Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Yan Wu Sun


Melihat kondisi seperti itu, tiba-tiba pria tua yang ada di antara kerumunan orang langsung melesat dengan sangat cepat. Dalam waktu dua tarikan nafas saja, ia sudah berada di dekat Zhang Fei.


Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki olehnya sudah mencapai tahap sangat tinggi. Para pendekar yang ada di sana pun merasa kagum.


Dalam hati, mereka merasa bersyukur karena tidak mencari masalah dengannya.


Sedangkan para prajurit Wali Kota Lu Hong atau yang diketahui adalah Pendekar Pedang Emas Gan Li, mereka juga tidak berani berbuat banyak. Sampai saat ini, orang-orang itu tetap berdiri di tempatnya masing-masing.


Setelah barusan melihat bagaimana kehebatan ilmu meringankan tubuh si orang tua, para prajurit tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya mampu menahan nafas dan berdoa untuk keselamatan diri sendiri.


Sementara itu, setelah berada di belakang Zhang Fei, orang tua tadi langsung menotok beberapa jalan darah di tubuhnya.


Gerakan totokannya juga sangat cepat. Dalam waktu singkat saja, dia telah menotok semua titik penting.


"Duduk bersila, pejamkan matamu," katanya dengan tegas.


Zhang Fei menurut. Walaupun tidak sempat melihat siapa yang berbicara barusan, tapi dari nadanya saja dia sudah yakin bahwa orang tersebut tidak bermaksud jahat.


Karena itulah Zhang Fei langsung menuruti perintahnya tanpa banyak membuang waktu.


Orang tua itu saat ini telah menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Zhang Fei. Dia menyalurkan hawa murni supaya pendekar muda di depannya tidak sampai mengalami luka dalam.


Lewat beberapa saat kemudian, setelah dirasa cukup, dia pun langsung menarik kembali kedua telapak tangannya.


Di satu sisi, Ou Yang Shen juga bisa melihat ke arah Zhang Fei. Dan dia langsung kaget setengah mati setelah menyadari siapakah orang yang sedang menyalurkan hawa murni tersebut.


Wushh!!!


Ou Yang Shen melesat cepat ke arahnya. Begitu tiba di sana, dia langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut.


"Guru, maafkan aku yang tidak menyambut kedatanganmu. Murid merasa bersalah. Murid pantas untuk dihukum," katanya sambil bersujud di bawah kaki orang tua tersebut.


"Jangan berlaku seperti ini, muridku. Bangunlah. Kau tidak bersalah, aku pun tidak mempermasalahkannya," ucap orang tua itu sambil membantu Ou Yang Shen bangun dari posisinya.


Sementara Zhang Fei yang ada di sana, dia pun merasa kaget. Rupanya orang tua yang telah membantunya barusan, bukan lain adalah guru dari Orang Yang Shen.


Kalau begitu, dia juga merupakan petinggi dari Partai Gurun Pasir.


Seketika Zhang Fei membalikkan badan. Dia kemudian membungkukkan badan sebagai pemberian hormat di hadapannya.


"Salam hormat kepada Tuan Penolong. Maaf kalau aku sudah merepotkanmu," ucapnya penuh sopan santun.


Karena merasa tidak enak, orang tua itu pun segera membalas penghormatan yang diberikan oleh Zhang Fei. Setalah itu dia berkata. "Jangan panggil aku Tuan Penolong. Apa yang aku lakukan itu sudah merupakan keajaiban,"


Senyuman yang tersungging di bibirnya ketika bicara mendatangkan kesan tersendiri. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan menganggap bahwa orang tua tersebut adalah manusia baik-baik.


"Kau cukup memanggilku Yan Wu Sun saja," katanya melanjutkan kembali.


"Baik, Tuan Sun. Aku mengerti," kata Zhang Fei.


Sementara itu, bersamaan dengan semua peristiwa yang berlangsung di atas mimbar tersebut, orang-orang yang hadir di sana menjadi tertegun.


Pada saat seperti itu, tiba-tiba Yan Wu Sun bertepuk tangan tiga kali. Setelahnya segera muncul dua puluhan orang yang berseragam sama.


