Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Melawan Empat Orang Sekaligus


Sementara itu, terlihat juru bicara sedikit bingung dengan kejadian ini. Beberapa kali dia memandangi lima orang pendekar dan juga Kaisar.


Sampai sekian lama, dia belum juga mengeluarkan suara.


"Paman, lakukan apa yang dikatakan Dewa Arak Tanpa Bayangan!" kata Kaisar memberikan perintah.


"Baik, Kaisar. Kalau begitu, hamba akan melaksanakan perintah," jawab juru bicara tersebut sambil membungkukkan badan.


Dia kemudian maju ke tengah-tengah dan berdiri di antara orang-orang tersebut.


Sejak tadi, Zhang Fei tidak berbicara. Terhadap kejadian ini, dirinya tidak memberikan komentar apapun juga.


Pada dasarnya, ia memang sudah menduga bahwa peristiwa seperti ini akan terjadi. Maka dari itu Zhang Fei tidak terlalu terkejut.


"Tuan Muda Fei, apakah kau siap bertarung melawan mereka?" tanya juru bicara sambil melirik ke arah Zhang Fei.


"Ya, aku siap," jawabnya dengan tegas.


"Siapa yang akan Tuan Muda pilih untuk menjadi lawan pertama?"


Zhang Fei memandangi calon lawannya secara bergiliran. Ia menatap mereka lekat-lekat.


"Aku ingin melawan empat orang itu sekaligus," katanya sambil menunjuk ke arah empat orang pria berusia lima puluh tahunan tadi.


"Tuan Muda Fei, kau serius?" tanya juru bicara terlihat sedikit kaget dengan jawaban Zhang Fei.


"Ya, aku serius,"


"Turuti saja apa maunya. Jangan banyak membantah," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan kepada juru bicara.


"Baiklah, aku mengerti,"


Juru bicara itu tidak lagi banyak komentar. Dia langsung memanggil empat pendekar yang dimaksud oleh Zhang Fei.


Keempatnya segera maju ke tengah-tengah arena. Walaupun belum ada yang berbicara, namun siapa pun bisa melihat dengan jelas bahwa mereka merasa kesal kepada Zhang Fei.


Menurutnya, Zhang Fei itu terlalu sombong. Ia terlampau memandang tinggi diri sendiri, dan sangat mudah sekali memandang rendah orang lain.


"Tuan Muda, apakah kau serius ingin melawan kami secara bersamaan?" tanya salah satu dari mereka.


"Ya, aku serius. Kenapa tidak?" Zhang Fei bertanya balik sambil mengangkat kedua alisnya.


"Apakah kau tidak sedang menyombongkan diri?" tanya yang lain.


"Itu tergantung bagaimana tanggapan kalian saja. Dianggap sombong atau tidak, aku sama sekali tidak memperdulikannya,"


Orang yang berbicara langsung menarik muka. Ternyata bocah ini benar-benar menyebalkan, pikir orang tersebut.


Sementara itu, kini Kaisar dan Empat Datuk Dunia Persilatan sudah mundur. Mereka berdiri di sisi arena pertarungan sambil memandangi lima orang di sana.


Perlu diingat, salah satu alasan kenapa Zhang Fei menantang mereka sekaligus, pada dasarnya memang sedang menyombongkan diri.


Akan tetapi dibalik kesombongan tersebut ada maksud yang lain.


Zhang Fei ingin menyadarkan mereka dari kesombongannya masing-masing. Selain itu, dia pun ingin menunjukkan kepada yang lain bahwa dirinya sudah cukup layak untuk menjadi Ketua Dunia Persilatan.


Lagi pula, dia melakukan ini supaya tidak ada tuduhan-tuduhan tertentu yang mungkin akan muncul di kemudian hari.


"Apakah kalian semua sudah siap?" tanya juru bicara.


"Ya, aku siap,"


"Kami juga siap,"


"Baiklah. Mulai!"


Juru bicara langsung melompat mundur ke belakang. Dia ikut berdiri bersama yang lainnya.


Namun keadaan di tengah-tengah arena masih hening. Mereka yang akan terlibat dalam pertarungan, belum ada satu pun yang menyerang.


Kedua belah pihak itu saat ini sedang saling pandang satu sama lain.


Menurut Zhang Fei, empat orang tersebut setidaknya merupakan pendekar kelas satu. Tetapi bukan berarti dia tidak sanggup mengalahkannya.


