
Sementara itu, peperangan masih terus berlangsung. Kali ini malah sudah hampir mencapai puncaknya. Kalau tidak ada kejadian atau prajurit baru yang dikirim secara tiba-tiba, mungkin dalam waktu sekitar tiga puluh menit lagi, perang yang melibatkan dua Kekaisaran itu akan benar-benar selesai.
Prajurit Kekaisaran yang berada di bawah pimpinan Jenderal Qi Guan benar-benar perkasa. Walaupun seluruh tubuhnya sudah dipenuhi oleh luka dan darah segar, tapi mereka masih terus berjuang.
Selama nyawanya masih berada di badan, maka para prajurit tersebut tidak akan pernah menghentikan perjuangannya.
Ada satu pepatah kuno yang mengatakan bahwa murid yang perkasa, itu berasal dari didikan guru yang hebat.
Sepertinya ungkapan tersebut juga sangat cocok apabila disematkan kepada para prajurit Kekaisaran.
Dibalik prajurit yang kuat, ada Jenderal yang hebat!
Jenderal Qi Guan benar-benar membuktikan siapa dia sebenarnya. Ia telah menunjukkan bagaimana kemampuan dan kehebatannya dalam mengatur barisan prajurit. Dia juga berhasil menunjukkan kepada semua orang, bahwa ia memang bukan Jenderal sembarangan.
Semua itu sudah terbukti sekarang! Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dari pihak musuh, dia berhasil mengalahkan mereka. Ia berhasil menguasai medan peperangan!
Saat ini, Jenderal Qi Guan masih berada di garis paling depan. Pedang pusaka yang berada di tangannya berkelebat dengan cepat membantai setiap prajurit musuh di sisinya.
Para pasukannya juga sama. Mereka pun tidak mau kalah dari Sang Jenderal. Orang-orang itu sambil terus melancarkan serangan, sesakli juga melindungi Jenderal Qi Guan dari serangan yang datang dari arah lain.
Singkatnya, para prajurit tersebut tidak segan-segan untuk mengorbankan nyawa mereka demi melindungi Jenderal Qi Guan!
Ketika pertempuran itu sedang berlangsung sengit, tiba-tiba puluhan anak panah melesat dari arah lain. Prajurit yang ada di dekatnya menjadi korban. Teriakan menggema, tubuh mereka langsung terkapar di atas tanah dengan anak panah masih menancap di badannya.
Jenderal Qi Guan benar-benar marah. Dia ingin memberikan bantuan, tapi sayangnya pada saat ini, ia sendiri sedang bertarung melawan musuh lain.
Karena keadaan yang tidak mendukung, akhirnya Jenderal Qi Guan pun melampiaskan kemarahannya tersebut kepada para prajurit yang menyerangnya.
Cahaya putih keperakan menari-nari di tengah udara. Dalam waktu sebentar saja dia telah berhasil membunuh beberapa orang musuh.
Ketika ia sedang mencurahkan semua konsentrasinya ke satu titik, tiba-tiba dari arah lain muncul lagi serangan.
Puluhan titik hitam melesat. Tapi bukan anak panah.
Melainkan jarum-jarum halus! Itu senjata rahasia yang sangat berbahaya!
Prajuritnya dengan cepat memburu ke dekat Jenderal Qi Guan. Ia langsung melindunginya dengan mengorbankan tubuh sendiri.
Korban jiwa kembali bertambah! Tak kurang dari sepuluh orang prajurit seketika tewas mengenaskan!
Tetapi rupanya, jarum-jarum halus itu seolah tiada habisnya. Dia terus datang ke arahnya. Bahkan kali ini dengan jumlah yang jauh lebih banyak lagi.
Posisi Jenderal Qi Guan semakin berbahaya. Nyawanya telah berada di ujung tanduk. Kalau tidak ada bantuan langsung dari langit, sudah tentu hidupnya akan berakhir pada saat itu juga!
Tetapi, lagi-lagi sebuah keajaiban terjadi. Tepat sebelum puluhan jarum menyambar tubuhnya, tiba-tiba ada segulung angin yang datang berhembus dan menghempaskan semua senjata rahasia tersebut.
Wushh!!!
Jerit kematian kembali terdengar. Namun yang sekarang bukan berasal dari prajuritnya. Melainkan dari prajurit musuh!
Zhang Fei!
