
Selama mengembara dalam dunia persilatan, dia sudah banyak bertemu dan bertarung dengan musuh-musuh yang mempunyai jurus aneh dan tidak biasa.
Tetapi seingatnya, semua itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pertarungan melawan si Golok Pembelah Gunung dan Pendekar Bambu Kembar.
Jurus Murka Pedang Dewa yang biasa sangat efektif untuk mengakhiri pertarungan sengit, kini seolah-olah jurus tersebut tidak memberikan hasil sama sekali.
Dua orang tokoh sesat itu masih bisa menangkis atau bahkan menghindar serangan yang diberikan oleh Zhang Fei.
Padahal pada waktu itu, Ketua Dunia Persilatan sudah mengeluarkan jurus Murka Pedang Dewa secara sempurna. Siapa sangka, hal tersebut masih belum bisa mengakhiri pertarungannya.
Saat ini, dua tokoh sesat yang mengaku berasal dari negeri Lhasa itu kembali mendesak Zhang Fei. Dua macam jurus dan serangan beragam terus mencecarnya dari sisi yang berbeda.
Masing-masing senjata yang mereka genggam kerap kali saling membentur. Dan ketika terjadi benturan tersebut, Zhang Fei selalu merasakan tangannya sedikit ngilu.
Dari sini, dia semakin sadar bahwa anggota Tiga Iblis Bawah Tanah itu bukanlah lawan yang mudah. Untuk mengalahkan mereka, setidaknya Zhang Fei harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus simpanannya.
Wutt!!! Wutt!!!
Dua batang bambu kembar datang memberikan tusukan ke lambung dan tenggorokan. Belum lagi kedua bambu itu mengenai tubuh, ada satu batang golok besar lain yang sudah siap untuk menebas kepalanya.
Tiga batang senjata datang secara serempak. Saat itu posisi Zhang Fei masih belum stabil. Tetapi karena situasinya sudah tidak bisa dikendalikan, mau tak mau di harus berani mengambil resiko.
Wutt!!!
Tubuhnya meluncur ke depan. Tangan kirinya menangkis sebatang bambu, Pedang Raja Dewa dibenturkan dengan bambu yang satunya lagi. Rangkaian kejadian itu sangat cepat, Pendekar Bambu Kembar sendiri sempat terlihat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Zhang Fei.
Trakk!!! Trakk!!!
Benturan keras terjadi. Zhang Fei langsung mendorong Pendekar Bambu Kembar ke belakang ketika usahanya membuahkan hasil.
Sesaat berikutnya, ia segera melompat dan kembali menangkis golok besar dengan pedang pusaka miliknya.
Trangg!!!
Bunga api memercik tinggi. Suara nyaring terdengar seperti auman seekor harimau.
Si Golok Pembelah Gunung terdorong sejauh tiga langkah. Tangan kanannya tergetar keras. Wajahnya juga memperlihatkan ekspresi terkejut.
Setelah berhasil menangkis semua serangan, saat itu posisi Zhang Fei telah kembali seperti semula. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Secara cepat dirinya menerjang sambil berteriak dengan keras.
"Jurus Pedang Tak Kasat Mata!"
Wutt!!! Wushh!!!
Bayangan putih keperakan berkelebat secepat kedipan mata. Si Golok Pembelah Gunung menjadi sasaran pertamanya.
Pedang Raja Dewa langsung mencegah seluruh tubuh. Pria tua bertubuh gemuk itu seketika kewalahan. Yang membuatnya repot adalah bahwa serangan Zhang Fei tidak bisa dilihat sama sekali.
Setajam apapun pandangan matanya, dia tetap tidak mampu melihatnya.
Srett!!! Srett!!!
Suara robekan kain langsung terdengar. Darah segar mengucur dari mulut luka di beberapa bagian tubuhnya.
Zhang Fei tersenyum girang. Ia semakin bersemangat dalam usahanya melumpuhkan lawan.
Melihat rekannya terdesak, pada saat itu Pendekar Bambu Kembar sudah bertekad untuk memberikan bantuan kepadanya. Tapi niat tersebut segera dibatalkan setelah dia mendengar bisikan jarak jauh.
Pendekar Bambu Kembar kemudian menoleh ke tempat di mana Pendekar Jubah Darah berdiri. Ternyata, orang yang telah berbisik di telinga itu bukan lain adalah dirinya.
