
Dua belas orang tersebut langsung menyerang ke arah Zhang Fei secara bersamaan. Begitu jaraknya sudah dekat, dua pria tua dari mereka seketika berbelok arah.
Mereka menyerang ke arah Yan Zi. Untung orang tua itu sudah siap, sehingga melihat ada serangan yang datang secara tiba-tiba, dirinya langsung mencabut pedang yang tersoren di pinggangnya.
Tanpa berlama-lama lagi, Yan Zi langsung meladeni keduanya. Pertempuran seketika terjadi. Wakil Ketua Perguruan Kera Sakti tersebut memainkan pedngnya dengan gerakan cepat.
Tetapi dua orang pria yang ia lawan juga bukan pendekar sembarangan. Dengan golok di tangan, mereka langsung menyerbu dari arah kanan dan kiri.
Benturan antara pedang dan golok mulai terjadi. Yan Zi mencoba untuk mengimbangi keduanya dengan jurus-jurus khas dari Perguruan Kera Sakti.
Tidak bisa dipungkiri, walaupun itu hanya perguruan kecil, tetapi jurus-jurusnya justru terlihat hebat. Tidak kalah dari perguruan besar yang lainnya.
Menghadapi dua orang itu, Yan Zi tidak merasa gentar. Ia berputar-putar di antara dua batang golok yang terus-menerus mengincar setiap inci bagian tubuhnya.
Ketika pertarungan sedang berlangsung sengit, dia melihat bahwa Ouw Yang Pek berniat melarikan diri. Karena tidak mau kehilangan jejak murid murtad itu, Yan Zi langsung mengambil tindakan.
Trangg!!!
Dia membenturkan pedangnya dengan golok lawan. Begitu kedua pria itu terpental, dengan segera Yan Zi melompat ke arah Ouw Yang Pek.
"Kau tidak akan bisa pergi dari sini, murid durhaka," katanya sambil berhenti tepat di hadapan anak muda itu.
Ouw Yang Pek terpaksa menghentikan langkah. Dalam waktu yang bersamaan, dia pun merasa terkejut karena ternyata niatnya telah diketahui lebih dulu.
"Kau harus mempertanggungjawabkan semuanya, Ouw Yang Pek," ujar Yan Zi dengan nada dalam.
Matanya menatap lekat ke arah anak muda itu. Ditatap demikian, tentu saja Ouw Yang Pek merasa jeri juga.
Meskipun kemampuannya lumayan tinggi, namun dia cukup sadar bahwa dirinya tidak akan sanggup mengalahkan Yan Zi.
Alasan kenapa dia bisa membunuh Ketua Perguruan Kera Sakti pun adalah karena sebelumnya, Ouw Yang Pek telah meracuni dulu orang tua itu.
Kalau tidak demikian, niscaya ia tak akan sanggup untuk melakukannya.
"Anak muda ini ada di pihak kami. Kau tidak bisa berbuat seenaknya," salah seorang pria yang tadi sempat bertarung dengannya, tiba-tiba muncul di sisi Ouw Yang Pek.
Melihat kedatangan mereka, anak muda itu langsung berseri. Wajahnya tidak lagi menggambarkan rasa takut. Perasaannya juga tidak tegang.
Dalam hati, dia percaya bahwa dengan jumlahnya yang lebih banyak, ia pasti bisa mengalahkan Yan Zi.
"Tua bangka itu memang sudah pantas untuk mati. Mengapa juga kau mempermasalahkannya?" tanya Ouw Yang Pek dengan nada sombong.
Yang dimaksud tua bangka itu, tentu saja adalah Ketua Perguruan Kera Sakti. Gurunya sendiri.
"Dasar murid murtad! Hari ini, aku pastikan kau bakal tewas untuk menebus semua dosa-dosamu," Yan Zi merasakan amarahnya sudah naik sampai ke ubun-ubun.
Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tangan kanannya memegang pedang lebih erat dari sebelumnya.
"Kera Sakti Menari di Tengah Hujan!"
Wutt!!!
Dia menyerang lebih dulu. Jurus pedang pamungkas dari perguruannya sudah digelar. Yan Zi bergerak dengan lincah. Gerakannya persis seperti seekor kera yang sedang menari-nari.
Pedang di tangannya juga ikut menari. Kalau saja dia tidak menggenggam pedang, niscaya tariannya itu akan terlihat lebih indah dan memukau.
