
Lewat beberapa waktu kemudian, terdengar Orang Tua Aneh Tionggoan menghela nafas panjang dan berat. Karena tidak tahan lagi dengan rasa penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya.
"Setan arak, sebenarnya apa yang telah terjadi? Coba ceritakan semuanya dengan jelas. Kami ingin mendengarkan secara langsung,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan memandang wajahnya untuk sesaat. Ia menenggak arak dalam guci, setelah arak masuk ke perut, orang tua itu baru berkata.
"Baiklah, aku akan menceritakannya," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil mengangguk.
Dia membetulkan dulu posisi duduk. Setelah itu segera melanjutkan kembali ucapannya, "Sore hari tadi, tepat setelah kami berdua selesai latih tanding, tiba-tiba ada sebatang anak panah yang melesat dengan cepat,"
"Aku pun menangkap anak panah itu dan segera membaca isi surat yang terdapat di dalamnya. Ternyata surat itu adalah undangan khusus yang ditujukan kepada kami berdua,"
"Setelah berbicara beberapa saat, akhirnya anak Fei pun memutuskan untuk memenuhi undangan itu. Dengan syarat, aku tetap memantaunya dalam jarak yang tidak terlalu jauh,"
Datuk Dunia Persilatan itu terus bercerita secara singkat dan detil. Semua tokoh yang ada di sana mendengarkan penuh perhatian.
Di tengah-tengah ia bercerita, tiba-tiba Pendekar Pedang Perpisahan mengajukan satu pertanyaan kepadanya.
"Ngomong-ngomong, apakah kalian tahu siapa si pengirim surat itu?"
"Itu dia masalahnya, kami tidak tahu sama sekali. Aku sudah menyarankan supaya datang berdua, tapi anak Fei tetap bersikeras untuk datang seorang diri,"
"Hemm ... sepertinya Ketua Fei beranggapan bahwa pengirim surat itu adalah orang sendiri,"
"Ya, memang betul. Baik anak Fei maupun aku sendiri, beranggapan bahwa pengirim surat itu adalah kawan,"
"Mengapa kau bisa beranggapan seperti itu?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Karena di dalam isi surat tersebut tidak ada kata-kata tantangan atau apapun juga,"
"Baiklah, lanjutkan ceritamu,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali mengangguk. Ia pun melanjutkan lagi ceritanya yang sempat terhenti tadi sampai ke inti persoalan di mana tragedi itu terjadi.
"Ketika aku tiba di sana, kebetulan pada saat itu keenam orang tadi sudah bersiap untuk mengeroyok anak Fei. Untung aku keburu datang, sehingga usaha mereka menemui kegagalan,"
"Tunggu dulu!" seru Pendekar Tombak Angin. "Saat itu, apakah Ketua Fei tidak memberikan perlawanan?"
"Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Semua tenaganya saat itu sudah hilang, bagaimana mungkin dia bisa melawan?"
"Apa?"
Beberapa pasang mata langsung melotot besar. Mereka jelas terkejut mendengar ucapan itu.
"Mengapa bisa begitu? Apa yang terjadi dengannya? Dan lagi, bagaimana kau bisa tahu kondisinya?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.
"Aku tidak tahu pasti. Namun yang jelas, saat itu anak Fei telah keracunan. Racun yang masuk ke dalam tubuhnya berhasil melenyapkan semua tenaga yang ada. Aku bisa tahu hal itu karena ketika berada di sisinya, aku sama sekali tidak merasakan adanya hawa tenaga sakti seperti biasanya,"
Para tokoh tersebut menganggukkan kepala beberapa kali. Pertanda bahwa mereka mulai memahami cerita Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Dewi Rambut Putih.
"Ketika mendapat kesempatan, aku segera menotok beberapa titik penting di tubuh anak Fei. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Dia bisa kembali menghimpun tenaganya walaupun itu hanya sedikit,"
"Sepertinya racun itu benar-benar ganas," ucap Yao Mei dengan nada kesal bercampur sedih.
"Yang lebih ganas adalah orang-orangnya. Dari cerita singkat ini, aku sangat yakin kalau mereka bukanlah orang biasa," sambung Pendekar Pedang Perpisahan dengan nada datar.
