
Perlu diketahui, sepuluh pasukan khusus itu, sebenarnya mempunyai kemampuan yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang bisa diandalkan.
Setiap pekerjaan yang diberikan kepadanya, pasti akan berhasil. Mereka jarang sekali mengalami kegagalan.
Siapapun musuhnya, asalkan sepuluh orang tersebut maju bersama, niscaya musuh itu akan mampus di tangannya.
Di sisi lain, sepuluh orang tersebut juga masing-masing mempunyai kemampuan khusus. Mereka pun memiliki formasi andalannya.
Maka dari itu, sedikit banyaknya, mereka juga berperan penting dalam berdirinya markas cabang Partai Panji Hitam di kota ini.
Sayang sekali, sekarang semua hal diatas seolah telah lenyap tanpa bekas. Semuanya hilang begitu saja.
Nyatanya, saat ini mereka bahkan tidak berdaya ketika bertarung melawan seorang anak muda yang masih hijau.
Siapa sebenarnya anak muda itu? Kenapa kemampuannya sangat tinggi? Siapa pula gurunya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar dalam pikiran mereka masing-masing.
Sayangnya mereka tidak berhasil menemukan jawabannya. Mereka juga tidak bisa berpikir lebih jauh. Sebab pada saat ini, anak muda tersebut telah mencabut sebatang pedang yang sejak awal di simpan di punggungnya.
Pedang yang indah. Juga merupakan pedang yang sangat tajam!
Pertarungan di antara mereka berhenti sebentar. Zhang Fei sengaja memberikan waktu bagi sepuluh orang lawannya untuk mencabut senjata masing-masing.
Benar juga, begitu ada kesempatan, orang-orang itu pun segera mengeluarkan senjatanya.
Ada yang menggunakan golok, pedang, tombak, bahkan pisau belati.
Sekarang, sepuluh pasukan khusus sudah siap melanjutkan kembali pertempurannya.
"Aku dengar kalian adalah pasukan khusus dari Partai Panji Hitam yang terdapat di sini, benarkah demikian?" tanya Zhang Fei seolah-olah ia tidak tahu.
"Benar. Memangnya kenapa?" jawab salah satu dari mereka.
"Ah, tidak," ucap anak muda itu sambil tersenyum hangat. "Aku hanya tidak menyangka saja. Ternyata, tikus seperti kalian bisa juga menjadi pasukan khusus sebuah partai,"
Zhang Fei berkata dengan perlahan. Setiap kata itu diucapkan dengan sangat jelas. Seolah-olah dia sengaja melakukanya.
Akibatnya, sepuluh pasukan khusus segera merasakan darahnya mendidih. Mereka benar-benar marah terhadap pendekar muda itu.
Selama ini, tidak ada satu pun orang yang berani memandang rendah. Apalagi sampai menghinanya.
Tapi kenyataan, barusan ada seorang pendekar muda, yang bahkan berani menghina di depan matanya, mana mungkin mereka akan diam saja?
"Bocah keparat! Rupanya kau memang ingin mampus,"
Seseorang bicara dengan keras. Begitu perkataannya selesai, dia langsung menerjang ke depan.
Golok panjang yang ia genggam di tangan kanan, langsung diayunkan dengan sekuat tenaga. Bukan hanya dirinya saja, bahkan sembilan orang rekannya, juga ikut menyerang.
Pada akhirnya mereka menyerang secar serempak!
"Bagus. Begini baru seru," ucap Zhang Fei.
Wutt!!!
Tubuhnya langsung berkelebat. Dia menyambut datangnya serangan lawan. Jurus Pedang Menghancurkan Langit, yang merupakan jurus kelima dari Kitab Pedang Dewa, langsung ia gelar dengan pengerahan delapan bagian tenaga dalam.
Ini adalah kali pertama ia mengeluarkan jurus tersebut. Sebab pada dasarnya, memang baru sekarang saja ia berhasil menguasainya.
Pedang Raja Dewa segera mengeluarkan sinar keperakan yang menyilaukan mata.
Hawa pedang menyebar ke empat penjuru. Gulungan sinar putih menyongsong sepuluh batang senjata yang berbeda itu.
Pertarungan terjadi lagi. Dentingan antar senjata segera terdengar. Percikan api yang diakibatkan dari benturan itu, langsung terbang memenuhi langit malam.
Perpaduan warna dari kelebatan senjata tajam, segara menyatu menjadi satu gulungan.
Tidak berapa lama kemudian, pekik suara nyaring langsung memenuhi arena pertarungan.
