
"Akhirnya kau datang juga, anak Fei," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum hangat kepadanya.
Zhang Fei menjawab dengan senyuman ramah. Dia dan Pendekar Pedang Perpisahan kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia menyuruh tokoh sesat itu untuk duduk di sebuah bangku yang masih kosong.
Sedangkan dirinya sendiri, segera mengambil tempat duduk di kursi yang dikhususkan untuknya.
Seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di pojokan, segera menghampiri. Dia menuangkan arak ke dalam cawan, lalu memberikannya dengan sopan kepada Zhang Fei. Ia langsung meminumnya sampai habis.
Pelayan itu kembali mengisi arak, dia melakukannya sebanyak tiga kali.
Setelah selesai dengan itu, Empat Datuk Dunia Persilatan segera berdiri dan memberi hormat kepada Zhang Fei. Ia pun langsung membalas hormat mereka.
"Bagaimana kabarmu, Nyonya Ling?" tanya Zhang Fei kepada wanita tua itu.
"Kabarku baik, anak Fei. Bagaimana dengan kau sendiri?" Dewi Rambut Putih Giok Ling bertanya kembali seraya tersenyum.
"Aku pun baik, Nyonya Ling,"
Sementara itu, tepat setelah Zhang Fei memberikan jawaban, terdengar Orang Tua Aneh Tionggoan segera berbicara.
"Oh, jadi, sekarang kau hanya mengkhawatirkan dia saja, begitu? Sedangkan kami, tidak kau khawatirkan lagi?" dia bicara seperti tidak terima karena Zhang Fei lebih dulu menyala Dewi Rambut Putih.
"Sepertinya dia sudah tidak memperdulikan kita lagi," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Mendengar ucapan kedua orang tua itu, Pendekar Tombak Angin tidak ikut berbicara. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Kedua tokoh dunia persilatan itu terkadang memang suka bersikap seperti anak kecil. Tidak jarang juga, mereka adu mulut hanya gara-gara masalah sepele.
Di sisi lain, Zhang Fei seketika tertawa ketika mendengar ocehan kedua orang itu. Setelah menghabiskan cawan arak yang keempat, dia berkata, "Mengapa kalian berdua seperti itu begitu? Hemm ... Tuan Kiang, bukankah kau sendiri yang mengajarkan aku supaya selalu mementingkan seorang wanita?"
Zhang Fei mengangkat kedua alis sambil memandangnya. Dalam ucapan itu juga terlihat ada senyuman simpul yang melambangkan kemenangan.
"Kau bilang, wanita adalah segalanya. Wanita adalah makhluk yang harus dimengerti sebaik mungkin. Kebetulan, Nyonya Ling ini adalah seorang wanita. Aku rasa, aku harus mementingkan dia dulu daripada kalian, sesuai dengan yang telah kau ajarkan kepadaku. Tapi ... kenapa kau sendiri terlihat tidak senang?"
Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung diam seribu bahasa. Begitu juga dengan Orang Tua Aneh Tionggoan. Setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Zhang Fei, dua orang tua itu tiba-tiba berubah seolah-olah menjadi bisu.
Mereka hanya mampu saling pandang satu sama lain. Tampangnya persis seperti seorang anak yang sudah terpojok oleh ucapan ayahnya.
Orang Tua Aneh Tionggoan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sementara Dewa Arak Tanpa Bayangan, ia terlihat sedang berpikir. Sesaat kemudian dia bicara. "Sepertinya kau telah memperdalam tentang ilmu wanita yang aku ajarkan itu," jawabnya dengan nada kesal.
"Hahaha ... tentu saja. Ilmu apapun, kalau merasa sanggup, aku kasih akan mempelajarinya lebih dalam,"
Zhang Fei menjawab sambil tertawa. Dia merasa senang karena akhirnya bisa menang dalam adu mulut melawan orang tua itu.
Pendekar Pedang Perpisahan yang pada saat itu ada di dalam ruangan, diam-diam dia menghembuskan nafas.
Meskipun nada bicara mereka seperti sedang perang mulut, tapi ia tahu, hal itu hanya candaan saja.
Dalam hatinya dia merasa bertanbah kagum kepada sosok Zhang Fei ini.
