
"Mengapa kau terus melamun?" Dewa Arak Tanpa Bayangan membentak nyaring sambil menerjang ke depan.
Wutt!!!
Guci pusaka kembali digerakkan. Guci itu mengincar batok kepala. Untung pada saat tersebut si Pedang Kembar Angin Puyuh mampu menguasai dirinya kembali. Sehingga kepalanya masih bisa terselamatkan.
Coba kalau dia terlambat sedetik saja, mungkin saat ini kepala itu sudah remuk dihajar oleh guci pusaka tersebut.
Kejadian barusan berlangsung singkat. Tapi di Pedang Kembar Angin Puyuh masih merasakan jantungnya berdebar keras.
Tapi karena tidak mau membuang waktu lebih lama, setelah tenaganya terkumpul, dia kembali melanjutkan pertarungannya.
Dua pedang kembar lagi-lagi berkelebat dengan bebas di tengah udara. Kilatan cahaya putih keperakan datang bagaikan gulungan ombak di tepi pantai. Hawa pedang itu terus menekan arena pertarungan.
Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mau memberikan kesempatan bagi lawan untuk bernafas lebih jauh. Dengan salah satu jurus yang selalu dia andalkan, orang tua itu mulai mengubah gaya bertarungnya.
Guci arak menyambar-nyambar dari setiap arah berbeda. Cahaya kuning keemasan seketika langsung bercampur menjadi satu dengan sinar putih keperakan.
Pertarungan mereka mulai berlangsung sengit. Tapi itu pun hanya berjalan sekejap. Lima jurus kemudian, tiba-tiba teriakan mengerikan terdengar.
Dua helaan nafas berikutnya, si Pedang Kembar Angin Puyuh telah ambruk dengan kondisi kepala remuk akibat terkena hantaman Guci Emas Murni.
Darah segar kembali membasahi lantai ruangan utama tersebut. Kematian dua orang itu hampir bersamaan. Selisihnya tidak berbeda cukup jauh.
Setelah berhasil membunuh dua petinggi tersebut, Pengemis Tongkat Sakti langsung menuliskan beberapa huruf menggunakan senjata si Pedang Kembar Angin Puyuh.
"Pergi dari kota ini, atau kau akan tahu sendiri akibatnya!"
Kata-kata yang dia tulis hanya sampai di situ saja. Pengemis Tongkat Sakti sengaja tidak memberitahukan siapa yang menulis huruf-huruf tersebut.
Kalau dilihat sekilas, mungkin tidak terasa ada yang ganjil dari kalimat itu. Namun jika diteliti lebih lanjut, orang yang melihatnya pasti akan langsung bergidik ngeri.
Sebab kalimat itu bukan ditulis menggunakan tinta seperti pada umumnya. Melainkan ditulis menggunakan darah!
Darah dari dua pemimpin di markas cabang tersebut!
Sementara itu, pada saat tugasnya sudah selesai dilaksanakan, dua orang tokoh kelas atas tersebut langsung pergi dari sana.
Sekali kakinya menginjak tanah, mereka sudah berada diluar dan dengan segera lenyap di telan gelapnya malam.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan mengajukan tanya kepada sahabatnya.
"Pengemis tua, apakah kita akan kembali dulu ke markas cabang milikmu?"
"Aku rasa tidak perlu. Lebih baik kita langsung menuju ke kota kecil di dekat Rawa Iblis itu. Aku ingin segera mengetahui kondisi cucuku," jawab Pengemis Tongkat Sakti tanpa menoleh ke arahnya.
"Hemm ... baiklah. Kalau begitu, aku juga setuju,"
Wushh!!! Wushh!!!
Mereka mulai mempercepat langkahnya. Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna, jarak yang cukup jauh dan memerlukan waktu tidak sebentar pun, bisa mereka ubah menjadi kebalikannya.
Selama dua harian penuh, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Pengemis Tongkat Sakti terus melakukan perjalanan tersebut. Ketika matahari berada tepat di atas kepala, keduanya telah tiba di tempat tujuan.
Saat memasuki halaman markas cabang, puluhan anggota Partai Pengemis yang terdapat di sana langsung membungkuk hormat sebagai penyambutan ketua mereka.
"Salam hormat untuk Ketua. Semoga Ketua panjang umur dan selalu dilindungi oleh langit," Ketua Bu juga turut menyambut kedatangan keduanya.