Sepuluh jurus berikutnya, lima orang musuh sudah terkapar di atas tanah. Darah segar menggenangi tubuhnya.
'Hebat. Ternyata apa yang dikatakan oleh Kakek, memang benar. Dari mulai jurus kelima dan seterusnya, adalah merupakan jurus pedang yang sangat mematikan,'
Zhang Fei sendiri dibuat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa jurus itu benar-benar ampuh.
Sekarang, setelah menyaksikan dan mengalaminya sendiri, ia jadi lebih yakin, bahwa Kitab Pedang Dewa, adalah kitab pusaka yang sangat luar biasa.
Maka dari itu, tidak heran rasanya, apabila dulu banyak sekali orang-orang persilatan yang ingin menguasainya.
Bersamaan dengan hal tersebut, pertarungan anak muda itu semakin berjalan seru. Ia masih berada di atas angin.
Bahkan semakin lama pertarungan berjalan, semakin berhasil juga dia mendesak musuhnya.
Satu-persatu dari pasukan khusus itu mulai dikalahkan. Mereka ada yang mengalami luka parah, bahkan ada pula yang tewas menyusul rekannya yang lain.
Sekitar lima belas jurus kemudian, Zhang Fei pada akhirnya telah benar-benar menyelesaikan pertarungan perdananya setelah ia turun gunung.
Sementara di satu sisi lain, bersamaan dengan kejadian barusan, si Pengemis Tua Tanpa Pamrih juga tampak sedang bertarung sengit melawan Ketua Cabang dan Wakil Ketuanya.
Tiga orang itu terus mengeluarkan jurus andalannya masing-masing.
Karena kemampuan mereka sepadan, maka pertarungan yang berlangsung pun tetap seimbang.
Kedua belah pihak sama-sama keras. Walaupun sudah mengeluarkan segenap kemampuan, tapi nyatanya di antara masing-masing pihak, merasa sangat kesulitan untuk mengungguli lawannya.
Zhang Fei bisa menyaksikan semua hal itu dengan jelas. Tadinya, dia ingin turun tangan membantu Pengemis Tua Tanpa Pamrih, dia ingin segera membunuh kedua orang tersebut.
Tapi niat itu segera diurungkan setelah dirinya teringat akan sesuatu.
Wushh!!! Trangg!!!
Benturan yang sangat keras terdengar. Tiga batang senjata, berikut dengan pemiliknya masing-masing, langsung terdorong mundur ke belakang.
Hal itu terjadi karena Zhang Fei telah menahan serangan tiga tokoh tersebut.
"Anak muda, apa maksudmu? Kenapa kau menghalangi usahaku?" tanya Pengemis Tua Tanpa Pamrih seperti tidak terima.
"Tenang dulu, Tuan. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka berdua," jelas Zhang Fei dengan cepat.
"Hemm, baiklah. Cepat tanyakan saja sekarang,"
Meskipun sebenarnya orang tua itu masih kesal, tapi ia tidak berani berbuat macam-macam. Apalagi setelah beberapa saat kemudian, dia bisa menyaksikan dengan jelas bahwa pasukan khusus yang selama ini ditakuti, sekarang justru telah terkapar menjadi mayat.
'Ilmu pedang anak muda ini benar-benar hebat. Aku tidak menyangka,' batinnya berkata.
Sementara itu, setelah beberapa kejap kemudian, Zhang Fei pun langsung mengajukan pertanyaan kepada dua musuhnya.
"Siapa di antara kalian yang menjabat sebagai Ketua Cabang?" tanyanya dengan lantang.
"Aku," jawab seorang pria tua yang berdiri di sebelah kanan.
"Jadi kau?"
"Ya, kenapa?"
"Aku ingin bertanya. Apakah beberapa waktu lalu, orang yang telah mendatangi kediaman Hartawan Cong Lai, adalah dirimu?" tanya Zhang Fei dengan sorot mata tajam.
"Benar," jawab Ketua Cabang mengakui.
"Siapa yang pada saat itu datang bersamamu?"
"Aku yang datang bersamanya. Anak muda, kenapa kau menanyakan hal ini?"
Wakil Ketua Cabang yang sejak tadi diam, kini ikut nimbrung dalam pembicaraan.
Suara orang itu terdengar kaku. Tapi juga menyeramkan.
"Oh, bagus. Kalau begitu, kalian adalah orang yang harus aku bunuh," kata Zhang Fei sambil berusaha menahan amarahnya.