
Zhang Fei terhuyung-huyung. Hampir saja ia jatuh terjerembab ke tanah. Untung pemuda itu mampu menyeimbangkan tubuhnya, kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah mencium tanah yang keras tersebut.
"Orang tua, kenapa kau menyerangku?" tanyanya dengan lantang.
Sebenarnya Zhang Fei sudah marah. Ia tidak terima karena orang tua tersebut menyerangnya secara tiba-tiba.
Hanya saja, ia tidak mau bertindak gegabah. Sebagai orang persilatan, tentu dirinya juga tahu bahwa orang tua di depannya itu bukan manusia biasa.
"Itu karena kau tidak mendengar ucapanku," jawab orang tua tersebut sambil tersenyum.
"Mendengar atau tidak, itu adalah hak diriku. Kau tidak bisa memaksaku untuk pergi dari sini,"
Zhang Fei semakin bersikeras. Apapun yang terjadi, dia tidak mau pergi dari Gunung Awan Putih. Apalagi, untuk mencapai ke sini bukanlah suatu hal yang mudah.
Perjalanan menuju ke Gunung Awan Putih memerlukan perjuangan yang keras. Bahkan dia harus rela kehilangan kuda yang telah menjadi sahabatnya. Lebih dari itu, hampir saja nyawanya juga melayang karena dikeroyok oleh penghuni Kampung Hitam.
Dengan perjuangan sekeras dan sangat beresiko itu, bagaiaman mungkin dia mau pergi begitu saja?
"Dasar anak muda. Kau benar-benar keras kepala," si orang tua tersenyum kembali.
Sepertinya dia adalah orang yang murah senyum. Buktinya saja, setiap kali ia bicara, senyuman yang lembut dan hangat itu tidak pernah hilang dari bibirnya.
Dalam hati, ia sendiri sebenarnya menyukai pribadi anak muda itu. Menurutnya, Zhang Fei adalah pemuda yang memiliki watak keras kepala dan pantang menyerang.
Sayang sekali, ia belum bisa membawa diri. Sehingga lebih mengedepankan nafsunya, daripada jalan pikirannya.
"Sudahlah, orang tua. Biarkan aku masuk ke hutan itu. Aku ingin mencari seseorang,"
Sambil berkata demikian, Zhang Fei sudah menjejak tanah. Tubuhnya seketika meluncur dengan sangat cepat. Sejak tadi, ia sudah mempersiapkan diri untuk mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya sampai ke titik tertinggi.
Karena itulah, pada saat ia melesat barusan, kecepatannya sulit diikuti pandangan mata. Orang biasa pasti tidak akan mampu mengikuti gerakannya.
Dengan kecepatan seperti itu, jangankan pendekar kelas dua, bahkan pendekar pilih tanding pun, pasti akan sedikit kesulitan untuk menangkapnya.
Namun siapa nyana, begitu ia tiba di dekat orang tua berpakaian serba putih, mendadak dirinya merasakan ada sesuatu yang menggenggam kerah bajunya dengan erat.
Tahu-tahu, tubuh Zhang Fei sudah berada di atas udara setinggi satu jengkal.
Tangan kanan si orang tua menggenggam kerah bajunya dengan kencang.
"Ilmu meringankan tubuhmu sudah bagus. Sayangnya, kau terlalu ceroboh," kata orang tua itu.
"Omong kosong!"
Zhang Fei semakin marah. Dia sudah tidak bisa lagi menahan nafsunya.
Sringg!!!
Pedang Raja Dewa langsung dicabut keluar. Satu tarikan nafas berikutnya, dia langsung melancarkan tebasan dari arah kanan.
Serangan itu mengincar batang leher si orang tua.
Dengan jarak yang sangat dekat, sudah pasti tebasannya akan berhasil dan tidak mungkin bisa dihentikan.
Crapp!!!
Mendadak pedang pusaka itu berhenti di tengah jalan. Monyet putih yang berdiri di sisi orang tua itu, tahu-tahu sudah menggenggam batang Pedang Raja Dewa.
Zhang Fei memelototkan kedua matanya. Kalau tidak menyaksikan dan mengalami secara langsung, niscaya ia tidak akan percaya dengan kejadian ini.
Bagaimana mungkin seekor kera, mampu menahan tebasan pedangnya, bahkan dengan satu tangan?
Anak muda itu benar-benar kaget. Kaget setengah mati.
