Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Rajawali Lembah Selaksa Bunga


Zhang Fei tidak menyangka bahwa ia akan diserang secara tiba-tiba lagi. Pendekar muda itu tidak tahu siapa yang menyerangnya. Dia hanya tahu bahwa puluhan jarum perak itu melesat secepat kilat.


Sekarang senjata rahasia itu malah sudah berada dalam jarak setengah langkah dengan tempatnya berdiri.


Kalau orang lain yang ada di sana, sudah pasti puluhan jarum perak itu akan bersarang dengan telak di seluruh tubuh. Sebab dengan banyaknya jarum, ditambah pula dengan jarak sedekat itu, sudah tentu tidak ada waktu lagi untuk menghindar.


Untunglah semua hal tersebut tidak berlaku bagi Zhang Fei. Dengan kemampuannya yang sekarang, walaupun bagi orang lain sedikit mustahil, tapi tidak bagi dirinya.


Kedua kakinya tiba-tiba bergerak. Tahu-tahu dia telah bergeser dari tempat semula. Puluhan jarum perak itu, lewat setengah jengkal dari tubuhnya.


Wushh!!!


Blarr!!!


Suara ledakan tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya. Begitu dia menoleh, ternyata sebatang pohon berukuran cukup besar sudah hancur berkeping-keping.


Mungkin pohon itu hancur karena telah ditembusi oleh puluhan jarum perak tadi.


Ternyata selain cepat dan tajam, senjata rahasia itu juga mengandung tenaga dalam tinggi.


Zhang Fei menghela nafas lega. Tidak bisa dipungkiri, ia sedikit tergetar hatinya karena kejadian barusan.


Suasana di sana kembali hening seperti semula. Tidak terdengar suara apapun lagi. Tidak terasa pula adanya kehadiran manusia.


Apakah manusia di dalam goa itu telah pergi? Kalau belum, kenapa kehadirannya tidak bisa dirasakan?


Anak muda itu sedikit ragu. Namun karena sudah kepalang tanggung, maka ia pun tetap berjalan ke mulut goa.


Begitu jaraknya sudah dekat, sesuatu kembali terjadi. Dari dalam goa itu, mendadak muncul kembali segulung angin.


Bedanya, sekarang bukan hanya hembusan angin saja. Melainkan segera disusul pula dengan satu sosok bayangan.


Bayangan manusia tentunya!


Wushh!!! Wutt!!!


Manusia itu melesat dengan cepat ke arah Zhang Fei. Ia memberikan pula pukulan berhawa panas. Sebelum kepalan tangannya tiba, hawa panasnya sudah sampai lebih dulu.


Zhang Fei yang pada dasarnya memang sudah siap, dengan segera dia melompat mundur ke belakang. Satu kali lompatan saja, dia sudah tiba di tengah halaman.


Setelah mendapat posisi, kedua tangannya segera diangkat ke atas. Menyambut pukulan orang itu.


Plakk!!!


Benturan keras terdengar. Ia terdorong mundur dua langkah ke belakang. Sedangkan si penyerang, hanya terdorong satu langkah.


Dari kejadian ini, Zhang Fei sudah cukup menyadari bahwa dia masih kalah satu tingkat.


Begitu keduanya sudah mendapatkan posisi kembali, masing-masing pihak langsung berdiri dengan diam di tempatnya.


Ternyata orang yang menyerangnya barusan adalah seorang pria tua dengan tubuh sedang. Wajahnya memberikan keseraman. Terutama sekali dari pancaran matanya.


Kalau dilihat sekilas, orang tua itu usianya hampir sebaya dengan Zhang Liong. Kakek dari Zhang Fei.


Ia mengenakan pakaian abu-abu. Rambutnya yang sudah memutih itu dibiarkan terurai menutupi punggung. Ia tidak terlihat membawa senjata apapun.


Tapi meskipun begitu, Zhang Fei tetap berlaku waspada. Apalagi setelah terjadinya benturan tangan barusan.


"Orang tua, siapa kau? Kenapa tiba-tiba menyerangku?" tanya Zhang Fei mendahului.


"Yang bertanya lebih dulu, harusnya aku. Siapa kau dan mau apa kemari?"


Kakek itu balik bertanya. Sepertinya dia tidak suka basa-basi. Karenanya ia langsung bertanya ke intinya saja.


"Perkenalkan, aku yang muda ini mempunyai marga Zhang dan bernama Fei. Aku datang kemari untuk mencari seseorang,"


Karena mengetahui lawan bicaranya tidak suka basa-basi, maka secara sengaja Zhang Fei pun menjawab dengan jelas.


"Siapa yang kau cari itu, anak muda?" tanyanya lebih jauh.


