Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Partai Tujuh Warna I


Orang Tua Aneh Tionggoan menganggukkan kepala beberapa kali. Dia sendiri setuju akan hal tersebut. Apalagi ia tahu bahwa Kotaraja adalah pusat dari sebuah negara.


Di sana ada banyak sekali bangunan megah, gedung mewah, dan lain sebagainya. Pokoknya, sesuatu yang tidak ada di tempat atau kota lain, pasti ada di Kotaraja.


"Aku setuju dengan ucapanmu, anak muda. Tapi ingat, masalah yang terjadi di Tionggoan ini tidaklah mudah. Masalah ini sangat rumit, malah masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Kalau kau ingin menyelesaikannya seorang diri, aku rasa ... kau tidak akan sanggup,"


Dia menghela nafas berat sambil menatap Zhang Fei.


Anak muda itu sendiri segera menundukkan kepalanya. Dia paham apa yang dikatakan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan. Zhang Fei sendiri tidak menyalahkan ucapannya. Apalagi dia juga sadar bahwa apa yang dikatakan olehnya memang benar.


Sementara di mata Kai Luo sendiri, ia merasa semakin kagum kepada sosok pendekar muda di depannya itu. Hanya saja yang namanya darah muda, pasti selalu ingin berbuat cepat dan tidak sabar.


Maka dari itu, menurutnya kalau anak muda itu dibiarkan berjuang sendiri, niscaya ia akan mendapatkan banyak halau rintangan.


"Zhang Fei, bagaimana kalau kita pergi bersama? Tapi sebelum ke Kotaraja, aku ingin mengajakmu mengembara ke beberapa kota yang sekarang sedang kacau,"


"Hemm, baiklah. Aku akan ikut bersamamu, Tuan Kai," jawabnya sambil mengangguk.


Ia tidak perlu banyak berpikir lagi. Menurutnya, mengembara bersama seorang tokoh tua seperti Kai Luo, pasti akan mendatangkan banyak sekali pengalaman.


"Bagus. Kalau begitu, mari kita berangkat,"


Orang Tua Aneh Tionggoan bangkit dari duduknya. Diikuti pula oleh Zhang Fei. Mereka kemudian berjalan keluar dari lantai tersebut.


Kau Luo menghampiri kasir untuk membayar biaya makan. Begitu selesai, mereka langsung melanjutkan perjalanan lagi. Keduanya berkeliling di pusat Kota Changsha.


Kedua orang itu tidak langsung pergi dari kota besar tersebut. Mereka terus mengunjungi tempat-tempat ramai sambil mencari informasi yang berkaitan dengan dunia persilatan ataupun keamanan negaranya.


Tanpa terasa, keduanya telah menetap di Kota Changsha selama kurang lebih tujuh hari. Selama itu, mereka belum menemukan peristiwa yang besar.


Beberapa peristiwa yang ditemui oleh keduanya hanyalah hal-hal kecil. Seperti, kemiskinan, pemerasan dan sebagainya.


Terhadap semua hal tersebut, tentu saja Kai Luo dan Zhang Fei tidak tinggal diam. Dengan sigap mereka turun tangan untuk membereskannya.


Dan tepat di hari kesepuluh, barulah dua orang itu menemukan satu masalah yang cukup besar.


Saat itu masih siang hari. Zhang Fei dan Kai Luo sedang berjalan-jalan di pinggir Kota Changsha. Ketika mereka sedang asyik berjalan, tiba-tiba dari depan sana muncul beberapa orang berpakaian pengemis.


Jumlahnya ada sekitar enam orang. Semuanya sedang berlari terburu-buru, sepertinya mereka sedang mengalami suatu masalah.


Apalagi setelah diselidiki lebih jauh, Zhang Fei bisa melihat bahwa keenam orang pengemis itu mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuhnya.


Pakaian yang sudah compang-camping itu semakin tidak karuan bentuknya karena terdapat pula bekas-bekas robekan di sana-sini.


"Maaf, saudara, apa yang telah terjadi kepada kalian?" tanya Zhang Fei kepada salah satu pengemis yang berhasil ia hentikan.


"Partai Pengemis kami diserang oleh sekelompok orang. Mereka membunuh siapa saja yang ada di sana," jawab orang itu dengan gugup.


