Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kedatangan Ketua Partai Pengemis


"Oh, biasa. Tadi ada sekelompok iblis berwujud manusia yang sudah bosan hidup," jawab Yao Mei sambil tersenyum dingin.


"Kau baru saja menyelesaikan pertarungan?" tanya Zhang Fei memastikan.


"Begitulah,"


"Hemm ... coba ceritakan kejadiannya,"


Yao Mei mengangguk. Dia kemudian mulai bercerita dari awal mula perseteruan, sampai terjadinya pertempuran di dekat hutan itu.


Zhang Fei mendengarkan secara serius. Setelah gadis itu selesai bercerita, dia baru mengajukan pertanyaan.


"Apakah kau tahu siapa mereka itu, Nona Mei?"


"Terkait hal ini, sayangnya aku tidak tahu. Tapi kalau melihat dari bentuk wajah, aku rasa mereka bukan berasal dari Kekaisaran Song,"


"Hemm ... terlepas dari mana kah asal mereka, yang jelas orang-orang itu memang pantas untuk dibasmi," ucap Zhang Fei dengan nada datar.


"Benar, hidup pun mereka hanya akan menciptakan malapetaka bagi orang lain," sahut Yao Mei merasa setuju.


Keduanya kembali minum arak. Mereka tidak banyak bicara lagi.


###


Dua minggu telah berlalu. Keadaan di lapangan semakin bisa dikendalikan. Selama waktu itu, para tokoh utama dunia persilatan terus-menerus turun secara langsung ke lapangan.


Selama menjalani perang di beberapa tempat, pihak pendekar Kekaisaran Song cenderung membawa pulang kemenangan.


Zhang Fei merasa sangat bersyukur karena orang-orang di pihaknya sangat bisa diandalkan. Namun di sisi lain, dia juga merasa sedikit sedih karena setiap kali perang selesai, pendekar aliansi di pihaknya pasti ada yang menjadi korban.


###


Saat itu hari sudah sore. Zhang Fei sedang duduk seorang diri di sebuah warung arak yang terletak di desa kecil.


Ia sudah minum sejak tadi. Arak yang masuk ke dalam perutnya pun setidaknya sudah sampai dua guci.


Karena sudah merasa kenyang, maka Zhang Fei memutuskan untuk segera pergi dari sana. Ia kemudian membayar biaya minum lalu berjalan keluar.


Suasana di sore hari masih sama seperti biasanya. Selama berjalan di jalan setapak itu, Zhang Fei sudah beberapa kali bertemu dan berpapasan dengan para warga sekitar.


Mereka terus menyapa dan bahkan ada yang memberi hormat kepadanya. Saat itu, sebenarnya Zhang Fei merasa sedikit malu sekaligus rikuh.


Namun apa daya, kini semua orang sudah mengetahui siapa dan apa yang telah dia lakukan sebenarnya. Jadi, mau tidak mau, Zhang Fei harus tetap menerima penghormatan dan penghargaan yang diberikan oleh para warga tersebut.


"Salam, Ketua Fei. Semoga langit selalu melindungi Ketua," seorang petani tua menyapa sambil membungkukkan badannya.


"Terimakasih, Paman. Semoga kau pun panjang umur," jawab Zhang Fei seraya tersenyum.


Petani tua itu kegirangan. Dia membalas senyuman Zhang Fei, lalu segera melanjutkan langkah kakinya lagi.


Beberapa menit kemudian, ketika Zhang Fei mulai memasuki gang yang menghubungkan ke pusat kota, tiba-tiba sebuah bayangan manusia berkelebat dari arah lain.


Begitu tiba di depannya, sosok tersebut segera memberikan hormatnya kepada Zhang Fei. Orang yang datang tiba-tiba itu mengenakan pakaian serta cadar warna hitam. Di punggungnya ada sebatang pedang yang melintang.


"Salam, Ketua Fei," kata orang tersebut.


"Ada laporan apa?" tanya Zhang Fei dengan ekspresi wajah serius.


Dia sudah tahu bahwa orang di hadapannya itu bukan lain adalah mata-mata. Karenanya, tanpa basa-basi lagi, Zhang Fei segera bertanya ke inti.


Sebab bagaimanapun juga, Zhang Fei sudah paham bahwa kedatangan mata-mata itu pastinya membawa sebuah laporan yang serius.