"Benar, tepat sekali," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Keenam orang itu memang bukan tokoh biasa. Masing-masing dari mereka adalah Datuk Dunia Persilatan aliran sesat dari Kekaisaran Zhou dan Jin,"
Datuk Dunia Persilatan? Kekaisaran Zhou dan Kekaisaran Jin?
Semua tokoh yang ada di sana kembali dibuat terkejut untuk yang kedua kalinya. Di antara mereka tidak ada yang pernah menyangka bahwa pelakunya merupakan tokoh utama dalam dunia persilatan.
"Pantas ... pantas saja," kata Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menghembuskan nafas berat. "Sangat wajar kalau anak Fei bisa mereka kelabui. Sebab orang-orang itu sudah mempunyai banyak pengalaman. Di sisi lain, anak Fei juga terlalu percaya kepada orang lain. Menurutku, dia terlalu untuk menjadi seorang pendekar,"
Memang, bagi mereka yang belum tahu bagaimana sifat dan karakter, pasti akan menyebut bahwa Zhang Fei tidak punya sopan santun dan sebagainya.
Namun bagi mereka yang sudah tahu, pasti akan beranggapan yang sebaliknya. Seperti yang dikatakan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan barusan.
"Hemm ... bukankah di antara para Kaisar, sudah mengadakan perjanjian untuk tidak saling mengganggu selama menunggu pertarungan penentuan?" Yin Yin yang sejak tadi diam pun akhirnya ikut bersuara.
"Yah ... mau bagaiamana lagi? Sejak awal, dua Kaisar itu memang pengecut. Mereka tidak pernah menepati janjinya sendiri," ucap Pendekar Tombak Angin sambil mengangkat kedua pundaknya.
"Lalu, apakah kita tidak akan mengambil tindakan? Misalnya mengirimkan surat kepada dua Kaisar itu," kata Yao Mei.
"Percuma saja, Nona Mei. Semua itu tidak ada gunanya," Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung menjawab dengan cepat. "Daripada mengurus hal-hal yang tidak terlalu penting, lebih baik kita pikirkan bagaimana cara menyelamatkan anak Fei,"
"Ya, benar. Memang itu yang harus kita lakukan sekarang," Orang Tua Aneh Tionggoan juga merasa setuju dengan ucapannya.
Para tokoh tersebut segera berdiri. Mereka kemudian berjalan ke pembaringan dan berhenti tepat di belakang para tabib.
"Bagaimana kondisinya? Apakah anak Fei masih bisa diselamatkan?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cemas.
"Menurutku masih bisa, Tuan Kiang. Meskipun memang kesempatan untuk itu sangatlah kecil," ujar seorang tabib berbicara dengan sopan.
"Maksudmu, kecil bagaimana?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan.
"Untuk saat ini, detak jantung Ketua Fei benar-benar lemah. Denyut nadinya pun sama. Ditambah lagi ada sekitar lima belas batang senjata rahasia yang menancap di bagian-bagian penting tubuhnya,"
"Senjata rahasia? Apakah kau berhasil mengeluarkannya?"
"Kami baru mengeluarkan tujuh batang paku perak saja, Tuan,"
"Jadi, senjata rahasia itu berbentuk paku perak? Hemm ... apakah mengandung racun?"
"Sepertinya tidak," jawab si tabib sambil menggelengkan kepala.
"Ah ... syukurlah," Pendekar Pedang Perpisahan bernafas lega. Begitu juga dengan yang lainnya.
Mereka benar-benar bersyukur karena senjata rahasia itu tidak mengandung racun. Karena kalau sampai hal tersebut terjadi, niscaya nyawa Zhang Fei tidak bisa diselamatkan lagi.
"Tapi, Tuan ..."
"Apakah ada masalah?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil memandang wajah tabib itu lekat-lekat.
"Delapan senjata rahasia yang lainnya menancap terlalu dalam. Ditambah lagi, setiap senjata rahasia itu telah mengenai urat-urat penting. Kami merasa tidak bisa mencabutnya. Sebab hal itu tidak mudah dan harus menggunakan bantuan tenaga sakti yang besar," kata tabib tersebut sambil menundukkan kepala.