
Walaupun Zhang Fei masih muda dan masih hijau dalam dunia persilatan, tapi anak muda itu tahu betul bahwa partai aliran putih lumayan banyak. Bahkan dia juga tahu ada partai besar dari aliran tersebut.
Tapi mengapa mereka tidak mau membentuk aliansi? Bukankah hal ini bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah yang sekarang sedang menimpa Tionggoan?
"Kau memang benar, anak Fei," ujar Pek Ma setelah ia mengambil nafas beberapa kali. "Tapi asal kau tahu saja, semua itu tidak semudah yang kau bayangkan,"
"Maksud guru?"
Zhang Fei semakin pusing. Tapi karena rasa penasaranya semakin memuncak, maka dia tidak mau berhenti sampai di situ saja. Ia ingin mengetahui permasalahan dunia persilatan sampai ke akar-akarnya.
"Sekarang pun partai aliran putih sudah terpecah belah. Masing-masing dari mereka tidak mementingkan lagi pihak lain. Yang paling penting adalah pihak sendiri,"
"Kenapa bisa begitu, guru?"
Si Telapak Tangan Kematian Pek Ma memandang jauh ke ke depan sana. Seolah-olah dia sedang mengingat sesuatu.
Sesaat kemudian, terdengar orang tua itu bercerita.
"Sebenarnya permasalahan awal dari semua ini, terjadi sekitar empat tahun lalu. Saat itu dunia persilatan digemparkan dengan hilangnya kitab-kitab pusaka dari empat partai terbesar. Yaitu Kuil Seribu Dewa, Partai Gurun Pasir, Partai Awan Langit, dan Partai Gunung Pedang,"
"Menurut rumor yang beredar, hilangnya kitab-kitab pusaka ini dikarenakan ada seseorang yang sudah mencurinya dari ruang pusaka,"
"Siapa yang mencuri kitab-kitab pusaka itu, guru?"
"Sampai saat ini pelakunya belum ditemukan. Tapi yang pasti, dari informasi yang aku dapatkan, pencuri itu berasal dari partai-partai yang bersangkutan,"
Pek Ma berhenti sebentar, dia mengambil nafas panjang. Kemudian katanya, "Misalkan petinggi dari Kuil Seribu Dewa mencuri kitab pusaka Partai Gurun Pasir. Dan petinggi Partai Gurun Pasir juga mencuri kitab pusaka Partai Awan Langit. Begitu seterusnya sampai tiba ke Partai Gunung Pedang,"
"Apa?"
Zhang Fei memelototkan matanya. Dia tidak percaya dengan cerita gurunya tersebut.
Bagaimana mungkin petinggi partai besar seperti mereka, berani mencuri kitab pusaka? Apalagi ke sesama orang sendiri? Bukankah itu terlalu mustahil?
"Aku tidak percaya guru. Informasi ini terlalu mustahil," ujarnya memberikan pendapat.
"Jangankan dirimu, aku sendiri juga berpikir seperti itu," kata Pek Ma segera menjawab. "Tapi apa mau dikata, para pencuri ini mempunyai penampilan bahkan bentuk tubuh yang sama dengan para petinggi partai yang bersangkutan,"
"Jadi, karena alasan inilah masing-masing petinggi dari partai itu percaya bahwa pencurinya berasal dari orang sendiri?" tanya Zhang Fei lebih jauh.
"Benar sekali," kata Pek Ma menganggukkan kepala. "Sejak saat itulah kepercayaan di antara empat partai besar sudah tidak ada lagi. Mereka hanya memikirkan partai sendiri tanpa memikirkan partai-partai lainnya,"
"Pantas saja keadaan di dunia persilatan semakin parah. Ternyata kepercayaan di antara kita sudah tidak ada lagi,"
Pek Ma tidak berkata lagi. Dia hanya menghela nafas berat.
Apabila membicarakan tentang masalah yang sekarang mendera di negerinya, orang tua itu memang selalu pusing.
Sebab menurut pendapatnya, masalah ini terlampau rumit dan penuh dengan misteri.
"Guru, kalau empat partai besar sudah tidak saling percaya, bagaiamana dengan Datuk Dunia Persilatan sendiri?"
"Mereka masih percaya satu sama lain. Hanya saja untuk membereskan semua masalah ini, bagaimana mungkin mereka akan sanggup?"
