
Luo Sun tidak segera pergi. Dia masih ada di sana. Malah masih berada pula di posisi semula.
Pendekar muda itu masih bengong. Dia benar-benar kaget dan tidak menyangka. Kaget dengan ilmu pedang Zhang Fei yang sudah sangat tinggi, dan tidak menyangka bahwa orang itu akan mengampuninya.
"Tunggu dulu!" katanya secara tiba-tiba.
Zhang Fei yang pada saat itu belum berjalan jauh, tiba-tiba menghentikan langkah setelah mendengarnya.
"Ada apa lagi?" tanyanya tanpa membalikkan tubuh.
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
Luo Sun sungguh penasaran akan hal ini. Padahal di awal, keduanya sudah sepakat bahwa duel tadi akan berakhir apabila ada salah satu pihak yang tewas menjadi korban.
Siapa nyana, akhir dari duel tersebut malah tidak ada korban jiwa.
Keduanya masih hidup. Hidup tanpa adanya luka-luka.
"Karena kau belum pantas aku bunuh," jawab Zhang Fei dengan dingin.
"Kenapa? Apakah karena ilmu pedangku masih kalah darimu? Ataukah karena kau menganggap aku terlalu lemah?"
Seketika kemarahan Luo Sun langsung terpancing. Pada saat itu juga dia bangkit berdiri sambil menggenggam pedangnya di tangan kanan.
"Tidak, bukan itu alasanku," tukas Zhang Fei sambil menggelengkan kepala beberapa kali.
"Lalu kenapa?"
"Kau tidak pantas aku bunuh, karena di hatimu masih tertanam kebaikan. Aku hanya berharap, kau bisa menggunakan ilmu pedangmu itu untuk menumpas kejahatan dan membantu mengembalikan kejayaan dunia persilatan kita,"
Anak muda itu tidak berbicara lagi. Dia mulai meneruskan langkahnya. Ia berjalan ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Orang Tua Aneh Tionggoan dengan langkah perlahan.
Di atas atap bekas duel tadi, Luo Sun masih berdiri mematung. Ia terus memandangi Zhang Fei dengan tatapan tidak percaya.
Lama sekali dirinya berada dalam keadaan seperti itu. Sekilas pandang ia tidak terlihat seperti manusia. Melainkan seperti patung.
Sementara itu, bersamaan tepat dengan terjadinya puncak duel antara dua pendekar muda tersebut, terdengar Dewa Arak Tanpa Bayangan berbicara kepada sahabat yang berdiri di sisinya.
"Tua bangka, siapa anak muda itu sebenarnya? Kenapa dia bisa menguasai rangkaian jurus dari Kitab Pedang Dewa? Kenapa pula dia bisa memiliki Pedang Raja Dewa?"
Orang tua itu memandang sahabatnya dengan tatapan mata menyelidik. Dia sungguh penasaran akan hal tersebut.
Sebagai tokoh angkatan tua yang sudah banyak pengalaman, tentu Dewa Arak Tanpa Bayangan mengetahui tentang hal tersebut. Hanya saja, dia tidak mau bertindak gegabah. Apalagi setelah mengetahui bahwa anak muda itu sudah melakukan perjalanan bersama dengan sahabatnya.
"Kau masih ingat dengan Keluarga Zhang yang ternama dalam dunia persilatan?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan tanpa menoleh. Matanya masih tertuju ke duel yang sedang berjalan sangat seru tersebut.
"Tentu saja aku ingat,"
"Bagus. Dan kau belum lupa bukan, kepada si Pedang Kilat Zhang Xin?"
"Bagaiamana mungkin aku bisa melupakan sosok seperti dirinya?"
"Nah, kalau begitu perkenalkan, dia adalah pewaris tunggal si Pedang Kilat, sekaligus penerus dari Keluarga Zhang," jelasnya dengan perlahan.
"Jadi anak muda itu adalah ..."
"Kalau sudah tahu, lebih baik kau diam saja. Aku minta kepadamu supaya menutup rahasia ini rapat-rapat. Sebab sekarang bukan waktu yang tepat untuk membuka latar belakangnya. Aku takut, nantinya dia akan berada dalam bahaya,"
"Hemm, baiklah. Aku mengerti,"
Pembicaraan di antara mereka hanya sampai di situ saja. Saat ini benak Dewa Arak Tanpa Bayangan sedang merasakan berbagai macam perasaan.
Ada rasa kaget, senang, bangga, dan tentunya tidak menyangka.
