Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kota Hubei


Tanpa terasa empat belas hari sudah berlalu kembali. Sejak tujuh hari yang lalu, Jenderal Qi Guan telah kembali lagi ke Istana Kekaisaran bersama semua prajurit yang berada di bawah pimpinannya.


Di padang rumput itu sudah tidak ada lagi ribuan mayat yang bergelimpangan. Tidak ada pula bekas-bekas peperangan seperti yang terlihat dulu.


Sekarang tempat itu kembali kosong melompong. Kecuali hamparan padang rumput yang menghijau seperti permadani, rasanya tidak ada sesuatu apapun lagi yang terdapat di sana.


Empat Datuk Dunia Persilatan pun sudah berpisah kembali. Mereka telah menjalankan tugas lanjutannya masing-masing dalam mengamankan keadaan Tionggoan. Khususnya lagi dalam dunia persilatan.


Sedangkan Zhang Fei, setelah berpisah dengan para tokoh rimba hijau tersebut, anak muda itu juga melanjutkan lagi pengembaraannya dalam dunia persilatan.


Entah berapa kota yang sudah ia lewati. Hanya saja, selama beberapa waktu belakangan ini, ia jarang menemukan masalah seperti sebelumnya.


Seolah-olah keadaan dunia persilatan telah kembali aman seperti dahulu kala. Walaupun masih ada pertarungan yang terjadi, tapi itu hanya melibatkan beberapa orang tokoh saja.


Itu pun kebanyakan hanya menyangkut masalah pribadi. Tidak seperti dulu yang selalu melibatkan persoalan politik.


Namun walaupun tidak menemukan halangan apapun dalam perjalanannya kali ini, bukan berarti Zhang Fei bersikap tenang dan masa bodoh. Justru menurut dirinya, sekarang ini adalah saat yang paling gawat. Bahkan lebih gawat daripada sebelumnya.


Kalau dulu pihak musuh masih bertindak secara terang-terangan, maka sekarang mereka memilih bertindak secara diam-diam. Hal inilah yang menurutnya jauh lebih berbahaya lagi.


Karena dia tidak bisa membaca dan mengetahui apa rencana musuh. Jadi, setiap saat Zhang Fei harus selalu meningkatkan kewaspadaannya.


Saat ini waktu masih menunjukkan pagi hari. Zhang Fei sedang berada di kota besar yang berdekatan langsung dengan Kotaraja.


Kota itu berada di bagian sebelah Timur. Setelah mencari informasi, ternyata namanya adalah Hubei.


Kota Hubei sendiri sudah dikenal oleh banyak orang. Selain karena menyuguhkan panorama alam yang sangat indah, Kota Hubei juga dikenal karena araknya. Menurut berita yang tersiar, arak khas Kota Hubei itu rasanya sangat enak. Bahkan masih memiliki manfaat yang lainnya.


Tidak hanya dua hal itu saja, bahkan Kota Hubei juga dikenal sebagai salah satu kota yang terbilang aman. Kalau di kota lain setiap harinya selalu terjadi pertarungan, maka di kota ini, hal tersebut sangat jarang ditemui.


Kalau pun ada, pasti bisa diselesaikan dengan cara yang terbaik.


Hal seperti itu terjadi karena keamanan di Kota Hubei sangat ketat. Lagi pula, Wali Kota Hubei yang menjabat dikenal sebagai orang yang sangat baik dan sangat memperdulikan keamanan rakyatnya.


Maka dari itulah, tidak heran kalau di sana, tingkat keamanannya lebih tinggi daripada kota lain yang masih berdekatan dengan Kotaraja.


Zhang Fei baru sekali ini berkunjung ke Kota Hubei. Begitu tiba di sana, kebetulan ia sudah langsung tiba di pusat kota.


Jadi, tidak heran kalau di setiap jalan raya dia telah bertemu dengan banyak orang yang berasal dari berbagai kalangan.


Selama dirinya berada di sana, entah berapa banyak wisatawan yang telah ditemui. Entah berapa tokoh dunia persilatan pula yang bisa dijumpai oleh Zhang Fei.


Namun uniknya, sampai sejauh ini, belum ada satu pun keganjilan atau bibit-bibit persoalan yang berhasil dia temukan.


