
Kaisar membalas hormat para tokoh tersebut. Mereka kemudian berbincang-bincang untuk beberapa saat lamanya. Tidak lupa juga, Kaisar meminta maaf karena tidak bisa menengok Zhang Fei ketika dia mendapat musibah beberapa waktu yang lalu.
"Oh, jadi ... Kaisar juga sempat mendengar kabar tersebut?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
"Ya, aku mengetahui hal itu dari laporan yang diberikan oleh mata-mata. Setelah menerima laporan di siang hari, pada saat malam harinya aku tidak dapat tidur. Aku khawatir terkait keselamatanmu, Ketua Fei. Jujur saja, saat itu aku sudah berpikir buruk," jawab Kaisar mengatakan yang sebenarnya.
Zhang Fei menganggukkan kepala sambil tersenyum. Dia tidak marah terhadap ucapan Kaisar. Sebab ia sendiri tahu, yang mempunyai pikiran semacam itu bukan hanya Kaisar saja, bahkan semua orang yang ada di Gedung Ketua Dunia Persilatan pun tidak jauh berbeda.
"Untunglah langit masih memberikan perlindungan kepada Ketua Fei, sehingga Ketua bisa diselamatkan," lanjut Kaisar setelah berhenti beberapa tarikan nafas.
"Ya, aku juga merasa sangat bersyukur, Kaisar,"
"Sekarang bagaimana? Apakah luka-luka itu sudah sembuh?"
"Aku rasa begitu,"
Kaisar tampak tersenyum sesaat. Ia tidak banyak bicara lagi dan segera mengalihkan pembicaraan.
Pada saat itu, diam-diam Zhang Fei juga tahu bahwa Kaisar tidak lagi menaruh kepercayaan kepadanya. Mungkin hal tersebut terjadi karena musibah yang telah dialaminya.
Tetapi walaupun demikian, Zhang Fei tetap memilih diam dan tidak banyak bicara.
Dia sudah berniat akan membuktikan kepada semuanya. Tetapi bukan lewat ucapan, melainkan lewat perbuatan!
Sementara itu, tanpa terasa setiap tempat yang ditujukan untuk masing-masing kubu sudah dipenuhi oleh banyak orang. Semua yang ada di sana adalah orang-orang penting.
Kalau sudah begitu, artinya pertarungan penentuan pun akan segera dimulai.
Tepat setelah matahari lewat sedikit dari atas kepala, tiba-tiba dari salah satu sudut terlihat ada seorang tua yang berjalan dengan langkah ringan.
Zhang Fei dan orang-orangnya tahu siapa orang tua itu. Dia bukan lain adalah salah satu Penasihat yang terdapat di Istana Kekaisaran Song.
"Bukankah itu Penasihat Mu?" tanya Zhang Fei memastikan sambil berbisik di telinga Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Benar, anak Fei. Itu adalah Penasihat Mu," orang tua tersebut mengangguk dan tidak banyak bicara lagi.
Setelah beberapa saat, Penasihat Mu sudah tiba di tengah-tengah arena pertarungan. Dia lebih dulu memberi hormat ke empat penjuru mata angin dan tidak lupa memperkenalkan dirinya sendiri.
Selesai dengan itu, buru-buru dia berbicara dengan suara lantang.
"Supaya tidak membuang-buang waktu, maka kami sebagai pihak penyelenggara telah memutuskan untuk memulai Pertarungan Empat Kekaisaran ini," katanya kepada semua orang.
Suara tepuk tangan langsung terdengar sangat meriah. Semua orang yang hadir tampak bersemangat.
"Sebelum pertarungan dimulai, aku akan lebih dulu memberitahukan peraturannya," ia bicara lagi.
Penasihat Mu memandang sekilas ke setiap bagian yang ditempati oleh masing-masing kubu. Setelah dipastikan semua orang mendengar ucapannya, ia segera melanjutkan lagi.
"Pertarungan Empat Kekaisaran ini telah disetujui oleh masing-masing Kaisar. Tujuan diadakannya pertarungan ini adalah sebagai bentuk jalan keluar dari konflik di Daratan Tengah yang tidak pernah usai,"
"Nantinya, pihak yang menang secara sah akan menjadi penguasa di Empat Kekaisaran yang berada di Daratan Tengah,"
Semua orang yang hadir langsung bersorak-sorai setelah mendengar pernyataan tersebut. Di masing-masing tenda, segera terdengar pembicaraan yang keluar dari mulut orang-orang di sana.