Sayang sekali, kenyatannya yang dia genggam adalah pedang. Sehingga keindahan tersebut harus berubah menjadi kengerian.
Percikan bunga pedang terus bertebaran. Tiga orang di hadapannya tidak berani bertindak gegabah. Beberapa kali mereka melompat ke sana kemari untuk menghindari serangan tersebut.
Cahaya putih kemilau yang menyilaukan mata, mulai memburu ke arah mereka.
Wushh!!! Wushh!!!
Yang satu melompat tinggi ke atas sana. Yang satu lagi melesat ke arah berlawanan.
Dalam waktu yang bersamaan, keduanya segera menyiapkan serangan balasan dari dua arah berbeda.
Di sisi lain, Ouw Yang Pek juga telah siap. Meskipun dia tidak akan mampu membunuh Yan Zi, tapi dia percaya dirinya bisa sedikit memberikan bantuan.
Wutt!!!
Tiga orang menyerang bersama. Situasi langsung berbalik. Yan Zi terlihat kewalahan menghadapi mereka yang datang secara serempak itu.
Berbagai macam gerak serangan dikeluarkan dengan cepat. Posisi Yan Zi semakin terdesak. Ketika pertarungan sudah mencapai lima belas jurus, sebuah bacokan golok telah terlukis di punggungnya.
Dia berseru tertahan sambil melompat mundur. Tangan kirinya meraba punggung, ternyata punggungnya sudah basah.
Tetapi bukan basah karena keringat. Melainkan basah karena darah!
Raut wajah Yan Zi memperlihatkan rasa sakit. Tetapi dia mencoba untuk tetap menahannya. Orang tua itu menyalurkan tenaga dalam dan hawa murni untuk menutupi luka tersebut.
Meskipun tidak sepenuhnya tertutup, namun hal itu sudah cukup untuk mengurangi pendarahan yang dialami olehnya.
Sementara itu, tiga orang di hadapannya terlihat tersenyum girang saat mengetahui bahwa dia telah terluka.
"Tua bangka, lebih baik kau menyerah saja. Kalau tidak, aku pastikan kau akan pergi ke neraka hari ini juga," kata Ouw Yang Pek sedikit meniru ucapan Yan Zi.
"Omong kosong! Luka-luka ini tidak akan menghambat niatku untuk membunuhmu," bentaknya dengan nada tinggi.
Wutt!!!
Dia menerjang ke depan. Jurus Kera Sakti Menari di Tengah Hujan kembali dikeluarkan. Jurus itu masih terlihat dahsyat. Tetapi sayangnya, kedahsyatannya tersebut sudah berkurang cukup jauh.
Dua orang pria tadi semakin tertawa senang. Dengan segera mereka menyambut dan menangkis setiap gerakan pedangnya.
Pertempuran orang-orang itu sudah mulai mencapai batas akhir. Posisi Yan Zi makin lama semakin terdesak hebat. Dia tidak bisa lagi memberikan serangan beruntun.
Yang mampu dilakukannya saat ini hanya bertahan dari setiap serangan yang datang.
'Aku harus bertahan. Aku tidak boleh mati sekarang. Aku ... aku harus membalaskan kematian Ketua,' batinnya berkata sambil mencoba menguatkan diri.
Yan Zi yang pada saat itu sedang berada dalam keadaan berlutut, segera bangkit dengan menopang pedangnya. Luka-luka di beberapa bagian tubuh, tidak dia rasakan.
Tatapan matanya berkilat. Ia menatap lawan dengan buas.
"Hiatt!!!"
Ia berteriak nyaring sambil memberikan serangan terakhir.
"Hati-hati. Dia mulai tidak bisa mengontrol dirinya," kata salah satu pria tua.
Baru saja selesai memberi peringatan, tiba-tiba sebatang pedang sudah ada di depan mata. Pedang tersebut langsung menebas tubuhnya.
Srett!!!
Darah segar memercik ke tengah udara. Pria tadi kaget bercampur ngeri, rupanya ujung pedang Yan Zi berhasil merobek bagian dadanya.
Meskipun mengalami luka, tapi hal itu masih bisa dibilang lebih baik. Andai saja dia tidak sempat mundur, mungkin saat ini nyawanya telah melayang pergi.