"Aku sendiri tidak mengetahui namanya dengan pasti. Yang jelas, aku datang kemari karena mendapatkan tugas dari Kakek Zhang Liong,"


Orang tua itu tiba-tiba mengerutkan kening. Terlebih lagi setelah mendengar nama Zhang Liong barusan.


"Beliau adalah Kakekku,"


"Oh, jadi kau cucunya?"


"Benar," kata Zhang Fei sambil menganggukkan kepala.


Dia kemudian memandang Zhang Fei mulai dari atas sampai bawah. Pandangan matanya sangat selidik. Seolah-olah tidak ada bagian tubuh yang terlewatkan.


"Kakeknya hebat, cucunya juga hebat. Sepertinya kau sudah mewarisi kemampuan tua bangka itu," orang tua itu terdengar bicara lagi.


Nadanya bicaranya seperti sedang mengejek. Tapi di sisi lain, nada suara itu juga seperti sedang memandang tinggi.


Zhang Fei sendiri tidak bisa memastikan maksud dari ucapannya tersebut. Karenanya dia tidak mau menanggapi lebih lanjut.


"Orang tua, mungkinkah kau adalah orang yang sedang aku cari?" tanya anak muda itu mengalihkan pembicaraan.


"Tidak salah. Memang akulah orang yang sedang kau cari-cari itu," jawabnya membenarkan.


"Bolehkah aku mengetahui namamu?"


"Tentu saja. Kau boleh menyebutku si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong,"


Zhang Fei mengerutkan kening. Dia merasa asing dengan julukan itu. Sebab, kakeknya juga tidak pernah menyebutkan julukan tersebut.


Di satu sisi lain, dia pun belum pernah mendengar bahwa dalam dunia persilatan ada orang dengan julukan demikian.


Namun terlepas mendengar atau belum, ada atau tidak, ia tidak perlu memikirkan hal itu lebih jauh lagi. Yang diperlukan oleh Zhang Fei sekarang adalah ia harus mengetahui dulu, siapa dan apa hubungan orang tua itu dengan kakeknya, Zhang Liong.


"Tuan Hong, bolehkah aku mengetahui lebih dulu, ada apa sebenarnya antara kau dan Kakekku?" tanyanya dengan lantang.


Zhang Fei harus mengetahui hal itu lebih dulu. Dia tidak mau bertindak gegabah. Apalagi di hadapan tokoh angkatan tua seperti si Rajawali Lembah Selaksa Bunga.


"Boleh saja. Asal kau mampu menahan telapak tanganku dengan dadamu,"


Ucapannya tajam. Seperti juga pandangan matanya.


Mendengar ucapan tersebut, tentu saja Zhang Fei kaget. Ia mengira orang tua itu sedang bercanda.


"Tuan Hong, kau jangan bercanda,"


"Aku tidak bercanda. Aku serius,"


Anak muda itu mengerutkan kening. Walaupun awalnya tidak percaya, tapi sekarang, mau tidak mau dia harus mempercayainya. Terlebih setelah ia menyaksikan ekspresi wajah yang serius itu.


"Kalau memang hanya itu satu-satunya cara ... baiklah. Aku siap menerima telapak tanganmu," jawab Zhang Fei dengan rasa percaya diri.


"Kau serius, anak muda?"


"Aku tidak bercanda. Aku serius," ujarnya mengulangi ucapan si Rajawali Lembah Selaksa Bunga.


"Hahaha ..." orang tua itu tertawa lantang sambil menengadahkan kepalanya ke langit. Tubuhnya berguncang cukup keras akibat suara tawa tersebut. "Bagus, bagus sekali. Kakeknya pemberani, cucunya juga tidak mengenal rasa takut,"


Bersamaan dengan hal tersebut, di pihak lain, Zhang Fei juga sudah mempersiapkan diri. Malah setelah dia berkata tadi, anak muda itu segera membusungkan dadanya.


Dia siap untuk menerima telapak tangan orang tua itu!


Suasana hening lagi. Hanya terdengar hembusan angin gunung yang menerpa taman bunga.


Si Rajawali Lembah Selaksa Bunga sedang mengawasi sosok Zhang Fei. Tampaknya dia sudah siap untuk melancarkan serangan.


Wushh!!!


Tubuhnya melesat. Telapak tangan kanan dijulurkan ke depan.


Zhang Fei mengumpulkan tenaganya di bagian dada. Dia tahu, telapak tangan orang tua itu sangat berbahaya. Karenanya dia sudah mengeluarkan segenap kemampuannya.


Siapa sangka, setelah sudah tiba di depan mata. Si Rajawali Lembah Selaksa Bunga ternyata tidak memukulnya. Ia justru merangkul pundak Zhang Fei.


"Ikut aku, anak muda," ujarnya sambil membawanya pergi.