
Setelah selesai, ia segera kembali ke tempat di mana Yan Zi berada. Zhang Fei membiarkan mayatnya begitu saja. Dia tahu, tidak lama lagi pasti akan ada orang yang akan mengurusnya.
Begitu tiba di sana, ia melihat bahwa orang tua itu saat ini sedang duduk bersila. Yan Zi sedang menghimpun tenaga dalam dan hawa murni yang banyak terbuang akibat pertarungannya tadi.
Dia baru membuka mata setelah mendengar langkah kaki Zhang Fei.
"Mengapa Tuan Zi bermeditasi di tempat seperti ini? Bagaimana kalau ada musuh yang melihat dan melakukan hal buruk kepadamu?" tanya Zhang Fei sambil mengangkat kedua alisnya.
"Tidak mungkin. Aku yakin, kalau pun ada yang berani mendekat. Niscaya dia akan langsung melarikan diri setelah melihat banyaknya mayat yang berserakan di tempat ini," jawab orang tua itu senang tenang.
Zhang Fei tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum dan memuji kecerdikan Yan Zi.
Sementara itu, ia juga menyelidik luka-luka yang terdapat di seluruh tubuh orang tua itu. Sekarang, semua lukanya sudah kering. Kondisinya juga mulai membaik.
"Minum serbuk ini, Tuan Zi. Semoga dalam waktu singkat, tenagamu akan kembali pulih," ujar Zhang Fei sambil melemparkan bungkusan kecil berisi serbuk.
Yan Zi menerimanya. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menelan serbuk tersebut.
"Ketua Fei, kau berhasil mendapatkan orang itu?"
"Tentu saja. Dia tidak akan pernah bisa lari dariku,"
"Lalu sekarang, di mana dia? Mengapa kau tidak membawanya?"
"Dia sudah pergi ke alam baka. Aku hanya membawa pergi apa yang dicari saja," jawab Zhang Fei dengan ringan.
Ia kemudian membalikkan tubuh dan segera berjalan ke arah di mana Ouw Yang Pek berada. "Semua urusan sudah selesai. Sekarang, kau tinggal urus saja anak muda ini, Tuan Zi," ucap Zhang Fei setelah tiba di hadapannya.
"Baik, Ketua Fei," Yan Zi mengangguk. Dia langsung berjalan lebih dekat.
Sepasang matanya mencorong tajam. Kedua lengannya dikepalkan sebagai tanda bahwa dia sangat marah.
Walaupun dalam kondisi terluka, tetapi hawa pembunuh yang dikeluarkan oleh Yan Zi, ternyata cukup pekat juga.
"Murid murtad! Sekarang kau sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi," katanya dengan nada dalam. Sembari melakukan itu, Yan Zi juga mencekiknya dan mengangkat tubuh Ouw Yang Pek sehingga mengambang satu jengkal di atas tanah.
"Orang-orang yang kau banggakan itu, kini semuanya telah mampus. Kau sudah tidak punya siapa-siapa lagi,"
Ouw Yang Pek belum berbicara. Apalagi pada saat itu, ia memang kesulitan untuk mengungkapkan kata-kata. Dia hanya mampu menatap orang tua di depannya dengan tatapan banyak makna.
Ada rasa marah, kesal, ada juga rasa ingin meminta belas kasihan.
Semua itu bisa dilihat dengan jelas dari sorot matanya. Yan Zi melihat hal tersebut. Tapi dia tidak memberikan reaksi apapun.
Brukk!!!
Ia melemparkan tubuh Ouw Yang Pek cukup keras.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya lagi.
"Wakil Ketua ... ma-maafkan, maafkan aku. Aku tahu ... aku salah. Tapi ... tapi ..."
"Aku tidak ingin mendengar ucapanmu lagi, sekarang kau harus merasakan akibatnya.
Sekali lagi, Yan Zi mengangkat tubuh Ouw Yang Pek. Begitu berada di udara, dia langsung memberikan serangan menggunakan telapak tangannya.
Serangan itu mengandung tenaga tinggi dan mengenai ulu hati Ouw Yang Pek dengan telak. Dia menjerit tertahan sambil memelototkan mata. Segumpal darah segar kehitaman keluar sebanyak tiga kali.
