Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Peningkatan Pesat


Tetapi walaupun kemampuannya yang sekarang sudah jauh meningkat jika dibandingkan dengan dahulu, namun menurut Zhang Liong, itu semua masih belum cukup.


Pernah suatu ketika, Zhang Fei bertanya tentang kemajuannya.


Dan seketika, orang tua yang selalu mengenakan pakaian serba putih itu menjawab dengan nada serius.


"Kemampuanmu yang sekarang memang sudah meningkat pesat, anak Fei. Tapi itu semua masih jauh dari kata cukup. Setidaknya kau masih harus melatih ilmu pedangmu selama satu tahun lagi. Saat itu, aku rasa bekal yang kau miliki sudah mumpini,"


"Aku menyarankan hal ini supaya kau tidak menemukan banyak kesulitan apabila sedang menghadapi masalah. Asal kau tahu saja, dalam dunia persilatan dewasa ini, terdapat banyak sekali tokoh-tokoh lihai. Baik itu dari kalangan aliran putih, maupun dari aliran sesat. Maka dari itu, kau harus lebih giat lagi dalam melatih ilmu pedangmu,"


Apa yang dikatakan oleh Zhang Liong tersebut memang benar adanya. Zhang Fei sendiri menyadari akan hal itu.


Karenanya, setelah mendapat jawaban, ia tidak pernah bertanya lagi.


Setiap hari, dia harus selalu melatih segenap kemampuannya. Bukan cuma ilmu pedang dan ilmu tangan kosong, bahkan Zhang Liong pun selalu melatih Zhang Fei agar menjadi manusia yang selalu teliti dalam hal apapun.


Walaupun usianya sudah lanjut, tapi ternyata kakek tua itu sangat disiplin sekali.


Entah sedang terjadi hujan badai atau apapun juga, Zhang Fei tetap harus berlatih. Minimal sepuluh jam setiap harinya.


Awalnya, anak muda itu memang merasa tersiksa. Apalagi sepuluh jam itu adalah waktu paling sedikit. Jika keadaan baik-baik saja, ia bahkan bisa berlatih lebih dari itu.


Tapi karena sudah terbiasa, lama-kelamaan Zhang Fei sudah tidak merasa tersiksa lagi. Ia bahkan mulai merasa ada yang kurang apabila tidak berlatih walau hanya sebentar.


Pada dasarnya memang demikian. Suatu hal yang membuat kita terpaksa, tetapi apabila kita terus membiasakan paksaan itu, maka lama-kelamaan, paksaan tersebut akan berubah menjadi kebiasaan.


Agaknya semua orang mengerti akan teori seperti ini. Dan semua orang juga pasti pernah mengalaminya.


Sementara di satu sisi lain, selama melatih cucunya tersebut, semakin bertambahnya waktu, Zhang Liong juga semakin tahu bahwa anak itu ternyata memang mempunyai bakat yang luar biasa. Terutama sekali dalam ilmu silat.


Atas dasar tersebut, diam-diam ia merasa sangat senang. Karena pada akhirnya, akan ada satu orang penerus lagi dari keturunan Keluarga Zhang, yang kelak akan menjadi pendekar besar.


Dia yakin akan hal itu. Ia pun percaya harapannya akan benar-benar terwujud.


Oleh karenanya, Zhang Liong tidak segan untuk mengajarkan semua ilmu yang ia miliki untuk diwariskan kepada cucunya tersebut.


###


Saat ini masih pagi hari. Zhang Liong pun masih seperti biasanya, dia sedang duduk di atas batu besar sambil ditemani satu guci arak.


Harimau dan monyet putih ada di sisinya. Kedua binatang buas itu sedang bermain-main. Sedangkan di tengah-tengah halaman, tentunya ada Zhang Fei yang sedang berlatih.


Semakin bertambahnya hari, semakin bertambah lebar pula senyuman yang tersungging di bibir orang tua itu.


Ia benar-benar bangga bisa mempunyai cucu seperti Zhang Fei.


###


Tiga bulan kemudian sudah berlalu kembali.


Hari ini, tepat dua tahun sudah Zhang Fei tinggal di Gunung Awan Putih. Itu artinya, sudah dua tahun pula Zhang Liong mengajari cucunya.


Sekarang masih pagi hari. Mentari pagi baru saja naik tinggi ke atas. Hawa di Gunung Awan Putih masih terasa dingin menusuk tulang.


