Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertemuan Ayah dan Anak


Wutt!!!


Si Cakar Maut Yao Mei memberikan pukulan yang datang dari dua arah berbeda. Setiap pukulan itu mengandung tenaga besar. Bahkan tembok pun bisa ia jebol karena saking tingginya tenaga dalam dan hawa sakti yang terkandung dalam serangan tersebut.


Dalam pada itu, Zhang Fei juga tidak diam saja. Ia segera memiringkan tubuh dan menangkis pukulan tersebut.


Benturan antar tulang terjadi. Kedua tokoh dunia persilatan yang terlibat itu sama-sama terdorong mundur satu langkah ke belakang.


Zhang Fei merasakan tulangnya sakit dan ngilu. Benturan tenaga barusan benar-benar diluar dugaannya. Ternyata, dia masih belum mampu mengimbangi kekuatan Datuk Dunia Persilatan nomor satu tersebut.


Di satu sisi lain, di Cakar Maut juga sepertinya terkejut. Dia pun tidak menyangka bahwa kemampuan Zhang Fei yang sekarang ternyata lebih sempurna daripada pertemuannya beberapa waktu lalu.


'Dia benar-benar lain daripada yang lain. Aku bertemu dengannya belum ada tiga bulan, tapi kemampuan yang dia miliki sudah meningkat pesat. Benar-benar diluar dugaan,' batin Yao Shi sambil memandangi Zhang Fei dari atas sampai bawah.


Sementara itu, para Datuk Dunia Persilatan lain yang berada di sana, mereka sepertinya tidak berniat untuk melerai pertarungan antara Zhang Fei dan Yao Shi.


Sepertinya secara tidak langsung, para tokoh tersebut juga ingin melihat sendiri sampai di mana kemampuan Zhang Fei saat ini.


"Ketua Fei, ternyata kau sangat berbakat dalam ilmu silat. Baru sebentar saja, kemajuanmu sudah cukup tinggi," kata si Cakar Maut tiba-tiba bicara kembali.


"Ah, Tuan Shi terlalu memuji," sahut Zhang Fei sambil tersenyum. "Aku rasa, aku masih belum pantas menerima pujian darimu,"


"Hemm ..." datuk sesat menatap tajam. "Lihat ini!"


Wutt!!!


Tahu-tahu dia meluncur lagi. Di tengah perjalanan, Yao Shi mengeluarkan salah satu jurus cakar yang telah dia kuasai dengan sempurna.


Jurus tersebut tidak bisa dipandang ringan. Selain termasuk ke dalam jurus kelas atas, itu juga menjadi salah satu jurus andalannya.


Awalnya Zhang Fei tidak mau melayani orang tua itu. Namun karena situasinya sudah tidak mendukung, pada akhirnya terpaksa dia harus melayani apa yang diinginkan oleh si Cakar Maut.


Wushh!!!


Ia menerjang ke depan. Kemudian mengeluarkan salah satu jurus tangan kosong yang ia dapatkan dari sebuah kitab pusaka di masa lalu.


"Tapak Buddha Maha Agung!"


Wutt!!! Blarr!!!


Benturan kembali terjadi. Hanya saja, benturan yang sekarang jauh lebih hebat dan besar dari sebelumnya. Debu mengepul tinggi dan menutupi pandangan mata.


Tubuh Zhang Fei terdorong cukup keras. Untunglah Dewa Arak Tanpa Bayangan segera menyambar dan menahannya.


Kalau tidak, mungkin Zhang Fei bisa meluncur sampai sepuluh langkah.


Sementara di Cakar Maut, akibat benturan barusan, dia terdorong hingga empat langkah. Telapak tangannya terasa ngilu sedikit.


Seolah-olah ada sesuatu yang telah menembusnya.


'Gila! Bahkan dia sudah berhasil menguasai jurus dahsyat itu?' Yao Shi mengerutkan kening. Dia benar-benar kaget karena Zhang Fei sudah berhasil menguasai salah satu jurus tangan kosong tingkat tinggi di masa lalu.


Meskipun belum seutuhnya sempurna, tapi baginya hal itu sudah sangat luar biasa sekali. Mengingat bahwa yang menguasainya adalah seorang anak muda berusia kurang dari tiga puluhan tahun.


