Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Serba Salah


Fajar telah menyingsing. Mentari pagi muncul di ufuk sebelah timur. Suara burung-burung yang berkicau dengan merdu terdengar jelas di telinga.


Udara pagi ini dingin menyejukkan. Untunglah kedinginan itu sedikit terkurang oleh pancaran cahaya mentari pagi.


Saat ini Zhang Fei sedang berada di sebuah rumah makan yang cukup besar. Dia duduk di sebuah bangku paling belakang. Dirinya tidak sendiri, ia berada di sana bersama dua orang gadis cantik.


Siapa lagi kalau bukan Yu Yuan dan Yin Yin?


Ketiga muda-mudi tersebut baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Terlihat di atas meja masih ada piring kosong dan sisa-sisa makanan.


Ketika suasana hening, mendadak terdengar suara gemericik air. Zhang Fei menuangkan teh ke dalam tiga cawan. Setelah terisi penuh, dia langsung meminumnya sampai habis.


Walaupun mereka sudah bersama sejak tadi, tapi nyatanya di antara tiga muda-mudi itu tidak banyak pembicaraan. Ketiganya lebih banyak diam. Mereka hanya bicara apabila benar-benar perlu saja.


Sebenarnya, Zhang Fei ingin sekali berbincang-bincang dengan keduanya. Hanya saja dia bingung, sebab dua gadis cantik itu seolah-olah sedang marah terhadapnya. Dia sendiri tidak tahu apa alasan mereka bersikap seperti itu.


Lebih daripada hal tersebut, walaupun sama-sama wanita, ternyata mereka juga bersikap dingin satu sama lain.


Padahal biasanya, apabila ada seorang wanita yang berkumpul di satu suasana, mereka akan banyak bicara. Meskipun pembicaraan tersebut tidak begitu penting, tapi mereka akan tetap seperti itu.


Sebab pada dasarnya, hampir semua wanita yang ada di muka bumi ini, lebih senang berbicara bersama sesama jenisnya. Mereka memang cenderung cerewet.


Tetapi, mengapa Yu Yuan dan Yin Yin bersikap seperti itu?


Zhang Fei adalah pemuda yang masih awam kalau membahas soal wanita. Karena itulah, dia tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya menghela nafas panjang dan berat.


Beberapa waktu kemudian, karena merasa tidak enak hati, terpaksa dia membuka pembicaraan lebih dulu.


"Liu Yin ..."


"Panggil saja Yin Yin," potong gadis itu dengan nada hambar.


"Baiklah, maaf. Nona Yin,"


"Yin Yin!" tegasnya kembali.


"Hahh ..." Zhang Fei menghela nafas berat untuk yang kesekian kali. "Yin Yin, kenapa ... kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya dengan hati-hati.


"Memangnya apa urusanmu? Mau aku berada di mana pun, itu bukan urusanmu, kan?" Yin Yin menjawab dengan sengit. Seolah-olah dirinya sedang malas berbicara.


Zhang Fei jadi merasa serba salah. Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


'Mungkin dia sedang tidak ingin bicara,' katanya dalam hati.


Karena berpikir demikian, pada akhirnya Zhang Fei memilih mengalihkan pembicaraan. Sekarang, dia sedang bertanya kepada Yu Yuan.


"Nona Yu, kenapa kau bisa berada di Kota Yunnan ini?"


"Hemm ... kenapa kau tidak menanyakan kabar lebih dulu?" kata gadis itu bertanya balik.


"Aih ... baiklah, bagaiamana kabarmu selama ini?" tanyanya sambil mengeluh perlahan.


"Itu baru betul," ujarnya berseru. "Kabarku selama ini baik. Bagaimana denganmu sendiri, Kakak Fei?" tanyanya dengan nada ramah.


"Aku ... aku juga baik," jawab Zhang Fei sedikit gugup. "Ngomong-ngomong, kenapa Nona Yuan bisa ada Kota Yunann?" tanyanya lebih jauh.


"Oh, aku sedang mendapatkan perintah dari guru. Beliau menyuruhku untuk pergi ke Gunung Lima Jari,"


"Oh, apakah dia ..."


"Dasar pria. Belum selesai berbicara dengan satu wanita, malah sudah bicara lagi dengan wanita lain. Cih ... ternyata di mana-mana pria itu sama saja,"


Belum selesai perkataan Zhang Fei, tiba-tiba saja Yin Yin bicara dengan nada ketus. Malah ia pun memalingkan wajahnya ke arah lain.


