
Zhang Fei menghela nafas. Dia mengajak Yao Mei ke tempat yang lebih sepi. Tujuannya supaya mereka bisa bercerita tanpa takut didengar oleh orang lain.
"Nona Mei," kata Zhang Fei mulai bicara ketika mereka sudah berada di antara pepohonan yang gelap. "Sebenarnya dibalik perebutan benda pusaka ini masih ada maksud lain yang tersembunyi. Kalau kau percaya terhadap ucapanku, semua ini hanyalah jebakan semata,"
Yao Mei mengerutkan kening. Dia masih belum bisa memahami maksud perkataan pemuda tampan di depannya itu.
"Aku masih belum paham sepenuhnya," ucapnya secara jujur.
"Baiklah. Aku akan coba menerangkannya kepadamu,"
Zhang Fei terdiam beberapa saat. Seolah-olah dia sedang berusaha merangkai kata supaya mudah dimengerti oleh lawan bicara.
"Jadi begini, dibalik perebutan benda pusaka yang saat ini sedang berlangsung, sebenarnya ada pihak yang sudah mengatur semuanya. Mereka sengaja menyebarkan berita ini sampai tersebar luas, orang-orang itu kemudian memancing para pendekar dari berbagai penjuru supaya berdatangan agar mereka bisa ikut andil dalam perebutan,"
Yao Mei tidak bicara. Dia tampak sedang mencerna apa yang dijelaskan oleh Zhang Fei.
"Aku mulai paham. Coba lanjutkan lagi," pintanya setelah beberapa saat termenung.
"Baiklah," anak muda itu mengangguk. Dia melanjutkan lagi penjelasannya. "Nah, setelah para pendekar berkumpul di Gunung Lima Jari, aku sangat yakin, pada saat itu dalang dibalik layar akan segera melancarkan rencana selanjutnya. Kau tahu, rencana apa yang sudah dipersiapkan oleh mereka?"
"Apa itu?" tanyanya dengan cepat.
"Selanjutnya, mereka akan membunuh para pendekar yang ada di tempat ini,"
Zhang Fei berkata dengan mimik wajah serius. Malah ia mengucapkan setiap patah katanya penuh dengan penekanan.
Yao Mei menatap matanya. Ia ingin melihat, apakah dalam ucapan barusan ada suatu kebohongan atau tidak. Sayangnya, dia tidak menemukan apa yang dicurigai sejak awal.
"Rupanya kau berkata serius," gumamnya perlahan.
"Sejak awal aku memang serius, Nona Mei,"
"Tapi kalau boleh tanya, dari mana kau bisa tahu akan hal ini?"
Ia sangat penasaran. Bukankah tidak mungkin Zhang Fei bisa mengetahuinya begitu saja?
Ditanya demikian, anak muda itu terlihat kebingungan. Bukan karena dirinya tidak mau bercerita dengan terus terang.
Melainkan karena Zhang Fei takut tugasnya ini akan bocor. Bagaimanapun juga, dia sudah mengetahui siapa Yao Mei ini.
Ayahnya adalah Datuk Dunia Persilatan aliran sesat. Bukankah anaknya juga pasti tidak akan jauh berbeda?
Beberapa saat ia tetap membungkam mulut. Ia sedang perang dengan batinnya sendiri.
Haruskah Zhang Fei berkata jujur? Atau terpaksa berbohong?
"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Yao Mei setelah beberapa waktu Zhang Fei tidak memberikan jawaban.
"Hah ..." ia menghela nafas berat. "Baiklah, aku akan bicara yang sejujurnya,"
Sebenarnya dia ingin berbohong. Tapi sayangnya, ia tidak bisa membohongi gadis cantik di depannya itu.
Jadi, setelah perang batin beberapa saat, Zhang Fei sudah memutuskan untuk bicara jujur kepada Yao Mei.
"Tujuanku datang ke Gunung Lima Jari ini, sebenarnya bukan hanya untuk mencari pengalaman saja. Melainkan aku sedang menjalankan tugas yang diberikan oleh seseorang,"
"Siapa orang itu?"
"Hemm, baiklah. Lanjutkan ceritamu," katanya seraya mengangguk setuju.
"Orang tersebut memberikan tugas kepadaku untuk menyelidiki siapa dalang dibalik layar terkait perebutan benda pusaka ini. Karena, tidak mungkin pula berita ini tersebar begitu saja. Apalagi seperti yang kita lihat tadi, benda pusaka tersebut bukan muncul secara tiba-tiba dari alam. Melainkan muncul karena ada sesuatu yang mendorongnya keluar,"
Yao Mei kembali menganggukkan kepala. Dia sendiri melihat kejadian tersebut.
