Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Alasan Zhang Fei


Semua orang yang ada di sana seketika menutup mulut. Masing-masing dari mereka sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Yang berbeda di antara para tokoh itu hanya Yao Mei dan Yin Yin. Kedua orang gadis cantik tersebut tetap merasa tidak terima. Walaupun mereka sudah berusaha menenangkan diri, hasilnya tetap percuma.


Kekesalannya semakin menggebu. Kemarahannya juga seolah-olah sudah tidak terbendung lagi.


"Ya, ya, aku tahu, Tuan Kai. Aku tahu, tapi ... apakah Kaisar tidak salah mengambil keputusan?"


"Menurutku tidak, Nona Yin. Karena hanya ini saja yang merupakan jalan keluar terbaik,"


"Jalan keluar terbaik bagaimana? Apakah dengan cara mengorbankan dua tokoh paling berpengaruh dan paling penting dalam dunia persilatan, itu pantas disebut sebagai jalan yang terbaik?" Yao Mei berkata dengan nada tinggi. Kemarahannya benar-benar meluap.


"Kaisar benar-benar tidak adil," kata Yin Yin segera menyambung bicara. "Ini adalah masalah politik, harusnya kalau ingin mencari jalan keluar terbaik, biarkan para Kaisar saja yang langsung turun tangan. Mengapa malah menyuruh orang lain?"


Diserang oleh dua gadis yang sedang marah besar sekaligus, Orang Tua Aneh Tionggoan langsung dibuat terbungkam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


Datuk Dunia Persilatan itu sempat melirik kepada Pendekar Tombak Angin, namun dia tidak memberikan jawaban. Pria tua itu hanya mampu mengangkat kedua bahu dan menggelengkan kepalanya saja.


Yao Mei dan Yin Yin masih memandangi dirinya. Kemarahan kedua gadis itu masih bisa dirasakan dengan jelas. Nafas mereka juga masih memburu.


Dalam pada itu, diam-diam Zhang Fei juga sedang memikirkan jawaban. Di pikirannya, saat ini ia sedang menyusun kata-kata untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Yao Mei dan Yin Yin.


Ia tahu, orang yang bisa menenangkan kemarahan mereka berdua hanya dirinya saja. Maka dari itu, Zhang Fei memutuskan untuk segera berbicara.


"Yao Mei, Yin Yin, tenanglah. Jangan marah-marah seperti itu. Kalian harus tetap bersikap sopan kepada Tuan Kai, jangan lupa, dia itu orang tua. Kalian harus menghormatinya," ucap Zhang Fei dengan nada lembut.


Dua gadis cantik itu melirik sekilas ke arahnya. Walaupun mereka tidak bicara, tapi sepertinya usaha Zhang Fei telah membuahkan hasil.


Kemarahan keduanya sedikit mereda. Nafasnya pun tidak memburu seperti sebelumnya.


Melihat itu, Zhang Fei segera tersenyum kepada mereka. Kemudian dia melanjutkan lagi. "Aku tahu, kalian merasa sangat tidak setuju dengan keputusan yang diberikan oleh Kaisar. Jujur saja, awalnya aku pun sama seperti kalian berdua. Aku merasa tidak setuju, keputusan Kaisar ini sangat tidak adil. Terutama bagiku dan Tuan Kiang. Tetapi setelah mendengar ucapan Tuan Kiang dan berpikir beberapa waktu, pandangan serta pendapatku segera berubah,"


"Apakah sekarang kau merasa setuju?" tanya Yao Mei.


"Ya, kira-kira seperti itu," jawab Zhang Fei membenarkan.


"Mengapa kau setuju? Apa karena terpaksa?" tanya Yin Yin dengan cepat.


"Menurutku, tidak,"


"Lalu, karena apa?"


"Karena aku telah mempunyai pandangan lain," Zhang Fei berhenti sebentar. Dia meminum arak dalam cawan. Setelah arak itu habis, ia segera melanjutkan bicara. "Alasan kenapa aku mau menerima jalan keluar ini, adalah karena aku bukan berjuang demi Kaisar. Melainkan berjuang demi rakyat dan tanah air,"


"Anggap saja, apa yang akan aku lakukan nanti sebagai salah satu bentuk dari tanggungjawab sebagai warga pribumi Kekaisaran Song. Bukan hanya sebagai Ketua Dunia Persilatan, melainkan juga sebagai seorang pahlawan,"


Para tokoh yang ada di dalam ruangan tampak menganggukkan kepala. Mereka setuju sekaligus memuji jawaban Zhang Fei.