Ia membungkukkan badan tepat di tengah-tengah pintu masuk.
"Terimakasih, Ketua Bu," jawab Pengemis Tongkat Sakti sambil menyuruhnya kembali berdiri tegak.
Ia menuruti ucapan Pengemis Tongkat Sakti. Kemudian segera mengajaknya masuk ke dalam.
"Nona Yin sudah agak baikan, Ketua. Hanya saja ... tenaga dalam dan hawa murni yang ia miliki belum bisa berjalan dengan lancar seperti biasanya. Seolah-olah ada sesuatu yang telah menghalangi peredaran darah dan titik-titik tertentu," jelas Ketua Bu sambil menghela nafas menyesal.
"Lalu, bagaiamana pula dengan pemuda itu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan yang juga sangat mengkhawatirkan keadaan Zhang Fei.
"Pendekar muda itu juga sama. Dia mengalami hal serupa seperti Nona Yin, Tuan. Hanya saja, keadaannya sedikit lebih baik,"
Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba Pengemis Tongkat Sakti menghentikan langkah kakinya. Dia langsung memandang Ketua Bu dan mengajukan pertanyaan lagi.
"Apakah mereka berdua keracunan?"
"Aku rasa tidak, Ketua," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Lalu, mengapa bisa begitu?"
"Soal ini aku belum tahu. Cuma seperti yang aku bilang barusan, di dalam tubuh mereka berdua seperti ada sesuatu yang telah menyumbat jalan darah dan titik tertentu," kata Ketua Bu mengulangi lagi ucapannya.
"Hemm ... aku rasa ada yang aneh dalam kejadian ini," gumam Pengemis Tongkat Sakti. "Apakah kau sudah tahu, mengapa mereka bisa terluka?"
"Belum, Ketua," dia menghela nafas berat. Sesaat kemudian, Ketua Bu kembali melanjutkan bicaranya. "Karena selama dua hari ini, mereka terus tidak sadarkan diri. Aku sendiri merasa aneh, sayangnya kemampuanku terlalu rendah sehingga tidak bisa memecahkan persoalan ini,"
"Sudahlah. Sekarang, lebih baik kita periksa saja keadaan mereka berdua," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan menyudahi percakapan tersebut.
Ketua Bu mengangguk setuju. Dia segera melanjutkan langkahnya kembali dan menuju ke ruangan di mana Zhang Fei serta Yin Yin berada.
Beberapa kejap kemudian, ketiganya sudah berada di ruangan yang dimaksud. Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba berseru tertahan setelah ia melihat kondisi Zhang Fei.
Tanpa sadar dirinya langsung berjalan dan segera memeriksa denyut nadi anak muda itu.
"Denyut nadi anak Fei sekarang sangat lemah, persis seperti detak jantungnya," kata Datuk Dunia Persilatan tersebut. Tidak menanti orang lain bicara, dia segera memeriksa kondisi Yin Yin yang ada di sisinya. "Kondisi Nona Yin sendiri tidak jauh berbeda,"
Ia langsung bangkit berdiri dan kembali ke tempat semula. Setelah itu, katanya, "Menurut pendapatku, mereka berdua telah terluka di tangan orang yang sama,"
"Ya, aku juga berpendapat demikian, Tuan," sahut Ketua Bu dengan cepat.
"Apakah kau tahu siapa yang telah melukai keduanya?" tanya Pengemis Tongkat Sakti sambil melirik ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Belum," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
Datuk Dunia Persilatan itu memandangi kembali dua pendekar muda yang terbaring tak sadarkan diri tersebut. Tiba-tiba dia bertanya.
"Kapan Ketua Bu menemukan mereka?"
"Kurang lebih tiga hari yang lalu,"
"Pada saat itu, apakah denyut nadi dan detak jantungnya sudah lemah seperti sekarang?"
"Belum. Keadaan seperti ini baru berlangsung pagi tadi,"
"Ah, aku tahu pelakunya," seru Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Pengemis Tongkat Sakti dengan cepat.
"Pendekar Pedang Perpisahan. Ya, pasti dialah yang telah melukai kedua anak muda ini," tukasnya penuh keyakinan.
###
Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, ya.
Terimakasih buat kalian yang terus mengikuti perjalanan, Zhang Fei.