
Ketika Zhang Fei tiba di sana, rupanya di tempat tersebut ada seorang pendekar dunia persilatan yang sedang membantai para prajurit yang berada di bawah pimpinan Jenderal Qi Guan.
Pendekar itu menyerang mereka tanpa henti. Setiap serangannya mampu mencabut nyawa manusia tanpa harus berkedip lebih dulu.
Walaupun para prajurit sudah berteriak kesakitan, tapi rupanya pendekar tersebut tidak menaruh belas kasihan sama sekali. Dia justru seolah-olah senang saat melakukan pembunuhan itu.
Melihat kenyataan yang sudah berada di depan matanya, Zhang Fei tidak bisa kalau harus diam lebih lama lagi.
"Pendekar dari mana yang berani melakukan tindakan rendahan seperti ini?"
Zhang Fei tiba-tiba muncul di tengah kerumunan para prajurit yang sedang disiksa tersebut. Melihat kemunculan orang lain, pendekar tadi tampak terkejut. Bersamaan dengan itu, mau tidak mau dia pun harus menarik kembali serangannya.
"Siapa kau?" tanyanya sambil menatap tajam.
"Zhang Fei! Namaku Zhang Fei," jawabnya dengan santai.
"Hemm ..." dia mendengus dingin sambil memandang dari atas sampai bawah. Sesaat kemudian pendekar tersebut melanjutkan lagi bicaranya. "Aku sarankan lebih baik kau pergi saja. Ini adalah peperangan, tidak pantas di tempat seperti ini ada seorang pemuda sepertimu,"
"Omong kosong!" ucap Zhang Fei dengan kesal. "Kau pikir, aku kemari untuk duduk manis dan melihat jalannya pertempuran yang berlangsung di depan mataku saja?"
"Oh, kalau bukan itu, memangnya apa lagi yang akan kau lakukan?" tanyanya sambil tersenyum sinis.
"Salah satunya adalah untuk mengirimkan manusia sepertimu ke neraka,"
"Hahaha ..." orang itu tertawa lantang sampai seluruh tubuhnya berbincang cukup keras. Setalah puas tertawa, dia kembali memandang Zhang Fei. "Kau pikir dirimu siapa sehingga begitu percaya diri bisa membunuhku?"
"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi," kata Zhang Fei tidak mengindahkan ucapannya. "Sekarang, lebih baik kau persiapkan dirimu sebelum pergi menemui Raja Akhirat,"
"Cih!!! Bocah sombong,"
Zhang Fei tidak berkata lagi. Tepat setelah itu, dia langsung maju ke depan dan mengirimkan sejumlah serangan menggunakan Pedang Raja Dewa.
Tebasan demi tebasan mulai ia berikan. Pendekar tersebut kebetulan juga bersenjatakan pedang, sehingga saat ini, pertarungan antara dua pendekar pedang mulai terjadi.
Dua batang pedang berbenturan dan menciptakan percikan bunga api yang membumbung tinggi ke atas langit. Pendekar tersebut merasa sedikit terkejut ketika merasakan tangannya ngilu pada saat benturan terjadi.
'Rupanya pemuda ini juga punya sedikit kemampuan,' batinnya berkata sambil menyalurkan hawa murni ke tangannya yang terasa ngilu.
Sementara di sisi lain, Zhang Fei tidak mau memberikan ampun bagi lawan. Dia kembali melancarkan serangannya dengan mengandalkan jurus Empat Tangan Gerakan Pedang.
Dengan dorongan lima bagian tenaga dalam, jurus tersebut rasanya sudah cukup untuk membuat lawannya terdesak.
Dan nyatanya memang demikian. Pendekar itu langsung berada di bawah angin. Serangan yang dilancarkan oleh Zhang Fei benar-benar membuat dirinya terpojok.
Untunglah dia masih bisa mempertahankan diri dengan mengandalkan pedang pusaka miliknya. Coba kalau tidak, mungkin sudah beberapa saat yang lalu, ia berubah menjadi mayat.
"Jangan senang dulu. Pertarungan yang sebenarnya baru akan dimulai!" dia berteriak kencang. Bersamaan dengan itu dirinya langsung menepis Pedang Raja Dewa.
Trangg!!!
Pedang pusaka yang ia genggam bergetar. Tangannya juga kembali terasa ngilu. Namun dalam waktu yang bersamaan, pendekar itu pun langsung menyalurkan hawa murni dan tenaga dalamnya dengan jumlah besar.
