
Tidak lama setelah kejadian tersebut, tiba-tiba Kaisar Song Kwi Bun dan Empat Datuk Dunia Persilatan langsung berjalan menghampiri Zhang Fei.
Masing-masing dari mereka membawa senyuman di mulutnya. Sedangkan dalam hati, orang-orang tersebut juga merasa salut sekaligus kagum terhadap Zhang Fei.
"Hebat, anak Fei. Kau telah berhasil membuat mata semua orang di sini terbuka," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan pujian kepadanya.
Zhang Fei tersenyum hangat ke arahnya. Dia tidak berbicara apapun juga.
Sementara Kaisar, saat ini dia sedang memandangi mayat Pendekar Berwajah Dingin dengan tatapan tajam. Ia sungguh tidak menyangka, ternyata dalam acara tadi ada mata-mata yang mungkin sengaja dikirim oleh pihak musuh.
"Aku tidak percaya, ternyata Istana Kekaisaran berhasil dimasuki oleh mata-mata," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Nada bicaranya terdengar kecewa dan tidak percaya.
"Menurutku, peristiwa ini sudah terdengar ke telinga musuh," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Benar, sangat masuk akal," sambung Dewi Rambut Putih.
Kalau musuh belum mendengar tentang acara pelantikan caalon Ketua Dunia Persilatan ini, rasanya memang tidak mungkin mereka akan mengirimkan mata-mata.
"Aku hanya tidak percaya, ternyata tua bangka itu merupakan mata-mata. Padahal dulunya, dia paling anti bergabung bersama partai mana pun juga," kata Pendekar Tombak Angin masih tidak percaya dengan apa yang menimpa Pendekar Berwajah dingin.
Sebagai tokoh satu generasi, tentu saja dia tahu betul siapa dan bagaimana Pendekar Berwajah Dingin di masa lalu.
Sejak kemunculannya dalam dunia persilatan, ia selalu berdiri sendiri. Pendekar Berwajah Dingin paling anti menggabungkan diri bersama partai ataupun kelompok-kelompok lainnya.
Alasan yang paling masuk akalnya adalah karena dia merupakan orang yang menginginkan kebebasan. Dalam hal apapun, Pendekar Berwajah Dingin selalu ingin bebas tanpa adanya ikatan.
"Aku sendiri tidak percaya. Tapi apa boleh buat, nasib dan takdir seseorang tidak pernah ada yang bisa mengetahuinya," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan menyahut.
"Kau benar, setan arak. Sekarang dia telah memilih jalan hidupnya, jadi apa yang menimpa, itu adalah karena pilihannya sendiri," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menganggukkan kepala.
Untuk beberapa waktu, orang-orang tersebut hanya memandangi mayat Pendekar Berwajah Dingin dengan pikiran yang berbeda-beda.
Sebagai orang yang sudah punya banyak pengalaman, mereka sebenarnya tahu bahwa dibalik peristiwa ini pasti ada sesuatu yang lainnya lagi.
"Sudahlah, kita bicarakan ini nanti saja. Sekarang, mari kita selesaikan acaranya sekarang juga," kata Kaisar kepada yang lainnya.
"Benar, Kaisar. Aku setuju,"
Kaisar Song Kwi Bun kemudian menyuruh dua orang prajurit untuk membawa pergi mayat Pendekar Berwajah Dingin. Dia pun tidak lupa menyuruh membersihkan bekas darahnya.
Setelah selesai, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera maju tiga langkah ke depan. Untuk yang kesekian kalinya dia menyapu pandang ke arah semua orang yang hadir di sana.
"Apakah di antara kalian masih ada yang belum setuju kalau Tuan Muda Fei menjadi Ketua Dunia Persilatan selanjutnya?" tanyanya kepada semua orang tersebut.
Ditanya demikian, orang-orang tersebut langsung terdiam seribu bahasa. Mereka tidak berani lagi berbisik-bisik seperti sebelumnya.
"Atau ... di antara kalian masih ada yang ingin menguji kemampuannya? Kalau ada, silahkan maju sekarang juga. Aku akan menghitungnya sampai sepuluh,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian mulai menghitung mulai dari angka satu sampai sepuluh.