"Siapa yang menyerang partai kalian?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.


"Kami tidak, tahu, Tuan. Hanya saja mereka itu sangat brutal. Orang-orang yang terdapat di sekitar juga turut menjadi korban,"


Zhang Fei dan Kai Luo saling pandang satu sama lain. Keduanya sama-sama mengerutkan kening.


"Di mana letak partai kalian?"


"Di sana," jawab pengemis itu sambil menunjuk ke depan.


"Aku tidak ada waktu lagi, Tuan. Aku harus mencari bantuan,"


Selesai bicara, dia langsung pergi menyusul rekannya yang lain.


"Menurutmu, siapa yang telah menyerang Partai Pengemis?" tanya Kai Luo tanpa melirik.


"Entahlah. Lebih baik kita lihat saja ke sana,"


"Baik,"


Wushh!!!


Dua orang itu melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Karena jarak ke markas Partai Pengemis tidak terlampau jauh, maka hanya sebentar saja, keduanya telah tiba di sana.


Ternyata apa yang dikatakan oleh anggota Partai Pengemis tadi memang benar. Di markasnya, saat ini sedang terjadi pertempuran yang melibatkan puluhan orang.


Pihak penyerang menggunakan pakaian beragam. Kalau dihitung, warnanya mungkin hingga mencapai tujuh macam.


"Partai Tujuh Warna!" desis Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Partai Tujuh Warna? Apakah itu adalah partai sesat?" tanya Zhang Fei belum tahu pasti.


"Kita bicara nanti saja," tukas Kai Luo.


Seketika itu juga, dia langsung meluncur ke depan sana, memasuki markas Partai Pengemis yang pada saat ini telah menjadi ajang pertempuran.


Karena tidak mau ketinggalan, maka Zhang Fei pun segera melakukan hal yang serupa.


Begitu sudah berada di halaman markas, kedua orang tersebut langsung turun tangan. Tanpa basa-basi lagi, mereka segera menyerang orang-orang yang diduga pihak musuh.


Sepak terjang Orang Tua Aneh Tionggoan sungguh hebat. Baru beberapa jurus turun tangan, dia malah sudah membunuh sekitar delapan orang musuh.


Ia terus menyerang siapa saja yang ada di dekatnya. Walaupun musuh menggunakan senjata, tapi sedikitpun tidak ada perasaan takut di benak orang tua itu.


Hanya dengan mengandalkan kedua tangannya, ia telah membuktikan sampai di mana kemampuannya.


Di satu sisi, Zhang Fei juga tidak mau kalah darinya. Walaupun usianya masih muda, tapi jangan pernah memandang rendah kemampuannya.


Hal itu terbukti dari apa yang ia lakukan sekarang. Baru saja bertarung sekitar dua puluh jurus, setidaknya di sana sudah ada sebelas orang yang menjadi korbannya.


Walaupun musuh yang ia hadapi tidak sedikit, tapi Zhang Fei belum mengeluarkan Pedang Raja Dewa. Dia yakin hanya mengandalkan jurus tangan kosong saja, ia akan mampu menghadapi orang-orang itu.


Berbagai macam pukulan jarak jauh terus dia lepaskan tanpa pernah berhenti. Angin pukulan yang ditimbulkan olehnya mampu menerbangkan batu kerikil yang terdapat di halaman tersebut.


Sebelum dua orang itu turun tangan, pihak Partai Pengemis tampak kewalahan. Terutama sekali anggota mereka yang sudah banyak mengalami luka.


Tetapi setelah Zhang Fei dan Kai Luo hadir di medan pertempuran, seketika situasinya langsung berbalik.


Pihak Partai Pengemis menjadi berada di atas angin. Anggota yang sebelumnya hampir menemui ajal, banyak yang selamat karena bantuan dari keduanya.


Suara dentingan nyaring yang semula terdengar tiada henti, sekarang secara perlahan mulai lenyap dari pendengaran.


Di halaman markas Partai Pengemis, setidaknya ada delapan puluh mayat yang bergelimpangan di sana sini.


Sekitar lima belas menit kemudian, pertempuran itu telah berakhir. Pihak musuh banyak yang menjadi korban. Mereka yang berhasil menyelamatkan diri langsung pergi dari sana.