Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ditahan


Tiga Bandit Tua kemudian langsung bersiap. Masing-masing senjata mereka sudah ditarik ke belakang. Tenaga segera disalurkan.


Begitu ketiga senjata itu siap membunuh Zhang Fei, mendadak terdengar sebuah teriakan yang datang dari dalam kediaman Hartawan Wang.


"Tahan!"


Suaranya menggelegar. Seperti guntur yang muncul di tengah hujan deras.


Mendengar suara tersebut, Tiga Bandit Tua kemudian menarik kembali serangannya.


Para prajurit dan penjaga yang hadir di sana langsung membungkukkan badannya. Orang-orang yang tadi berkumpul membentuk lingkaran, sekarang sudah mundur memberikan jalan.


Dari dalam kediaman yang besar itu, tampak ada seseorang yang berjalan dengan dikawal oleh dua orang pria bercadar hitam.


Seseorang yang berdiri di posisi paling tengah mempunyai bentuk tubuh gemuk. Ia persis seperti bola. Lemak di wajahnya bahkan sampai menutup kedua mata.


Sudah gemuk, pendek lagi. Singkatnya, dia sangat mirip seperti b*b*i.


Apalagi jika ditambah dengan warna kulitnya yang putih dan sedikit kemerahan.


Kalau dilihat sekilas, rasanya dia tidak nampak seperti orang-orang persilatan. Cara berjalannya biasa. Bahkan ia pun tidak nampak membawa senjata.


Tetapi meskipun begitu, ternyata dia mempunyai wibawa yang sangat menakutkan. Buktinya saja barusan, hanya dengan suara, orang itu bahkan bisa menggagalkan niat Tiga Bandit Tua yang ingin membunuh Zhang Fei.


Siapa dia?


Ia tak lain adalah Hartawan Wang!


Orang yang ingin dibunuh oleh Zhang Fei! Hartawan yang selama ini suka bertindak seenak hati dan tidak pernah memikirkan orang lain. Manusia yang selalu merasa berkuasa di atas segalanya!


Dia berjalan dengan langkah ringan. Mulutnya selalu tersenyum. Senyuman yang sangat memuakkan.


Zhang Fei melirik sekilas ke arahnya. Tapi begitu melihat wajah Hartawan Wang, anak muda itu langsung merasakan darahnya naik sampai ke ujung kepala.


Kalau saja dia mempunyai tenaga untuk berontak, mungkin sekarang dia sudah melakukannya. Sayang sekali, Zhang Fei tidak punya kuasa untuk mewujudkan hal tersebut.


"Anak muda, siapa namamu?" tanya Hartawan Wang begitu dia sudah berada di depannya.


"Zhang Fei," jawabnya singkat.


"Hemm, nama yang bagus," dia kemudian berjalan mengelilinginya sambil terus memperhatikan penampilan mulai dari atas sampai bawah.


"Sama seperti wajah pemiliknya yang tampan," dia tertawa kecil.


Zhang Fei semakin muak. Apalagi setelah ia mendengar ucapan barusan.


"Bawa dia ke ruang tahanan," katanya memberikan perintah kepada Tiga Bandit Tua.


"Baik, Tuan," mereka mengangguk dengan patuh.


Tiga orang tua itu lalu berjalan ke belakang, menuju ke ruang tahanan yang dimaksud oleh Hartawan Wang.


Berbarengan dengan itu, para prajurit dan penjaga yang ada di halaman belakang juga segera membubarkan diri. Mereka langsung kembali ke tempat asal untuk menjalankan tugasnya masing-masing.


Dalam waktu yang sebentar, keadaan di sana langsung sepi kembali. Seolah-olah di tempat itu tidak pernah terjadi sesuatu apapun juga.


###


Mentari pagi sudah datang menyapa bumi. Lien Hua dan tiga sahabatnya sudah berkumpul di halaman belakang, tempat mereka dan Zhang Fei membicarakan rencana terkait pembunuhan Hartawan Wang.


Empat pendekar angkatan tua itu tampak gelisah. Di antara mereka belum ada yang bicara.


Hidangan dan teh hangat yang ada di atas meja juga dibiarkan begitu saja.


Selain dari mereka, di sebuah kamar, tampak Yu Yuan juga sedang berdiri gelisah di sisi jendela sambil terus memandang keluar.