Akan tetapi, sampai akhir hitungan tersebut tetap tidak ada satu orang pun yang berani bicara atau maju ke arena pertarungan.
"Baiklah, karena sampai sekarang masih tidak ada yang berani buka suara, aku anggap kalian semua sudah setuju dengan keputusan akhir ini," katanya mengakhiri bicara.
Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian menoleh ke arah Kaisar. Meskipun dia tidak berbicara, tetapi Kaisar sudah cukup mengerti apa maksudnya.
"Apakah kalian semua setuju?" tanya Kaisar kepada semua orang.
"Ya, kami setuju,"
"Setuju, Kaisar. Setuju ..."
Para hadirin yang hadir langsung bereaksi. Teriakan mereka terdengar begitu bersemangat.
Kaisar segera tersenyum melihat respon tersebut. Itu artinya, secara tidak langsung mereka sudah bisa menerima Zhang Fei sebagai Ketua Dunia Persilatan yang baru.
Dia kemudian memanggil juru bicara untuk menyiapkan acara pelantikan. Sekitar tiga puluh menit kemudian, juru bicara sudah kembali lagi dan memberitahukan bahwa semuanya sudah siap.
"Baiklah, karena semua persiapan sudah selesai, maka pelantikan Ketua Dunia Persilatan akan dilangsungkan sekarang juga," kata Kaisar dengan suara lantang.
Prosesi pelantikan Ketua Dunia Persilatan yang selanjutnya segera digelar. Suasana di sana benar-benar hening, tidak ada satu pun orang yang berani membuka suara.
Semuanya diam dan mendengarkan setiap patah kata yang disampaikan oleh Kaisar. Ratusan pasang mata saat ini sedang menatap ke mimbar penuh perhatian.
Acara itu berjalan sangat khidmat. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, pelantikan tersebut sudah selesai.
"Zhang Fei, sekarang kau sudah resmi menjadi Ketua Dunia Persilatan. Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada orang-orang yang hadir?" tanya Kaisar setengah berbisik.
"Ada, Kaisar,"
"Baik, silahkan maju ke depan,"
Zhang Fei mengangguk. Dia kemudian maju ke depan, ke tempat yang sudah disediakan.
Sebelum menyampaikan apa yang ingin dibicarakan olehnya, dia lebih dulu menyapu pandang semua orang di sana.
Jujur saja, saat ini Zhang Fei merasa tegang. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Tanpa sadar keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia gugup. Ucapan yang tadi ada di dalam pikirannya, sekarang seolah-olah telah hilang entah ke mana.
"Ketua, mengapa kau diam saja?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan mengganti sebutannya kepada Zhang Fei.
"Ah, maaf, maaf. Aku gugup, Tuan Kiang," jawabnya sambil tersenyum getir.
"Aishh! Pejamkan matamu, tenangkan dulu pikiranmu. Setelah itu bicarakan semuanya,"
"Baiklah,"
Zhang Fei segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan, setelah selesai, barulah ia berkata.
"Paha hadirin, aku, Zhang Fei, ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian atas kepercayaan ini. Kalau di suatu hari nanti, aku melakukan sebuah kesalahan dalam menjalankan tugas dan kewajiban, aku harap kalian mau mengingatkannya tanpa segan-segan. Kalau kesalahanku itu sangat besar, maka ambillah tindakan yang paling sesuai,"
"Aku siap menerima hukuman apabila menyalahgunakan jabatan ini," kata Zhang Fei bicara dengan tegas dan lantang.
Ucapannya tersebut didorong oleh tenaga dalam besar, sehingga semua orang bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Aku rasa, yang bisa diucapkan saat ini mungkin hanya itu saja. Sekali lagi, aku ucapnya terimakasih. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa berada di posisi sekarang," ucap Zhang Fei mengakhiri ucapannya.
###
Mohon maaf ya, Novel Pendekar Sembilan Pedang belum up lagi. Kebetulan lagi ada urusan di dunia nyata, jadi agak tersendat jalan kedua novel ini. Mohon dimengerti ya ...
Tapi di bulan depan, pasti author akan update seperti biasanya. Jadi, jangan berpikir novelnya tidak akan diteruskan, hehehe ...