Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Yao Mei


Lama, lama sekali Zhang Fei berdiri diam seperti patung. Ia tidak bergerak. Bahkan tidak berkedip. Lebih dari itu, ia pun seolah-olah tidak bernafas.


Pemuda tersebut tetap memandang ke depan. Memandangi wajah dibalik cadar itu dengan tatapan tidak percaya.


Apakah ini mimpi? Benarkah yang dia lihat itu manusia? Bukan bidadari yang sengaja turun dari khayangan?


Di dunia ini, wanita cantik memang banyak. Malah teramat banyak. Tapi ada kalanya, kecantikan itu justru kosong. Tidak ada daya tariknya sama sekali.


Sedangkan gadis yang berdiri di depan Zhang Fei sekarang, ia masuk dalam kategori kedua. Sudah cantik, mempunyai daya tarik yang sangat besar pula.


Bahkan beberapa saat kemudian, yang memandangi wajah itu bukan hanya dia seorang. Malah puluhan penghuni Kampung Hitam yang tadi terluka olehnya, kini juga sedang menatap gadis berpakaian hijau muda itu dengan seksama.


Sementara di satu sisi lain, si gadis juga mengalami hal yang sama seperti Zhang Fei. Rasanya ia baru melihat pemuda tampan seperti itu.


Sudah tampan, berilmu tinggi pula.


Siapa namanya? Kenapa ketika dua pasang mata itu bertemu, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang? Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Gadis cantik itu masih diam. Sepasang wajah yang cantik dan sangat menawan tersebut, tiba-tiba bertambah merah. Merah seperti bunga mawar yang baru mekar.


Menyadari akan hal itu, buru-buru ia menutupi lagi wajahnya dengan cadar yang ada.


Setelah itu, dirinya berusaha kembali untuk menenangkan diri. Ia tidak mau gugup, apalagi di depan musuh seperti sekarang.


Beberapa saat kemudian, setelah ia berhasil menguasai dirinya, mendadak gadis itu bertanya.


"Siapa kau? Kenapa berani berbuat kacau di tempat ini?"


Pertanyaan itu diajukan dengan nada dingin. Dingin melebihi es. Tidak cuma itu saja, malah saat ini, gadis itu juga memasang wajah marah.


Namun meskipun benar demikian, bagi Zhang Fei, semua hal tersebut justru malah menambah lagi daya tariknya.


Matanya yang tajam seperti pedang, bagaikan mentari di pagi hari. Sangat indah untuk dipandang.


Wajahnya yang sekarang sedang marah, seolah-olah itu adalah pelangi yang muncul setelah hujan reda. Sangat sayang untuk dilewatkan.


Sementara suaranya ... suara yang dingin itu, justru seperti hembusan angin di musim semi yang memberikan kenyamanan.


Cukup lama Zhang Fei menutup mulut. Ia malah seakan tidak mendengar pertanyaan si gadis cantik.


"Heh, apakah kau tuli? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"


Karena merasa pertanyaannya tidak didengar, pada akhirnya gadis itu kembali mengajukan pertanyaan. Malah kini suaranya bertambah dingin. Dingin dan menusuk telinga.


Sebab ucapannya yang barusan, sebenarnya dibarengi juga dengan pengerahan tenaga sakti.


Sekarang, ketika merasakan ada sesuatu yang menusuk gendang telinganya, tiba-tiba Zhang Fei sadar dari lamunan.


"Eh, apa, Nona? Kau bertanya apa?" pemuda itu sedikit malu. Sebab sekarang ia merasa gugup.


"Siapa namamu?" bentak gadis cantik itu.


"Margaku Zhang, namaku Fei," jawabnya jujur.


"Kenapa kau berani berbuat kekacauan di Kampung Hitam ini?"


"Aku hanya membayar hutang dua tahun lalu,"


Ia menjawab dengan jujur dan apa adanya. Selain memang begitu sifat dasarnya, di satu sisi lain, Zhang Fei pun merasa tidak bisa berbohong apabila sedang berhadapan dengan gadis secantik itu.


Pada umumnya, kebanyakan pria memang sering seperti itu. Ia tidak mampu berdusta apabila sedang berada di depan wanita cantik.


