Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Partai Gunung Pedang


Sekitar lima belas tombak di depan sana, ada sebuah bangunan kuno yang besar. Bangunan tersebut berdiri dengan gagah di tengah-tengah pusat Kota Luoyang.


Dari kejauhan, siapa pun bisa melihatnya dengan jelas. Semua orang juga bisa merasakan kewibawaan dari bangunan tersebut.


Semua warga Kota Luoyang, pasti tahu bangunan apa itu. Mustahil kalau ada yang bilang tidak tahu.


Bangunan besar dan megah yang dimaksud tersebut, bukan lain adalah Partai Gunung Pedang!


Partai dunia persilatan terbesar yang terdapat di Kota Luoyang.


Zhang Fei sedang berjalan menuju ke partai tersebut. Setelah ia bertanya-tanya kepada warga yang ditemui di jalan, akhirnya ia bisa juga menemukan tempat tujuannya.


Anak muda itu melangkah di tengah-tengah keramaian. Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, akhirnya ia tiba juga di depan pintu gerbang Partai Gunung Pedang.


Namun begitu dirinya berada di sana, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang ganjil.


Di depan pintu gerbang tidak ada penjaga. Malah, keadaan gerbang terbuka begitu saja. Sehingga siapa pun bisa melihat ke dalam dengan jelas.


Zhang Fei mengawasi keadaan di sana. Ternyata seperti tidak ada orang. Keadaannya sama persis seperti suasana di Gedung Hartawan Cong Lai beberapa waktu lalu.


Menurut pengalamannya, di tempat ini pasti sudah terjadi sesuatu.


Karena berpikir demikian, tanpa banyak bicara lagi, Zhang Fei pun segera masuk ke dalam. Ia berjalan dengan langkah ringan sembari memperhatikan setiap sudut.


Sayangnya, meskipun dia sudah berjalan cukup jauh, ternyata tidak ada satu pun murid yang ia temukan. Pemuda itu mulai menaiki anak tangga yang tidak begitu banyak.


Partai Gunung Pedang yang biasanya ramai dan banyak murid berlatih, sekarang menjadi terlihat sepi sunyi. Keadaan di halaman sangat kotor. Banyak sekali daun-daun kering yang berserakan.


Tidak hanya itu saja, bahkan di setiap sudut bangunan juga terdapat lumut atau sarang laba-laba.


Melihat kondisi seperti itu, siapa pun akan mengira bahwa tempat tersebut sudah tidak terawat dalam waktu yang lumayan lama.


Tetapi karena hatinya merasa yakin ada sesuatu yang telah terjadi, maka Zhang Fei tidak berhenti sampai di situ saja. Ia terus melangkah masuk. Malah sekarang dirinya sudah ada di sebuah ruangan utama.


Di dalam sana, ternyata keadaannya juga sama. Banyak barang-barang yang berserakan di atas lantai.


Hawa dingin mulai menusuk tulang. Keseraman menjalar ke seluruh tubuh.


Tiba-tiba Zhang Fei menghentikan langkah. Dia merasakan ada seseorang yang sedang mengintainya. Pendekar muda itu celingukan, tapi tidak ditemukan satu pun orang yang ada di sana.


Ia berjalan lagi, tapi kembali dirinya merasakan hal serupa.


"Siapa di sana? Tolong tunjukkan batang hidungmu," katanya dengan suara lantang.


Tidak ada jawaban. Walaupun ia sudah menunggu cukup lama, tapi keadaan tetap sepi hening.


Akhirnya, ia kembali melangkahkan kaki. Lagi-lagi, ia merasakan ada orang yang sedang memperhatikannya. Malah sekarang, secara mendadak dirinya merasakan ada deru angin keras yang berasal dari arah belakang.


Wushh!!!


Angin itu berhembus ke arah Zhang Fei. Menyadari adanya ancaman, dengan sigap ia melompat ke atas sambil berjumpalikan.


Belum lagi kedua kakinya menginjak lantai, dari empat penjuru tiba-tiba muncul satu batang pedang yang siap menebasnya.


Wutt!!!


Ujung pedang tiba secara serempak. Zhang Fei cukup terkejut. Untungnya dia sudah mempersiapkan diri jauh sebelum kemari.


Tepat pada waktunya, ujung kaki anak muda itu menutul ke udara kosong. Ia memanfaatkan tenaga dorongan angin. Sehingga membuat dirinya sedikit naik ke atas.