Dalam rimba hijau ada yang disebut dengan Datuk Dunia Persilatan. Mereka adalah orang-orang yang dianggap terhebat dari yang paling hebat.
Tetapi bagaimanapun juga, kalau untuk membereskan persoalan sekarang, rasanya di antara mereka juga tidak akan ada yang sanggup.
Apalagi orang yang terlibat di dalamnya teramat banyak. Belum lagi ditambah dengan tokoh-tokoh sesat yang juga mempunyai kemampuan tinggi.
Kalau keadaannya benar seperti itu, maka benar apa yang telah dikatakan oleh Pek Ma sebelumnya.
Masalah ini pasti akan berlarut-larut dan selesai dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Karena itulah kita harus membantu setiap pihak yang mendapat ancaman. Tidak perduli mereka mau percaya atau tidak. Masa bodoh mereka menganggap kita ini apa, yang pasti, kita tidak boleh tinggal diam," kata Pek Ma dengan semangat dan tekad yang membara.
"Aku mengerti guru. Aku berjanji, aku akan membereskan semua masalah ini. Suatu saat nanti, aku pasti bisa menyatukan kembali empat partai besar,"
Zhang Fei berkata sambil bangkit berdiri. Suaranya garang. Seperti raungan seekor harimau di tengah hutan.
Pek Ma tampak tersenyum hangat ketika muridnya berkata demikian. Dia yakin, apa yang baru saja dikatakan oleh muridnya, suatu saat pasti akan terwujud.
Apalagi dia tahu bahwa Zhang Fei sebenarnya mempunyai bakat yang tersembunyi.
Ia percaya, muridnya itu adalah anak yang ditakdirkan oleh langit untuk mendamaikan negerinya.
"Anak Fei, sekarang kau sudah menguasai Kitab Dewa Pedang itu sampai ke jurus berapa?"
"Masih tetap sama, guru. Aku baru menguasai empat jurus pertama saja," jawab Zhang Fei dengan nada sedih.
Ia menyesal kenapa dirinya belum bisa menguasai Kitab Dewa Pedang sampai ke juru ketujuh. Padahal kalau ia sudah bisa menguasai seluruh jurus di dalamnya, mungkin saat ini dirinya sudah setara dengan pendekar pilih tanding.
Sayangnya, semakin tinggi tahapan dari jurus tersebut, maka semakin rumit pula gerakannya.
Zhang Fei sudah berusaha sekuat mungkin. Tapi ternyata hasilnya sia-sia. Dia belum mendapatkan keningkatkan.
Anak muda itu masih bertahan di jurus keempat dari tujuh jurus yang ada.
"Hemm, sabarlah, muridku. Mungkin memang belum waktunya. Suatu saat nanti, kau pasti akan bisa menguasai semuanya," kata Pek Ma memberikan semangat kepada muridnya.
"Baik, guru," Zhang Fei menganggukkan kepala.
"Perlu kau tahu, Kitab Dewa Pedang bukanlah kitab pusaka biasa. Setiap jurusnya sangat mematikan. Asal kau sudah menguasai setiap jurusnya dengan sempurna, maka empat jurus itu saja sudah lebih daripada cukup,"
Pek Ma mengatakan yang sejujurnya. Kitab warisan Keluarga Zhang itu memang bukan kitab biasa.
Setiap jurusnya merupakan jurus-jurus kelas atas. Asalkan si pengguna sudah mempunyai ilmu dasar yang mumpuni, maka hasilnya pasti akan luar biasa.
Sebagai tokoh kelas atas yang sudah punya banyak pengalaman, tentu saja dirinya tahu tentang hal itu.
Guru dan murid itu kemudian sama-sama terdiam. Cukup lama keadaan di sana hening.
Beberapa menit kemudian, terdengar Pek Ma bicara kembali.
"Anak Fei, bagaimana kalau kita berlatih? Aku ingin melihat sampai di mana kemajuanmu setelah berpisah,"
"Baik. Mari, guru,"
Zhang Fei langsung bangkit berdiri. Kalau diajak berlatih, sejak dulu ia memang selalu bersemangat.
Apalagi, sekarang dia akan berlatih tanding bersama dengan guru utamanya.
Melihat muridnya yang semangat, si Telapak Tangan Kematian Pek Ma tersenyum. Dia pun segera bangkit dari posisinya dan berjalan ke depan.
Kebetulan, di sana ada tempat kosong yang cukup luas.