Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Rawa Iblis II


Ia masih mendarat di atas tanaman bunga teratai. Tapi sekarang keseimbangan tubuhnya mulai goyah. Entah itu karena panik, atau juga karena gelombang air.


Zhang Fei tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa sepuluh ekor buaya besar itu, saat ini sedang memburu ke arahnya.


"Kalau begini caranya, tidak ada jalan lain lagi kecuali membunuh mereka," katanya perlahan.


Bersamaan dengan ucapan tersebut, tangan kanannya sudah meraba pedang yang tersimpan di punggung. Ketika kawanan buaya tersebut hampir tiba, saat itulah Zhang Fei berseru nyaring sambil melompat ke depan.


Wutt!!!


Kilauan cahaya putih keperakan berpijar di tengah rawa. Tebasan pedang itu datang dengan sangat cepat. Sepuluh ekor biaya tidak menyangka terhadap serangan tersebut. Tak ayal lagi, dua dari sepuluh ekor telah termakan serangannya.


Darah segar langsung memenuhi seluruh rawa. Delapan ekor buaya yang tersisa tampak sangat marah ketika menyaksikan kematian rekannya.


Mereka semua bersama-sama menyerang Zhang Fei. Gigitan dan kibasan ekornya mendatangkan gelombang angin yang cukup besar.


Kalau lawannya orang biasa, dapat dipastikan sudah sejak tadi bakal tewas. Untunglah Zhang Fei bukan orang biasa. Ia adalah pendekar muda yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata.


Pedang Raja Dewa yang sudah berada di tangan kanannya itu kembali ditebaskan dari samping. Kilatan cahaya putih kembali tercipta. Angin yang dihasilkan dari gerakan tersebut terbilang besar sehingga menerbangkan bunga teratai yang tumbuh di atas rawa.


Belum hilang angin barusan, Zhang Fei kembali menyerang kelompok buaya tersebut. Kali ini bukan cuma satu kali, melainkan sampai tiga kali banyaknya.


Dalam tiga gerakan tersebut, ia telah berhasil membunuh semua buaya yang tersisa.


Air berlumpur yang tadinya berwarna hitam pekat, sekarang telah berubah menjadi merah gelap. Bau amis darah yang bercampur bau busuk tercium menusuk hidung.


Memanfaatkan jasad hewan buas itu, tiba-tiba Zhang Fei berlompatan dari satu buaya ke buaya yang lainnya. Gerakan yang dia lakukan sangat cepat. Sehingga tanpa sadar dirinya sudah berhasil melewati Rawa Iblis.


Tetapi, belum lagi ia bergerak, dari semak-semak yang ada di pinggirnya, tiba-tiba muncul dua ekor harimau dari sisi kanan dan kiri. Kedua hewan buas itu lebih besar daripada umumnya.


Lompatan mereka sangat jauh. Dua ekor harimau tersebut mengirimkan cakaran menggunakan dua kaki depannya.


Dalam keadaan terkejut, kembali Zhang Fei melakukan sebuah gerakan. Dia melompat ke depan untuk menghindari serangan tersebut. Setelah lolos dari maut, Pedang Raja Dewa bergetar.


Dua tebasan pedang dilancarkan hampir secara bersamaan. Dilanjutkan lagi dengan tusukan yang sangat cepat.


Meskipun kedua ekor harimau itu ganas dan berbahaya, tapi gerakan mereka terhitung lambat. Keduanya masih kalah cepat jika dibandingkan dengan Zhang Fei.


Maka dari itulah, dalam waktu sepuluh jurus saja dirinya sudah berhasil membunuh dua ekor raja hutan.


Semua kejadian tersebut berlangsung dengan singkat. Zhang Fei sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dia akan diserang oleh kawanan binatang buas.


"Pantas saja kalau ada yang sudah masuk ke Rawa Iblis tidak pernah kembali lagi. Ternyata ini alasan utamanya," gumam Zhang Fei sambil menghembuskan nafas lega.


Dengan keadaan semacam ini, rasanya siapa pun akan berada dalam bahaya. Kalau pun dia adalah pendekar kelas atas, sudah pasti dirinya akan mampus diserang kawanan buaya dan dua ekor harimau barusan.


Zhang Fei sendiri hampir saja menjadi santapan mereka. Untunglah dia sudah mempersiapkan diri dengan matang. Sehingga dirinya masih bisa selamat dari maut.


