
Beberapa saat kemudian, asap merah yang tadi sangat pekat itu, kini sudah lenyap dengan sempurna. Keadaan kembali normal seperti sedia kala.
Begitu semuanya terlihat dengan jelas, tiga orang itu merasakan telapak kakinya dingin. Seolah-olah mereka sedang menginjak gumpalan es.
Khusus untuk Zhang Fei, ia benar-benar ketakutan. Ia takut orang-orang yang dikenalnya juga ikut serta menjadi korban pembunuhan masal itu.
Bagaimana keadaan Yin Yin dan Yu Yuan? Apakah dua orang gadis itu kini telah tewas karena kekejaman dalang dibalik layar ini?
Zhang Fei tidak berani membayangkan hal itu lebih jauh lagi. Ia mencoba membuang pikiran buruk tersebut sejauh mungkin.
'Semoga saja mereka selamat dan masih hidup sampai sekarang,' batinnya berdoa untuk keselamatan dua gadis tersebut.
Untuk saat ini dia memang hanya bisa berdoa saja. Sebab rasanya terlalu tidak mungkin apabila mencari mereka sekarang.
Sementara itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan terlihat sedang mengawasi goa besar dengan lekat. Dari tatapan matanya seolah-olah ada percikan api yang keluar.
Hawa pembunuhan tiba-tiba keluar dari tubuhnya dengan sangat pekat.
Kalau seperti ini, dapat dipastikan bahwa Datuk Dunia Persilatan itu sudah benar-benar mencapai titik kemarahannya!
Di tengah halaman, tidak lama setelah keadaan kembali normal, tiba-tiba terlihat ada tiga bayangan manusia yang melesat keluar dengan cepat.
Setelah kemunculan ketiganya, sesaat kemudian terlihat lagi ada sepuluh orang yang juga keluar dari dalam goa.
Sepuluh orang itu mengenakan pakaian seragam warna hitam dengan senjata lengkap. Masing-masing dari mereka memegang busur dan kantong kulit.
Entah apa isi dari kantong kulit tersebut. Yang jelas dugaan awal Zhang Fei dan lainnya, kantong itu berisi senjata rahasia.
Saat ini, tiga belas orang itu sudah berdiri tetapi di tengah-tengah mayat para pendekar yang bergelimpangan.
Ketika suasana sepi hening, mendadak tiga orang yang tadi keluar tertawa dengan sangat lantang. Suara tawa mereka mengandung tenaga sakti yang luar biasa sehingga mampu menggugurkan daun pohon.
Dari sini saja, siapa pun bisa menilai betapa hebatnya tiga orang tersebut.
"Kemampuan mereka benar-benar menakutkan. Hanya mengandalkan tiga belas orang saja, mereka sudah mampu membunuh puluhan pendekar dunia persilatan," kata Yao Mei tiba-tiba bicara.
Tidak bisa dipungkiri lagi, dalam hatinya, gadis itu merasa kagum kepada pihak musuh.
Bagaimana tidak? Puluhan pendekar yang mereka bunuh itu bukan orang lemah. Semuanya adalah pendekar kelas atas. Minimal, mereka merupakan pendekar kelas satu.
Dengan kemampuan setinggi itu, dalam waktu yang terbilang singkat, mereka bahkan berhasil membereskan semuanya tanpa ada perlawanan berarti.
Bukankah hal ini sangat luar biasa?
"Yang menakutkan bukan kemampuannya, melainkan rencananya. Kalau saja mereka menyerang secara jantan, aku yakin orang-orang itu tidak akan sanggup membunuh para pendekar. Yang ada justru sebaliknya, mereka akan menemui ajalnya sendiri," kata Zhang Fei menyahuti ucapan Yao Mei barusan.
"Ucapan anak Fei itu benar, Nona Mei. Yang paling mengerikan dari orang-orang itu adalah rencananya. Mereka bisa menyusun rencana dengan sangat sempurna. Bagiku ini sangat luar biasa," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Kalau terkait kemampuannya sendiri, aku belum mengetahui setinggi apa kemampuan mereka,"
Yao Mei tiba-tiba melirik ke arah keduanya. Dia pun membenarkan hal tersebut.
"Kalian benar. Maaf, aku telah salah bicara,"
"Tidak perlu meminta maaf. Ini bukan perkara yang serius," Dewa Arak Tanpa menjawab sambil tertawa ringan.