Yan Zi membanting lagi tubuh anak muda itu ke atas tanah. Tanpa banyak berkata lagi, dia langsung membalikkan tubuhnya.
"Tuan Zi, kau tidak ingin membunuhnya untuk membalas kematian Ketua Sun?"
"Aku rasa tidak perlu, Ketua Fei. Apa yang dia rasakan saat ini, itu sudah lebih daripada cukup," jawabnya dengan nada hambar.
"Baiklah. Terserah kau saja,"
Kedua orang tersebut langsung berlalu pergi dari sana. Mereka tidak pernah berhenti ataupun menoleh ke belakang.
Sementara di trmpat tadi, Ouw Yang Pek memandangi kepergian dua orang itu dengan tatapan mata memelas. Saat itu dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Walaupun nyawanya masih ada, anggota tubuhnya masih utuh, namun kalau diibaratkan, dia sama saja dengan orang mati.
Impian terburuk bagi seorang pendekar adalah kehilangan ilmus silatnya. Jangan lupa, kehilangan ilmu silat itu bahkan lebih menakutkan daripada kehilangan selembar nyawa.
Dalam dunia persilatan, tidak ada seorang pun pendekar yang ingin mengalami hal itu.
Sayang sekali, sekarang Ouw Yang Pek justru sedang mengalaminya. Ilmu silatnya sudah dihancurkan oleh dua orang. Yaitu oleh Zhang Fei dan Wakil Ketua Perguruan Kera Sakti sendiri.
Perasaannya saat itu benar-benar hancur. Kalau disuruh memilih, tentu saja dia lebih memilih mati.
Meskipun ia masih bisa melanjutkan hidup, tetapi selamanya dia tidak akan bisa lagi berlatih ilmu silat. Dan yang paling mengerikan adalah bahwa dia akan menjadi orang cacat.
Kalau dibayangkan, bukankah hal itu jauh lebih menakutkan daripada kematian?
Sementara itu, saat ini Zhang Fei dan Yan Zi sedang berada di dalam warung arak. Kedua orang tersebut sedang minum arak bersama.
Keadaan di sana kebetulan sepi. Sehingga mereka bisa bicara seidkit leluasa.
"Ini kotak kecil rahasia itu, Tuan Zi. Silahkan kau periksa dulu," kata Zhang Fei sambil menyodorkannya di atas meja.
Yan Zi menerimanya. Dia segera membuka dan melihat isinya. Ternyata, semuanya masih utuh. Tetapi, orang tua itu tidak memasukkannya ke dalam saku. Dia justru malah memberikannya kembali kepada Zhang Fei.
"Ketua Fei, setelah dipikir-pikir, aku rasa kotak hitam ini lebih dipegang olehmu saja," katanya dengan ekspresi wajah serius.
"Eh? Kenapa begitu? Bukankah kotak ini milik mendiang Ketua Sun? Sekarang beliau sudah tiada. Itu artinya, kau yang berhak untuk memegangnya," Zhang Fei menolak dengan halus. Apalagi dia tahu bahwa benda itu bukan haknya.
"Ya, aku tahu, Ketua Fei. Tetapi ... aku merasa tidak sanggup membawanya. Sebab nantinya, pasti akan ada lagi orang-orang yang bakal datang untuk merebutnya dariku. Maka dari itu, aku memilih untuk menyerahkan benda ini kepadamu supaya hal-hal buruk tidak terjadi,"
Yan Zi berbicara dengan nada serius. Sorot matanya seperti memohon.
Zhang Fei tidak bisa menolaknya lagi. Dia hanya menghela nafas panjang dan berat.
"Kalau kau tetap memaksa, baiklah. Aku bersedia membawa benda ini. Tetapi kalau suatu hari nanti kau membutuhkannya, datanglah ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Aku pasti akan langsung memberikannya lagi kepadamu," jawab Zhang Fei sambil memasukkan kotak kecil itu ke dalam saku bajunya.
"Baik, Ketua Fei. Aku mengerti,"
Yan Zi merasa lega karena sekarang kotak itu sudah berada di tangan orang yang tepat. Dia yakin, ke depannya tidak ada lagi yang berani merebut kotak itu.
Berani merebutnya dari Zhang Fei, hal itu sama saja dengan menyerahkan nyawa sendiri!