Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Merasa Cemburu


Kota itu masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Bangunan megah masih berdiri sejajar, rumah makan dan penginapan juga masih buka setiap harinya.


Para petani tetap pergi ke sawah ladang setiap pagi. Suasana di pedesaannya benar-benar nyaman, begitu juga di perkotaannya.


Yang membedakan dari semua itu adalah keramaiannya. Dulu, di perkotaan sangat banyak orang-orang yang berlalu-lalang di tengah jalan besar. Dulu, setiap pagi-pagi buta, di pedesaan juga selalu banyak warga yang pergi ke sawah ladangnya masing-masing.


Tapi sekarang ... para warga itu sudah tidak sebanyak dulu. Sekarang tidak terlihat ramai seperti biasanya.


Bangunan megah ada beberapa yang kosong. Rumah-rumah warga juga ada yang dibiarkan begitu saja.


Ke mana orang-orang itu? Ke mana para penghuninya? Apa pula yang menyebabkan hal ini?


Orang-orang yang dulu terlihat setiap hari, kebanyakan dari mereka sudah tewas karena menjadi korban keganasan orang-orang yang tidak berprikemanusiaan.


Dan yang menyebabkan semua hal tersebut, tentu saja adalah peperangan yang tidak berakhir.


Zhang Fei dan Yao Mei merasa sedih. Keduanya miris melihat keadaan yang terjadi di kota itu.


Pasalnya, pusat kota tersebut justru malah tidak terlihat seperti pusat kota. Melainkan terlihat seperti tempat pembantaian!


Bekas-bekas kekejaman masih bisa dilihat cukup jelas. Bau amisnya darah dan bau busuk, sesekali kita tercium.


"Aku tidak menyangka, ternyata pihak musuh benar-benar serius dalam mengacaukan kedamaian di kota ini," kata Yao Mei sambil menggelengkan kepala beberapa kali.


"Yah, begitulah, Nona Mei. Karenanya, aku telah bersumpah untuk segera mengakhiri peperangan ini," ucap Zhang Fei dengan tekad yang kuat.


Mereka kembali berjalan menelusuri jalan raya yang besar itu. Walaupun keduanya sesekali berpapasan dengan para warga, namun mereka bisa melihat bahwa ekspresi semua orang itu tidak terlihat bahagia.


Meskipun terlihat ada senyuman dan tawa yang terukir, tetapi dibalik semua itu, tetap ada kesedihan yang tidak dapat dihilangkan!


"Ayolah, Nona Mei, kita harus segera sampai di markas pusat Partai Pengemis," ucap Zhang Fei mengajak gadis itu untuk mempercepat langkahnya.


"Baiklah, mari,"


Keduanya kembali menggunakan ilmu meringankan tubuh masing-masing. Dalam waktu singkat, mereka sudah berada jauh dari tempat semula.


Perjalanan Zhang Fei dan Yao Mei ke markas Partai Pengemis tidak menemukan banyak hambatan. Sehingga setelah tujuh hari melakukan perjalanan, mereka berdua sudah bisa tiba di kota tujuannya.


Saat itu waktu sudah siang. Matahari terasa menyengat kulit. Setelah menggunakan ilmu meringankan tubuh cukup lama, akhirnya mereka bisa juga tiba di depan pintu gerbang partai tersebut.


Di depan pintu itu ada dua orang pengemis yang sedang melakukan penjagaan. Di pinggir-pinggir jalan juga ada banyak anggota pengemis yang sedang duduk beristirahat.


"Salam hormat, Ketua Fei, dan ..."


"Nona Mei," kata Zhang Fei meneruskan penjaga yang belum mengenal Yao Mei.


Pengemis itu tersenyum, ia kemudian membungkukkan badan dan memberi hormat.


"Terimakasih," Zhang Fei menjawabnya dengan senyuman hangat. "Apakah Ketua kalian ada di dalam?"


"Ya, Ketua ada di dalam. Beliau sudah menunggu kedatangan Ketua Fei sejak beberapa hari yang lalu,"


"Baiklah, kalau begitu aku akan segera masuk,"


Penjaga itu mengangguk. Dia kemudian membuka pintu gerbang.


Begitu terbuka, rupanya di halaman pun ada puluhan pengemis yang sedang melakukan kegiatannya masing-masing. Mereka semua langsung bangkit berdiri dan memberi hormat ketika melihat kedatangan keduanya.