Wushh!!!
Ia lalu melompat dan mendarat tepat di sisinya. "Apa maksud perkataanmu barusan?" tanyanya dengan ekspresi serius.
"Kalau kau ingin hidup lebih lama, maka tetaplah di sini," jawab Pendekar Jubah Darah tanpa menoleh.
"Mengapa begitu? Apakah aku tidak boleh membantunya?" ia seperti tidak terima melihat rekannya terus-menerus dicecar oleh Zhang Fei. Hatinya benar-benar kesal, niatnya untuk membantu juga sangat kuat.
Tetapi setelah mendengar jawaban yang serius itu, tiba-tiba saja Pendekar Bambu Kembar menjadi ragu.
"Aku tidak melarangmu untuk membantunya. Tapi aku pun tidak bisa memastikan bahwa kau akan kembali dengan selamat," suara Pendekar Jubah Darah terdengar dalam. Namun ekspresinya masih tetap dingin seperti bongkahan es.
"Mengapa ... mengapa kau bicara seperti itu? Aku masih belum mengerti maksudmu,"
"Ketahuilah, saat ini anak muda itu telah mengeluarkan jurus simpanannya. Jurus pedang maha dahsyat yang bahkan aku sendiri belum tahu apakah bisa menghadapinya atau tidak," jawabnya sangat serius. "Coba lihat ke tengah arena, apakah kau bisa menyaksikan gerakannya? Apakah kau mampu menebak ke mana arah serangan itu?"
Pendekar Bambu Kembar seketika memandang ke tengah arena. Walaupun hujan masih turun cukup deras, tetapi dia bisa melihat pertarungan itu dengan jelas.
Dan ternyata memang benar, ia sama sekali tidak mampu menyaksikan gerakan dari jurus yang saat ini digunakan oleh Zhang Fei.
Ia hanya mampu melihat kelebatan cahaya putih keperakan yang terus bergerak tanpa berhenti.
"Jurus apa itu?" tanyanya dengan heran. Tidak bisa dipungkiri lagi, saat ini hatinya merasa kagum dengan jurus yang dikeluarkan oleh Zhang Fei.
"Aku tidak tahu apa nama jurusnya. Yang jelas, hanya sedikit orang saja yang mampu menghadapi jurus tersebut,"
Pendekar Bambu Kembar seketika menelan ludah ketika mendengar jawaban dari pertanyaannya. Tanpa ia sadari, bulu kuduknya langsung bangkit berdiri.
"Lalu ... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya sambil menoleh ke arah Pendekar Jubah Darah.
"Kalau kau masih ingin hidup, sekarang juga mari kita pergi dari sini,"
"Tapi, dia ..." Pendekar Bambu Kembar menoleh kembali ke tengah arena. Kata-katanya tidak dilanjut. Sebab pada saat itu ia benar-benar kaget saat melihat kondisi di Golok Pembelah Gunung yang sangat mengkhawatirkan.
"Jangan banyak bicara, ayo kita pergi. Kalau sampai dua gadis itu tiba lebih dulu, maka urusannya akan bertambah rumit,"
Selesai berkata seperti itu, Pendekar Jubah Darah langsung menjejakkan kaki dan pergi dari sana. Pendekar Jubah Merah merasa bingung. Dia sempat berdiri mematung untuk beberapa saat.
Namun satu tarikan nafas kemudian, akhirnya dia pun mengambil keputusan tetap.
"Kalau kau sampai mati di tangannya, aku bersumpah suatu saat nanti akan membalaskan dendam kematianmu!" gumamnya sambil melihat di Golok Pembelah Gunung untuk yang terakhir kali.
Wushh!!!
Ia ikut pergi ke arah Pendekar Jubah Kembar menghilang dari pandangan mata.
Tidak lama setelah kepergiannya, dari arah lain terlihat ada dua bayangan yang muncul dengan cepat. Dua bayangan itu bukan lain adalah Yao Mei dan juga Yin Yin.
Mereka langsung berdiri mematung setelah melihat Zhang Fei sedang menggempur lawannya.
Kurang lebih sekitar sepuluh jurus kemudian, tiba-tiba terdengar sebuah jeritan mengerikan yang merobek udara hampa.
Jeritan itu hanya berlangsung sekejap. Mungkin waktunya pun kurang dari satu tarikan nafas!