Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Mendatangi Markas Cabang Partai Iblis Sesat


"Cucuku dan Anak Fei mengalami luka yang cukup parah. Entah apa penyebabnya, yang jelas saat ini mereka berdua sedang dirawat di markas cabang Partai Pengemis," sambil berkata seperti itu, Pengemis Tongkat Sakti juga menyodorkan surat yang baru saja ia terima.


Dewa Arak Tanpa Bayangan menerima surat tersebut. Kemudian dia pun segera membacanya.


Setelah selesai, ekspresi wajah Datuk Dunia Persilatan itu juga sedikit berubah. Dalam hatinya, ia lebih mengkhawatirkan keselamatan Zhang Fei daripada Yin Yin.


Entah kenapa alasannya. Dia sendiri tidak tahu pasti.


Apakah karena Zhang Fei merupakan pewaris tunggal dari Keluarga Zhang yang terkenal dalam dunia persilatan? Ataukah karena dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, sehingga ia lebih mengkhawatirkan keadaannya?


Keadaan di dalam ruangan tersebut tiba-tiba menjadi hening. Dua tokoh dunia persilatan itu sama-sama menutup mulutnya. Mereka sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang, pengemis tua? Apakah akan tetap mendatangi markas cabang Partai Iblis Sesat?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan seolah-olah ingin mengetahui langkah mana yang akan di ambil oleh Ketua Partai Pengemis tersebut.


"Tentu saja kita tetap akan pergi ke markas cabang partai sesat itu," jawab Pengemis Tongkat Sakti dengan tegas.


"Kau tidak ingin segera melihat keadaan cucumu?"


"Tidak. Bagaimanapun juga, memberikan pelajaran kepada partai sesat itu jauh lebih penting. Apalagi urusan ini menyangkut orang banyak. Kalau masalah anak Yin, biarlah. Aku yakin dia akan baik-baik saja, sebab di sana ada orang-orangku yang siap merawatnya,"


Setiap patah kata yang dia utarakan terdengar tegas dan berwibawa. Seolah-olah di dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengubahnya.


Pada dasarnya, Pengemis Tongkat Sakti memang orang yang bijaksana. Dia selalu mementingkan urusan yang menyangkut orang banyak, daripada urusan yang hanya menyangkut pribadi.


Maka dari itulah, dalam keadaan seperti sekarang pun ia tidak mengubah niatnya.


Sementara itu, ketika mendengar ucapan yang tegas tersebut, Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung tertawa lantang.


"Hahaha ... bagus. Kau si pengemis tua memang tidak mengecewakan. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga,"


"Mari," ucapnya menjawab dengan cepat.


Mereka segera mencari bahan-bahan untuk melakukan penyamaran. Setelah persiapan awal selesai, kedua tokoh tersebut langsung pergi dari sana.


Malam itu kebetulan cuaca sedang cerah. Rembulan menggantung di atas langit. Saat ini waktu sudah menunjukkan tengah malam.


Udara yang sejuk dan membawa hembusan angin lirih, membuat setiap orang ingin menikmati malam itu dengan syahdu.


Di tengah-tengah keheningan, di balik kegelapan malam, tiba-tiba dua buah bayangan mendadak melesat dengan sangat cepat. Saking cepatnya gerakan itu, sampai-sampai orang awam tidak akan mampu melihatnya dengan jelas.


Dua buah bayangan yang dimaksud tersebut bukan lain adalah Pengemis Tongkat Sakti dan juga Dewa Arak Tanpa Bayangan. Kini kedua orang tua itu telah berada dalam penyamarannya.


Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan cadar penutup wajah. Meskipun penyamaran itu terbilang sederhana, tapi rasanya cukup sulit untuk mengenali siapa mereka sebenarnya.


Apalagi dua orang tua itu telah mengubah suara berikut nada bicaranya.


Perjalanan menuju ke markas cabang Partai Iblis Sesat tersebut dilakukan secepat mungkin. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka hanya dalam waktu sekitar lima belas menit saja, mereka berdua sudah berhasil tiba di tempat tujuannya.


Keadaan di markas cabang pada saat itu terlihat sepi. Di luar tidak nampak siapa pun, kecuali hanya dua orang penjaga.


Wushh!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan melesat ke arah mereka. Dengan kecepatan diluar nalar, Datuk Dunia Persilatan itu telah berhasil menotok jalan darah dua orang penjaga.


