
Orang tua itu berhenti sebentar. Ia menenggak arak kembali sebanyak tiga kali. Setelah selesai, Dewa Arak Tanpa Bayangan baru melanjutkannya lagi.
"Tanpa adanya Kitab Pedang Dewa yang menjadi pasangan pedang itu sendiri, pusaka tersebut bukanlah apa-apa. Walaupun ketajamannya masih sempurna, tapi kemampuan dan pamornya tidak akan keluar sama sekali,"
"Oh, benarkah? Jadi ... Pedang Raja Dewa akan berfungsi secara maksimal ketika disandingkan dengan kitabnya?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan.
"Benar sekali," katanya mengangguk.
"Hemm ... menarik juga,"
Para tokoh itu baru mengerti akan hal tersebut. Tadinya mereka berpikir bahwa pedang itu akan tetap berbahaya meskipun berada di tangan orang lain.
Ternyata setelah mendengar ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan, yang terjadi malah sebaliknya.
"Memang menarik, Pedang Raja Dewa dibuat khusus oleh leluhur Keluarga Zhang sedemikian rupa supaya berbeda dari senjata pusaka pada umumnya,"
"Jadi begitu ... ya, ya, aku mengerti sekarang," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Menurut cerita yang pernah aku dengar, leluhur Keluarga Zhang sengaja melakukan hal ini karena khawatir kalau suatu saat nanti Pedang Raja Dewa akan jatuh ke tangan musuh. Jadi, sebelum kekhawatirannya itu benar-benar terjadi, mereka telah mempersiapkan semuanya lebih dulu," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan lebih lanjut.
"Benar-benar luar biasa. Sejak dulu, Keluarga Zhang memang tidak pernah mengecewakan," kata Pendekar Tombak Angin memberikan pujian tulus.
Dalam dunia persilatan itu selalu ada dan banyak sekali hal-hal unik yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya.
Contohnya saja senjata pusaka. Ada senjata pusaka yang akan berfungsi sama meskipun sudah dipegang oleh orang yang berbeda, dan kebanyakan memang seperti ini.
Tetapi di sisi lain, masih ada jenis pusaka unik. Yaitu ketika telah terjatuh ke tangan orang lain, maka senjata pusaka tersebut tidak akan mampu berfungsi maksimal seperti yang seharusnya karena beberapa alasan.
Contohnya adalah Pedang Raja Dewa!
Setelah mengetahui hal yang sebenarnya, para tokoh dunia persilatan itu segera bernafas lega. Mereka sangat bersyukur atas kejadian ini.
"Sekarang, yang menjadi masalahnya justru adalah anak Fei," setelah beberapa waktu berhenti, akhirnya Dewa Arak Tanpa Bayangan pun kembali berbicara.
"Ada apa dengannya?" tanya Dewi Rambut Putih.
"Bayangkan saja, saat ini pedang pusakanya sudah tidak ada. Lalu, bagaiamana mungkin dia akan bertarung?"
"Bukankah anak Fei masih mempunyai banyak ilmu simpanan lain?"
"Memang betul, aku juga tahu akan hal ini. Tapi bukankah kalian juga tahu, bahwa pada dasarnya anak Fei adalah pendekar pedang? Bukan pendekar tangan kosong Orang Tua Aneh Tionggoan,"
"Ah ... benar juga," Orang Tua Aneh Tionggoan menghela nafas berat. "Kalau begini jadinya, kenyataan akan bertambah sulit lagi,"
Yang lain ikut mendesah pelan. Mereka baru terpikirkan hal ini.
Semua orang tahu bahwa Zhang Fei sangat mengandalkan kemampuan ilmu pedangnya. Kalau pun ia mempunyai ilmu tangan kosong dan sejenisnya, hal itu hanya untuk menambah bekal saja.
Sekarang jika pedangnya tidak ada, bagaiamana mungkin dia akan ikut berpartisipasi dalam pertarungan penentuan nenri?
Kepala para tokoh dunia persilatan itu segera terasa sakit. Mereka pusing tujuh keliling ketika mencari jalan keluarnya.
Suasana di sana hening cukup lama. Semua orang tenggelam bersama pikirannya masing-masing.