Disadari atau tidak, apabila sedang melakukan sesuatu, keyakinan dan kepercayaan diri itu memang sangat penting. Entah memang berpengaruh atau tidak, tapi tak jarang kedua hal itu bisa menyelamatkanmu dari bahaya.


Sekarang, Zhang Fei sudah merasa tenang lagi. Sebelum melanjutkan langkahnya, ia lebih dulu mempertajam indera pendengaran. Zhang Fei ingin memastikan kembali bahwa dirinya masih dapat mendengar percakapan tadi.


Wushh!!!


Tubuhnya melesat dengan cepat ke depan sana. Begitu tiba di depan rumpun bambu, Zhang Fei segera melihat dari celah yang ada.


Ternyata dugaannya memang tidak salah. Dibalik rumpun bambu tersebut ada sebuah bangunan kuno yang berukuran cukup besar.


Bangunan kuno itu meskipun sudah tua, tapi masih terlihat kokoh. Keangkeran juga bisa dirasakan dengan jelas.


Zhang Fei masih mengawasi, sepasang matanya menatap ke tempat sekitar. Di sana, dia bisa melihat bahwa di halaman depan yang cukup luas terdapat belasan orang berseragam dengan senjata lengkap.


Di empat penjuru terdapat lentera. Hal itu dilakukan supaya membuat keadaan lebih terang. Maklum, karena saking rimbunnya daun pohon di hutan, sampai-sampai sinar matahari pun tidak bisa menerobos masuk.


"Sepertinya ini salah satu markas orang-orang asing yang ingin mengacaukan negeriku," gumamnya penuh rasa yakin.


Berpikir kesitu, amarah di dalam benaknya tidak bisa dibendung lagi. Tanpa memikirkan banyak hal, tiba-tiba saja Zhang Fei mencabut Pedang Raja Dewa.


Ia membabat habis bambu yang menghalangi jalannya. Setelah selesai, Zhang Fei segera meluncur ke bangunan kuno itu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Wushh!!!


Dalam beberapa tarikan nafas saja, ia sudah berada di depan gapura bangunan. Tanpa membuang waktu lagi, dirinya segera masuk ke dalam.


Para prajurit tadi saat itu sedang duduk manis dan berbincang-bincang bersama rekannya. Tidak lupa juga, mereka pun sedang pesta minuman.


Saat menyaksikan ada bayangan biru yang tiba-tiba datang, sontak saja belasan orang tersebut langsung kaget setengah mati.


Mereka seketika bangkit dari duduknya. Berbagai macam senjata sudah digenggam erat di tangan kanan.


Sayangnya, orang-orang itu sudah terlambat. Sebelum mereka mengambil tindakan lebih lanjut, Zhang Fei malah sudah menurunkan serangannya lebih dulu.


Tebasan dan tusukan pedang datang bagaikan kilat yang menyambar. Beberapa kali dirinya berkelebat, lima orang sudah jatuh bersimbah darah.


Tidak berhenti sampai di situ saja, Zhang Fei kembali menurunkan tangan kejam. Dalam waktu yang terhitung singkat, sepuluh orang telah menjadi korban keganasannya.


Para prajurit yang tersisa saat ini tinggal lima orang saja. Mereka sangat ketakutan menyaksikan peristiwa yang baru saja berlangsung tersebut.


"Si-siapa kau?" tanya salah satu prajurit dengan gugup.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku," jawab Zhang Fei dengan nada dingin.


"Ma-mau apa kau datang kemari?" ia benar-benar ketakutan. Bahkan tubuhnya juga sudah menggigil karena saking takutnya melihat Zhang Fei.


Para prajurit yang tersisa itu menganggap Zhang Fei sebagai iblis penunggu hutan. Bukan lagi sebagai manusia.


"Aku hanya ingin bertanya, apakah di dalam sana ada seorang gadis muda yang disekap?" tanyanya sambil memandang ke arah bangunan tua.


Para prajurit saling pandang beberapa saat. Sepertinya mereka tidak mau menjawab dengan jujur.


"Ingat, kalau kalian berbohong, aku pasti tahu. Dan saat itu, aku pastikan bahwa nasib kalian juga tidak berbeda jauh dari mereka," ia menunjuk ke mayat prajurit yang berserakan di atas tanah.