"Lalu, apakah kau sudah menemukan siapa pelaku utamanya?"
"Sampai saat ini masih belum. Aku hanya bisa menebak bahwa rencana mereka selanjutnya adalah ingin melakukan pembunuh masal,"
Mendengar ucapan yang terakhir, tanpa sadar Yao Mei bergidik ngeri. Dia tidak berani membayangkan apabila malam ini, di Gunung Lima Jari akan benar-benar terjadi peristiwa berdarah seperti itu.
Kalai sampai terbukti, betapa hebatnya kengerian yang bakal dirasakan nanti.
"Memangnya, kenapa orang itu ingin membunuh semua pendekar yang hadir? Apa tujuan mereka sebenarnya?" tanya Yao Mei lebih jauh lagi.
"Supaya mereka bisa lebih mudah menjalankan rencana yang berikutnya. Kalau sampai pembunuhan masal itu benar-benar terjadi, niscaya dunia persilatan akan gempar. Ketika semua pihak sedang fokus mengurus kejadian dalam rimba hijau, pasti akan ada banyak orang luar yang menyusup masuk ke negeri kita. Kalau sudah seperti itu, kehancuran Kekaisaran kita telah tiba di depan mata,"
"Tunggu dulu, jadi maksudmu ... dalang dibalik layar ini adalah orang dari Kekaisaran lain?" tanya Yao Mei sedikit terkejut setelah memahami pembicaraan tersebut.
"Kemungkinan besar memang begitu. Kalau pun bukan orang asing, pastilah dalang dibalik layar ini adalah orang yang telah bekerja sama dengan mereka demi kepentingan pribadinya,"
Yao Mei berseru tertahan. Apa yang dijelaskan oleh Zhang Fei barusan, menurutnya sangat masuk di akal.
Dia sendiri tahu bagaimana kondisi negerinya saat ini. Jadi, semua kemungkinan itu, delapan puluh persen bisa benar-benar terjadi.
"Semua penjelasan yang disampaikan oleh anak Fei barusan memang benar. Nona Mei adalah gadis cerdas, aku tahu kau pun mempercayai ucapannya,"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Sesaat kemudian segera disusul dengan munculnya satu sosok pria tua dengan pakaian lusuh. Rambutnya sedikit awut-awutan, pakaian lusuh itu compang-camping. Di tangan kanannya ada guci arak berwarna emas, di tangan kiri ada satu potong paha ayam.
"Dewa Arak Tanpa Bayangan!" seru muda-mudi itu secara bersamaan setelah mereka melihat siapa tokoh yang tiba-tiba muncul itu.
Sementara itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan Kiang Ceng justru tidak tertawa seperti biasanya. Wajah orang tua itu terlihat sangat serius sekali.
"Anak Fei, apa perebutan benda pusakanya sudah dimulai?" tanyanya lebih jauh.
"Baru saja dimulai, Tuan," jawab Zhang Fei. "Ngomong-ngomong, kenapa Tuan bisa ada di sini? Bukankah beberapa hari lalu, Tuan mengatakan ingin mengurus persoalan yang lainnya?"
Orang tua itu menghabiskan dulu paham ayam sebelum menjawab. Setelah minum arak seru kali, ia baru bicara.
"Memang benar. Tapi siang tadi, Kakekmu telah mengirimkan sepucuk surat kepadaku terkait perebutan benda pusaka ini," katanya dengan serius.
"Kakek? Tadi pun aku seperti mendengar suara beliau," ucap Zhang Fei kaget.
"Setelah membaca surat yang dikirim kepadaku, rupanya beberapa hari ini, Kakekmu memang berada di sini. Dia telah menyelidiki peristiwa yang sekarang berlangsung,"
"Lalu, apa yang disampaikan Kakek dalam surat itu, Tuan?"
"Isinya hampir sama dengan yang kau katakan. Jadi karena itulah dia menyuruhku kemari supaya membantumu. Sebab kalau hanya mengandalkan dirimu seorang, pasti tidak akan berhasil. Kau akan tewas bersama yang lain,"
"Ah ..."
Zhang Fei dan Yao Mei berseru hampir secara bersamaan. Setelah mendengar ucapan Datuk Dunia Persilatan itu, kini mereka menjadi lebih yakin lagi.