Begitu terkena totokannya, mereka langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Berhasil dengan rencana awal, keduanya segera melanjutkan rencana berikutnya. Mereka masuk ke halaman secara diam-diam.


Karena markas itu ukurannya tidak terlalu besar, maka hanya sekejap saja keduanya telah tiba di dalam sana.


"Tidak perlu," tegas Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Kita masuk lewat depan saja,"


"Tapi, bukankah kalau lewat depan, akan ada banyak orang yang mengetahui kedatangan kita ini?"


Dewa Arak Tanpa Bayangan tersenyum dingin dibalik cadarnya. Ia kemudian berkata. "Kenapa? Apakah kau takut? Dengan kemampuan kita berdua, memangnya siapa yang akan mampu menghalangi?"


Mereka adalah dua tokoh dunia persilatan yang jarang menemukan tandingan. Dengan gabungan kekuatannya, sudah tentu tidak akan ada banyak orang yang mampu menghadapinya.


Apalagi di tempat kecil seperti markas cabang ini.


Setelah berpikir beberapa saat, Pengemis Tongkat Sakti pum membenarkan ucapan sahabatnya. Maka dari itu dia segera menjawab. "Benar juga. Baiklah, mari kita masuk sekarang juga,"


Mereka berjalan dengan langkah ringan. Begitu tiba di depan pintu, Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung melakukan sebuah tindakan.


Brakk!!!


Pintu kayu itu seketika hancur berkeping-keping ketika dihantam oleh telapak tangannya.


Suara yang dihasilkan cukup keras. Tidak lama setelah kejadian itu, dua puluhan orang tiba-tiba muncul dari berbagai penjuru ruangan.


Tanpa terdengar sebuah komando apapun, dua puluh orang itu secara serempak langsung menyerang ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Pengemis Tongkat Sakti.


Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!


Bayangan manusia tiba-tiba berkumpul seperti kawanan serigala yang akan menerkam mangsa. Bersamaan dengan itu, ada pula kilatan cahaya golok dan pedang yang bertebaran di tengah udara.


Menghadapi serangan mereka, dua tokoh angkatan tua itu tersenyum sinis. Secara bersamaan pula, mereka melakukan tindakan keras.


Wutt!!! Wutt!!!


Bayangan tubuh keduanya langsung menyatu dengan musuh. Dentingan nyaring mulai terdengar menusuk telinga. Patahan senjata tajam terlempar ke segala arah.


Jeritan kesakitan turut serta mewarnai pertarungan di tengah ruang utama tersebut. Dalam waktu kurang dari lima belas jurus, anggota cabang Partai Iblis Sesat itu telah terkapar.


Walaupun di antara mereka tidak ada yang sampai tewas, tapi semuanya mengalami luka yang lumayan parah.


"Mana Ketua cabang kalian?" teriak Pengemis Tongkat Sakti dengan suara yang menggelegar.


"Tamu dari mana yang datang malam-malam begini?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Suara itu cukup berat dan mengandung tenaga sakti. Sehingga seisi ruangan dibuat sedikit bergetar.


Untunglah mereka bukan manusia sembarangan. Sehingga tidak terkena efeknya sedikit pun.


Tidak lama setelah gema suaranya selesai, dari dalam ruangan lain mendadak muncul dua orang. Yang satu bertubuh tinggi kekar, sedangkan satu lagi mempunyai tubuh kurus dengan luka bacokan di pipi sebelah kiri.


Mereka berdua terus berjalan dan baru berhenti setelah terpaut jarak sekitar tujuh langkah.


"Siapa kalian?" tanya orang bertubuh tinggi kekar.


"Siapa kami tidaklah penting. Yang jelas, kalian harus memperkenalkan diri supaya kami tahu mana yang menjadi Ketua cabang di kota ini," jawab Pengemis Tongkat Sakti.


"Cih, pertanyaan kami saja belum dijawab," kata orang di sisinya tersenyum dingin.


"Tapi baiklah, kami akan memperkenalkan diri," sahut orang tinggi kekar tadi. "Aku adalah Nyo Ceng, si Golok Penjagal, Ketua cabang Partai Iblis Sesat. Dan ini adalah Wakilku, ia berjuluk si Pedang Kembar Angin Puyuh,"