Tapi terlepas dari semua itu, yang jelas saat ini timbul harapan baru dalam hatinya.
Apalagi setelah mereka berdua menyaksikan sikap Zhang Fei pada saat dia menyelesaikan duel tersebut.
"Anak itu benar-benar mewarisi sikap kegagahan Ayahnya," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Benar. Dan dia juga mewakili bakat silat Pendekar Naga Putih Zhang Yi,"
"Ya, aku setuju,"
Untunglah Orang Tua Aneh Tionggoan segera menyadari kehadirannya. Dia pun segera menyadarkan Dewa Arak Tanpa Bayangan dari kekagumannya kepada anak muda itu.
"Bagus sekali, anak Fei," pujinya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Aku bangga kepadamu, anak muda. Ternyata sifatmu sangat mirip dengan A-..."
"Dengan para tokoh-tokoh terkenal dunia persilatan yang gagah berani," potong Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.
Ia langsung melirik sahabatnya, lalu memelotot sampai kedua bola matanya seolah-olah hendak melompat keluar.
"Aih, terimakasih, Tuan. Kalian terlalu berlebihan ..." jawab Zhang Fei.
"Hahaha ... anak Fei, bagaimana kalau malam ini, aku mentraktir kalian untuk makan minum sepuasnya? Hitung-hitung hadiah karena kau telah memenangkan duel tadi," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan usul.
"Boleh, kebetulan aku sudah merasa lapar," kata anak muda itu.
"Ternyata setelah sekian lama tidak bertemu, sekarang kau telah berubah menjadi manusia yang sangat royal," ejek Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Berisik kau, setan tua," sambil bicara seperti itu, dirinya segera menjambak janggut sahabatnya yang sudah panjang tersebut.
"Aih, sakit ..."
Tiga orang tersebut segera tertawa terbahak-bahak. Mereka sampai melupakan Luo Sun yang sejak tadi masih memandangi Zhang Fei.
"Zhang Fei ..." ujarnya dengan lantang.
"Ada apa?"
"Kebaikanmu kali ini tidak akan pernah aku lupakan. Tapi suatu hari nanti, aku masih ingin berduel denganmu lagi,"
"Baik. Aku menunggu saat itu tiba," kata Zhang Fei sambil mengangguk.
Sementara Luo Sun sendiri, setelah dia berbicara seperti itu, dirinya langsung melompat. Hanya satu kali lompatan saja, ia telah hilang ditelan kegelapan malam.
###
Zhang Fei dan dua Datuk Dunia Persilatan saat ini sudah berada di restoran termewah yang terdapat di kota yang disinggahinya. Mereka bertiga pesta makan dan minum.
Entah berapa jenis makanan yang sudah masuk ke perutnya. Entah berapa banyak pula guci arak yang mereka minum.
"Eh, setan tua, apakah kau tau di mana kediaman Hartawan Ouw?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan di tengah-tengah keseruannya minum air kata-kata.
"Mana aku tahu? Jangankan rumah Hartawan Ouw, malah nama kota ini saja aku tidak tahu," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan seraya tertawa.
"Bagaiamana denganmu, anak Fei?"
"Apalagi aku, Tuan Kiang," Zhang Fei juga tertawa. Tertawa dengan lantang.
"Aih, kalian ini benar-benar payah ... kota yang tidak terlalu besar ini bernama Kota Ouw,"
"Kota Ouw? Kenapa namanya sangat mirip dengan nama Hartawan Ouw?" tanya Zhang Fei seketika.
Baginya, nama kota ini terdengar aneh. Karena itulah dia segera bertanya untuk mengusir rasa penasarannya.
"Karena memang dialah yang memberikan nama tersebut. Asal kau tahu saja, anak Fei, penguasa Kota Ouw ini adalah dia sendiri. Si iblis tua Ouw itu,"
"Tunggu dulu, Tuan Kiang. Kalau begitu, apakah semua yang ada di sini berada dalam pengawasannya?"
"Tidak salah lagi,"
"Lalu Kelompok Bunga Merah, apakah juga bagian dari orang-orangnya?"
"Menurutku begitu,"
"Pantas saja ada undangan tersebut,"
"Ya, dan itu karena di kota ini, bukan hanya ada satu kelompok seperti mereka. Melainkan ada tiga,"
"Apa saja nama kelompok itu?"
"Kelompok Bunga Hitam, dan Kelompok Bunga Hijau. Tiga kelompok itu sengaja dibentuk sebagai salah satu cara dirinya menguasi kota ini,"