
"Bicara dengan manusia iblis semacam kalian, untuk apa pula aku harus memakai sopan santun segala?"
Sebenarnya Zhang Fei adalah anak muda yang tahu akan tatakrama sopan santun. Hanya saja, hal tersebut akan dia tunjukkan apabila dirinya berhadapan dengan orang yang memang pantas untuk dihormati.
Lalu terkait empat orang ini, menurutnya mereka sama sekali tidak pantas untuk dihormati. Manusia-manusia semacam itu sudah seharusnya dibunuh supaya tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi. Terutama sekali di negerinya sendiri.
"Tutup mulutmu anak muda!" pendekar dunia persilatan yang berdiri di paling ujung tiba-tiba bicara dengan tinggi. Bahkan dia pun menunjuk ke arah Zhang Fei.
"Semakin lama mendengar ocehanmu, semakin besar juga niatku untuk mencabut nyawamu. Sekarang, kalau memang punya nyali, ayo kita bertarung. Kalau aku, si Pendekar Trisula Merah tidak mampu membunuhmu, maka lebih baik mati di ujung pedangmu,"
Orang yang mengaku berjuluk si Pendekar Trisula Merah itu tiba-tiba melompat ke tengah halaman. Dia kemudian mencabut trisula yang menjadi senjata andalannya.
Trisula itu mirip dengan trisula pada umumnya. Mulai dari ukuran sampai bentuk, semuanya hampir sama.
Yang membedakannya adalah warna. Seluruh batang trisula berwarna hitam pekat. Sedangkan mata trisulanya berwarna merah.
Sekarang, trisula itu sudah diacungkan di depan dada. Hawa senjata tiba-tiba keluar dan menekan tempat sekitar.
"Kau tahu, mengapa mata trisula ini berwarna merah?"
"Tidak," jawab Zhang Fei acuh tak acuh.
"Ketahuilah, awalnya mata trisula ini juga berwarna hitam. Tapi karena aku sudah terlalu banyak membunuh nyawa manusia, maka secara perlahan warnanya mulai berubah,"
"Jadi, warna merah itu disebabkan karena darah para manusia yang kau bunuh?"
"Bisa dibilang begitu," jawab Pendekar Trisula Merah sambil mengelus-elus senjatanya penuh kasih sayang.
"Oh, baiklah. Aku mengerti," ucap Zhang Fei. "Kalau begitu, aku akak membuat warnanya menjadi lebih merah dengan tambahan darahmu sendiri," lanjutnya sambil tersenyum mengejek.
"Anak setan. Terima ini!"
Wushh!!!
Pendekar Trisula Merah membentak nyaring sambil menerjang ke depan. Dia melancarkan tebasan dan tusukan dengan gerakan cepat.
Trisula itu mengeluarkan bunyi nyaring. Angin yang ditimbulkan dari gerakannya membawa hawa dingin menusuk kulit.
Zhang Fei tidak langsung membalas serangan lawan. Untuk beberapa jurus dia cuma menghindar atau menangkisnya saja.
Hal itu bertujuan karena Zhang Fei ingin lebih dulu mengetahui bagaimana gaya bertarung lawannya tersebut. Meskipun di awal dia terlihat seperti terdesak hebat, namun ke depannya, Zhang Fei justru bisa mengembalikan keadaan dengan mudah.
Tentu saja, sebab dia sudah mengetahui lebih dulu bagaimana gaya pertarungannya.
Semakin lama mereka bertarung, Pendekar Trisula Merah semakin merasa marah. Dia menganggap Zhang Fei sedang mempermainkannya karena sejak awal ia tidak pernah memberikan serangan balasan.
"Bocah, kalau kau tidak bisa memberikan serangan balasan, bilang saja. Lebih baik menyerah sekarang juga," katanya sambil terus melanjutkan serangan.
"Siapa bilang? Aku justru bisa dengan mudah membalas semua seranganmu," jawab Zhang Fei meremehkan.
"Benarkah? Bagaimana dengan ini?"
Wutt!!!
Tiba-tiba dia mengubah gaya pertarungannya. Trisula merah itu berkelebat secepat kilat. Seluruh tubuh Zhang Fei menjadi sasaran. Setiap saat ujungnya siap menembus kulit.
Menyadari lawan telah terpancing emosi dan mengeluarkan seluruh kemampuannya, pada saat itulah tiba-tiba Zhang Fei melancarkan serangan balasan menggunakan salah satu jurus andalannya.
