
Zhang Fei masih tetap duduk dengan tenang dan santai di tempatnya. Tanpa terasa satu guci arak sudah habis masuk ke perut.
Ia merasa kembung. Tetapi karena sekarang dirinya ingin minum, maka Zhang Fei kembali membuka segel arak yang satunya lagi.
Kalau orang lain yang berada di posisinya, jangankan menghabiskan dua guci arak, bahkan mungkin minum beberapa cawan arak pun, ia tidak akan sudi untuk melakukannya.
Sebab pada dasarnya, terlalu banyak minum arak itu tidak baik bagi kesehatan. Apalagi saat akan menghadapi pertarungan seperti sekarang.
Setidaknya, apabila perutmu sudah banyak dimasuki oleh air kata-kata (arak/alkohol), maka konsentrasi pun akan berkurang.
Sedangkan semua orang tahu, apabila akan menjalani sebuah pertempuran, salah satu modal utamanya justru adalah konsentrasi.
Kalau tidak konsentrasi, bagaiamana mungkin ia bisa bertempur? Apabila bertempur tanpa konsentrasi, bukankah hal itu sama saja dengan bunuh diri?
Sayangnya, semua hal di atas tidak berlaku sama sekali bagi pemuda bernama Zhang Fei.
Bagi dirinya, arak itu ibarat nasi. Nasi adalah sumber tenaga, begitu juga dengan arak.
Semakin banyak minum arak, semakin banyak pula persediaan tenaganya.
Maka dari itu, ia tidak pernah perduli apa kata orang. Selama dirinya tidak merugikan orang lain, untuk apa pula ia harus memikirkannya?
Tiga puluh menit sudah berlalu kembali. Pemilik warung arak yang sudah tua, kini secara tiba-tiba memunculkan dirinya lagi di tempat duduk semula.
Ia tidak terlihat kelelahan. Wajahnya juga biasa saja. Seolah-olah orang itu tidak melakukan pekerjaan apapun.
Mungkin hal tersebut sengaja dia perlihatkan supaya tidak membuat curiga Zhang Fei.
Sementara anak muda itu sendiri, sebenarnya dia sudah tahu bahwa saat ini telah ada beberapa orang penghuni Kampung Hitam yang hadir di sekitar warung arak tersebut.
Entah mereka bersembunyi di mana. Yang pasti, orang-orang itu berada cukup dekat dengan dirinya.
Setiap saat, mereka bisa saja menyerang secara gelap.
Semakin bertambahnya waktu, semakin banyak pula jumlah orang-orang yang berkumpul di sekitar warung arak.
Zhang Fei bisa merasakan kehadiran mereka dengan sangat jelas. Dia pun tahu, posisinya sekarang sudah berada di ujung tanduk. Secara tidak langsung, nyawanya sudah ada di genggaman lawan.
Tetapi, nyatanya toh ia masih bisa duduk dengan santai. Malah dia telah menghabiskan lagi arak yang terakhir.
"Paman, apakah harganya masih sama?" tanyanya sambil berjalan menghampiri si orang tua.
"Ya, masih. Harga arak tetap sama, harga nyawa semakin mahal," tukas pemilik warung arak itu.
Zhang Fei pura-pura tidak mengerti akan ucapannya. Setelah ia menyimpan uang di atas meja kasir, dirinya segera berjalan keluar dengan langkah ringan dan penuh percaya diri.
Awalnya memang tidak terjadi apa-apa. Orang-orang yang sudah hadir, belum juga turun tangan.
Tetapi, begitu ia tiba di halaman luar, dari setiap penjuru, muncul puluhan orang secara tiba-tiba. Di antara mereka ada yang melompat seperti kera, ada pula yang berjalan dengan santai.
Dalam waktu singkat, Zhang Fei telah berada di tengah-tengah kepungan lawan.
Semua penghuni Kampung Hitam, sudah berada dalam keadaan siap. Di tangan mereka terdapat senjata masing-masing.
Orang-orang itu juga memasang wajah seram. Seolah-olah mereka bukan manusia. Melainkan kelompok serigala yang siap menerkam mangsanya.
Suasana di halaman luar masih hening. Belum ada satu orang pun yang membuka suara.
Namun walaupun begitu, hawa pembunuh di sana sudah terasa pekat. Sepekat kabut di tengah hutan.
