... ternyata Ketua Fei masih mengingat gadis jelek sepertiku," katanya sambil kembali memberikan senyuman yang menarik hati tersebut.


Betapa kaget dan terkejutnya Zhang Fei ketika mendengar jawaban barusan. Untuk sesaat lamanya, ia kembali dibuat bengong.


Jadi, gadis cantik di hadapannya itu adalah Yin Yin yang merupakan cucu dari Ketua Partai Pengemis?


Kalau tidak mendengar ucapannya secara langsung, niscaya Zhang Fei tidak akan percaya akan hal ini.


Bukan karena apa, melainkan karena dia sangat kaget. Yin Yin yang dulu tidak bisa disamakan dengan Yin Yin yang sekarang.


Dulu, kecantikannya memang sudah terhitung sangat luar biasa. Namun jika dibandingkan dengan yang sekarang ... kecantikannya itu telah berubah menjadi sempurna.


Kalau dibandingkan, mungkin dulu Yao Mei masih lebih cantik darinya. Tapi sekarang ... sekarang kecantikan dua gadis itu benar-benar setara.


Mereka sama-sama cantik tanpa ada kekurangan sedikit pun.


Zhang Fei sendiri masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataan telah menjawab keraguannya.


"Jadi ... kau benar-benar Yin Yin?" tanyanya menegaskan kembali.


"Tentu saja. Memangnya kau mengira aku ini siapa?" Yin Yin mengangkat kedua alis. Sikapnya langsung berubah ketika Zhang Fei terlihat ragu.


"Tidak, bukan begitu maksudku, Nona Yin. Aku masih belum percaya saja," jawabnya dengan jujur.


"Belum percaya kenapa?"


"Aku belum percaya bahwa sekarang kecantikanmu benar-benar sempurna. Kau ... kau tidak terlihat seperti manusia. Kau mirip seperti bidadari yang sering diceritakan oleh orang-orang,"


"Cih! Ternyata kau masih suka bersikap bodoh seperti dulu!" gadis cantik itu mencibir.


Diluar mungkin demikian, tapi di dalamnya beda lagi. Hatinya berbunga-bunga setelah mendengar pujian dari Zhang Fei.


Ia benar-benar bahagia. Sehingga tanpa sadar bibirnya memberikan senyuman. Sepasang pipinya juga memerah.