
"Tuan Muda, kau mau ke mana?" tanya orang tersebut dengan ramah.
Zhang Fei melirik ke arahnya. Ternyata ia adalah orang yang bertugas untuk berjaga di depan pintu gerbang tersebut.
"Ah, aku ... aku mau bertamasya ke Kota Qinghai," jawabnya sedikit gugup.
"Oh, baiklah. Silahkan, tapi kami harus memeriksamu dulu,"
"Baik,"
Ia segera mendekat ke arah si penjaga. Orang itu kemudian memeriksa Zhang Fei, beberapa saat selanjutnya, pemeriksaan pun sudah selesai.
"Silahkan, Tuan Muda," katanya sambil memberikan isyarat dengan tangan.
"Terimakasih," ucap Zhang Fei sambil mengangguk.
Ia kemudian berjalan masuk sambil melihat-lihat keadaan di sana. Kebetulan sekali, dia masuk di pintu gerbang yang berdekatan langsung dengan pusat kota. Sehingga dirinya tidak perlu berlama-lama mencari tempat ramai.
Karena kebingungan mencari tempat tujuan yang indah, pada akhirnya ia memilih bertanya kepada para warga sekitar.
"Permisi, Paman. Aku ingin bertanya," katanya dengan sopan.
"Silahkan, Tuan Muda. Apa yang ingin kau tanyakan?" jawab orang tua yang berumur sekitar lima puluhan tahun itu.
"Apakah pemandangan di Kota Qinghai ini banyak?"
"Tentu saja. Kota Qinghai merupakan salah satu kota besar yang dikenal karena keindahan alamnya. Selain itu, di sini juga terdapat teh yang sangat nikmat, dan arak yang sangat lezat. Kota Qinghai juga terkenal karena makanannya yang enak,"
Orang tua itu bercerita dengan penuh semangat. Tiba-tiba dia berhenti sebentar lalu mengawasi wajah Zhang Fei. Setelah dipastikan anak muda itu merasa tertarik dengan cerita yang disampaikan, si orang tua segera melanjutkannya lagi.
"Selain hal-hal yang baru aku sebutkan, di sini Tuan Muda juga bisa menemukan banyak sekali wanita-wanita cantik. Jadi, aku rasa, siapa pun yang sudah pernah berkunjung kemari, pasti tidak akan pernah merasa menyesal. Malah kemungkinan besar, orang itu ingin kembali lagi kemari," lanjutnya sambil tertawa.
Zhang Fei mendengarkan cerita itu sambil menganggukkan kepala. Tidak bisa dipungkiri, dia sendiri cukup tertarik dengan cerita tersebut. Karena itulah rasa penasarannya semakin bertambah.
"Benarkah ceritamu itu, Paman?" tanyanya seolah-olah masih kurang percaya.
"Tentu saja, Tuan Muda. Mana berani aku berbohong,"
"Kalau begitu, apakah kau bisa mengantarkan aku berkunjung ke tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah, dan membawaku ke restoran paling terkenal di kota ini?"
"Sangat-sangat bisa. Apalagi, aku memang sudah terbiasa menemani wisatawan yang datang kemari," jawabnya penuh semangat. "Tapi kalau Tuan Muda ingin mencoba semuanya, aku rasa setidaknya dibutuhkan waktu sekitar satu minggu. Bagaimana, apakah Tuan Muda tidak keberatan?"
"Asal Paman bisa membuatku merasa puas, satu bulan pun tidak menjadi soal," kata Zhang Fei sambil tertawa.
"Ah, itu sudah pasti. Kalau begitu, mari, biar aku antarkan Tuan Muda ke penginapan terdekat,"
Dua orang tersebut kemudian berjalan lagi. Si orang tua itu membawa Zhang Fei ke sebuah penginapan yang memang tempatnya tidak terlalu jauh dari gerbang kota.
Setelah berhasil memesan kamar, mereka mulai berjalan-jalan.
Karena tidak mau kelelahan, Zhang Fei memilih untuk menyewa dua ekor kuda sebagai tunggangan mereka.
Di tengah perjalanan, si orang tua mulai banyak bercerita. Termasuk juga memperkenalkan dirinya.
Rupanya ia bernama Si Cun, orang-orang sekitar sering memanggil si Tua Cun. Pekerjaannya sehari-hari memang seperti ini, yaitu membawa para wisatawan untuk berkunjung ke tempat-tempat indah atau sejenisnya, sebagaimana yang dia jelaskan kepada Zhang Fei sebelumnya.
