
Sepuluh hari sudah berlalu kembali. Saat itu, waktu sudah menunjukkan tengah hari. Zhang Fei, Yao Mei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan belum lama tiba di Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Perjalanan pulang dari Istana Kekaisaran kemari tidak menemukan hambatan yang berarti. Karenanya mereka bisa tiba lebih cepat dari yang seharusnya.
Ketika sampai kembali di Gedung Ketua Dunia Persilatan, kebetulan keadaan di sana pada saat itu sedang sepi. Para Datuk Dunia Persilatan sedang pergi ke luar untuk memantau situasi di beberapa tempat.
Yang masih tersisa di sana hanyalah Dewi Rambut Putih saja. Ia menyambut kedatangan mereka bertiga secara sederhana.
Setelah sambutan tersebut, Dewi Rambut Putih tidak banyak bicara lagi. Dia membiarkan ketiganya untuk lebih dulu melakukan istirahat.
Maklum, perjalanan ke Istana Kekaisaran itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Tubuh mereka pasti lelah setelah melakukan perjalanan tersebut.
Begitu sore hari tiba, barulah mereka berkumpul di ruangan biasanya.
Di atas meja sudah tersedia banyak makanan. Beberapa guci arak pun tidak ketinggalan.
Setelah bersulang beberapa kali, terdengar Dewi Rambut Putih mengajukan pertanyaan kepada Zhang Fei.
"Ketua Fei, bagaiamana masalah kemarin? Apakah sudah selesai?"
"Ya, semuanya sudah selesai, Nyonya Ling. Setidaknya untuk sementara waktu ini,"
Wanita tua itu langsung mengerutkan kening. Dia merasa kurang paham terkait ucapan Zhang Fei. Dewi Rambut Putih kemudian menoleh ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan. Seolah-olah dia ingin meminta penjelasan lebih lanjut dari dirinya.
"Aku rasa, hal ini tidak bisa dikatakan sekarang, Nyonya Ling. Aku akan menjelaskan semuanya setelah yang lain tiba di sini,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak ingin banyak bicara. Dia ingin supaya dirinya hanya satu kali menerangkan saja. Maka dari itulah dia menjawab seperti barusan.
"Oh, baiklah. Kalau begitu kita tunggu sebentar lagi. Mereka pasti akan segera datang," kata Dewi Rambut Putih mengerti maksudnya.
Sembari menunggu kedatangan yang lain, mereka juga sempat membicarakan hal-hal seputar dunia persilatan. Seperti biasa, Zhang Fei pasti akan bertanya tentang hal itu.
Tujuannya adalah supaya dia bisa mengetahui perkembangan di lapangan. Dalam situasi sekarang ini, perkembangan sekecil apapun, ia harus tahu. Sebab masalah yang dihadapinya sangat serius dan tidak main-main.
"Jadi, berapa jumlah total pendekar aliansi yang masih hidup sampai saat ini?" tanya Zhang Fei lebih jauh.
"Menurut laporan terakhir, pendekar aliansi yang tersisa, jumlahnya tak lebih dari tujuh puluh orang saja, Ketua Fei," jawab Dewi Rambut Putih.
"Baiklah, terimakasih, Nyonya Ling," Zhang Fei tersenyum ke arahnya.
Meskipun sudah ada cukup banyak pendekar yang menjadi korban, tapi ia masih tetap bersyukur. Karena baginya, jumlah itu masih terhitung sedikit.
Seharusnya, pendekar yang gugur di medan perang harus lebih banyak dari jumlah saat ini. Mengingat bahwa serangan yang datang pun tidak berhenti. Di sisi lain, musuh-musuh yang berdatangan, setiap harinya juga bertambah kuat.
Tapi pada kenyataannya, korban di pihak aliansi baru mencapai sekitar dua puluh orang saja.
Hal ini berarti bahwa mereka bekerja dengan sangat baik!
"Baik, sisanya biar aku yang mengurus," ucap Zhang Fei sambil mengangguk.
Pembicaraan di antara mereka masih terus berlanjut sampai matahari mulai tenggelam di ufuk sebelah barat.
Pada saat itu, tiba-tiba pintu ruangan diketuk oleh seseorang. Sesaat kemudian segera terlihat ada tiga orang pria tua yang sudah berdiri menanti di ambang pintu.