Begitu turun kembali, tahu-tahu Zhang Fei sudah berdiri di antara empat ujung pedang!


Matanya segara menyapu ke sekeliling. Sekarang ia bisa melihat bahwa di sana sudah ada empat orang berusia sekitar tiga puluhan tahun.


Orang-orang itu juga sedang memandang ke arahnya.


Wutt!!!


Bersamaan dengan kejadian barusan, tiga batang pedang lainnya segera bergerak mengikuti irama.


Kali ini, karena situasinya tidak menguntungkan, terpaksa Zhang Fei turun ke bawah. Tubuhnya lalu mundur sambil terus menghindar tusukan empat batang pedang.


Para penyerang tersebut sepertinya tidak mau memberikan ampun. Buktinya saja, ketika menyadari usaha mereka gagal, serangan lain yang lebih ganas bahkan segera dikeluarkan.


Bersamaan dengan serangan yang datang bagaikan hujan deras tersebut, mendadak terdengar ada satu seruan.


"Siapa kau? Apa tujuanmu datang kemari?"


"Aku bukan siapa-siapa. Aku juga tidak ada niat jahat," jawab Zhang Fei sambil tetap menghindar.


"Omong kosong! Kalau tidak ada niat jahat, untuk apa kau datang mengendap-endap layaknya pencuri?"


Sebenarnya pada saat itu, Zhang Fei ingin menjawab kembali pertanyaan si penyerang. Hanya saja situasinya sudah tidak mendukung. Apalagi, sekarang mereka telah menambah tenaga dalam setiap usahanya.


Karena sudah didesak oleh pihak lawan, terpaksa ia pun harus mengambil tindakan.


Wutt!!!


Tubuhnya berputar dengan cepat. Kedua tangannya bergerak bagaikan baling-baling. Lewat beberapa waktu kemudian, empat batang pedang yang digunakan oleh lawan, kini sudah ada di tangannya.


Empat orang penyerang itu langsung terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja di alaminya.


"Lepaskan pedang itu!"


Suara lain tiba-tiba terdengar. Suaranya memang tidak terlampau keras, tapi jelas suara tersebut mengandung wibawa besar.


Apalagi bersamaan dengan hal itu, Zhang Fei juga merasakan ada segulung angin besar yang menerjang ke arahnya.


Karena tidak mau mengambil resiko, akhirnya ia pun melepaskan empat batang pedang hasil rampasannya. Setelah itu, dia langsung mengumpulkan tenaga di kedua telapak tangan.


Ia mendorong tangannya ke depan.


Blarr!!!


Benturan tenaga sakti terjadi. Ruangan itu sedikit tergetar.


Zhang Fei terdorong mundur setengah langkah. Dia cukup terkejut setelah mengetahui bahwa penyerangnya mempunyai kemampuan tinggi.


"Lihat serangan!"


Belum lenyap kepulan debu yang tercipta, tiba-tiba suara sebelumnya terdengar kembali.


Satu sosok bayangan manusia mendadak muncul di depan wajahnya. Orang itu langsung menggempur Zhang Fei dengan berbagai macam ilmu tangan kosong yang berbahaya.


Hawa berubah menjadi sesak. Pukulan yang dilontarkan ke arahnya benar-benar hebat.


Zhang Fei tidak mau terus mengalah. Dengan sigap ia segera melayani apa maunya lawan.


Kedua tangannya diangkat. Ia mulai bertarung dan mulai mengikuti permainan lawan.


Di dalam ruangan tersebut, kini telah terjadi satu pertarungan yang cukup sengit dan seru. Kedua belah pihak yang terlibat seolah-olah tetah berubah menjadi jejak bayangan.


Tubuh mereka tidak bisa dilihat dengan jelas. Empat orang yang sebelumnya menyerang Zhang Fei hanya bisa menyaksikan kelebatan bayangan manusia yang tidak pernah berhenti.


Dalam pada itu, setelah bertarung beberapa saat, Zhang Fei mulai bisa menebak bahwa lawannya bukan manusia biasa. Hal tersebut bisa dibuktikan setelah ia mengalami benturan tangan sampai beberapa kali.


Setiap terjadinya benturan, ia pasti merasakan tangannya kesemutan. Seolah-olah ia tersengat aliran listrik.