Padahal sejak kedatangannya ke Kota Hubei, Zhang Fei selalu mencari-cari informasi ataupun hal lain dengan menggunakan pandangan matanya yang sangat tajam.


"Sepertinya kota ini benar-benar aman. Aku tidak menyangka, ternyata di tengah kekisruhan yang terjadi, masih ada satu kota yang bahkan tidak tersentuh oleh darah," gumamnya sambil terus berjalan di tengah-tengah kota.


Semakin siang, rupanya orang-orang yang dia lihat pun semakin bertambah banyak lagi. Karena tidak menemukan apapun di tengah kota, akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk pergi ke daerah pinggiran kota.


Walaupun keadaan di sana sedikit tertinggal dari keadaan di pusat kota, tapi sepertinya kehidupan di daerah tersebut bisa dibilang masih aman.


"Aneh, di sini ada banyak rumah warga, tapi kenapa terlihat sepi? Ke mana kata penghuninya?" Zhang Fei bergumam seorang diri. Sepasang matanya melihat ke kanan kiri dengan penuh perhatian.


Kalau dilihat sekilas saja, memang sepertinya tidak terlihat ada keanehan. Tapi, keanehan itu akan timbul ketika dilihat secara teliti.


Dan Zhang Fei adalah seorang yang sangat teliti!


Karena itulah ia merasa keheranan sendiri.


Bersamaan dengan itu, tanpa sadar kakinya terus melangkah ke depan. Zhang Fei tiba-tiba berhenti saat sepasang matanya membaca sebuah tulisan yang tergantung di atas papan. Tulisan itu terletak di ujung daerah pinggiran tersebut.


"Daerah terlarang. Siapa pun tidak ada yang boleh masuk kemari. Kalau terus memaksa, maka pemerintah setempat akan menjatuhkan hukuman berat."


Ia memandangi tulisan itu dengan seksama. Karena sifat penasarannya sangat besar dan tidak bisa ditahan lagi, akhir Zhang Fei berniat untuk memaksa masuk ke dalam sana.


Akan tetapi siapa sangka, sebelum dirinya benar-benar masuk, tiba-tiba dari semak belukar ada dua orang berseragam yang muncul secara mendadak.


"Siapa kau? Apakah kau tidak membaca tulisan di atas papan itu?" salah seorang dari mereka bicara. Para saat yang bersamaan, dia pun menodongkan sebatang tombak ke arah Zhang Fei.


"Aku hanya penasaran dan ingin melihat-lihat saja, Tuan," jawabnya dengan wajah tak berdosa.


"Tidak boleh. Siapa pun tidak boleh masuk," kata orang itu dengan tegas.


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang juga, aku sarankan kepadamu supaya pergi dari sini. Kalau tidak, pemerintah akan langsung menjatuhkan hukuman,"


"Hemm ..." Zhang Fei mendengus. Dia merasa tidak terima diperlakukan seperti itu. "Aku hanya ingin tahu saja, mengapa daerah itu bisa terlarang? Apa alasannya?"


"Tidak perlu banyak tanya. Sekarang juga, pergilah!"


Orang yang satu lagi ikut angkat bicara. Nadanya lebih tegas. Bahkan dengan jelas pula dia mengusir Zhang Fei secara paksa.


Karena tidak mau mencari keributan, akhirnya Zhang Fei kembali tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


'Aku harus mencari informasi tentang tempat ini. Aku merasa semuanya tidak sesederhana yang terlihat,' batinnya berkata sambil melangkah ke arah asal.


Beberapa waktu kemudian, ketika matahari sudah berada di atas kepala, Zhang Fei telah tiba kembali di pusat kota. Karena merasa haus, dia pun segera berjalan menghampiri kedai arak terdekat.


Suasana di dalam kedai pada saat itu sangat ramai. Semua meja terisi penuh. Kecuali hanya ada satu meja yang masih kosong. Itu pun sudah diisi oleh satu orang pria tua berumur sekitar empat puluh lima tahunan.


Setelah memesan arak dan hidangan pelengkap, terpaksa Zhang Fei berjalan menghampirinya.


"Permisi, Tuan. Bolehkah aku ikut duduk di sini?" tanyanya dengan sopan.