Ketua Dunia Persilatan membalas hormat mereka. Setelah itu, kedua pendekar muda tersebut langsung melanjutkan langkah kakinya.


"Silahkan menunggu di sini dulu, Ketua Fei, Nona Mei," katanya sambil tersenyum.


Pengemis tua itu kemudian pergi. Sedangkan Zhang Fei dan Yao Mei langsung duduk di kursi yang tersedia. Mereka segera membuka guci arak yang sudah disediakan.


Sembari menunggu kedatangan Yin Yin, keduanya sempat melakukan pembicaraan dan membahas beberapa persoalan.


Sekitar sepuluh menit berikutnya, pintu ruangan utama terbuka. Seorang gadis cantik terlihat di ambang pintu. Di belakangnya ada lagi dua pengemis yang bertugas mengawal.


"Kalian tunggu di sini saja," kata Yin Yin kepada pengawalnya.


"Baik, Ketua," jawab salah satu dari keduanya.


Yin Yin mengangguk. Setelah dia masuk ke dalam ruangan, pintu itu pun segera ditutup kembali.


"Maaf kalau aku datang terlambat dan tidak menyambut kedatangan kalian," ucap Yin Yin sambil memberi hormat.


"Tidak masalah, Ketua Yin,"


"Hemm ... apakah kau lupa dengan perjanjian kita ketika di Rumah Makan Kebahagiaan?" tanya Yin Yin sambil menatap Zhang Fei cukup sinis.


"Ah, baiklah. Maaf," Zhang Fei tertawa. Ia kemudian duduk kembali.


Sebelum melanjutkan pembicaraan ke hal yang lebih serius, ketiganya memilih untuk bersulang arak lebih dulu dan membahas hal-hal ringan.


Dalam pada itu, diam-diam Yin Yin terus memperhatikan Yao Mei. Entah kenapa, ketika mengetahui bahwa Zhang Fei sudah datang ke markasnya, ia merasa sangat senang sekali.


Bahkan rasa senang tersebut tidak bisa digambarkan dengan apapun juga. Yin Yin sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.


Seingatnya, dia baru kali ini saja merasakan hal tersebut.


Tetapi, kesenangan dan kebahagiaan itu tiba-tiba berubah drastis setelah tahu bahwa Zhang Fei tidak datang seorang diri. Melainkan ia datang bersama orang lain.


Bersama seorang wanita!


Wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan dia sendiri. Bukan itu saja, wajahnya, bentuk tubuhnya, kecantikannya, semua itu tidak jauh berbeda. Bahkan terasa hampir sama.


'Kenapa aku merasa tidak suka melihat Zhang Fei datang dengan wanita itu? Apakah aku merasa cemburu?' batinnya bertanya-tanya.


Yin Yin sebenarnya ingin memperlihatkan ketidaksukaan itu, hanya saja dia mencoba untuk tetap menjaga sikap. Bagaimanapun juga, dia yang sekarang sangat jauh berbeda dengan dia yang dahulu.


Sekarang dia adalah seorang Ketua dari salah satu partai terbesar. Tentu saja Yin Yin harus bisa bersikap dewasa dan bijaksana.


Sayang sekali, walau sudah berusaha bagaimanapun juga, terkadang manusia tetap tidak mampu melawan dirinya sendiri.


Tanpa disadari oleh Yin Yin, selama beberapa saat, ternyata ia tidak melakukan gerakan apapun. Gadis itu tetap diam sambil terus memperhatikan Yao Mei.


Awalnya anak dari si Cakar Maut itu tidak menghiraukannya, namun lama-kelamaan dia merasa risih juga.


"Ketua, ada apa? Mengapa kau memandangku seperti itu?" tanya Yao Mei.


Mendengar pertanyaan tersebut, tiba-tiba saja Yin Yin tersadar dari lamunannya. Buru-buru dia menjawab, "Ah, tidak, tidak. Maafkan aku, Nona Mei. Aku ... aku hanya sedang memikirkan masalah saat ini," katanya menjawab gugup.


Yao Mei hanya mengangguk. Dia tidak berkata apapun juga.


'Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu? Hemm ... untung saja kejadian ini berlangsung di tempatmu. Kalau di tempat lain, sudah tentu aku akan menghajarmu,' batinnya merasa tidak senang.