Si Tua Cun merupakan penduduk asli Kota Qinghai. Jadi, dia sangat tahu detail tentang kota tersebut.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, ketika sedang berada di jalanan setapak yang menanjak, tiba-tiba dirinya menghentikan langkah kuda.
"Ya, aku melihatnya, Paman,"
"Itu adalah bekas markas partai aliran sesat,"
"Benarkah? Apa nama partai itu?"
"Kalau tidak salah, namanya Partai Panji Hitam,"
"Partai Panji Hitam? Jadi, mereka juga mempunyai markas di kota ini?" tanya Zhang Fei. Dia cukup terkejut setelah mendengar nama partai itu.
Amarahnya tiba-tiba bangkit. Namun sebisa mungkin ia menekannya agar tidak sampai diketahui oleh si Tua Sun.
"Benar, Tuan Muda. Tapi sekarang bangunan itu tidak terpakai lagi. Partai Panji Hitam sudah berpindah ke kota lain. Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu,"
"Kenapa mereka pindah tempat?"
"Aku sendiri tidak tahu. Apalagi, aku tidak mengerti tentang dunia persilatan segala macam. Tapi kabarnya, kepergian mereka dikarenakan ada partai aliran putih yang berani melawannya,"
"Oh, apakah Paman tahu nama partai aliran putih itu?"
"Ya, namanya Partai Gurun Pasir,"
Zhang Fei menganggukkan kepala beberapa kali. Ternyata kabar yang tersiar memang tidak salah. Partai Panji Hitam benar-benar telah menancapkan kakinya di setiap tempat.
"Ketika Partai Panji Hitam ada di kota ini, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya lebih jauh lagi.
"Banyak sekali, Tuan Muda. Setiap hari, di Kota Qinghai selalu terjadi tindak kriminal. Banyak warga yang tewas karena kekejaman mereka. Untunglah ada Partai Gurun Pasir yang memberikan pertolongan, sehingga kota kami selamat dari malapetaka besar. Semenjak itulah, kota ini menjadi aman kembali, seperti yang Tuan Muda saksikan sekarang,"
Si Tua Cun bercerita dengan mimik wajah serius. Sepanjang cerita itu, kuda mereka pun tetap berjalan. Malah tanpa sadar, kuda mereka menuju ke bangunan yang sedang dibicarakan tersebut.
"Paman, kenapa kau malah kemari?" tanya Zhang Fei kemudian.
"Eh ..." si Tua Cun terlihat kebingungan. Ia celingukan ke sana kemari. "Anu ... setelah bangunan ini kosong, kadangkala ada banyak wisatawan yang berkunjung kemari. Katanya sih di dalam sana ada banyak harta benda peninggalan Partai Panji Hitam," jawabnya mengarang cerita.
"Kau tidak berbohong?"
"Euu ... ti-tidak, Tuan Muda. Tapi, itu hanya mendengar dari cerita orang-orang. Aku sendiri belum pernah masuk ke sana,"
"Ah, tidak mengapa. Bagaimana kalau sekarang kita masuk ke dalam?"
Sembari berkata demikian, dengan cepat Zhang Fei melarikan kuda miliknya. Dalam beberapa tarikan nafas, ia malah sudah tiba di halaman depan.
Si Tua Cun saat itu ingin mencegah niat anak muda tersebut. Hanya saja dia terlambat. Sebab Zhang Fei telah lebih dulu menuju ke sana. Pada akhirnya, mau tidak mau ia pun harus mengikutinya.
"Tuan Muda, apakah kau serius ingin masuk ke dalam?" tanyanya penasaran.
"Aku serius. Aku juga ingin tahu benda-benda apakah yang ditinggalkan oleh mereka," jawabnya.
"Tapi ... tapi, katanya gedung ini dihuni oleh hantu. Aku takut dia akan marah apabila kita masuk ke sana," katanya seolah-olah ia ketakutan.
"Di siang hari begini, mana ada hantu? Lagi pula, hantu itu hanya dongeng belaka,"
"Tapi ..."
"Kalau Paman Cun tidak mau ikut, biarlah aku sendiri yang masuk ke sana," kata Zhang Fei sambil melompat turun dari kuda.