Ia mencoba menarik pedangnya. Tapi sayang usaha itu tidak berhasil. Pedangnya sulit untuk dilepaskan. Bahkan tidak bergerak sedikit pun.
Tangan monyet putih itu benar-benar kokoh. Seperti kokohnya Gunung Awan Putih.
"Lepaskan!"
Serangan barusan datang secara tiba-tiba. Kalau saja monyet putih itu tidak melepaskan pedang, niscaya tulang wajahnya akan remuk.
Untunglah binatang itu pintar. Tepat sebelum tendangan Zhang Fei tiba, ia telah melepaskan senjata lawan dan menggerakkan tubuhnya untuk menghindar.
Sekarang pedang telah lepas. Ia melanjutkan lagi dengan serangan berikutnya kepada si orang tua.
Wutt!!!
Sebelum serangan berhasil, orang tua itu malah mendorong tubuhnya. Lagi-lagi dia terlempar ke belakang.
"Kau seorang pendekar pedang?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
"Kalau iya, kenapa?" tanya Zhang Fei seperti tidak terima.
"Hemm, menarik. Bagaimana kalau aku ingin mencoba ilmu pedangmu?"
"Siapa takut. Cabut senjatamu, tua bangka!"
Perkataannya mulai kasar. Hal itu terjadi karena Zhang Fei sudah tidak senang kepada si orang tua.
"Ambilkan ranting pohon," ucap si orang tua memberikan perintah kepada monyet putih.
Binatang itu mengangguk. Ia kemudian naik atas pohon, dan dengan cepat mengambil sebatang ranting pohon.
Setelah mendapatkannya, monyet putih tersebut segera memberikannya kepada sang majikan.
Kini, di tangan orang tua itu sudah ada sebatang ranting pohon sebesar jari telunjuk. Panjangnya setengah depa.
Siapa pun tahu, ranting itu sangatlah rapuh. Jangankan ditebas sebatang pedang, bahkan dipatahkan oleh tangan pun, sudah tentu akan hancur berkeping-keping.
"Ini senjataku," kata orang tua itu sambil menodongkan ranting.
"Orang tua, kau menghinaku?"
"Jangan banyak bicara. Keluarkan saja seluruh ilmu pedang yang kau miliki itu,"
"Sebagai seorang pendekar, aku tidak mau menyerang musuh yang tidak menggunakan senjata,"
"Menggunakan senjata atau tidak, hasilnya pasti akan sama saja. Kau hanya besar mulut, dan tidak mampu memberikan bukti nyata,"
Kedua telinga Zhang Fei mendadak panas seperti dibakar ketika ia mendengar ucapan barusan. Wajahnya memerah. Memerah karena marah!
"Tua bangka sialan! Baiklah, kau yang memintaku untuk menyerang,"
Ia langsung menyalurkan tenaga dan hawa murni ke seluruh tubuh. Tidak lupa juga, ia menyalurkan keduanya ke seluruh batang Pedang Raja Dewa.
"Lihat serangan!"
Zhang Fei berteriak nyaring. Dia langsung memberikan serangan pertamanya dengan senjata pusaka tersebut.
Kelebatan bayangan pedang seketika memenuhi angkasa. Begitu turun tangan, dirinya telah mengeluarkan jurus pertama dari Kitab Pedang Dewa.
Serangannya itu benar-benar hebat. Seluruh tubuh lawan menjadi sasaran telak. Hawa pedang menyapu segala yang ada di sekitar.
Di satu sisi lain, si orang tua tampak tersenyum kegirangan. Ranting pohon yang kecil itu ikut bergerak ke sana kemari.
Semua serangan yang dilancarkan oleh Zhang Fei, luput dari sasaran. Ke mana pun pedangnya bergerak, pasti ada ranting pohon yang menangkisnya.
Belasan jurus sudah berlalu kembali. Anak muda itu masih berusaha melumpuhkan lawannya.
Bahkan kini, ia sudah mengeluarkan semua ilmu pedang yang dikuasainya secara sempurna.
Jurus Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan yang ia gelar benar-benar dahsyat. Deru angin kencang dan suara mengaaung seperti ribuan lebah terdengar dengan jelas.
Suara-suara itu sangat menusuk telinga. Kalau lawannya orang biasa, niscaya sudah sejak awal ia akan terpengaruh olehnya.
Sayang sekali, orang tua itu bukanlah lawan biasa. Kemampuannya ternyata benar-benar hebat.