Awan kelabu tampak menghiasai jagat raya. Untunglah pancaran sinar mentari sudah muncul. Sehingga gumpalan awan kelabu itu bisa lenyap dengan segera.


Zhang Fei masih dalam keadaan berlatih. Ia sedang memperagakan semua ilmu pedang yang terdapat di dalam Kitab Pedang Dewa.


Zhang Liong masih mengawasinya dengan seksama. Selama dua tahun ini, ia tidak pernah turun tangan untuk menguji kemampuan Zhang Fei.


"Anak Fei, kalau kau sudah selesai memperagakan semua jurus itu, segeralah kemari," kata Zhang Liong bicara lewat pikirannya.


Anak muda itu tidak menjawab. Dia justru terus melanjutkan latihannya. Setelah semua jurus selesai diperagakan itulah, dirinya baru menghampiri sang kakek.


"Kau lelah?" tanya Zhang Liong seolah-olah tidak tahu.


Zhang Fei tidak menjawab. Dia hanya diam dan menghela nafas.


"Kalau begitu, istirahat saja dulu. Setelah tenagamu pulih, baru kau datang lagi,"


"Baik, Kek," katanya menjawab dengan cepat.


Zhang Fei langsung bangkit berdiri. Ia segera berjalan ke pinggir sungai. Ia ingin meminum air pegunungan yang dingin dan menyegarkan itu.


Lewat beberapa waktu kemudian, setelah matahari hampir berada di atas kepala, anak muda itu telah kembali lagi.


Ia kembali sambil membawa satu guci arak yang baru saja diambil dari dalam gubuknya.


"Duduklah," kata Zhang Liong begitu ia sudah berada di hadapannya.


Zhang Fei langsung duduk. Ia membuka segel arak, lalu segera menenggaknya dua kali.


"Sudah berapa lama kau berada di sini dan berlatih di bawah bimbingannku?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Hari ini tepat dua tahun, Kek,"


"Bagus. Ternyata selain ilmu silatmu yang mengalami kemajuan, ingatanmu juga mengalami peningkatan," katanya seraya tertawa.


Ia menenggak arak. Lalu melanjutkan lagi bicaranya.


"Anak Fei ... kau tahu bahwa sekarang adalah saat yang tepat?"


Orang tua itu mulai bicara dengan nada serius. Sorot matanya bahkan tiba-tiba berubah menjadi tajam.


"Saat yang tepat untuk apa, Kek?" tanya Zhang Fei sambil memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.


"Saat yang tepat untuk kau turun gunung,"


Degg!!!


Detak jantung anak muda itu langsung berdebar keras. Keringat dingin tiba-tiba mengucur dari keningnya.


Saat yang tepat untuk turun gunung, bukankah itu artinya, sama saja dengan perpisahan? Kalau ia turun gunung, bukankah nanti, dirinya tidak bisa bertemu lagi dengan kakeknya ini?


Lama sekali ia terdiam. Tanpa sadar, raut kesedihan kuat terlukis di wajahnya yang tampan namun dingin itu.


"Kau bersedih?" tanya Zhang Liong lebih jauh lagi.


"Tidak, Kek," jawab anak muda itu menutupi perasaan yang sebenarnya.


Si kakek tua tersenyum. Walaupun dia tahu yang sebenarnya, tapi ia tidak mau menyinggung soal itu. Sebab menurutnya, masih ada hal yang jauh penting lagi.


"Sedih atau tidak sedih, siap atau tidak siap, kau harus tetap menerimanya. Di dunia ini, semuanya sudah diatur sedemikian rupa. Ada siang, ada malam. Ada hitam, ada putih. Begitu pula, ada pertemuan, pasti ada perpisahan,"


Dia berhenti sebentar. Setelah mengambil nafas, Zhang Liong kembali meneruskan.


"Tapi semua itu kembali kepada anggapan pribadi masing-masing. Mau siang atau malam, semuanya sama saja. Begitu juga dengan pertemuan dan perpisahan. Keduanya tidak terdapat banyak perbedaan. Walaupun kita sudah tidak bertemu lagi, tapi aku akan tetap selalu ada di sisimu, selama di hatimu masih mengingatku. Selama itu pula aku ada bersamamu. Begitu juga sebaliknya,"