"Hemm ... sudahlah. Kita pikirkan hal ini besok. Sekarang, lebih baik kita tidur dulu. Aku merasa sangat lelah sekali," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Tidak lama setelah kepergian Dewa Arak Tanpa Bayangan, para Datuk Dunia Persilatan yang lain pun segera ikut menyusul.
###
Sementara itu, saat ini lima orang tabib Gedung Ketua Dunia Persilatan masih ada di dalam ruang pengobatan.
Mereka baru saja menyelesaikan tugasnya dalam upaya mengobati Zhang Fei.
"Semuanya sudah beres. Dengan begini, aku rasa nyawa Ketua Fei bisa diselamatkan. Sekarang kita hanya tinggal menunggu beliau siuman saja," ujar salah seorang tabib kepada yang lainnya.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita pergi dari sini. Biarkan Ketua Fei istirahat dulu,"
"Ya, mari,"
Kelima orang tabib tersebut segera keluar. Tidak lama setelah itu, dari sudut lain terlihat muncul dua orang pendekar yang kemudian berdiri di sisi kanan dan kiri pintu untuk melakukan penjagaan.
Suasana di Gedung Ketua Dunia Persilatan kembali sepi hening. Para tokoh-tokoh penting di sana sudah tertidur dengan lelap.
Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Zhang Fei seperti bermimpi. Di alam bawah sadarnya, ia melihat ada seorang tua berpakaian serba putih.
Orang tua tersebut sangat berwibawa. Zhang Fei bisa merasakan hal itu dengan jelas. Saat itu si orang tua sedang duduk di atas batu besar sambil menghadap ke halaman kosong di tengah hutan belantara.
Sedangkan Zhang Fei masih berdiri persis di belakangnya.
Di sana tidak ada manusia lain kecuali mereka berdua. Suasana hutan cukup ramai karena binatang-binatang di dalamnya berbunyi silih berganti.
Zhang Fei sangat penasaran terhadap sosok di depannya. Ia tidak tahu siapakah orang tua tersebut. Tetapi anehnya, walaupun merasa tidak kenal, tapi hatinya tiba-tiba terasa sejuk. Zhang Fei tidak merasa takut ataupun risau.
"Zhang Fei, kemarilah. Berdiri di hadapanku," orang tua serba putih tiba-tiba berkata. Suaranya terdengar halus. Namun kita sangat berwibawa.
Dari balik suara itu seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang bisa memaksa seseorang untuk menuruti ucapannya.
Tidak terkecuali Zhang Fei. Setelah mendengarnya, detik itu juga kedua kakinya langsung melangkah. Ia baru berhenti setelah tiba di hadapannya.
Begitu tiba di sana, akhirnya Zhang Fei bisa juga melihat bagaimana bentuk wajah si orang tua. Ternyata sepasang matanya sangat tajam. Persis seperti mata seekor harimau.
Kedua alias dan janggutnya yang menyentuh dada juga mempunyai warna yang sama. Di bagian dada sebelah kanan, terlihat di sana ada lambang seekor naga yang disulam dengan sangat indah.
"Ma-maf, Tuan ini siapa?" tanya Zhang Fei memberanikan diri.
"Zhang Fei, apakah kau tahu bagaimana kondisimu saat ini?" bukannya menjawab, si orang tua malah mengajukan pertanyaan.
Namun karena merasa segan, pada akhirnya Zhang Fei menjawab juga pertanyaan tersebut.
"Ya ... aku tahu, Tuan. Aku mengalami luka yang sangat parah di sekujur tubuhku. Tidak hanya itu saja, bahkan ada juga lima belas batang senjata rahasia yang terdapat di setiap titik penting," jawab Zhang Fei dengan cepat.
Dia masih ingat dan terbayang terus terkait kejadian pahit yang menimpanya tersebut. Tidak hanya itu saja, bahkan Zhang Fei juga tidak mampu melupakan wajah orang-orang yang melakukannya.
Sampai kapan pun, dia akan terus ingat siapa para pelakunya!
Sementara itu, si orang tua serba putih tadi terlihat tersenyum ke arahnya.
"Ternyata ingatanmu masih tajam," katanya dengan lembut. "Tapi kau harus tahu, sekarang kondisimu sudah jauh lebih baik. Tubuhmu tidak mempunyai masalah lagi. Masalahnya sekarang adalah kau tidak lagi memegang Pedang Raja Dewa!"