Siapa lagi kalau bukan para Datuk Dunia Persilatan?
"Ah, rupanya kalian sudah datang. Cepatlah masuk, sudah cukup lama kita tidak minum arak," Dewa Arak Tanpa Bayangan menyambut kedatangan mereka dengan tertawa cukup keras.
Ia memberikan isyarat dengan tangan kanannya. Tiga Datuk Dunia Persilatan itu pun ikut tertawa. Tanpa menunggu lebih lama, mereka segera masuk dan duduk di kursi yang masih tersedia.
Para tokoh dunia persilatan itu kembali bersulang arak. Suara canda tawa segera terdengar. Suara arak yang masuk ke dalam perut pun seakan tidak pernah berhenti.
"Tuan-tuan, bagaiamana keadaan di lapangan saat ini?" tanya Zhang Fei setelah mereka selesai bersulang arak.
"Masih sama seperti biasanya, Ketua Fei. Bahkan di beberapa tempat, rasanya ada cukup banyak orang-orang asing yang bermunculan," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan menjawab lebih dulu.
"Setelah kepergian kalian ke Kotaraja, peperangan justru malah semakin menjadi. Setiap hari, perang tidak pernah berhenti. Walaupun memang hanya dalam skala kecil," sambung Pendekar Tombak Angin. "Aku rasa, tidak adanya kalian di Gedung Ketua Dunia Persilatan ini dijadikan kesempatan oleh mereka untuk melancarkan serangan lanjutan. Orang-orang itu pasti berpikir bahwa setelah kepergian kalian, sudah tidak ada lagi tokoh-tokoh yang mempunyai kemampuan tinggi. Mereka lupa, di sini pun masih ada kami yang siap berdiri di barisan paling depan,"
Perlu diketahui, pihak musuh memang paling jeri terhadap dua sosok tersebut. Yaitu Dewa Pedang Dari Selatan dan juga Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Di mata mereka, keduanya ibarat Malaikat Pencabut Nyawa yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
Malah bagi sebagian orang, mereka dianggap sebagai Dewa yang berhak untuk memutuskan mati hidupnya manusia.
Sebenarnya, anggapan-anggapan semacam itu memang tidak terlalu berlebihan. Mengingat bahwa sepak terjang Dewa Pedang Dari Selatan dan Dewa Arak Tanpa Bayangan belakangan ini, cukup untuk membuat para iblis lari terbirit-birit.
Namun sayangnya, orang-orang itu telah melupakan satu hal!
Mereka lupa bahwa selain keduanya, masih ada tokoh-tokoh lain yang tidak kalah hebat. Apalagi saat ini sudah ditambah dengan kejadian Yao Mei.
Sekarang, mungkin gadis itu belum menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Tapi lihat ke depannya nanti. Setelah tahu bagaimana kemampuan Yao Mei, maka orang-orang itu pun pasti akan dibuat terkejut setengah mati!
"Menurutku, kalau keadaannya terus seperti ini, peperangan pasti tidak akan pernah berakhir. Untuk sementara waktu, Kekaisaran Song mungkin masih bisa menahan imbang atau menang dari mereka. Tapi untuk ke depannya, aku tidak bisa memastikan hal ini," Pendekar Pedang Perpisahan pun ikut memberikan laporannya.
Setelah berhenti sebentar, dia mulai berbicara lagi. "Kekaisaran kita bukan diserang dari satu sisi, tapi dari semua sisi yang ada. Bahkan musuh-musuh yang datang pun bukan hanya dari satu tempat saja. Kalau terus seperti ini, maka bukan suatu hal yang mustahil jika nantinya malah rakyat yang menjadi korban,"
Ucapan Pendekar Pedang Perpisahan itu sangat tepat sekali! Semua orang yang ada di sana juga merasa setuju!
Mereka tahu, pihak musuh pasti tidak akan berhenti sampai di sini saja. Apalagi mereka telah terlanjur mengambil keputusan dan mengeluarkan modal yang tidak sedikit.
Gagal dengan rencana satu, pasti akan ada rencana yang lainnya lagi.
Hal seperti itu akan terus berlanjut. Mereka baru akan berhenti setelah mengalami dua hal. Pertama adalah merasa lelah, dan kedua adalah merasa tidak ada kekuatan lagi!