
Begitu seruan Dewa Arak Tanpa Bayangan keluar, pada saat yang bersamaan si Pedang Bayangan sudah melancarkan serangan pertamanya.
Orang itu mempunyai gerakan yang sangat cepat. Dalam waktu satu tarikan nafas saja ia telah berada di depan Zhang Fei.
Pedang miliknya menebas dari arah kanan. Tulang rusuk menjadi incaran utama.
Namun dengan mudah Zhang Fei menghindari serangan pertama tersebut.
Gagal dengan usaha awal, Wujian tidak patah semangat. Ia justru malah menambah tenaga dan kekuatannya. Jurus-jurus pedang yang selama ini diandalkan mulai digelar.
Pedang itu mendadak bergerak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Saking cepatnya, sampai-sampai pedang tersebut tidak terlihat bentuknya.
Namun Zhang Fei tetap berlaku tenang. Walaupun dirinya belum mencabut Pedang Raja Dewa, tapi buktinya saja dia selalu bisa menyelematkan diri.
Kedua kakinya bergeser ke sana kemari. Semua serangan Wujian tidak ada yang berhasil mengenai sasaran.
Ia menggertak gigi. Pedangnya kembali menyambar bagaikan kilat. Serbuan serangan itu membuat para pendekar lain terperangah. Dilihat dari kecepatan gerakan dan kehebatan jurus, rasanya Wujian sudah setara dengan pendekar pilih tanding.
Ketika pertarungan itu mulai memasuki jurus kelima belas, pada saat itulah Zhang Fei mulai berlaku serius. Pada saat dirinya mendapat kesempatan, ia langsung mencabut Pedang Raja Dewa dan melancarkan serangan balasan.
Ujung pedang bergetar hebat. Hawa pedang yang keluar dari senjata pusaka itu sempat membuat Wujian tertegun untuk sesaat. Gerakannya mendadak terhenti.
Peristiwa itu berlangsung sangat singkat. Namun bagi Zhang Fei, hal tersebut sudah lebih daripada cukup.
Wushh!!!
Kaki kanannya menjejak lantai. Sesaat kemudian ia sudah berada di tengah udara. Tusukan pedang datang secara beruntun. Wujian terlibat mulai kewalahan karena saking cepatnya tusukan tersebut.
Benturan antar dua batang pedang segera terjadi. Percikan api membumbung tinggi dan lenyap disapu angin.
Zhang Fei tidak memberikan waktu luang. Ia terus mencecar Wujian dengan jurus-jurus pedang terbaru miliknya.
Semua orang yang melihat aksi Ketua Dunia Persilatan itu segera menahan nafas. Mereka pun tidak berani berkedip. Seolah-olah mereka tidak mau kehilangan kesempatan yang sangat jarang ini.
Wushh!!! Wushh!!!
Pedang Zhang Fei terus berkilat dari kanan ke kiri. Sesekali dia pun melancarkan tendangan yang datangnya tidak pernah bisa diduga.
Karena pertarungan ini mempunyai waktu terbatas, mah tak mau dirinya harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Ketika mencapai dua puluh jurus, secara tiba-tiba Zhang Fei melakukan gerakan tak terduga. Ia memiringkan tubuhnya ketika tusukan pedang datang dari depan.
Tepat setelah itu, Pedang Raja Dewa langsung menepis pedang Wujian.
Trangg!!! Bukk!!!
Wujian terdorong beberapa langkah ke belakang ketika dadanya dihantam oleh telapak tangan. Ia merasa sesak untuk beberapa saat.
Begitu dirinya ingin kembali menyerang, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan berteriak lantang.
"Cukup!" katanya sambil melompat ke tengah arena. "Pertarungan ini sudah mencapai tiga puluh jurus. Dan kau gagal mengalahkan Ketua Fei," katanya kepada si Pedang Bayangan.
Dengan pemberitahuan itu, terpaksa Wujian menahan diri. Ia kemudian menyilangkan pedangnya di depan dada dan membungkukkan badan ke arah Zhang Fei.
"Terimakasih, Ketua Fei. Kemampuanmu benar-benar hebat. Kau memang pantas menjadi pemimpin," katanya dengan tulus.
"Terimakasih, Tuan Wujian," Zhang Fei berkata sambil membalas penghormatan itu.
Wujian segera mundur. Dia kemudian kembali ke bawah mimbar dan berdiri di tempatnya semula.
"Siapa lagi?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada empat orang yang lain.
"Aku," orang yang berkata itu adalah Shin Yu, si Pendekar Trisula Maut.
