
Keempat pendekar kelas satu itu bangkit berdiri. Mereka sempat memberikan hormat sekali lagi sebelum kembali ke tempatnya semula.
Namun baru saja orang-orang itu berjalan beberapa langkah dan juru bicara juga belum ke tengah arena, tiba-tiba satu sosok manusia sudah meluncur cepat ke arah Zhang Fei.
Tanpa berkata sepatah pun, orang itu langsung melancarkan serangan beruntun menggunakan kedua tangannya.
Pada saat kejadian berlangsung, Zhang Fei sedang berada di posisi kurang siap. Sehingga ia sempat kerepotan menghadapi serangan mendadak tersebut.
Untunglah hal itu hanya berjalan beberapa kejap saja. Pada detik berikutnya Zhang Fei mulai mendapatkan kembali posisinya.
Dua pasang tangan bertemu di tengah udara. Suara nyaring akibat benturan tulang terdengar jelas di telinga.
Setelah diamati lebih jauh, orang yang tiba-tiba menyerang itu ternyata adalah Pendekar Berwajah Dingin. Setiap serangannya tadi sangat berbahaya.
Tujuannya seperti bukan hanya menguji, melainkan juga membunuh.
Zhang Fei sangat menyadari akan hal tersebut. Namun dia memilih untuk tidak banyak berkomentar.
"Keparat! Apa-apaan tua bangka itu," Pendekar Tombak Angin marah melihat sikap Pendekar Berwajah Dingin.
Saat itu dia berniat untuk memberikan pelajaran kepadanya. Namun Orang Tua Aneh Tionggoan segera menahan langkahnya.
"Tenanglah, anak Fei pasti bisa menghadapinya,
"Tapi ..."
"Tuan Cao, diam di tempatmu!" kata Kaisar dengan tegas.
"Baik, Kaisar," Pendekar Tombak Angin tidak bisa membantah lagi. Dia segera kembali ke posisinya.
Sementara itu di tengah arena pertarungan, saat ini adu jurus di antara Zhang Fei dan Pendekar Berwajah Dingin sudah berhenti. Orang tua tersebut mengambil langkah mundur setelah menyadari bahwa Zhang Fei bukan lawan yang mudah untuk ditundukkan.
"Mengapa Tuan sangat terburu-buru sekali?" tanya Zhang Fei sekedar basa-basi.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin menguji dirimu saja. Ternyata meskipun dalam kondisi tidak waspada, kau sudah mempunyai refleks instan secara alami," jawab Pendekar Berwajah Dingin sambil tersenyum.
"Ah, itu hanya kebetulan saja,"
"Oh, benarkah?"
"Tentu saja,"
"Bagaimana kalau kita bertarung sekarang?"
"Setuju,"
Pendekar Berwajah Dingin mengangguk. Keduanya terlihat sangat akrab sekali. Padahal yang sebenarnya justru tidak demikian.
Orang tua itu lalu mencabut sebatang pisau sepanjang dua jengkal. Pisau tersebut sangat tajam, seluruh batangnya berkilat ketika terkena tempaan sinar matahari.
Dari seluruh bagian pisau, Zhang Fei bisa merasakan adanya hawa sesat yang menyorot keluar sangat pekat. Dalam hati, dia mulai merasa curiga.
Akan tetapi karena tidak mau memperkeruh suasana, Zhang Fei memilih untuk tetap diam.
"Lihat serangan!"
Pendekar Berwajah Dingin berseru keras. Bersamaan dengan itu dia langsung menerjang ke depan. Pisau belati ditanganinya bergerak-gerak memberikan tebasan dan tusukan.
Jurus yang dia mainkan sudah setara dengan jurus tingkat tinggi. Dalam setiap gerakannya terkandung banyak gerakan aneh dan tipuan yang sulit ditebak.
Benturan antara pedang dan pisau selalu terjadi setiap saat. Pertarungan itu berlangsung lebih sengit daripada tadi. Zhang Fei dipaksa untuk bertahan oleh Pendekar Berwajah Dingin.
Namun anak muda itu tidak mau mengalah. Setiap kali lawan berusaha memojokkan dirinya, dia selalu menyerang balik dengan jurus-jurus pedang andalannya.
Trangg!!!
Benturan yang paling keras terdengar. Pedang dan pisau terlihat saling menempel satu sama lain.
Dua pasang mata saling tatap untuk sesaat. Dalam tatapan itu seolah-olah ada percikan api yang tak kasat mata.
Ketika Zhang Fei sedang berfokus untuk mempertahankan diri, dengan gerakan yang sangat cepat dan tiba-tiba, Pendekar Berwajah Dingin mencabut keluar sebatang pisau yang lebih pendek dari balik bajunya.