"Kalau begini caranya, pihak kita harus menang," kata salah satu tokoh dunia persilatan dari Kekaisaran Jin.
Di tenda lain, terdengar pula ada seseorang yang berkata. "Bagaimanapun caranya, kita harus menjadi pemenang. Dengan demikian, tiga Kekaisaran lain akan tunggu kepada kita," seorang tokoh yang diduga menjadi salah satu peserta dari Kekaisaran Zhou juga ikut berbicara.
Keyakinan dalam diri orang-orang itu menjadi bertambah. Begitu pula dengan ambisinya.
Sementara itu, setelah berhenti beberapa saat, Penasihat Mu kembali melanjutkan bicaranya.
"Untuk pertarungannya sendiri, ada beberapa aturan yang harus ditaati. Yaitu apabila ada seseorang yang menyerah, maka lawannya harus langsung berhenti menyerang. Selain itu, setiap peserta yang keluar dari arena pertarungan, maka dia akan dianggap kalah,"
"Terkait masalah senjata atau sejenisnya, tidak ada aturan tertentu. Sampai di sini, apakah Tuan-tuan sekalian sudah mengerti?"
"Mengerti!" jawab semua orang itu secara bersamaan.
"Baiklah, kalau begitu, mari kita mulai saja Pertarungan Empat Kekaisaran ini,"
Seorang petugas lain terlihat berjalan dari belakangnya. Orang tersebut membawa wadah yang berisi nama-nama calon peserta.
Penasihat Mu segera mengambil dua buah kertas secara acak ketika petugas itu telah tiba di sisinya.
"Ketua Dunia Persilatan Kekaisaran Zhou, Tang San. Silahkan maju ke depan," katanya sambil memandang ke arah kubu Kekaisaran Zhou.
"Pendekar Tangan Bayangan Ma Liang, perwakilan dari Kekaisaran Qin. Silahkan maju ke depan,"
Dua orang yang dimaksud segera berjalan ke arena pertarungan. Orang bernama Tang San mempunyai wajah sangar. Usianya sendiri sudah mencapai lima puluhan tahun. Di kedua pinggangnya terdapat dua batang golok kembar yang tidak terlalu besar.
Ia berdiri dengan gagah sambil menatap orang tua di hadapannya.
"Salam hormat, Ketua San," kata Pendekar Tangan Bayangan sambil membungkuk memberikan hormat.
Walaupun usianya sendiri jauh lebih tua, tapi dia tahu bahwa orang di hadapannya mempunyai kedudukan yang sedikit lebih tinggi. Jadi, ia tidak merasa malu untuk memberikan hormatnya lebih dulu.
Namun ternyata, penghormatan Pendekar Tangan Bayangan tidak diterima sesuai dengan harapannya.
Ketua Dunia Persilatan dari Kekaisaran Zhou itu hanya membalas dengan senyuman sinis.
"Tua bangka, aku sarankan supaya kau menyerah saja. Aku khawatir golok kembar milikku akan menebas kepalamu," katanya dengan angkuh.
"Maaf, Ketua San. Aku tidak akan menyerah sebelum bertarung," jawab Pendekar Tangan Bayangan sambil berusaha untuk tetap tersenyum.
Meskipun hatinya merasa kesal, tetapi sebisa mungkin dia berusaha untuk menahan amarahnya.
"Baiklah, aku harap kau tidak menyesal," sahut Tang San dengan nada dingin.
Sekarang, kedua tokoh yang akan terlibat dalam pertarungan sudah berhadapan satu sama lain. Mereka berdua hanya terpaut jarak sekitar sepuluh langkah saja.
"Bagaiamana, apakah Tuan berdua sudah siap?" tanya Penasihat Mu sambil melirik bergantian kepada keduanya.
"Ya, kami siap," jawab mereka secara bersamaan.
"Baiklah, mulai!"
Wushh!!! Wushh!!!
Belum selesai ucapannya, Tang San sudah bergerak lebih dulu. Dia melancarkan pukulan beruntun dengan pengerahan tenaga dalam yang besar.
Serangannya benar-benar cepat dan dahsyat. Seluruh tubuh Pendekar Tangan Bayangan menjadi sasarannya.
Deru angin yang tajam terus berhembus ketika kedua tangannya bergerak secara bergantian.
Pendekar Tangan Bayangan belum membalas serangan. Dia masih menghindar dan menanti waktu yang tepat untuk memberikan serangan balasan.