"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"
Wutt!!!
Hawa pedang membalas tekanan lawan. Deru angin kencang mulai memburu ke arah Pendekar Trisula Merah.
Zhang Fei mengirimkan tebasan dengan pedangnya dari arah kanan. Serangan itu mengincar dada. Kalau sampai terkena, niscaya pendekar sesat tersebut akan langsung tewas.
Wushh!!!
Ia menarik tubuhnya ke belakang. Tebasan barusan lewat begitu saja. Pendekar Trisula Merah berniat untuk mengirimkan serangan balasan.
Tapi sayangnya dia telah terlambat. Karena pada saat itu Zhang Fei sudah lebih dulu mencecarnya dengan gempuran tebasan dan tusukan yang datang dari segala penjuru mata angin.
Dalam waktu sesaat saja, posisi Pendekar Trisula Merah menjadi berada di bawah angin. Apa yang sebelumnya diucapkan oleh Zhang Fei, ternyata benar-benar bisa dibuktikan.
Ia terdesak hebat oleh serangan yang tidak pernah berhenti itu.
Melihat kondisinya yang semakin mengkhawatirkan, Jenderal Gu bersama dua orang lainnya tidak diam saja. Mereka segera melompat ke tengah arena dan langsung menyerang Zhang Fei secara serempak.
"Bagus. Seharusnya sejak tadi kalian sudah turun tangan," kata anak muda itu sambil tersenyum dingin.
Walaupun dia sedang dikeroyok oleh tiga orang, tapi Zhang Fei tidak merasa jeri sedikit pun. Dia justru senang, karena kalau keempatnya maju bersama, dia mempunyai kesempatan untuk membunuh mereka sekaligus.
Pertarungan kembali berlangsung seru. Rupanya Jenderal Gu juga mengerti tentang ilmu bela diri. Buktinya saja saat ini dia telah bertarung menggunakan golok sebagai senjata utamanya.
Ilmu golok yang dia keluarkan juga tidak main-main. Setiap gerakan jurusnya terbilang hebat dan mematikan. Terutama sekali dalam jurus-jurus tersebut terdapat banyak tipuan yang dapat mengecoh lawan.
Sedangkan dua orang rekan Jenderal Gu, sekarang mereka pun sedang ikut serta mencecar Zhang Fei dari dua arah berbeda.
Yang satu orang menyerang dengan tongkatnya, satu orang lain menyerang dengan kapaknya.
Tiga orang itu bersatu demi bisa melumpuhkan pendekar muda tersebut.
Malam semakin larut. Rembulan pun telah melewati kepala. Saat ini sudah masuk kentongan kedua. Pertarungan di tengah halaman itu masih berlanjut.
Rupanya empat orang itu bukan manusia sembarangan. Kemampuan mereka memang lumayan tinggi. Menurut anggapan Zhang Fei, Jenderal Gu dan tiga orang rekannya masuk dalam jajaran pendekar kelas satu.
Untungnya, sekarang Zhang Fei sudah cukup banyak pengalaman. Sehingga dia bisa membaca situasi dengan cepat.
Setelah pertarungan di antara mereka lewat dari tiga puluh jurus, Zhang Fei segera mengeluarkan jurus yang lebih hebat lagi.
"Pedang Penakluk Jagad!"
Wutt!!!
Jurus dahsyat itu kembali digelar olehnya. Pedang Dewa Raja langsung berkelebat cepat menangkis serangan lawan.
Trangg!!!
Benturan terjadi. Pendekar yang menggunakan senjata tongkat, merasa tangannya pegal ketika senjata pusaka miliknya beradu dengan pedang milik Zhang Fei.
Setelah berhasil menghalau satu jurus, anak muda itu kembali menangkis serangan lain. Golok milik Jenderal Gu yang pada saat itu siap membelah kepalanya, tiba-tiba berhenti di tengah udara.
Benturan keras terjadi untuk kedua kalinya. Jenderal Gu kemudian melompat mundur. Dia kaget saat merasakan getaran tenaga dalam dari Zhang Fei.
Begitu melihat ke batang golok, ternyata mata goloknya sedikit gompal.
"Rupanya pedang yang digunakan oleh bocah keparat ini merupakan senjata mustika," gumamnya perlahan.
Mengetahui hal tersebut, untuk sejenak dirinya menghentikan pertarungan. Dia menjadi ragu. Rasanya meskipun berusaha semaksimal mungkin, dia masih belum mampu membunuh Zhang Fei.