Yao Mei dan Yin Yin juga ikut mengangguk perlahan. Diam-diam, kedua gadis itu pun mengerti terkait ucapan barusan.


"Ya, ya. Aku mengerti maksudmu, Zhang Fei," sahut Yao Mei dengan cepat. "Tapi ... aku masih tidak mengerti kenapa Kaisar mengambil jalan ini?"


"Nona Mei, seperti yang dikatakan tadi, ini adalah jalan keluar satu-satunya. Ini pun merupakan jalan keluar yang terbaik. Aku ingin tanya kepadamu, dalam hal ini, lebih baik kehilangan dua orang, atau kehilangan ribuan bahkan puluhan ribu orang?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali ikut nimbrung dalam pembicaraan.


"Hemm ... tentu saja lebih baik kehilangan dua orang," katanya.


"Nah, itu kau pun tahu. Karenanya, jalan keluar ini adalah yang terbaik," ucap Datuk Dunia Persilatan itu. "Seperti apa yang telah diucapkan oleh Ketua Fei, kami berdua berjuang demi tanah air, demi semua rakyat. Bukan demi Kaisar,"


Yao Mei mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak bicara lebih lanjut. Begitu juga dengan Yin Yin yang duduk di sisinya.


Lewat beberapa waktu kemudian, giliran Zhang Fei yang bertanya kepada Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Tuan Kai, kapan pertarungan itu akan dilangsungkan?" ia bertanya sambil menoleh ke arahnya.


"Tiga bulan lagi, Ketua Fei," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Lalu, di mana tempatnya?"


"Di Kekaisaran Song,"


"Oh, baiklah kalau begitu. Terimakasih,"


Pembicaraan di antara mereka berakhir setelah matahari hampir tenggelam di ufuk sebelah barat. Para tokoh itu segera keluar dari ruangan dan kembali ke kamarnya masing-masing.


Khusus untuk Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan, mereka tidak langsung istirahat. Kedua tokoh dunia persilatan tersebut segera berjalan keluar dan menemui para pendekar aliansi yang terdapat di sana.


Melihat kemunculannya, semua pendekar langsung bangkit berdiri dan memberikan hormat kepada keduanya.


Setelah semua pendekar berdiri dan berada dalam posisi siap, dengan segera Zhang Fei memulai pembicaraannya terkait keputusan yang diambil oleh Kaisar Song.


Ia menjelaskan semuanya dengan rinci. Para pendekar yang tergabung dalam aliansi mendengarkan dengan seksama.


"Maka dari itu, aku dan Tuan Kiang telah mengambil keputusan, untuk sementara waktu ini, Aliansi Pendekar Kekaisaran Song akan dibubarkan. Bagi saudara sekalian yang ingin kembali, silahkan saja. Tapi dengan catatan, kalian harus tetap mengawasi serta menjaga keamanan di tempat masing-masing,"


"Terkait masalah pesangon dan sebagainya, kalian jangan khawatir. Aku akan mengurusnya secepat mungkin,"


Zhang Fei berkata dengan suara keras kepada semua pendekar di hadapannya. Mereka pun mengangguk sebagai tanda mengerti.


"Baik, Ketua. Kami paham," jawab seorang pendekar tua mewakili yang lainnya.


"Bagus. Kalau begitu, bagi yang ingin pulang sekarang, silahkan. Jika tidak mempunyai ongkos untuk bekal diperjalanan, kalian tinggal bilang saja,"


Para pendekar itu kembali mengangguk. Setelahnya mereka segera kembali ke kamar dan membereskan pakaian serta barang-barang pribadinya.


"Anak Fei, selama menunggu waktu itu tiba, kita harus banyak-banyak berlatih dan menutup diri. Aku khawatir lawan yang akan dihadapi nanti tidak semudah yang kita bayangkan," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil melirik ke arah Zhang Fei.


"Kau benar, Tuan Kiang. Aku juga sudah memikirkan akan hal tersebut,"