Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Aliansi Kekaisaran Song


Para tokoh dunia persilatan terus bersulang arak. Di atas meja, saat ini setidaknya sudah ada sekitar sepuluh atau bahkan lebih guci arak yang sudah kosong. Bekas-bekas wadah daging segar juga terdapat di sana.


Memang, takaran minum mereka sangatlah tinggi. Sehingga meskipun itu arak keras, orang-orang itu masih tetap berada dalam kesadarannya.


Saat ini, kentongan ketiga sudah terdengar. Keenam tokoh dunia persilatan berhenti minum arak. Mereka hanya menikmati hidangan ringan saja.


"Ketua Fei, apakah kau sudah menemukan jejak Nona Mei?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan di tengah keheningan.


"Belum, Tuan Wu," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepala. "Semua anggota Organisasi Pedang Cahaya belum ada yang memberikan laporan,"


Rasanya memang cukup lama Zhang Fei memerintahkan anggotanya untuk mencari informasi tentang Yao Mei. Sayangnya, sampai saat ini tidak ada satu pun dari mereka yang memberikan laporannya.


"Tenang saja, anak Fei. Jangan khawatir. Dalam waktu dekat, Nona Mei pasti akan memunculkan diri," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan berusaha membuat Zhang Fei tenang.


"Hemm ... dari mana Tuan Kiang bisa seyakin itu?" tanya Zhang Fei.


"Firasatku mengatakan demikian. Selama ini, firasat Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak pernah meleset," ia menjawab sambil memuji dirinya sendiri.


"Baiklah, aku percaya kepadamu, Tuan Kiang,"


Zhang Fei bersikap seolah-olah dia sudah percaya terhadap ucapan orang tua itu. Padahal dalam hatinya, ia masih meragukan hal tersebut.


Bagaimana kalau anggota Organisasi Pedang Cahaya tidak berhasil menemukan jejak Yao Mei? Bukankah ini sangat berbahaya?


Selain karena dirinya akan mendapat masalah dari si Cakar Maut Yao Shi, hal lainnya adalah bahwa Zhang Fei tidak akan bisa bertemu lagi dengan gadis cantik itu.


Di antara dua masalah tersebut, yang paling membuatnya takut tentu saja adalah masalah yang kedua.


Dia takut. Takut tidak bisa bertemu dengan Yao Mei untuk selama-lamanya!


Teringat akan gadis itu, hatinya selalu saja terasa sakit. Kesakitan itu tidak bisa digambarkan. Yang jelas, rasa sakitnya tidak main-main.


Karena waktu sudah semakin larut, pada akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya masing-masing.


Sedangkan Zhang Fei, dia memilih tetap diam di ruangan itu.


Setelah para Datuk Dunia Persilatan kembali ke kamar, Zhang Fei segera memanggil seorang pelayan.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Ketua Fei?" tanya pelayan itu ketika tiba di depannya.


"Ambilkan aku satu guci arak lagi," jawabnya.


"Tapi ... malam ini Ketua sudah minum terlalu banyak. Kalau minum lagi, aku takut Ketua akan jatuh sakit. Sebab terlalu banyak alkohol tidaklah baik bagi kesehatan,"


Zhang Fei mengangguk beberapa kali. "Aku tahu," katanya dengan tegas. "Tapi aku masih ingin minum,"


"Tapi ..."


"Jangan lupa, ucapan Ketua adalah perintah!" ujar Zhang Fei semakin tegas.


Pada akhirnya pelayan itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia secara pergi ke belakang dan mengambil satu guci arak. Setelah menyerahkannya kepada Zhang Fei, dia langsung pergi dari sana.


Segel arak mulai dibuka. Zhang Fei meninggal arak itu dari gucinya langsung. Namun baru saja habis sebagian, kepalanya sudah bertambah sakit. Pandangan matanya kabur.


Tanpa disadari, dia langsung tidur detik itu juga. Sedangkan guci arak di tangannya, seketika jatuh ke atas lantai.


Untung saja hal itu tidak sampai diketahui oleh orang lain. Sebab kalau sampai ada orang luar yang tahu, niscaya dia akan merasa malu.