Lewat beberapa saat kemudian, setelah suasana kembali normal dan rasa ngilunya lenyap, si Cakar Maut berniat untuk melancarkan serangannya lagi.


Dia masih merasa penasaran terhadap Zhang Fei. Namun sebelum dia benar-benar melancarkan jurus dan serangannya tersebut, tiba-tiba sekelebat bayangan merah muda mendadak muncul dari dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Bayangan itu meluncur persis ke tengah-tengah arena pertarungan.


"Tahan, Ayah!" suara teriakan terdengar cukup keras.


Namun untuk menghentikan serangan tersebut, rasanya sangat mustahil. Apalagi ia sudah terlanjur melepaskannya.


Karena tidak ada jalan keluar lagi, terpaksa si Cakar Maut membelokkan arah serangannya menjadi ke sebelah kanan.


Blarr!!!


Pohon berukuran cukup besar yang terdapat di halaman depan Gedung Ketua Dunia Persilatan langsung hancur berkeping-keping setelah terkena jurus tersebut.


Yao Shi sendiri langsung berdiri di tempatnya sambil menatap ke bayangan merah muda yang sekarang telah berdiri di hadapannya.


Datuk sesat itu menatap dengan tatapan terkejut. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Ayah!" suara merdu yang biasa didengar dan sudah dikenalnya kembali terdengar.


"Mei'er ... apakah itu benar dirimu?" tanyanya memastikan.


"Tentu saja ini aku, Ayah. Apakah sekarang, kau sudah tidak mengenalku lagi?" pemilik suara yang memang adalah Yao Mei menampilkan ekspresi terkejut. Dia pun terlihat kesal dengan sikap ayahnya.


"Tidak! Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku melupakanmu, Mei'er?" ia berkata dengan tegas supaya anaknya itu percaya


Yao Mei langsung tersenyum setelah mendengar ucapan itu. Ia segera melarikan diri lalu memeluk erat ayahnya tersebut.


"Ayah!"


"Mei'er! Akhirnya kau kembali, Mei'er,"


Ayah dan anak yang sudah lama saling merindukan itu, kini sedang berpelukan erat dengan mesra. Mereka berdua berpelukan cukup lama.


Orang-orang yang ada di sana tidak ada yang berani mengganggunya. Mereka membiarkan ayah dan anak itu saling melepaskan rindunya masing-masing.


Lewat beberapa saat kemudian, Yao Shi melepaskan pelukannya. Yao Mei kemudian berdiri di sisi ayahnya.


"Sejak kapan anakku ada di sini?" tanyanya sambil menatap para tokoh yang berdiri di sana.


"Sejak kemarin," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tertawa ringan.


"Lalu, mengapa kau tidak bicara sejak tadi?" Yao Shi bertanya dengan nada sedikit kesal.


"Bagaimana aku mau bicara? Sedangkan kau sendiri tidak mau mendengarkan ucapan Ketua Fei,"


"Ah ... sudahlah. Lupakan, yang penting, sekarang anakku sudah kembali lagi," ucap datuk sesat itu mengakhiri pembicaraan.


Bersamaan dengan itu, Zhang Fei juga merasa lega karena pada akhirnya Yao Mei sudah bertemu dengan ayahnya. Sekarang, dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan sesuatu seperti sebelumnya.


"Anak muda, di mana kau bisa menemukan anakku?" tanyanya sambil menoleh ke arah Zhang Fei.


"Aku menemukan Nona Mei di Desa Hu, Tuan Shi. Beberapa anggota memberikan laporan bahwa di desa itu ada pendekar wanita yang ciri-cirinya sama dengan Nona Mei. Saat itu, aku langsung menuju ke lokasi. Dan kelanjutannya, aku yakin Tuan Shi sudah cukup mengetahuinya,"


Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kemudian diam dan tidak bicara lagi.


"Tuan Shi, bagaimana kalau kita minum arak barang sebentar? Hitung-hitung mensyukuri karena kau telah bertemu kembali dengan Nona Mei," ajak Zhang Fei kepadanya.


"Hemm ... boleh juga,"


"Baiklah, mari kita ke dalam,"


Zhang Fei memberi isyarat dengan tangannya. Yao Mei segera mengajak Yao Shi untuk masuk ke dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Para tokoh yang lain segera mengikuti dari belakangnya.