
Lewat beberapa saat kemudian, setelah Zhang Liong memantapkan diri dan membetulkan posisi duduk, dirinya mulai bercerita.
"Leluhur Zhang Yi, dia adalah tokoh utama dalam Keluarga Zhang kita. Puluhan atau mungkin ratusan tahun lalu, ia berasal dari Kota Han Ciu. Dalam dunia persilatan, dirinya sangat terkenal. Tidak ada orang yang tidak mengenalnya. Setiap orang, pasti kenal dan tahu siapa itu Zhang Yi,"
"Kenapa semua orang mengetahuinya, Kek?" tanya Zhang Fei memotong ceritanya.
"Karena dia adalah pendekar nomor satu pada zaman itu. Sejak muda, ia sudah mempunyai nama besar. Bahkan dirinya dijuluki Pendekar Naga Putih. Dengan Pedang Dewa Naga yang selalu berada di tangannya, ia telah banyak melakukan hal-hal yang menggetarkan kolong langit. Entah berapa banyak tokoh sesat yang tewas olehnya. Entah berapa banyak pula, manusia yang diselamatkannya,"
Pendekar Naga Putih Zhang Yi memang sangat terkenal. Kisah itu terjadi pada saat Kerajaan Liu berdiri dan menguasai semua daratan Tionggoan. (Kisahnya saya tulis di aplikasi w3bn0v3l).
Sejak usia muda, dia sudah mempunyai kemampuan tinggi. Dan puncak kekuatannya terjadi setelah dia menikah dan mempunyai seorang putera.
Zhang Liong belum berhenti sampai di situ saja. Ia bahkan menceritakan riwayat hidup Pendekar Naga Putih Zhang Yi, bahkan sampai dia dan isterinya meninggal.
Selama jalannya cerita itu, Zhang Fei tidak pernah lagi memotong. Anak muda itu tetap diam dan menjadi pendengar yang baik.
Beberapa kali bahkan ia membayangkan leluhurnya tersebut. Tentang sosoknya, tentang sifat dan wataknya, dan terutama sekali tentang ilmu pedangnya.
Bicara tentang ilmu pedang, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang tertulis dalam Kitab Pedang Dewa.
Ketika kakeknya sudah selesai bercerita, dengan cepat dia langsung mengajukan pertanyaan.
"Kakek, dalam Kitab Pedang Dewa, ada sebuah keterangan yang mengatakan bahwa dulu, ada leluhur Keluarga Zhang yang juga sudah yang mencapai puncak ilmu pedang. Apakah orang itu, adalah Pendekar Naga Putih Zhang Yi?"
Zhang Liong tersenyum lagi. Kali ini, sinar di matanya tiba-tiba berubah. Seperti ada sambaran kilat. Ada pula kebanggaan yang tercermin dalam bola matanya itu.
"Benar sekali, cucuku," katanya sambil mengangguk. "Leluhur Keluarga Zhang yang telah berhasil mencapai puncak ilmu pedang, bukan lain adalah beliau. Pendekar Naga Putih,"
Angin pegunungan tiba-tiba berhembus cukup kencang. Seolah-olah angin tersebut ingin membuat suara Zhang Liong barusan bisa didengar oleh semua orang yang ada di muka bumi.
Anak muda itu berseru tertahan. Dia kaget sekaligus girang.
Para akhirnya, dia bisa mengetahui siapakah leluhurnya yang sangat luar biasa itu.
"Kalau begitu, apakah Kitab Pedang Dewa ini, juga merupakan kitab warisan dari beliau?"
"Tidak salah. Kitab Pedang Dewa ini, adalah kitab pusaka yang telah beliau sempurnakan. Begitu juga dengan pedang yang kau pegang itu,"
Semakin girang perasaannya setelah mendengar penjelasan barusan. Diam-diam, Zhang Fei semakin percaya bahwa impiannya untuk menjadi Dewa Pedang, bukanlah suatu hal yang mustahil.
Apalagi dengan bekal pasangan benda pusaka yang luar biasa tersebut.
"Hanya saja, semenjak leluhur Zhang Yi meninggal, tidak ada lagi keturunannya yang bisa menguasai jurus pedang itu secara sempurna,"
"Kenapa begitu?"
"Karena setiap jurus yang tertera di dalam Kitab Pedang Dewa, mempunyai gerakan yang sangat rumit sekali,"
Hal itu benar adanya. Sebab Zhang Fei sendiri merasakannya.
Dulu saja, dia harus belajar mati-matian supaya dirinya bisa menguasai jurus yang terdapat di dalam kitab tersebut.