Sringg!!!
Pisau berkelebat. Orang tua itu berniat untuk menebas perut Zhang Fei. Dengan jarak yang sangat dekat, tentu kesempatan menghindar sudah tidak ada lagi.
Namun Zhang Fei bukan orang lain. Pada detik-detik penentuan tersebut, tiba-tiba ia juga mencabut sarung pedang dan menangkis tebasan pisau.
Setelah berhasil menggagalkan serangan, Zhang Fei segera mendorong Pendekar Berwajah Dingin dengan tenaga saktinya.
Orang tua itu terdorong tiga langkah.
Sebenarnya saat itu adalah waktu yang tepat untuk menyerang balik. Tetapi Zhang Fei tidak mau melakukannya. Sepasang matanya kini terfokus kepada sebuah benda yahh tergelatak di tanah.
Benda itu milik Pendekar Berwajah Dingin. Sepertinya orang tua tersebut tidak sengaja mengeluarkannya ketika tadi mencabut pisau yang lain.
"Apa itu?" Zhang Fei mengerutkan kening.
Pendekar Berwajah Dingin terkejut ketika menyadarinya. Tetapi saat hendak mengambil, Zhang Fei sudah mendahuluinya.
Rupanya benda yang jatuh tersebut adakah sebuah lencana.
Lencana Partai Panji Hitam!
"Bagus, jadi ... kau adalah bagian dari partai sesat itu?" tanya Zhang Fei kepada Pendekar Berwajah Dingin.
Nadanya hambar. Namun tatapan matanya sangat menusuk.
"Tidak, Tuan Muda. Itu ... itu adalah lencana yang aku temukan saat perjalanan kemari," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Bohong!" bentak Zhang Fei. "Pantas saja kau menyerang begitu beringas, ternyata adalah mata-mata," ucapnya sambil tersenyum dingin.
Sekarang Zhang Fei tahu alasan mengapa Pendekar Berwajah Dingin menyerangnya dengan maksud membunuh. Ternyata memang itu adalah tujuannya.
Rupanya ia merupakan mata-mata yang dikirim oleh Partai Panji Hitam!
Suasana di sana langsung hening. Semua orang terkejut dengan kejadian diluar dugaan ini.
"Semuanya tenang! Tuan Muda Fei pasti bisa membereskannya," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada semua orang.
Dia tahu, para tokoh dunia persilatan yang hadir, sekarang merasa marah dan ingin menghajar Pendekar Berwajah Dingin.
Karena itulah dirinya mengatakan demikian supaya mencegah kekacauan yang mungkin akan terjadi.
"Seorang mata-mata, tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi. Kau telah melakukan kesalahan besar, orang tua," kata Zhang Fei bicara lagi.
"Tuan Muda, ini ... ini salah paham. Percayalah,"
"Tutup mulutmu!" kata Zhang Fei membentak.
Dia kemudian menyalurkan tenaga sakti ke seluruh tubuh. Setelah siap Zhang Fei langsung mengeluarkan jurusnya.
"Murka Pedang Dewa!"
Wutt!!! Wungg!!!
Dia menyerang cepat. Hawa pedang menyeruak, kilatan cahaya putih keperakan segera menerjang ke arah Pendekar Berwajah Dingin.
Tebasan pedang Zhang Fei mengandung tenaga luar biasa. Orang tua itu selalu terdorong mundur setiap kali pisaunya berbenturan dengan senjata lawan.
Tidak hanya itu saja, bahkan dirinya juga selalu merasa ngilu karenanya.
Zhang Fei terlihat seperti harimau yang terluka. Dia menyerang dengan kalap tanpa memberikan sedikit pun waktu jeda.
Pertarungan segera berlangsung sengit. Akan tetapi karena Pendekar Berwajah Dingin sudah kehabisan tenaga dan pikirannya kacau, maka ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Sekitar lima belas jurus kemudian, Pedang Raja Dewa tahu-tahu sudah menusuk tenggorokannya sampai tembus ke belakang!
"Ini adalah kematian yang pantas bagi orang sepertimu," ucap Zhang Fei sambil mencabut paksa pedangnya.
Brugg!!!
Pendekar Berwajah Dingin melotot sebentar sebelum tubuhnya jatuh berdebum di atas tanah. Darah segar segera membanjiri seluruh tubuhnya.
"Yeayy!"
"Hebat,"
"Akhirnya pengkhianat itu mampus,"
"Tuan Muda Fei hebat,"
Teriakan demi teriakan dari orang-orang yang hadir terdengar meriah. Mereka gembira karena pengkhianat sekaligus mata-mata itu kini telah tewas.