Rupanya kejabian tersebut datang dari dirinya. Kebetulan ketika itu, pendekar muda tersebut baru saja menyelesaikan pertarungannya. Saat melihat nyawa Jenderal Qi Guan terancam, dengan segera dia mengirimkan bantuannya.
Jenderal Guan langsung menoleh ke arah sumber suara. Tanpa sadar dia mengangguk dan tersenyum hangat.
Setelah itu, dirinya kembali membantai setiap musuhnya.
Sedangkan Zhang Fei sendiri, begitu selesai bicara, dia langsung melesat dengan sangat cepat ke arah jarum-jarum tadi bermunculan.
Ketika tiba, rupanya di sana sudah ada seorang nenek tua yang sedang mengamuk. Pasukan Kekaisaran Song dibabat habis tanpa sisa. Ia melakukan hal itu menggunakan cara yang berbeda dari orang lain.
Kalau orang lain membunuh dengan cara menggerakkan tubuh dan mendekat, ia justru tidak begitu. Nenek tua itu hanya perlu mengayunkan kedua tangan dan menggerakkan jari-jarinya. Maka semua orang yang ada di dekatnya pasti akan langsung meregang nyawa.
"Ternyata Nenek Tua Seribu Jarum juga hadir di sini," ucap Zhang Fei setelah ia berada di depannya.
Rupanya pelaku yang melepaskan puluhan jarum tadi bukan lain adalah Nenek Tua Seribu Jarum Cui Ni yang merupakan Datuk Dunia Persilatan aliran sesat Tionggoan!
"Heh, bocah tengik. Akhirnya kita bertemu lagi," katanya lalu menghentikan semua serangan.
Ia melirik ke arah Zhang Fei sambil melemparkan senyuman dingin.
"Nenek tua, kau ini bagaiamana? Kekaisaran sendiri diserang orang, kau malah membela pihak musuh. Apakah kau tidak malu kepada diri sendiri?" Zhang Fei mengangkat alisnya.
Ia tidak habis pikir, kenapa di dunia ini ada manusia semacam dirinya?
"Hehehe ..." Nenek Tua Seribu Jarum tersenyum sinis. Kemudian dia baru menjawab. "Aku tidak memikirkan bagaimana keadaan kita. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya menghasilkan yang yang banyak dengan cepat,"
"Huhh!" Zhang Fei mendengus dingin. "Manusia sepertimu lebih baik cepat mati saja,"
Wutt!!!
Dia langsung bergerak. Pedang Raja Dewa ditebaskan beberapa kali. Tebasan pedang itu sangat cepat, kalau orang lain yang menjadi lawannya, niscaya dia tidak bisa melakukan tindakan apapun juga.
Usaha pertama yang dilakukan oleh Zhang Fei menemui kegagalan. Namun dia tidak berhenti sampai di situ saja. Dengan cepat Zhang Fei mengeluarkan jurus pedang miliknya.
"Pedang Menghancurkan Langit!"
Wutt!!!
Cahaya putih keperakan menyala dengan terang. Hawa pedang menjadi satu gulungan dalam serangannya. Si Nenek Tua Seribu Jarum tercekat. Baru beberapa saat bertarung saja, dia sudah bisa menakar sampai di mana kemampuan Zhang Fei sebenarnya.
'Dulu aku rasa kemampuannya tidak sehebat ini. Tapi mengapa sekarang ia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat? Kalau terus dibiarkan hidup, rasanya dia akan menjadi ancaman yang serius bagi golongan kami,' batinnya terheran-heran.
Bersamaan dengan itu, ia juga menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis atau menghindari pedang milik Zhang Fei. Sesekali, Nenek Tua Seribu Jarum juga melepaskan jurus tangan kosong yang dia kuasai.
Pertarungan dua orang itu berlangsung sengit. Zhang Fei sudah mengeluarkan sembilan bagian tenaga dalamnya.
Zhang Fei tahu, orang tua yang ia hadapi saat ini bukanlah musuh sembarangan. Dia adalah datuk sesat. Sudah tentu kemampuannya pun tidak bisa dipandang ringan.
Maka dari itu, sebisa mungkin Zhang Fei tidak mau memberikan kesempatan bagi dirinya untuk membalas serangan.
Pedang Raja Dewa terus berkelebat. Bayangan pedang telah menyelimuti seluruh tubuh Nenek Tua Seribu Jarum. Zhang Fei benar-benar tidak kenal ampun. Ia terus mencecarnya sampai usaha itu membuahkan hasil sesuai dengan harapannya!