Dari pakaian yang dikenakan, dapat diketahui bahwa mereka itu adalah anak murid dari Partai Gurun Pasir.


"Bereskan semua yang ada di sini. Bawa prajurit yang tersisa dan serahkan mereka kepada pihak berwajib," ucapnya memberikan perintah.


"Kami terima perintah," jawab semua murid hampir secara bersamaan.


Mereka kemudian bergerak dan langsung menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.


Tidak lupa juga, Yan Wu Sun segera membubarkan orang-orang yang masih berkumpul di halaman luas tersebut.


Begitu keadaan di sana sudah aman dan bisa dikendalikan, ketiganya langsung segera pergi. Mereka berniat untuk menuju ke rumah makan yang ada di sekitar sana.


Sekitar lima belas menit kemudian, Zhang Fei dan yang lainnya sudah ada di dalam sebuah rumah makan. Di atas sebuah meja di hadapan ketiganya sudah terdapat hidangan lengkap.


Arak yang wangi dan bernilai tinggi sudah dibuka. Mereka bersulang arak sebelum berbicara lebih lanjut.


"Guru, ngomong-ngomong, kenapa guru bisa ada di sini, dan bahkan membawa dua puluh orang anak murid?" tanya Ou Yang Shen setelah selesai bersulang arak.


Dia merasa penasaran terkait kenapa gurunya bisa muncul tepat waktu. Padahal ketika kepergiannya, ia tahu bahwa gurunya saat itu sedang berada di dalam markas Partai Gurun Pasir.


"Sebenarnya, sebelum kau mengetahui tentang peristiwa di daerah pinggiran kota ini, aku justru sudah mengetahuinya lebih dulu," jawab Yan Wu Sun sambil tersenyum.


Setelah mengambil nafas, ia kembali melanjutkan. "Malah secara diam-diam, aku juga sudah mengutus saudara seperguruanmu untuk menyelidiki kota ini. Dan hasilnya ternyata memang sesuai dengan dugaanku,"


"Jadi, selama ini guru sudah tahu?" tanya Ou Yang Shen kembali menegaskan.


"Benar," katanya mengangguk.


"Aih, lalu kenapa guru tidak memberitahukannya kepadaku?" Ou Yang Shen merasa sedikit kesal.


Sebab kalau saja dia sudah mengetahui hal ini dari awal, mungkin dirinya tidak harus bersusah payah dalam upaya membongkar peristiwa tersebut.


"Aku memang sengaja tidak memberitahukannya kepadamu," jawab orang tua itu sambil tersenyum. "Tujuannya adalah untuk menambah pengalamanmu. Walaupun selama ini kau sudah sering mengembara, tapi aku rasa, kau jarang membongkar kejadian-kejadian yang penuh dengan misteri. Buktinya saja, Zhang Fei malah lebih tahu daripada dirimu,"


Petinggi Partai Gurun Pasir tersebut melirik ke arah Zhang Fei sambil tersenyum penuh arti.


Dari pancaran matanya bisa dilihat bahwa dia pun merasa kagum terhadap kecerdasan dan ketelitian dirinya.


"Tuan Sun terlalu memuji. Mana pantas aku dibandingkan dengan Paman Shen," ucap Zhang Fei merasa tidak enak.


"Hahaha ... kau memang anak muda yang istimewa. Kalau saja di Kekaisaran Song ada sepuluh pendekar muda sepertimu, aku rasa semua masalah yang terjadi bisa terbongkar dengan mudah," kata Yan Wu Sun berbicara dengan nada serius.


"Tidak berani, tidak berani," sahut Zhang Fei dengan cepat. "Di dalam dunia persilatan masih terdapat banyak sekali tokoh-tokoh angkatan tua yang berpengalaman, bagaimana mungkin aku yang merupakan angkatan muda berani melangkahinya?"


Zhang Fei cukup sadar akan kemampuannya. Walaupun menurut sebagian orang dia sudah termasuk hebat, tapi menurutnya pribadi, ia justru masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tokoh tua seperti Yan Wu Sun itu.