Dan pada dasarnya memang demikian. Mereka sedang gelisah sekaligus menunggu kedatangan Zhang Fei.


Sayangnya, dari semalam sampai saat ini, anak muda itu masih belum juga memunculkan diri. Karena hal tersebutlah mereka menjadi gelisah tak menentu.


"Apakah saudara kecil itu baik-baik saja?" Ting Pek tiba-tiba bertanya kepada rekannya. Ia memecahkan keheningan di halaman belakang tersebut.


"Entahlah," jawab Duan Dao sambil mengangkat kedua bahu. "Tapi aku sangat berharap kalau dia masih hidup," lanjutnya.


Yang lain hanya menghela nafas berat. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.


"Bagaimana kalau hal ini kita sebarkan kepada rekan-rekan yang lain?" tanya Mo Bian mengajukan usul.


"Jangan dulu," jawab Lien Hua dengan cepat.


"Kenapa?"


"Karena kalau sampai hal ini tersebar luas. Pasti Kota Sichuan akan banjir darah. Dan aku tidak mau hal ini terjadi,"


"Hemm, jika tidak begitu, lantas apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus diam seperti ini?" tanya Duan Dao sambil melirik ke arah Lien Hua.


"Untuk sementara, aku rasa, iya. Setidaknya kita tunggu tiga hari lagi. Kalau dalam waktu tiga hari, Tuan Muda Zhang belum juga ada kabar, terpaksa kita harus mengambil tindakan lebih,"


Tiga rekannya saling pandang satu sama lain. Setelah beberapa saat kemudian, terdengar Ting Pek bicara mewakili dua rekannya.


"Baiklah. Kalau begitu, kita tunggu tiga hari lagi," ujarnya seraya menganggukkan kepala.


###


Sementara itu di ruang tahanan kediaman Hartawan Wang, saat ini Zhang Fei sedang bersila. Ia sedang melakukan semedi untuk memulihkan tenaganya.


Baik itu tenaga luar, tenaga dalam, atau juga tenaga sakti.


Sudah sekitar tiga puluh menit dia melakukan semedi. Dan baru sekarang saja dirinya membuka mata.


Perlu diketahui, sebenarnya tahanan Hartawan Wang ada cukup banyak. Mereka adalah para pendekar yang berasal dari aliran putih.


Alasan kenapa orang-orang itu ditahan adalah karena mereka berusaha melawan atau bahkan berniat ingin membunuhnya.


Namun, khusus untuk Zhang Fei, Hartawan Wang sengaja memisahkan dia dari tahanan yang lain. Entah kenapa alasannya. Yang jelas, ruang yang menjadi tempat ia ditahan itu sangat pengap.


Meskipun keadaannya bersih, tapi tidak ada ruang udara, kecuali hanya sedikit. Maka dari itu, Zhang Fei sedikit kesulitan bernafas.


Untunglah ia adalah seorang pendekar. Sehingga hal itu bukan suatu masalah berarti bagi dirinya.


Dalam keadaan seperti sekarang, rasanya tidak ada yang dapat dia lakukan, kecuali hanya menunggu keajaiban. Sebenarnya bisa saja dia membebaskan diri dari tahanan tersebut.


Namun Zhang Fei memilih untuk tidak melakukannya. Apalagi di depan ruang tahanan dia, ada Tiga Bandit Tua yang sengaja menjaganya.


Belum juga penjaga lain yang ada di setiap sudutnya.


'Maafkan aku guru, aku tidak bisa menjalankan tugas ini sampai selesai,' batinnya berkata.


Zhang Fei merasa menyesal karena dia telah kehilangan kewaspadaan ketika menjalani pertarungannya melawan Tiga Bandit Tua.


Andai saja ia tetap waspada, mungkin nasibnya tidak akan seperti sekarang.


Tetapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah jadi bubur. Untuk menyesal pun tidak ada gunanya.


Kecuali mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi, memangnya apa lagi yang dapat dia lakukan sekarang?


"Heh, bocah tengik," tiba-tiba si nenek tua berjalan mendekat ke arahnya. "Apakah kau mau menyerah dan mau bergabung dengan kami? Kalau kau mau, maka sekarang juga dirimu bisa bebas,"


"Nenek tua, asal kau tahu saja. Daripada aku bergabung dengan kalian, aku lebih baik mati kelaparan di tempat ini," jawabnya dengan tegas.