'Hebat, bahkan dengan Empat Datuk Dunia Persilatan pun, dia mempunyai hubungan sedekat ini,' batinnya berkata.
"Sudahlah, anak Fei. Aku tidak ada hasrat untuk membahasnya," Dewa Arak Tanpa Bayangan bicara sambil mengibaskan tangan kanan.
Ia kemudian melirik ke arah Pendekar Pedang Perpisahan. Orang tua tersebut memandang penuh selidik mulai dari atas sampai bawah.
"Di sini tidak ada orang lain lagi, buka saja topeng itu. Lagi pula, sejak tadi aku sudah tahu siapa kau sebenarnya," katanya kepada tokoh sesat itu.
Karena merasa penyamarannya sudah diketahui, ia berpikir tidak ada gunanya lagi mengenakan topeng tersebut. Pada akhirnya, dia pun langsung membuka topeng itu.
"Hebat, Dewa Arak Tanpa Bayangan ternyata benar-benar tidak bisa dikelabui," ucap Pendekar Pedang Perpisahan samb melepaskan topeng.
Tiga Datuk Dunia Persilatan yang lain secara serentak langsung menatap ke arahnya. Tatapan mereka sama tajam. Mirip seperti harimau yang akan menerkam.
Keadaan di sana tiba-tiba berubah tegang. Keempat orang tua itu, tanpa sadar sudah melepaskan hawa pembunuhnya masing-masing.
Namun meskipun begitu, Pendekar Pedang Perpisahan justru masih terlihat tenang dan santai.
Yang sedikit terkejut adalah Zhang Fei. Ia mulai melihat ada gelagat yang tidak baik. Karenanya dia segera mengambil tindakan.
"Aku harap kalian jangan salah paham dulu," katanya dengan nada serius.
Keempat orang tua itu secara serentak langsung menatapnya dengan penuh tanpa tanya.
"Aku membawa dia kemari karena alasan tertentu," lanjut Zhang Fei.
"Apa itu, anak Fei?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan. Walaupun pertanyaannya singkat, tapi dari nadanya jelas bahwa dia merasa tidak senang.
"Pendekar Pedang Perpisahan yang sekarang, bukankah Pendekar Pedang Perpisahan yang dahulu. Sekarang ia telah berubah total. Saat ini, dirinya berada di pihak kita,"
"Hemm ... apakah ucapanmu kali ini bisa dipercaya?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Tuan Kiang, aku bukan orang bodoh yang berani membawa musuh ke Gedung Ketua Dunia Persilatan ini. Percayalah, aku tidak berbohong,"
"Tapi, mengapa kau membawa dia kemari? Apa alasanmu?"
"Sudah aku katakan, dia yang sekarang telah berubah,"
"Dari mana kau bisa begitu yakin?" yang mengajukan pertanyaan kali ini adalah Pendekar Tombak Angin. Ia menaruh dendam pribadi kepadanya. Jadi, tidak heran kalau dirinya sangat merasa tidak senang.
Zhang Fei mengambil nafas terlebih dulu. Kemudian dia segera menceritakan semua yang telah terjadi. Dia mengatakan apa saja yang sudah dilakukan oleh Pendekar Pedang Perpisahan kepadanya selama belakangan ini.
Empat Datuk Dunia Persilatan mendengarkan dengan serius pula. Setelah Zhang Fei selesai bercerita, Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali bicara.
"Sejak pertama terjun ke dunia persilatan, dia sudah berada dalam dunia hitam. Aku rasa, seseorang tidak akan begitu cepat, sekaligus mudah keluar dari dunia yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini,"
Zhang Fei terkancing mulutnya. Ucapan itu sangat masuk akal.
Seseorang yang sudah sangat lama berada dalam dunia tertentu, pasti tidak akan mudah keluar dari dalamnya. Dia tidak akan berpaling begitu cepat.
Mengingat bahwa dunia itulah yang selama ini memberikan kehidupan kepadanya.
Untuk berpindah 'dunia' itu tidaklah mudah. Dari sepuluh orang, mungkin hanya satu atau dua orang saja yang mampu melakukannya dengan cepat.