"Oh, benarkah? Sejak kapan dia datang?"


"Aku kurang tahu, Ketua. Yang jelas, kedatangan beliau kemari adalah karena ini bertemu dengan Ketua Fei,"


"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga,"


"Baik, Ketua,"


"Apakah masih ada laporan lain lagi?"


"Tidak ada, Ketua,"


"Jika demikian, pergilah dan laksanakan tugasmu kembali,"


"Mengerti, Ketua,"


Setelah selesai memberi hormat, mata-mata itu pun segera melesat pergi dari sana. Hanya menjejakkan kedua kakinya ke tanah, ia sudah menghilang dari pandangan mata.


Zhang Fei masih berdiri di tempatnya. Ia tidak langsung melanjutkan perjalanan. Ketua Dunia Persilatan sedang melamun beberapa saat.


Kira-kira, apa yang akan dibicarakan oleh Ketua Partai Pengemis itu? Mengapa dia ingin berbicara dengannya? Apakah kedatangan Ketua Partai Pengemis membawa kabar baik, atau kabar buruk?


Berbagai macam pertanyaan seperti itu sudah bermunculan di benak Zhang Fei. Ia dibuat bingung sekaligus penasaran terkait hal ini.


Tetapi walaupun ada banyak pertanyaan yang hinggap di benaknya, Zhang Fei lebih cenderung percaya bahwa kedatangan Ketua Partai Pengemis pasti membawa kabar yang tidak baik.


"Hahh ... kenapa masalah ini tidak selesai-selesai? Kalau terus menghadapi persoalan, kapan aku akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan?" Zhang Fei bergumam sendiri. Dia pun menghembuskan nafas panjang dan berat.


Di usia yang masih terhitung muda, seharusnya Zhang Fei bisa menikmati masa-masa indah dan bahagia layaknya pemuda yang lain.


Dia ingin seperti mereka yang masih belajar tentang berbagai ilmu kehidupan. Dia pun ingin seperti mereka yang bisa menikmati masa-masa mudanya dengan tenang dan nyaman.


Namun sayang, semua hal seperti itu tidak bisa dilakukan olehnya. Zhang Fei tidak bisa menikmati masa mudanya sama sekali.


Di usia yang masih muda, dia bahkan sudah disuguhkan dengan hal-hal yang besar dan rumit. Setiap saat dirinya harus bertempur dengan masalah-masalah yang diterima.


Zhang Fei sudah merasa lelah. Semakin lama, ia merasa bahwa tugas-tugas itu semakin bertambah berat dan sulit untuk diselesaikan.


Ia ingin menyerah. Tapi tidak bisa. Ia ingin berhenti, tapi tetap tidak bisa.


Satu-satunya alasan yang bisa membuatnya kuat dan terus bertahan sampai detik ini, adalah karena tugas kewajiban dan orang-orang baik yang selalu membantu serta mendukung Zhang Fei.


Kalau bukan karena tugas wajib, mungkin sudah sejak lama Zhang Fei pergi sejauh mungkin. Jika tidak ada mereka, mungkin sejak dahulu pula ia menyerah dengan keadaan saat ini.


Di satu sisi, Zhang Fei merasa bersyukur karena bisa belajar banyak hal dan tumbuh menjadi dewasa, serta bijaksana dengan cepat. Namun di sisi lain, ia pun mengeluh karena hidupnya terus dihampiri oleh masalah yang entah kapan akan selesai.


"Ah, sudahlah. Kalau aku terus memikirkan hal-hal itu, sampai besok pun tidak akan pernah berakhir," gumam Zhang Fei menyudahi lamunannya.


Wushh!!!


Setelah berkata demikian, dia pun langsung pergi dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh miliknya.


Zhang Fei lenyap seolah-olah hilang ditelan bumi. Para warga yang pada saat itu berada di jalanan, segera merasakan ada angin kencang yang berhembus tepat di sisinya.


Mereka tidak tahu, angin kencang itu justru sebenarnya diciptakan oleh seseorang yang sedang berlari dengan sangat cepat.


Dalam waktu beberapa kejap saja, Zhang Fei telah berhasil tiba di pusat kota. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, dengan cepat ia langsung pergi mencari Rumah Makan Kebahagiaan.