"Apakah termasuk juga, Kakek?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
"Walaupun aku sudah bisa memperagakan semua jurus Kitab Pedang Dewa, tapi jujur saja, aku belum mampu menguasai semuanya secara sempurna,"
Zhang Liong menghela nafas berat. Ada rasa penyesalan di lubuk hatinya, karena dia tidak bisa menguasai semua jurus itu dengan sempurna.
Anak muda itu berseru. Ia pun merasa menyesal. Namun, penyesalan itu dengan cepat sirna kembali.
"Tapi walaupun sulit, bukan suatu hal mustahil untuk kau bisa menguasainya, cucuku. Sekarang, harapan satu-satunya keluarga Zhang adalah dirimu. Maka dari itu, aku sangat berharap kau pun bisa mencapai titik tertinggi seperti leluhur Zhang Yi," ujarnya memberikan semangat kepada Zhang Fei.
"Kakek tenang saja, aku pasti bisa mengikuti jejak beliau," sahut anak muda itu penuh rasa percaya diri.
Dua orang itu terus bercerita. Tidak lupa juga, Zhang Fei pun menceritakan tentang keluarganya. Bagaimana kedua orang tuanya tewas, dan bagaimana pula ia bisa menjadi pendekar muda seperti sekarang ini.
Walaupun baru bertemu pertama kali dan baru mengetahui hubungan antara keduanya, tapi mereka sudah terlihat sangat akrab sekali.
Seolah-olah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Selain menceritakan keluarganya secara singkat, Zhang Fei juga menceritakan bagaimana situasi dunia persilatan dewasa ini.
Dan ketika mendengar hal itu, beberapa kali Zhang Liong menghela nafas berat. Seakan-akan dirinya merasa prihatin dan sangat bersedih terkait apa yang sedang menimpa negerinya.
"Ternyata apa yang diucapkan oleh pepatah kuno memang benar. Manusia adalah makhluk yang paling kejam, dari semua makhluk yang terdapat di muka bumi ini. Sejak dulu sampai sekarang, pertikaian terus saja terjadi. Peperangan juga tidak pernah usai. Walaupun sudah ada banyak korban, tapi seolah-olah, hal itu bukanlah sesuatu yang berarti. Mungkin di mata mereka, nyawa manusia itu sama artinya dengan nyawa binatang,"
Zhang Liong bicara dengan nada mendalam. Ada perasaan sedih dalam setiap ucapannya.
Raut wajahnya layu. Sorot matanya juga sayu.
Zhang Fei sendiri bisa melihat semua hal itu. Dan dia pun setuju atas ucapan kakeknya barusan.
"Kakek, kau tenang saja. Aku bersumpah demi langit dan bumi, aku akan membantu membereskan semua kekacauan ini. Aku akan membuat negeri kita kembali normal. Aku juga akan menyatukan orang-orang persilatan. Terutama sekali, mereka yang berada di jalan yang sama denganku,"
Anak muda itu bicara sambil bangkit berdiri. Ia memandang jauh ke depan sana, sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.
Tekad untuk mengembalikan keadaan Tionggoan, tumbuh begitu besar dalam jiwanya.
Zhang Liong bisa merasakan semua hal tersebut. Ia pun dapat merasakan kesungguhan dalam ucapan cucunya.
"Cucuku, kalau memang itu impianmu, aku juga akan membantumu," katanya dengan tegas.
Zhang Fei kemudian memandang wajah kakeknya dengan tatapan tidak mengerti. Ia sebenarnya ingin bertanya, tapi sebelum itu, Zhang Liong sudah bicara mendahuluinya.
"Mulai sekarang, kau harus tinggal di tempat ini. Aku akan membantumu menguasai seluruh jurus yang terdapat dalam Kitab Pedang Dewa. Aku juga akan mendidikmmu supaya lebih matang lagi,"
"Kakek, kau sungguh-sungguh?"
"Kau kira Kakekmu ini sedang bercanda?"
"Kalau begitu aku ucapkan banyak terimakasih untukmu, Kek,"
Ia kemudian turun dari batu yang menjadi tempat duduknya. Zhang Fei mengulangi perbuatan seperti tadi. Dia berlutut, bahkan sekarang sudah bersujud tepat di hadapan Zhang Liong.
"Cucuku, bangunlah. Sudah aku katakan, kau tidak perlu berlebihan seperti ini,"
###
Untuk cerita romantisnya nanti dulu, ya. Di sini MC akan dibuat fokus melatih kemampuan dan kematangan dirinya. Hal itu dilakukan supaya nantinya, cerita akan berjalan lancar.
Terimakasih bagi kalian yang sudah membaca sampai sejauh ini ...