Rasa ngilu dan sakit yang sempat menyerangnya langsung sirna pada saat itu juga.
"Rasakan ini!"
Wushh!!!
Dia berusaha mengirimkan serangan balasan. Pedang di tangannya melancarkan tebasan dari kanan dan kiri dengan gerakan cepat.
Sayangnya hal itu masih belum cukup untuk membalas serangan Zhang Fei. Apalagi, pendekar tersebut paling-paling hanya setara dengan pendekar kelas dua.
Trangg!!!
Benturan keras terjadi untuk yang kedua kalinya. Sekarang, Zhang Fei tidak mau lagi memberikan ampun. Dengan cepat dia meneruskan lagi serangannya.
Wutt!!! Wutt!!!
Clangg!!!
Beberapa jurus mereka terus bertarung tanpa henti. Dan tepat pada jurus kedua belas, pedang miliknya langsung patah menjadi dua bagian.
Setelah berhasil mematahkan senjata lawan, Zhang Fei langsung mengangkat tangan kirinya. Dia berniat untuk membunuh orang tersebut.
Wutt!!! Blamm!!!
Benturan telapak tangan tiba-tiba terjadi. Seseorang tahu-tahu telah berdiri di depannya. Sedangkan pendekar tadi, saat ini sudah jatuh tersungkur di atas tanah.
"Dia bukan lawan yang sebanding. Lawanmu yang sebenarnya adalah aku," kata orang yang baru saja muncul tersebut.
"Siapa kau?" tanya Zhang Fei kepadanya.
Dia menatap orang itu dengan pandangan mata selidik. Orang di depannya berusia lebih dari lima puluh tahun. Wajahnya sangar dengan beberapa luka bekas bacokan.
Di pinggangnya terdapat sebatang golok berukuran besar. Sekilas pandang saja, Zhang Fei sudah tahu bahwa orang tua di depannya itu bukan manusia sembarangan.
"Si Mata Golok!" jawabnya dengan singkat, padat dan jelas.
Nada suaranya hambar dan dingin. Dari setiap patah kata itu mengandung tekanan tenaga dalam yang disalurkan lewat getaran suara.
Karenanya tidak heran apabila prajurit yang ada di sekitarnya merasa sedikit tertekan.
"Kau siapanya orang itu?" tanya Zhang Fei lebih jauh sambil menunjuk ke pendekar yang telah dikalahkan olehnya.
"Aku gurunya," jawab si Mata Golok sambil menepuk dada. Pertanda bahwa saat itu dia sedang menyombongkan diri.
"Oh, pantas saja," kata Zhang Fei sambil tersenyum mengejek.
"Pantas apanya?"
"Pantas sama-sama pecundangnya,"
"Keparat! Mulutmu minta dihajar!"
Wushh!!!
Ia melayangkan pukulannya yang mengarah langsung ke wajah. Tapi dengan mudah Zhang Fei menghindari serangan tersebut.
Karena tidak mau membuang waktu lebih lama, akhirnya anak muda itu memutuskan untuk segera melancarkan serangan balasannya.
"Pukulan Tanah Merah!"
Wutt!!!
Tanpa segan-segan lagi Zhang Fei langsung mengeluarkan salah satu jurus tangan kosong miliknya. Saking cepatnya pukulan yang ia lontarkan, sampai-sampai si Mata Golok tidak bisa melihat gerakannya dengan jelas.
Blamm!!!
Ia terdorong mundur dua langkah. Wajahnya terkena pukulan Zhang Fei dengan telak. Darah segar seketika mengucur keluar dari sudut bibirnya.
Sringg!!!
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, si Mata Golok tiba-tiba mencabut senjatanya yang berada di pinggang. Setelah itu dirinya melompat ke depan sambil mengirimkan bacokan ke arah kepala.
Trangg!!!
Zhang Fei menangkis bacokan golok itu menggunakan pedangnya. Percikan api tercipta dan langsung lenyap begitu saja.
Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Mereka segera melanjutkan lagi pertarungannya dengan mengandalkan jurus masing-masing.
Si Mata Golok mulai mencecar Zhang Fei dengan serangan-serangan yang berbahaya. Bacokan dan tusukan golok datang dari setiap penjuru mata angin. Hawa golok terasa menyayat kulit, tapi bagi Zhang Fei hal itu bukan suatu masalah.
Dengan gerakan sederhana, dia berhasil menghindari atau menangkis serangan tersebut.