Berbagai macam ejekan seperti itu pasti akan langsung bermunculan dan terdengar dari setiap orang.


Bagi sebagian orang, masalah perasaan mungkin adalah hal yang sangat sepele. Tapi bagi sebagian orang lainnya, masalah perasaan itu justru adalah hal yang paling berat.


Sebab yang kita hadapi bukan orang lain. Melainkan adalah perasaan kita. Diri kita sendiri!


Bukankah lebih baik melawan orang lain, daripada melawan diri sendiri?


Maka dari itulah, tak jarang diluar sana, banyak orang yang tiba-tiba berubah drastis setelah mempunyai masalah yang menyangkut perasaannya!


###


Pagi hari sudah datang. Mentari pagi muncul di ufuk sebelah timur. Suara ayam jantan berkokok dan burung-burung penunggu hutan sudah terdengar riuh


Tanpa terasa, hari ini adalah tepat satu minggu setelah pembentukan aliansi itu. Selama satu minggu belakangan, orang-orang yang bekerja di Gedung Ketua Dunia Persilatan selalu disibukkan oleh hal-hal yang menyangkut aliansi.


Untunglah sekarang, berbagai macam urusan itu sudah bisa diselesaikan. Nama aliansi yetse yang adalah Aliansi Kekaisaran Song!


Zhang Fei sengaja memberi nama itu supaya mencakup semua pendekar yang tergabung di dalamnya.


Saat itu, kebetulan para tokoh dunia persilatan sudah berada di ruangan belakang. Mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi.


Ketika tokoh-tokoh itu sedang berbicara, tiba-tiba pintu diketuk orang. Setelah diiznkan masuk, seorang mata-mata segera datang dengan membawa ekspresi wajah serius.


"Ada apa," tanya Zhang Fei dengan cepat.


"Ketua, musuh sudah bergerak. Pertempuran sedang terjadi di perbatasan sebelah timur dan barat kota ini. Prajurit Kekaisaran yang ditugaskan di sana tidak kuat menghadapi serangan lawan. Sekarang, mereka sudah mulai terdesak," kata mata-mata tersebut memberikan laporannya.


"Baiklah. Sebentar lagi aku akan mengirimkan para pendekar ke dua titik tersebut,"


"Baik, Ketua. Aku pamit," ia kemudian pergi dari sana.


Zhang Fei dan yang lain segera keluar dari ruangan. Mereka langsung menuju ke halaman depan dan memanggil setidaknya tiga puluh orang pendekar aliansi yang telah dipilih.


"Musuh sudah mulai beraksi. Beberapa saat yang lalu, seorang mata-mata telah memberikan laporan bahwa saat ini, musuh telah menyerang di dua titik. Yaitu di perbatasan sebelah timur dan barat kota ini. Prajurit Kekaisaran yang ditugaskan tidak sanggup menahan mereka, karena itulah aku menyuruh kalian supaya segera pergi ke sana untuk mengirimkan bantuan," kata Zhang Fei memberi perintah kepada tiga puluh pendekar tersebut.


"Kami terima perintah, Ketua,"


"Bagus. Sekarang juga, pergilah ke dua titik itu,"


Tiga puluh orang pendekar mengangguk. Secepat kilat mereka langsung pergi dari sana dan menuju ke lokasi kejadian.


Zhang Fei memandangi kepergian mereka dengan tatapan yakin.


"Sepertinya, malapetaka yang selama ini kita takutkan, sudah mulai berlangsung," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan berbicara.


"Benar, Tuan Kiang. Aku juga merasa demikian," sahut Zhang Fei.


Dia sendiri sudah menduga akan hal tersebut. Menurutnya, saat ini adalah waktu tepat untuk membereskan semuanya.


Perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai! Kepemimpinan Zhang Fei akan diuji! Bahkan kemampuannya juga akan di tes secara langsung di lapangan!


"Ketua, apakah kita harus bergerak juga?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan.


"Nanti dulu, Tuan Wu. Kita percayakan dulu kepada para pendekar itu. Kalau situasinya sudah benar-benar genting, baru kita turun tangan,"