Ia berjalan dengan langkah tenang dan santai. Dirinya baru berhenti setelah berada di tempat yang disediakan.
"Ketua Fei, mohon berikan aku pelajaran,"
"Silahkan, Tuan Yu,"
Yang membedakan adalah orang yang memegangnya!
"Mulai!" kata Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Wutt!!!
Shin Yu tidak mau membuang waktu. Begitu pertarungan dimulai, dia langsung melesat ke depan dan melancarkan serangan pertamanya.
Tidak tanggung-tanggung, orang itu segera mengeluarkan jurus-jurus trisula yang hebat dan ganas. Trisula perak tersebut berputar-putar dengan cepat seperti kincir angin.
Deru angin yang dihasilkan dari setiap gerakannya juga cukup kencang. Pakaian Zhang Fei sampai dibuat berkibar karenanya.
Wungg!!! Wungg!!!
Tebasan dan tusukan datang secara bergantian. Jurus-jurus miliknya sangat hebat. Zhang Fei sendiri mengakui akan hal tersebut.
Setelah menyaksikan kehebatan lawan, sekarang giliran ia yang memberikan balasan.
"Pedang Penakluk Jagad!"
Wutt!!!
Jurus keenam digelar. Pedang Raja Dewa langsung bergerak cepat bagaikan kilat. Senjata itu dibenturkan dengan trisula lawan. Benturan nyaring terdengar. Shin Yu merasa pergelangan tangannya ngilu setelah terjadinya benturan tersebut.
Dalam hal kecepatan bergerak, bisa dibilang Shin Yu hampir menyamai Zhang Fei. Tapi kalau membahas kekuatan dan keahlian, rasanya dia masih cukup jauh berada di bawah Zhang Fei.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan nyaring terdengar beberapa kali. Zhang Fei terus mendesak ke depan. Setelah beberapa jurus berusaha, akhirnya ia mendapat sesuai sesuai harapan.
Ujung Pedang Raja Dewa tahu-tahu sudah berada di depan dada. Zhang Fei segera menghentikan gerakannya. Begitu juga dengan Shin Yu.
Ia tersenyum kecut. Hatinya sangat kaget.
"Terimakasih karena telah bermurah hati, Ketua Fei," ia menjura dan segera kembali ke bawah mimbar.
Pertandingan mereka berakhir dalam waktu dua puluh delapan jurus. Shin Yu bernafas lega karena Zhang Fei tidak meneruskan gerakannya.
Andai saja Ketua Dunia Persilatan tidak berhenti, niscaya dadanya sudah ditembusi oleh Pedang Raja Dewa!
Pertarungan kedua sudah selesai digelar. Dan pemenangnya masih Zhang Fei.
Sepanjang pertarungan tersebut, tiga pendekar penantang lainnya terus memperhatikan ke tengah arena. Mereka tidak menyangka, ternyata Ketua Dunia Persilatan mempunyai kemampuan yang benar-benar tinggi.
"Siapa lagi?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali.
Pendekar Kipas Terbang tiba-tiba berdiri. Dia berjalan ke tengah arena dengan tenang. Begitu sampai di hadapan Zhang Fei, dirinya berkata, "Ketua, aku rasa ini tidak adil,"
"Maksud, Tuan?"
"Kalau lawannya hanya satu-persatu, aku yakin Ketua pasti akan menang. Ini terlalu mudah bagimu, dan sulit bagi yang lain. Tidak, ini tidak ada sama sekali," ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Sementara di sisi lain, Pendekar Pedang Perpisahan kembali merasakan amarahnya meluap. Sejak awal, orang yang satu ini selalu saja mencari perkara.
Ia benar-benar berusaha untuk membuat suasana semakin keruh.
"Keparat! Jangan banyak bicara," bentaknya lantang. "Kalau kau berani, mari kita berduel sampai ada yang mampus,"
"Hemm ..." Pendekar Kipas Terbang mendengus sambil tersenyum dingin. "Aku tidak ada urusan apapun denganmu. Aku harap kau tidak ikut campur, Tuan,"
"Bedebah!" Datuk sesat itu siap bangkit berdiri. Dia sudah siap untuk mencabut pedangnya. Namun lagi-lagi, Zhang Fei menahan langkah tersebut.
"Tahan, Tuan Wu," ujarnya seraya mengangkat tangan.
Meskipun dirinya juga kesal, tapi Zhang Fei harus tetap bersikap sabar dan dewasa. Hal ini bertujuan supaya orang-orang tidak memberikan penilaian buruk kepadanya.