Menghadapi dua gadis seperti itu, lagi-lagi Zhang Fei dibuat bingung. Sungguh, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Baginya, situasi seperti ini lebih membingungkan daripada masuk ke dalam perangkap musuh. Malah menurut Zhang Fei, dia lebih baik menghadapi Dua Malaikat Tanpa Kehidupan daripada harus berhadapan dengan dua gadis seperti yang duduk di hadapannya itu.


"Kenapa malah bertanya kepadaku? Tanyakan saja kepada dirimu sendiri,"


Nada bicara gadis itu semakin dingin. Hal ini membuat Zhang Fei lebih pusing lagi.


Ketika tanpa sengaja dirinya melirik ke arah Yu Yuan, ternyata gadis itu juga memberikan sikap yang sama. Ia tampak acuh tak acuh.


"Sudahlah, kami mau pergi saja," kata mereka secara tiba-tiba.


Keduanya bicara bersamaan. Malah berdiri pun juga bersamaan.


Yu Yuan dan Yin Yin saling pandang sekejap dengan sinis. Lalu mereka pergi meninggalkan Zhang Fei begitu saja.


Sedangkan dia sendiri, sampai saat ini masih duduk di kursinya. Sungguh, dia merasa tidak enak hati kepada mereka.


Kenapa keduanya seperti bermusuhan? Apakah mereka mempunyai masalah pribadi satu sama lain?


Lagi-lagi Zhang Fei nafas berat. "Ah, entahlah. Aku bingung kalau berhadapan dengan wanita," gumamnya mengeluh.


Dia segera bangkit berdiri, lalu kemudian berjalan ke kasir untuk membayar biaya sarapan paginya.


Setelah transaksi selesai, ia langsung melangkah keluar dari rumah makan tersebut.


Pada saat itu, suasana di jalan raya sudah mulai ramai. Banyak pertokoan yang sudah buka. Banyak pula para warga yang sudah mulai hilir-mudik tanpa berhenti.


"Kemarilah,"


Ketika dirinya sedang melangkah, tiba-tiba ada sebuah suara halus yang terdengar di telinga. Suara itu berasal dari sebelah Selatan, Zhang Fei segera menengok ke sana.


Beberapa jarak dari tempatnya berdiri sekarang, dia bisa melihat ada seseorang yang sedang duduk santai di bawah pohon bunga bwee.


Entah siapa orang itu. Yang jelas usianya sudah tua. Tidak bisa dipungkiri juga, ia pasti orang yang sudah menyuruhnya menghampiri.


Karena merasa yakin, akhirnya Zhang Fei pun mulai berjalan ke sana.


Ketika jaraknya sudah semakin dekat, rupanya sosok tua itu bukan lain adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan Kiang Ceng, Datuk Dunia Persilatan yang menduduki urutan pertama.


"Ternyata Tuan Kiang. Dalam hormat untukmu, Tuan," katanya sambil membungkukkan badan.


"Ah, tidak perlu penghormatan segala macam. Duduklah," katanya memberikan isyarat dengan lambaian tangan.


Zhang Fei mengangguk. Dia langsung duduk tepat di depannya.


Belum lagi keduanya berbincang-bincang, mendadak tokoh tua itu tertawa lantang dan terbahak-bahak.


Dewa Arak Tanpa Bayangan tertawa cukup lama. Zhang Fei yang menyaksikannya menjadi bingung sendiri.


"Tuan Kiang, kenapa dirimu tertawa? Apakah ... ada yang lucu?" tanyanya tidak bisa menahan rasa heran.


"Hahaha ... kau tahu, sebenarnya aku sedang mentertawakan dirimu, anak Fei?" ujarnya di sela-sela tawa tersebut.


"Aku? Memangnya ... aku kenapa?" tanya Zhang Fei semakin kebingungan.


"Rupanya kau ini sangat bodoh," ia kembali meneruskan tawanya.


"Aku kira kau pintar dalam segala hal. Ternyata kau hanya pintar dalam bela diri saja. Sedangkan dalam hal wanita, kau justru sangat-sangat bodoh,"


Mendengar ucapan tersebut, Zhang Fei langsung tersenyum masam. Ia sendiri merasa malu terhadap dirinya.


"Jadi Tuan Kiang juga mengetahui hal itu," ucapnya perlahan.


###


Satu bab lagi nanti ya, kalau ada waktu, mungkin akan up dua bab. Sekarang author sedang ada urusan, mohon maaf ya ...