Maka dari itu, kecantikan yang dimiliki oleh wanita, terkadang sangat berguna untuk membuka berbagi macam rahasia yang terdapat dalam diri manusia.


Hal seperti ini mungkin terdengar sedikit lucu dan mustahil. Tetapi bagaimanapun juga, kejadiannya justru sangat sering sekali.


Selain itu, masing-masing dari mereka juga mendadak merasakan ada perasaan aneh yang sulit untuk dijelaskan.


"Dan kau sendiri, siapa namamu, Nona?" tanya Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian.


"Namaku Yao Mei," jawabnya singkat.


"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Zhang Fei lebih jauh.


Dia sangat penasaran akan hal tersebut. Bagaimana mungkin seorang gadis cantik sepertinya, bisa berada di tempat ini? Sebenarnya, dia itu siapa?


Sebab seingat Zhang Fei, pada dua tahun silam, di Kampung Hitam itu tidak ada seorang pun wanita. Apalagi wanita muda yang cantik jelita.


Mimpi pun ia tidak pernah membayangkan hal itu.


"Karena aku memimpin Kampung Hitam ini,"


"Apa? Jadi ... kau ... kau adalah Pemimpin Kampung Hitam?"


Hampir saja ia berteriak keras karena tidak percaya dengan ucapannya.


Bagaimana mungkin gadis seusia dirinya, bisa menjadi pemimpin para pendekar sesat yang terdapat di Kampung Hitam? Apakah ucapannya itu benar? Atau, dia sedang berusaha menggertak dirinya?"


"Kenapa? Kau tidak percaya?"


"Tapi ... tapi saat dua tahun lalu, ketika kemari, aku tidak melihat dirimu,"


"Beliau memang pemimpin baru kami. Ia tiba di sini paling baru satu tahun tahun belakangan. Kau kaget bukan? Jangan heran, jika dirimu saja bisa menjadi hebat di usia muda, kenapa orang lain tidak bisa?"


Seorang penghuni Kampung Hitam yang sudah mengalami luka parah tiba-tiba berkata sambil berusaha berdiri. Ketika memandang ke arah Yao Mei, orang tersebut langsung berlutut dan memberikan hormat kepadanya.


"Bagaimana, sekarang kau percaya?" tanya gadis itu lagi sambil tersenyum dibalik cadarnya.


Zhang Fei tidak dapat menjawab. Ia hanya mampu tersenyum getir.


Di dalam hati, pemuda itu sungguh sangat menyayangkan. Seorang gadis cantik seperti Yao Mei, ternyata harus menjadi pemimpin golongan hitam.


Dalam hal ini, bagaimana ia harus bersikap? Berdiam diri saja? Atau harus membantunya keluar dari lingkaran hitam ini?


"Jangan banyak melamun. Lihat pedangku!"


Yao Mei tiba-tiba berteriak. Bersamaan dengan itu, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang di tengah udara dan hampir tiba di depan Zhang Fei.


Sebatang pedang tipis yang sangat tajam, sudah siap untuk menusuk tenggorokannya.


Pemuda itu kaget setengah mati. Apalagi setelah menyadari betapa cepatnya gerakan gadis itu.


Dengan gerakan sederhana, ia segera menggeser kakinya.


Tusukan pedang lewat setengah jengkal di depan wajah.


Wutt!!!


Zhang Fei merasa wajahnya sedikit panas. Hal itu tercipta karena hawa pedang yang dikeluarkan oleh Yao Mei ternyata bisa dirasakan dengan jelas.


Mengetahui serangannya gagal, gadis cantik itu segera menjejak kaki di tengah udara. Ia langsung membalikkan tubuh dan kembali memberikan serangan berikutnya.


Jurus pedang sudah keluar. Walaupun tubuhnya masih di udara, tapi pedangnya justru telah mengancam seluruh titik mematikan.


Menghadapi situasi seperti ini, tentu saja Zhang Fei tidak bisa tinggal diam. Apalagi setelah dirinya menyadari bahwa kemampuan lawan, memang tinggi.


Secepat kilat ia mencabut Pedang Raja Dewa. Setelah itu dirinya langsung melayani serangan Yao Mei.