
Kurang lebih dua puluh menit sudah berlalu kembali. Para pendekar aliansi, anggota Organisasi Pedang Cahaya dan prajurit Kekaisaran, sudah berhasil menumbangkan lawannya masing-masing.
Pertempuran para pasukan dari kedua belah pihak hampir semuanya selesai. Kemenangan kembali berpihak kepada para pendekar.
Hampir semua anggota Partai Iblis Sesat, tewas dengan kondisi mengenaskan. Namun, para pendekar Kekaisaran Song juga harus membayar dengan harga yang cukup mahal.
Walaupun tidak ada yang sampai tewas, tapi sebagian prajurit ada yang mengalami luka cukup parah. Setidaknya, tak kurang dari lima belas orang prajurit dan pendekar menderita luka di beberapa bagian tubuhnya.
Sementara itu, pertarungan para tokoh utama saat ini sedang berlangsung. Masing-masing dari mereka mendapat lawan dengan kemampuan yang tidak rendah.
Khusus untuk Zhang Fei, seperti biasa, dia memilih lawan yang berada di posisi sama dengannya.
Sesaat ini, ia sedang bertarung sengit melawan Ketua Partai Iblis Sesat. Mereka bertarung dengan serius dan penuh kewaspadaan. Kedua tokoh kelas atas itu saling mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya.
Ketua Partai Iblis Sesat ternyata adalah seorang ahli tombak kembar. Hal itu bisa dilihat dari gerakan dan jurus-jurus tombaknya yang ganas serta mematikan.
Harus diakui, setiap serangan pria tua itu benar-benar berbahaya. Kalau sampai Zhang Fei melakukan kesalahan, niscaya nyawanya akan terancam.
Tidak perduli kesalahan itu besar atau kecil, yang jelas, efeknya akan sama besar.
Untunglah ia sudah mempunyai bekal yang bisa dibilang sudah lebih daripada cukup. Sehingga walaupun ada dua batang tombak yang terus-menerus mengincar tubuhnya, namun dia masih bisa menyelamatkan diri sendiri.
Pihak lawan sama sekali tidak menyangka akan mendapat lawan yang tangguh. Padahal tadinya, dia sempat memandang rendah Zhang Fei karena mengingat usianya masih terhitung muda.
Pada umumnya, pendekar muda bukan merupakan lawan yang tangguh. Setangguh-tangguhnya pendekar muda, dia pasti tidak akan bisa mengalahkan para pendekar generasi tua.
Kalau dulu, hal itu mungkin masih berlaku. Tapi sekarang ... sekarang sudah lain lagi. Hal tersebut sudah tidak berlaku lagi.
Usia bukanlah patokan utama. Selama memiliki kemampuan tinggi, pendekar muda pun bisa mengalahkan pendekar tua dengan cukup mudah.
Di tengah arena pertarungan tersebut, Ketua Partai Iblis Sesat saat ini sedang mencecar Zhang Fei dengan jurus tombak kembar andalannya. Tombak kembar itu bergerak dengan sangat cepat dan terus memberikan serangan beruntun.
Arah serangannya tidak bisa diduga. Apalagi, dia sudah mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuan.
Selama ini, rasanya ia jarang mengeluarkan seluruh kemampuan. Tetapi karena kali ini ceritanya lain lagi, maka mau tak mau dia harus mengubah kebiasaan tersebut.
Seluruh kekuatan mulai dikeluarkan! Tekanan tenaga dalam dan tenaga sakti, terasa dengan jelas. Hawa tombak juga begitu pekat. Seolah-olah itu adalah kabut di tengah malam.
Dua batang tombak terus datang memberikan ancaman. Deru angin kencang dan suara mendengung, selalu terdengar setiap kali dua batang senjata itu bergerak.
Selama kejadian, Zhang Fei terus menghindar. Sesekali, dirinya juga turut membalaskan serangan tokoh sesat itu.
Bukan karena kewalahan, bukan pula karena tidak sanggup memberikan serangan balasan. Melainkan karena Zhang Fei sedang mencari tahu, sampai di mana kah kemampuan Ketua Partai Iblis Merah itu.
Sebenarnya, bisa saja dia mengeluarkan jurus Pedang Tak Kasat Mata yang baru-baru ini dia kuasai.