Justru karena yakin mampu menghadapinya, maka Zhang Fei berani menantang mereka sekaligus.


"Apakah kita akan bertarung menggunakan senjata?" tanyanya.


"Aku ikut mau kalian saja," jawab Zhang Fei dengan acuh.


"Baiklah. Kalau begitu, cabut senjatamu sekarang juga,"


"Senjataku akan keluar ketika waktunya tiba,"


"Cih! Sombong sekali!"


Sringg!!!


Orang itu langsung mencabut golok miliknya yang disimpan di pinggang. Setelah itu dirinya melompat ke depan sambil memberikan bacokan golok dari dua sisi.


Belum lagi serangannya tiba, satu orang lainnya langsung turun tangan memberikan bantuan.


Ruyung perak bertebaran di tengah udara. Cahaya putih keperakan itu datang menggulung seperti banjir bandang.


Dua macam jurus dengan senjata berbeda, kini sedang menuju ke arah Zhang Fei. Sebagai pendekar kelas satu, tentu saja serangan mereka tidak bisa dipandang ringan.


Akan tetapi sampai detik ini, Zhang Fei masih belum juga mengambil tindakan. Dia justru masih berdiri dengan tenang di tempatnya.


Semua orang yang melihat sikapnya itu menahan nafas. Mereka yang tidak suka, langsung berdoa supaya Zhang Fei tewas seketika.


Wutt!!!


Sekelebat bayangan manusia tiba-tiba meluncur bagaikan kilat. Suara benturan nyaring yang pertama langsung terdengar begitu keras.


Dua orang pendekar kelas satu yang tadi menyerang, tahu-tahu sudah terdorong mundur ke tempatnya semula. Wajah mereka menggambarkan kekagetan karena tidak bisa melihat dengan cara bagaimana Zhang Fei mampu menangkis jurusnya.


Kejadian barusan berjalan dengan cepat. Kecuali para tokoh kelas atas, rasanya tidak ada orang lagi yang mampu menyaksikannya secara jelas.


"Mengapa kalian diam saja? Apakah kalian takut?" orang yang tadi menyerang bertanya kepada dua pendekar lainnya.


Dia sangat marah ketika melihat mereka masih tetap berdiri seperti orang bodoh.


"Siapa bilang kami takut?"


"Kalau tidak takut, mengapa hanya diam saja? Ayo bantu kami,"


"Baik, kita akan menyerang bersamaan,"


Keempatnya langsung melakukan persiapan. Dengan senjata dan jurus masing-masing, mereka segera menerjang ke depan.


Zhang Fei tersenyum dingin. Dia menghadapi dan menangkis setiap serangan menggunakan sarung pedangnya.


Dia sengaja belum mengeluarkan Pedang Raja Dewa. Hitung-hitung menunjukkan setinggi apa kemampuannya kepada mereka berempat.


Arena pertarungan tersebut kembali menjadi ajang pertempuran seru. Empat pendekar kelas satu sedang berusaha mengalahkan Zhang Fei.


Karena waktunya terbatas, pada akhirnya mereka segera mengeluarkan jurus-jurus pamungkas secepatnya.


Akan tetapi sayang sekali, usaha itu tidak membuahkan hasil sesuai dengan harapan.


Walaupun digempur tanpa waktu jeda, namun Zhang Fei tetap terlihat tenang. Sesekali dia memberikan serangan balasan kepada lawan menggunakan telapak tangan kirinya.


Ketika pertarungan itu mencapai jurus kedua puluh tiga, pada saat itulah Pedang Raja Dewa tiba-tiba keluar dari sarungnya.


Sringg!!! Clangg!!!


Bayangan pedang bergerak sangat cepat. Dalam beberapa kali gebrakan saja, masing-masing senjata yang digenggam lawannya telah berhasil dipatahkan menjadi dua bagian.


Wajah mereka seketika pucat pasi. Keringat dingin mengucur deras membasahi pakaiannya.


Saat ini Zhang Fei sedang berdiri di hadapan mereka. Pedang Raja Dewa dijulurkan ke depan memberikan ancaman maut.


"Apakah masih belum cukup?" tanyanya dengan nada dingin.


"Tidak, Tuan Muda. Tidak. Kami ... kami menyerah,"


Mereka kemudian menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Zhang Fei. Sekarang di dalam hatinya, orang-orang tersebut sudah sadar bahwa Zhang Fei memang layak menjadi Ketua Dunia Persilatan.


"Baik. Kembalilah ke tempat kalian," katanya tegas.