Percakapan di antara mereka hanya sampai di situ saja. Ketiganya kembali membungkam mulut masing-masing.
"Sekarang!"
Tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata dengan lantang. Bersamaan dengan ucapannya, dia langsung melesat ke depan sana.
Orang tua itu bergerak bagaikan kilat. Hanya satu helaan nafas saja, ia sudah tiba di hadapan tiga belas orang yang diduga menjadi dalang utama dari kejadian ini.
Tidak lama setelah dirinya tiba, Zhang Fei dan Yao Mei pun segera datang menyusul.
Tiga orang asing yang berdiri paling depan langsung terkejut ketika melihat ada orang lain yang mendadak muncul di hadapannya.
"Siapa kalian?" tanya orang tua berpakaian abu-abu yang berada di posisi tengah.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan suara sedingin es.
"Kau ... bukankah kau adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan?" tanya orang di sebelah kiri.
Orang itu mengenakan pakaian warna merah tua. Di pinggang sebelah kanannya ada cambuk yang mempunyai tiga warna. Di ujung cambuk tersebut terlihat juga ada tiga batang pisau kecil yang sangat tajam.
"Oh, rupanya si Cambuk Pisau pun ikut terlibat dalam pembunuhan masal ini? Tidak kusangka, ternyata selain berada di jalur sesat, kini kau pun sudah menjelma menjadi pengkhianat bangsa," katanya seraya tersenyum menyeringai.
Kulit wajah orang tua yang dipanggil si Cambuk Pisau langsung memerah. Merah karena malu. Juga merah karena marah.
Tetapi walaupun begitu, nampaknya dia tidak berani mengumbar kemarahannya secara gegabah. Apalagi dia juga tahu siapa itu Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Suasana di sana kembali hening. Dua belah pihak yang berhadapan sama-sama menutup mulutnya.
Angin malam berhembus perlahan. Hawa dingin terasa menusuk tulang.
"Siapa dua orang ini?" tanya Kiang Ceng kepada si Cambuk Pisau.
"Yang ini adalah Raja Pedang Rembulan," katanya menunjuk orang yang berdiri di sebelah kanan. "Sedangkan ini adalah Pendekar Tangan Dewa, Tuan Mao Jiang,"
Ketika mengenalkan orang yang berdiri di tengah, nada bicara si Cambuk Pisau tiba-tiba berubah. Ia tampak segan sekaligus hormat kepadanya.
Tanpa perlu dijelaskan lebih jauh, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan dua orang pendekar muda di sisinya sudah mengerti bahwa orang itu pasti pemimpin di antara mereka semua.
"Untuk apa kalian melakukan pembunuhan masal ini? Apa yang sebenarnya kalian inginkan?" tanya Zhang Fei dengan nada dalam.
Kemarahan yang sebelumnya reda, kini telah bangkit kembali. Sekujur tubuh Zhang Fei teras panas. Seolah-olah dia sedang berada di atas tungku api.
"Kau tidak perlu tahu apapun soal ini. Lebih baik kalian segera pergi sebelum terlambat," jawab Pendekar Tangan Dewa dengan nada dingin.
"Tua bangka bau tanah, kau pikir dirimu siapa sehingga menyuruh kami pergi begitu saja?"
"Aih, rupanya kau merupakan anak muda yang kurang didikan orang tua,"
"Jangan bawa-bawa nama orang tua. Aku paling tidak suka kepada manusia semacam itu," Zhang Fei berkata dengan sangat tegas.
"Tapi aku justru suka melakukannya,"
"Persetan dengan ucapanmu!"
Zhang Fei mengepalkan kedua lengannya dengan kencang. Ia melirik kepada sepuluh orang berpakaian hitam yang berdiri di belakang tiga tokoh tersebut.
Rupanya orang-orang itu sudah melakukan persiapan. Sepertinya mereka akan bertindak apabila mendapat perintah.
Sebelum sepuluh orang tersebut mengambil langkah lebih jauh, Zhang Fei memutuskan untuk mendahuluinya.
Wutt!!! Wutt!!?
Tiba-tiba dirinya menerjang ke arah mereka dengan kecepatan kilat. Malah yang melakukan hal itu bukan hanya Zhang Fei saja. Tapi Yao Mei yang berdiri di sisinya juga ikut mengambil hal serupa.