Hanya saja, Zhang Fei tidak ingin terlalu mengandalkan jurus tersebut. Selain karena tidak ingin ketergantungan, Zhang Fei juga mempunyai tujuan ingin menyempurnakan jurus lain dan kemampuannya sendiri.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Dari sebelah kanan, sebatang tombak tahu-tahu menyabet dengan cepat ke arah leher. Zhang Fei langsung menarik kepalanya ke belakang. Namun belum lagi menemukan posisi, tombak yang satunya lagi sudah datang menyusul.
Tombak itu meluncur cepat memberikan tusukan ke arah lambung. Datangnya tanpa diduga. Sedikit saja dia terlambat, niscaya tombak itu akan menusuk telak ke dalam tubuhnya.
Trangg!!!
Tetapi, hal itu hanya berlangsung sebentar. Karena pada detik berikutnya, Ketua Partai Iblis Sesat tahu-tahu sudah menyerang kembali.
Serangan yang datang selanjutnya jauh lebih hebat. Pada saat yang bersamaan, Zhang Fei pun sudah mempersiapkan diri.
Tapi sebelum dia benar-benar bertindak, tiba-tiba dari atas langit ada sekelebat bayangan yang bergerak dengan sangat cepat sekali.
Bayangan itu berwarna merah muda. Begitu tiba di tengah-tengah pertarungan antara Zhang Fei dan Ketua Partai Iblis Sesat, bayangan tersebut langsung menghalau serangan yang akan datang.
Benturan keras langsung terjadi. Tokoh sesat itu tersentak karena tidak menyangka dengan kejadian barusan. Ia kembali mundur sejauh tiga langkah.
Ternyata, bayangan yang tadi berkelebat itu, bukan lain adalah Yao Mei!
Gadis cantik yang selama ini sedang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh Ketua Dunia Persilatan!
"Nona Mei!" seru Zhang Fei dengan rasa girang.
Yao Mei membalikkan tubuhnya. Dia pun memberikan senyuman hangat.
"Bagaiaman kau bisa tahu kalau kami ada di sini?" tanya Zhang Fei lebih tahu.
"Karana aku telah bertanya kepada Paman A Cu. Sebenarnya, tidak lama setelah kepergian kalian kemari, aku juga sudah kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Sayangnya aku dan Ayah sedikit terlambat. Sehingga kami ketinggalan," jawab Yao Mei menjelaskan secara singkat.
"Aih ... maafkan kami. Kami tidak tahu sama sekali,"
"Ah, sudahlah. Tidak perlu dipersoalkan. Lagi pula, itu bukanlah apa-apa,"
Zhang Fei tersenyum setelah mengetahui bahwa gadis itu tidak marah kepadanya.
"Sekarang, di mana Ayahmu? Apakah dia juga ikut ke sini?"
"Ya, dia ikut. Katanya, dia akan menunggu di warung arak,"
"Hemm ... mengapa dia tidak ikut bergabung?"
"Aku tidak tahu," ucap Yao Mei seraya menggelengkan kepalanya.
"Ah, baiklah. Itu bisa kita urus nanti saja. Sekarang, lebih baik kita hadapi saja tua bangka itu," ujar Zhang Fei sambil menatap sekilas ke arah Ketua Partai Iblis Sesat.
"Kau benar," sahut Yao Mei merasa setuju.
Dia langsung membalikkan badannya menjadi menghadap ke arah tokoh sesat tadi. Zhang Fei segera berdiri di sisinya.
Kedua pendekar muda itu, menatap pria tua di depannya dengan gagah berani. Tidak ada sedikit pun rasa takut yang terlibat dalam diri mereka.
"Bagus, bagus sekali. Ada gadis tak tahu diri yang berani ikut campur dalam urusanku. Kalau begitu, biar sekalian saja kau aku buat mampus bersama dengannya,"
Ketua Partai Iblis Sesat sangat geram. Dia paling tidak suka kalau ada orang luar yang ikut campur dalam urusannya.
Maka dari itu, saat ini dia bertekad akan membunuh kedua pendekar muda tersebut secara bersamaan.
Tetapi yang menjadi pertanyaan, benarkah dia sanggup mengalahkannya?
"Omong kosong macam apa yang sedang kau sampaikan itu? Kau pikir, kami takut dengan ucapanmu?" Yao Mei mengangkat kedua alisnya sambil melemparkan senyuman dingin.