"Hebat, hebat. Kau memang pemuda yang berani. Sungguh tidak disangka, ternyata kau berani berkunjung ke sini lagi,"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Suara itu adalah suara yang sudah dikenal Zhang Fei.
Itulah suara di Golok Ampuh Ho Nan! Pemimpin dari Kampung Hitam!
Orang itu muncul dari balik kerumunan. Tampangnya masih sama. Cara bicaranya juga masih serupa.
"Hahaha ... kau adalah pemuda yang luar biasa. Bagaimana mungkin aku akan melupakanmu begitu saja?"
"Ah, kau terlalu memuji,"
Dua orang itu bercakap-cakap seperti sepasang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Padahal sejatinya, dalam setiap ucapan mereka terkandung sindiran halus namun sangat menusuk ulu hati.
"Anak muda, mau apa lagi kau kemari? Apakah sekarang, kau sudah bersedia untuk merangkak dan meminta ampun kepadaku?" tanya Golok Ampuh Ho Nan.
Ia kemudian tertawa lantang. Semua penghuni Kampung Hitam pun langsung melakukan hal serupa.
Suara tawa manusia menggema. Semua suara itu masuk sepenuhnya ke dalam telinga Zhang Fei.
Kalau orang lain yang ada di sana, mungkin dia sudah jatuh terkapar karena tidak kuat menahan getaran suaranya. Apalagi, mereka memang menyalurkan tenaga sakti pada saat tertawa.
Untung saja Zhang Fei bukan orang lain.
Bukan saja ia tidak terkapar, bahkan pemuda itu tidak terlihat terpengaruh sama sekali.
Hal tersebut terjadi karena sebelumnya, ia memang telah menyiapkan segala macam hal yang diperlukan.
"Aku datang kemari bukan untuk merangkak dan meminta ampun kepadamu. Aku datang kemari justru karena ingin membayar hutang," ujar Zhang Fei setelah semua orang selesai tertawa.
"Hutang? Hutang apa maksudmu?" tanya si Golok Ampuh keheranan.
"Hutang kekalahan dan hutang darah!" jawab pemuda itu dengan penuh penekanan. "Dua tahun lalu, aku kalah di tangan kalian. Dua tahun yang lalu pula, darahku menetes gara-gara kalian. Maka dari itu, hari ini, aku sengaja datang kemari untuk membayar semuanya,"
Zhang Fei berkata dengan tenang. Namun setiap orang yang hadir di sana tahu, bahwa pemuda itu memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Karenanya, di antara mereka tidak ada yang tertawa lagi. Orang-orang tersebut saat ini justru sedang diam sambil tetap memandanginya.
"Hahaha ... apakah kau sungguh-sungguh?" tanya si Golok Ampuh sambil terus mengejeknya.
"Sungguh-sungguh atau tidak, kau bisa membuktikannya sendiri,"
"Benarkah? Hemm ... menarik," ia menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil berjalan mengelilingi Zhang Fei. Begitu kembali ke tempat awal, dirinya segera menyerukan perintah kepada salah satu anak buahnya.
"Serang bocah ini!"
"Baik,"
Wushh!!!
Begitu perkataan selesai, satu orang dari mereka segera menyerang. Pukulan berantai langsung datang tanpa diduga.
Plakk!!! Plakk!!!
Benturan tangan terjadi. Zhang Fei menahan semua pukulan itu dengan sangat mudah. Ia bahkan tidak bergeser dari posisinya.
Menyaksikan hal tersebut, orang itu merasa penasaran. Karenanya dia segera menyerang lagi.
Dia melompat, lalu memukul ke arah kepala. Dilanjut kemudian dengan tendangan sapuan yang langsung mengarah ke bagian leher.
Semuanya adalah serangan mematikan. Kalau lawan tidak segera bertindak, niscaya lehernya akan patah.
Namun Zhang Fei tidak jeri. Tepat setelah ia berhasil menghindari pukulan, dirinya langsung menggerakkan tangan kanan dan menangkap kaki si penyerang.
Begitu kaki lawan tertangkap, ia langsung melemparkannya cukup jauh.
Kejadian itu berjalan sangat cepat. Semua orang yang ada di sana, memandanginya dengan tatapan tidak percaya!
###
Lunas ya, hehe ...